Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 11. Satu Atap dengan Mertua


__ADS_3

Kedua pasang mata pengantin baru itu terbelalak mana kala melihat Mona dan Morgan sudah duduk di sofa ruang tamu. Dua manusia yang sedang dimabuk cinta itu tengah bermesraan. Sontak Amy membuang muka karena malu sendiri melihat ibu mertuanya tengah berciuman.


"Apa-apaan ini!" seru Jordan sambil membanting koper yang awalnya dia bawa.


Morgan dan Mona langsung saling melepaskan ciuman. Namun, tanpa rasa malu Mona tidak melepaskan tangannya dari leher sang suami. Perempuan itu juga masih duduk di atas pangkuan Morgan.


"Keluar kalian dari sini!" usir Jordan.


"Keluar? Ah, tidak semudah itu, Sayang." Kini Mona turun dari pangkuan Morgan kemudian melangkah mendekati Jordan.


"Mulai hari ini, kami akan tinggal bersama kalian. Aku sudah memindahkan barang-barangku ke rumah ini. Aku juga sudah meminta orang untuk menaikkan semua barang Amy ke lantai atas. Itu area privat kalian." Mona menatap Amy yang masih mematung tanpa kata.


"Aku dan Morgan tidak akan melangkah ke atas jika tidak ada keadaan darurat. Jadi, kalian akan tetap mendapatkan privasi dan bersenang-senang sebagai pengantin baru!"


Amy mengepalkan jemari. Rahang perempuan itu pun mengepal kuat. Sebuah tatapan tajam kini dia layangkan kepada Mona.


Mona yang menyadari bahwa menantunya tidak suka dengan keputusan yang dia buat, kini berjalan ke arah Amy. Dia tersenyum miring, lalu menepuk bahu Amy. Amy mengalihkan tatapan ke arah tangan Mona yang menempel pada bahunya.


"Anakku, bukankah tidak masalah jika Ibumu ini tinggal di sini?" tanya Mona seraya tersenyum miring.


"Ini rumahku, jadi ... aku harap Anda keluar dari sini selagi aku masih bersabar, Nyonya Park." Amy mengucapkan semua kalimat itu dengan rahang mengeras dan gigi terkatup rapat.


"Hei, menantu macam apa ini? Kamu seharusnya berbakti kepadaku. Bakti seorang wanita ketika dia sudah menikah adalah kepada orang tua suaminya." Mona melepaskan tangannya dari bahu Amy kemudian melipat lengan di depan dada sambil menyeringai.


"Sayangnya, kita tidak perlu berbakti jika orang tua yang melakukan sebuah tindakan keji!" Amy menyipitkan mata, tidak mau kalah dengan Mona.


Suasana tegang itu terus berlangsung hingga Jordan melerai mereka. Jordan menarik pelan lengan Amy dan mengajak perempuan itu naik ke kamar. Setelah masuk ke kamar, Jordan menutup pintu rapat dan menguncinya.


"Begini ...." Jordan memijat pangkal hidungnya kemudian mengembuskan napas kasar.


"Untuk sementara waktu biarkan ibu tinggal di sini."


Mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Jordan sontak membuat Amy terbelalak. Dia tersenyum kecut sekilas, kemudian menelannya lagi. Amy melipat lengan seraya menatap sinis ke kepada Jordan.

__ADS_1


"A-ku ti-dak ma-u!" Amy mengeja setiap suku kata yang dia sebutkan dengan tegas.


"Aku akan segera membeli kembali rumah ini, dan kita pindah dari sini ke rumah yang baru," ucap Jordan penuh keyakinan.


"TIDAK! Kita katamu? Aku dan kamu tidak akan oernah menjadi KITA!" teriak Amy.


Jordan mengusap wajah kasar. Lelaki tersebut lantas merogoh saku dan mengeluarkan dua carik kertas. Dia menyodorkan selembar kepada Amy dan perempuan itu pun langsung membukanya.


"Apa ini?"


"Bacalah!"


Amy akhirnya membaca setiap kalimat yang tertulis di sana. Setelah selesai, Amy merasa kepalanya semakin berdenyut. Dia menatap sendu ke arah Jordan. Lelaki itu tengah menanti jawaban dari Amy mengenai perjanjian yang sudah dia tulis di atas kertas tersebut.


"Jadi, kita akan bercerai setelah satu tahun?"


"Iya, aku akan membayar rumah ini sesuai janji. Aku juga akan membelikanmu rumah lain di Jeju agar lebih tenang dan nyaman. Jadi, aku mohon sementara waktu biarkan ibuku tinggal di sini."


"Ini demi kariermu! Ingatlah selalu satu hal ini! Bisa saja aku menceraikanmu hari ini juga, tapi bagaimana kontrakmu dengan penerbit? Kamu mampu membayar semua dendanya?"


Amy menelan ludah kasar ketika otaknya berubah menjadi kalkulator. Amy langsung teringat jumlah nominal denda yabg harus dia bayarkan jika kontrak batal akibat skandal yang dia timbulkan.


"Lalu kita tidur di ruangan yang sama? Kau tahu kan? Di rumah ini hanya ada 2 kamar!"


Jordan mengusap wajah kasar kemudian menatap datar Amy yang masih tampak cemberut. Ujung telunjuk Jordan kini mengarah ke sofa yang ada di sudut ruangan. Amy mengerutkan dahi karena tidak mengerti dengan apa yang Jordan maksud.


"Aku akan memasang dinding di antara sofa itu. Jadi, kita tidak akan tidur satu ruangan."


"TIDAK! Bisa saja ketika aku sudah tidur, kamu mengendap-endap keluar dari kamar berukuran kecil itu dan menerkamku!" Amy bergidik ngeri seraya memeluk tubuhnya sendiri.


"Astaga! Ribet sekali sih, jadi manusia!" Jordan meremas rambut frustrasi.


"Kalau begitu, aku akan membuat kunci kamar kecil se-upil itu di luar! Jadi keluar masuknya aku dari sana semua tergantung dengan ingatanmu! PUAS?"

__ADS_1


"Ide yang bagus!" seru Amy.


"Jadi, sekarang tandatangani kontrak itu!" Jordan menunjuk kertas yang kini ada di genggaman Amy.


Amy pun melangkah menuju nakas, dan membuka laci untuk mencari pulpen. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Amy langsung membubuhkan tanda tangannya ke atas kertas bermeterai tersebut. Setelah selesai, Amy memberikan pulpen kepada Jordan.


Jordan pun menggoreskan pena ke atas kertas hingga mencoret materai. Begitu selesai, Jordan mengembalikan pena kepada Amy. Tatapan keduanya beradu seakan sedang membuktikan siapa yang paling mendominasi.


Keesokan harinya, Jordan langsung memasang dinding mengelilingi area sekitar sofa menggunakan papan kayu. Dia juga membeli pintu untuk dipasang pada kamar. Sesuai janji, Jordan memasang selot kunci di luar kamar.


"Selesai!" seru Jordan saat selesai memasang dinding kayu.


Jordan membutuhkan waktu hampir 3 jam untuk memasang dinding tersebut. Tak lama berselang Amy masuk. Dia hampir berteriak karena belum terbiasa satu ruangan dengan lelaki asing.


Meski Amy dan Jordan sudah menikah, di matanya lelaki tersebut tetaplah masih asing. Mengenal hanya dalam beberapa minggu dan mendadak harus menikah karena keadaan tentu saja membuat suasana menjadi canggung.


Amy berusaha mengacuhkan Jordan, dengan melangkah ke arah meja kerjanya. Dia langsung membuka laptop dan mulai mengetikkan seluruh isi kepalanya ke dalam benda tersebut. Jordan berusaha membuka pembicaraan kepada Amy, tetapi perempuan itu hanya menjawab seperlunya.


"Kita nggak bisa terus begini!" seru Jordan kesal.


Amy mengalihkan tatapannya dari laptop kepada Jordan. Perempuan itu melepas kacamata yang menggantung pada pangkal hidung, lalu meletakkannya ke atas meja. Perempuan itu menatap nyalang kepada Jordan yang tengah melipat lengan di depan dada.


"Jadi, apa maumu?"


"Aku mau ...." Jordan mengubah posisi tangannya.


Lelaki itu kini menyugar rambut seraya memejamkan mata sekilas. Jordan menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Sebuah senyum penuh arti terukir di bibir pria tampan tersebut.


"Aku mau kita bersikap biasa. Sama seperti setelah aku menandatangani kontrak untuk bekerja di rumah ini. Bagaimana?"


"Apa? Bersikap biasa katamu? Semua ini semakin kacau karena kamu tidak segera pergi dari rumah ini! Jika saja kamu segera pergi ketika aku memintanya, maka semua ini tidak akan terjadi!" Dada Amy kembang kempis karena mendengar permintaan Jordan yang dirasa tidak masuk akal.


"Aku melakukan ini semua karena kebaikanmu. Percayalah!"

__ADS_1


__ADS_2