
Keesokan harinya Amy merasa tubuhnya mulai segar. Dia beranjak dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Amy menyingkap tirai dan membuka jendela agar udara segar bisa masuk ke kamarnya.
Sebuah senyum lembut terukir di bibir Amy ketika menatap langit biru yang memayungi bumi. Semilir angin pagi membawa aroma pohon pinus membuat jiwa perempuan itu sedikit lebih tenang. Amy memejamkan mata sambil menghirup dalam udara bersih pegunungan untuk mengisi paru-parunya.
"Selamat pagi, bagaimana keadaanmu?" tanya Jordan ketika membuka pintu kamar, sehingga membuat Amy menoleh ke arah lelaki tersebut.
Jordan menata semua hidangan serta peralatan makan ke atas meja. Amy hanya menatapnya dari kejauhan dengan posisi kepala yang disandarkan pada kusen jendela. Tak lupa perempuan itu juga melipat lengan di depan dada.
Setelah selesai, Jordan menatap Amy yang tengah menatapnya penuh arti. Lelaki tampan itu tersenyum tipis, lalu bertopang dagu di atas meja. Tatapan keduanya beradu.
Siapa pun yang melihat, pasti akan tahu kalau mereka sebenarnya sudah mulai saling menyayangi. Hanya saja ego mereka menekan rasa sayang itu, sehingga tidak bisa tersampaikan dengan baik antara satu sama lain.
"Ah, maaf. Aku keluar dari bilik sempit itu tanpa izin. Kamu tidur begitu lelap dan aku tidak bisa mengunci kamar itu dari luar. Jadi ...."
"Tidak masalah! Bagaimana jika kamu lepas lagi dinding kayu bodoh itu dari sana!" Amy mulai menegakkan badan dan berjalan ke arah Jordan.
"Ya?" Jordan melongo mendengar ucapan di luar dugaan yang Amy ucapkan.
"Jangan salah paham, aku hanya merasa keberatan jika harus membuka kunci itu untukmu setiap pagi. Nanti kamu tidak bisa menyiapkan sarapan tepat waktu." Amy kini duduk di atas karpet kemudian mulai meraih sumpit yang tergeletak di atas mangkuk.
Jordan tersenyum kecil kemudian mulai memasukkan daging ke dalam mangkuk sang istri. Amy menatap Jordan sekilas kemudian tersenyum lembut. Hatinya menghangat karena mendapatkan perlakuan manis dari Jordan.
Keduanya makan sambil berbincang kecil. Amy mulai membuka hati untuk menceritakan sekelumit kisah masa kecilnya. Jordan pun membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar setiap cerita yang keluar dari bibir sang istri.
Jika mereka tidak ditakdirkan menjadi pasangan, Jordan berharap dia masih bisa berteman dengan Amy. Meski hatinya akan kesulitan menerima semua itu, paling tidak ada sedikit penawar jika perasaannya kepada sang istri tidak terbalas.
__ADS_1
"Dulu, aku ditinggalkan oleh ibu kandungku di panti asuhan ketika beumur 4 tahun. Sebenarnya di usia yang sangat belia, bisa saja gadis kecil sepertiku melupakan semuanya. Bukankah itu adalah usia di mana anak-anak akan mudah menghilangkan ingatan sedih dengan banyak bermain?" Amy tersenyum kecut sambil menatap Jordan dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu, kenapa kamu tidak bisa melupakan hal buruk itu?"
"Aku kesulitan mendapatkan teman. Aku kesepian di dalam panti asuhan. Aku selalu dijauhi teman-teman yang lain ketika makan dan bermain. Jadi, aku semakin tersiksa dan terus berharap ibu akan menjemputku suatu saat nanti. Tapi ... hal itu tidak pernah terjadi." Amy tersenyum getir dan mulai memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Dada Jordan bergetar ketika mendengar kisah menyedihkan Amy. Dia merasa hatinya seperti diiris-iris dengan sembilu. Bahkan sekarang seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya.
"Ketika aku hendak diadopsi, aku kabur di tengah jalan. Terlantung-lantung di jalanan selama berhari-hari dan berakhir di rumah keluarga Ara. Akhirnya aku ditolong oleh orang tua Ara ketika sekarat di teras toko."
Jordan merasa jauh lebih beruntung sekarang. Kisah masa kecilnya memanglah suram. Namun, ternyata hidup Amy jauh lebih menyedihkan.
Jika diizinkan, sebenarnya Jordan ingin sekali memeluk tubuh Amy dan mengusap punggungnya perlahan sambil mengatakan semua akan baik-baik saja. Jordan ingin mengisi hidup Amy penuh keceriaan agar gadis itu tidak merasa kesepian.
"Amy, jika dihitung ... kita masih memiliki waktu selama setahun ke depan untuk bersama, bukan?"
Amy mengangguk. Dahi perempuan itu berkerut karena melihat perubahan sikap Jordan. Amy menangkap bahwa kini lelaki itu sedang berada dalam mode serius.
"Apa boleh, aku mewarnai hari-harimu selama kita bersama? Aku ingin mengukir banyak kenangan indah yang menyenangkan selama menjalani status pernikahan ini. Aku ingin kamu tidak merasa sendirian di dunia ini, Amy." Jordan memberanikan diri mengangkat lengan dan mendaratkan telapak tangan di atas tangan Amy.
"Bisakah kita bersama sebagai seorang ... teman?" tanya Jordan ragu dengan jantung berdegup begitu kencang.
Amy terdiam sejenak. Dia merasa terganggu dengan kata 'teman' yang disebutkan oleh Jordan. Ada sedikit rasa kecewa yang kini memenuhi hati Amy.
Perempuan itu merasa tidak puas ketika Jordan berkata bahwa dia hanya ingin berteman dengannya. Namun, ego dan gengsi yang tinggi membuat Amy memaksakan senyum dan mengangguk sekali. Jordan tidak mau secara terang-terangan mengakui apa yang dia rasakan sekarang.
__ADS_1
"Baiklah, sambil menghabiskan waktu kontrak berakhir, kita akan menjadi seorang teman."
Jordan mengulurkan tangan, dan disambut baik oleh Amy. Mereka pun saling menggerakkan tangan ke atas dan ke bawah sebagai tanda persetujuan tak tertulis. Keduanya pun menyimpan rasa kecewa yang sama.
Sama-sama kurang puas tentang status hubungan yang hanya sebatas pertemanan. Dari lubuk hati yang paling dalam, mereka berdua menyadari bahwa mulai tumbuh rasa sayang dan ingin memiliki.
Mereka akhirnya kembali menjauhkan tangan masing-masing dan kembali tenggelam dalam obrolan ringan seraya menikmati sarapan. Perlahan keakraban mulai terjalin. Canda tawa mengantarkan keduanya ke hubungan emosional yang lebih baik.
"Bisa temani aku ke Seoul besok lusa? Aku ingin menemui sebuah penerbit baru yang sepertinya akan membayarku lebih baik daripada yang sebelumnya."
"Lalu, bagaimana dengan kontrakmu di penerbit sebelumnya?"
"Tinggal satu tahun, dan aku hanya perlu menyetorkan dua naskah novel dalam kurun waktu tersebut. Setelah kupertimbangkan, sepertinya aku akan sanggup menjalaninya," jawab Amy mantap tanpa ada keraguan sedikit pun pada nada bicaranya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu besok!"
Amy yang sedang meneguk air putih pun tersedak. Jordan yang panik langsung menepuk pelan punggung Amy. Amy sebenarnya hanya basa-basi mengucapkannya.
Amy hanya ingin mengetes seberapa besar keberanian Jordan untuk kembali menginjakkan kaki ke Seoul. Namun, di luar dugaan, lelaki itu menyetujui permintaannya tanpa ragu. Setelah batuk Amy sedikit reda, dia menatap heran ke arah Jordan.
"Apa kamu tidak takut dikejar-kejar oleh anak buah Tuan Rafael?"
"Ah, itu ... sebenarnya ...." Jordan mengusap tengkuk sambil tersenyum tipis.
Amy menunggu jawabannya dengan kepala penuh tanda tanya. Dia berpikir jangan-jangan selama ini Jordan sedang menipu serta membodohinya untuk suatu hal yang tidak dia ketahui. Amy pun menatap tajam sang suami ketika menunggu jawaban yang akan Jordan sampaikan.
__ADS_1