
Mendengar Amy yang melancarkan protes, sontak membuat Mona dan Jordan langsung tertawa bersamaan. Bahkan Jordan sampai memegangi perutnya yang terasa kaku. Menyadari dirinya ditertawakan, Amy pun merasa semakin kesal.
Akan tetapi, kekesalan Amy kali ini tidak dia luapkan dengan marah-marah dan mengomel. Amy justru menangis histeris layaknya anak kecil yang kehilangan mainannya. Jordan dan Mona akhirnya berhenti tertawa.
Mona yang panik langsung pindah ke kursi belakang. Dia segera memeluk tubuh mungil menantu kesayangannya itu. Perempuan itu terus mengusap punggung Amy untuk menenangkan ibu hamil tersebut.
"Aku tidak suka Jordan memuji perempuan lain! Dia keterlaluan sekali, Bu! Dia memuji Dokter Lim di hadapanku!" Amy terus berbicara di antara isak tangisnya.
"Benar begitu, Jordan?" tanya Mona sambil menatap tajam sang putra.
Jordan hanya mengangguk cepat, kemudian kembali tertawa karena mendengar semua penjelasan itu. Amy pun menangis semakin histeris. Mona kembali berusaha menenangkan sang menantu.
Melihat Jordan yang masih tertawa lepas membuat Mona ikut marah. Dia meraih sekotak tisu, kemudian melemparkannya kepada Jordan. Sontak lelaki tersebut langsung berhenti tertawa.
Jordan mengusap kepalanya yang terkena tisu sambil menatap sang ibu. Mona memberi kode agar Jordan diam dengan menempelkan telunjuk pada bibir. lelaki itu pun memahami kode dari Mona dan langsung mengangguk.
"Maaf," ucap Jordan hampir tak terdengar sambil menangkupkan kedua telapak tangan.
"Aku mau minum sesuatu yang segar!" Mendadak tangis Amy berhenti.
Dua orang lain yang ada di mobil pun kini kembali menatap Amy. Suasana hati Amy benar-benar sulit ditebak dan mudah sekali berubah. Tadi marah-marah, kemudian menangis, dan berakhir dengan mengatakan kalau menginginkan sesuatu.
"Ah, kamu mau minum apa, Sayang?" tanya Jordan antusias.
Jordan berharap dengan menuruti keinginan sang istri, kesalahannya akan dimaafkan. Amy mengusap air mata kemudian mulai berpikir. Tiba-tiba dia menelan ludah ketika teringat akan segarnya buah jeruk.
"Aku mau dibuatkan jus jeruk!" seru Amy dengan bibir melengkung ke bawah.
"Baiklah! Ayo kita pergi ke kedai jus dekat sini!" Jordan bersiap melajukan mobil.
__ADS_1
Namun, Amy justru berteriak. Mobil yang baru berjalan satu meter akhirnya berhenti. Jordan memejamkan mata sebentar, kemudian kembali memutar tubuh agar bisa menatap sang istri secara langsung.
"Lalu, apa maumu?"
"Aku kam sudah bilang kalau mau dibuatkan, bukan mengajakmu untuk membeli jus jeruk!" Amy menatap tajam Jordan seraya melipat lengan di depan dada.
"Tapi, mau memetik jeruk langsung dari kebunnya, kemudian kamu membuatkan jus di sana!" lanjut Amy.
Membayangkan segarnya jus jeruk berasal dari buah yang baru dipetik membuat mata Amy berbinar. Dia menautkan semua jemari tangan satu sama lain, lalu memejamkan mata. Mona pun menggaruk kepala karena heran dengan sikap sang menantu.
"Ah, satu lagi!" seru Amy sambil menunjukkan jari telunjuk kepada Mona.
"Aku mau menikamti jus jeruk ditemani satu potong kue keju buatan Ibu!"
Mona menepuk dahi. Kali ini dia juga terkena imbas dari aksi nyidam Amy. Sebenarnya Mona tidak bisa membuat kue, tetapi demi keinginan menantunya itu Mona ingin mulai belajar membuatnya.
"Baiklah, kalau begitu Ibu akan belajar membuat kue untukmu!" Mona mengangkat lengan bawahnya sehingga membentuk sudut siku.
"Apa!" teriak Mona dan Jordan bersamaan.
Akhirnya mau tidak mau mereka menuruti keinginan Amy. Sebelum pergi ke kebun jeruk, Mona membeli beberapa peralatan untuk membuat kue. Dia sampai membeli oven untuk berjaga-jaga kalau pemilik kebun jeruk tidak memilikinya.
Mereka akan naik ke pegunungan yang arahnya berlawanan dengan rumah. Jadi, sebisa mungkin Mona dan Jordan menyiapkan bahan dan peralatan sendiri untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dan menghemat waktu. Setelah mengendarai mobil hampir satu jam, mereka sampai di perkebunan buah jeruk.
Jordan langsung turun dari mobil dan menemui sang pemilik kebun. Dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nyonya Han. Beruntungnya sang pemilik kebun mau memaklumi dan bersedia meminjamkan dapurnya untuk proses membuat jus serta kue.
"Ayo, turun!" ajak Jordan.
Amy langsung turun dari mobil dan berlari ke arah deretan pohon jeruk yang ada di sana. Jordan pun segera menyusul sang istri. Dia khawatir Amy akan tersandung dan terluka.
__ADS_1
"Aduh, Sayang! Ingat, di dalam perutmu ada bayi kita! Kamu harus memperhatikan langkahmu! Jangan sampai melukai dirimu sendiri atau bayi kita!" Jordan memperingatkan sang istri selembut mungkin karena takut Amy akan kembali tersinggung.
"Wah, kamu benar-benar perhatian! Jadi, ayo gandeng aku supaya tidak terjatuh dan terluka!" Amy tersenyum lebar sembari mengulurkan tangan.
Senyum Jordan pun merekah. Dia mengambut tangan sang istri. Mereka pun bergandengan tangan menuju kebun jeruk, sementara Mona membuat kue keju dibantu oleh Nyonya Han.
Jordan membawa keranjang yang terbuat dari rotan dan mengikuti Amy yang bergerak aktif. Perempuan itu bisa membedakan jeruk matang atau mentah. Jordan sampai menggelengkan kepala melihat keahlian baru sang istri.
"Apa kamu dulu juga pernah tinggal di perkebunan keruk? Kenapa bisa pandai sekali membedakan buah yang sudah matang atau belum?" Jordan mengusap dagu seraya mengerutkan dahi.
"Bukankah aku sudah menceritakan kisah hidupku? Aku baru kali ini memetik buah jeruk! Ketika memejamkan mata, indra penciumanku berubah menjadi jauh lebih tajam. Hidungku ini jadi bisa membedakan mana jeruk yang sudah matang dan belum!" seru Amy seraya menunjuk hidungnya sendiri.
"Istriku memang hebat!" Jordan menunjukkan jempol kepada sang istri.
Amy pun mengangkat dagu sambil tersenyum jemawa. Jordan terkekeh melihat sikap sang istri yang benar-benar berubah. Amy memang mampu mewarnai kehidupan Jordan yang awalnya hanya berwarna abu-abu, sehingga membuat lelaki itu terus bersyukur setiap hendak tidur dan ketika membuka mata.
Setelah selesai memetik buah jeruk dan memenuhi keranjang, mereka pun langsung berjalan ke rumah pemilik kebun. Di dalam rumah mulai tercium aroma keju yang membuat air liur Amy terus meleleh.
"Tunggu di sini, aku akan membuatkan jus untukmu!"
Amy mengangguk dan Jordan langsung berjalan ke dapur untuk membuatkan sang istri jus jeruk sesuai permintaan. Dia membuat empat gelas jus yang nantinya juga disajikan untuk dirinya, Nyonya Han, serta sang ibu.
Beruntungnya jus dan kue keju siap dalam waktu bersamaan. Mona dan Jordan segera menghidangkan minuman dan makanan tersebut ke atas meja makan dibantu oleh Nyonya Han.
"Wah, cepat sekali matangnya!" seru Amy dengan mata berbinar.
Amy segera mencicipi kue keju buatan Mona dan jus jeruk Jordan secara bergantian. Namun, ketika meneguk jus buatan Jordan, Amy langsung berlari ke arah bak cuci piring. Dia memuntahkan kembali jus tersebut.
"Kenapa, Amy?" tanya Jordan sambil memijat leher bagian belakang sang istri.
__ADS_1
"Kamu masukkan apa ke dalam jus? Rasanya tidak enak!"