Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 18. Fast and Farious ala Jordan


__ADS_3

Terdengar suara pintu mobil yang ditutup dengan kasar. Amy sontak menoleh ke arah Jordan. Dia terbelalak karena sikap Jordan mendadak berubah.


Raut wajah sang suami tampak panik. Jordan pun langsung menyalakan mesin mobil dan memainkan pedal gas secara sembarangan. Amy menyentuh lengan Jordan untuk mendapatkan perhatian dari suaminya tersebut.


"Kamu kenapa, Jordan?" tanya Amy dengan raut wajah kebingungan.


"Nanti kamu akan tahu! Cepat pasang sabuk pengaman dengan benar!" seru Jordan.


Lelaki itu melirik ke arah rombongan anak buah Rafael yang mulai masuk ke mobil dan berusaha putar balik untuk mengejarnya. Jordan hanya tersenyum miring dan mulai memainkan tongkat perseneling. Sedetik kemudian, mobil langsung melaju secepat angin.


Amy mencengkeram tali sabuk pengaman sambil berteriak histeris. Matanya terus melotot menatap jalanan yang sedikit ramai. Mobil yang dikendarai Jordan meliuk ke sana kemari seakan bodinya tidak terbuat dari besi atau benda metal semacamnya.


"Ya Tuhan, Jordan! Apa-apaan ini! Bisakah kita berjalan sedikit santai? Aku mulai mual!" teriak Amy.


Jordan langsung menyodorkan sebuah kantong plastik kecil kepada Amy tanpa mengatakan sepatah kata pun. Lelaki itu terus mengamati spion untuk memantau laju mobil anak buah Rafael. Sementara waktu, dia membutuhkan fokus lebih sehingga terpaksa mengabaikan Amy yang terus mengomel.


Di belakang Jordan kini ada sekitar tiga mobil yang mengejar. Mereka saling balap dengan tujuan masing-masing. Jordan hendak lari karena malas berurusan lagi dengan mafia berkedok produser itu, sedangkan anak buah Rafael mengejar untuk ikut menyeretnya ke jalur hukum atas kasus yang menimpa sang pemimpin.


Ya, sebelumnya Jordan memang terlibat dalam bisnis kotor sang produser. Namun, lelaki itu hanya menjalankan apa yang diminta dan itu pun sudah ada perjanjian kerja hitam di atas putih. Rafael sudah menyetujui kalau misalkan dia tertangkap, tidak akan ikut menyeret Jordan. Namun, Rafael mengingkarinya.


"Astaga, aku mulai pusing! Sebenarnya ada apa?" Amy terus berteriak sambil menggenggam erat kantong plastik yang masih kosong.


"Nanti aku jelaskan! Tolong tahan sebentar lagi."


"Tidak! Aku tidak akan diam jika kamu tetap seperti ini! Kamu harus menjelaskan semuanya agar bisa diterima akal sehatku! Setelahnya, baru aku akan diam!" Amy kini menatap tajam ke arah Jordan sembari mengerucutkan bibir.


Jordan menepuk dahi lalu mengacak rambut asal. Dia akhirnya menunjuk spion yang ada di sisi kiri. Amy pun mengikuti arah telunjuk Jordan.

__ADS_1


Awalnya Amy tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang suami. Akan tetapi, sesaat kemudian pupil mata Amy melebar. Dia membekap mulut agar tidak berteriak dan menghabiskan energi lebih banyak.


"Astaga! Mo-mobil itu mengejar kita?"


"Iya, mereka adalah anak buah Rafael. Mereka ingin menyeretku atas kasus yang menimpa produser sialan itu!" umpat Jordan sembari terus melajukan mobil sekencang yang dia bisa.


"Memangnya kamu ada hubungan apa dengan mereka?"


"Nanti aku akan menjelaskan semuanya. Jadi, aku mohon diamlah sebentar! Aku akan menjelaskan semuanya setelah sampai di rumah!"


Akhirnya Amy terdiam. Dia memilih untuk memejamkan mata agar tidak menatap jalanan di depannya. Amy merasa dirinya kini sedang naik roller coaster bukan mobil.


Setiap Jordan hampir menabrak mobil di depannya, lelaki itu langsung banting setir. Belum lagi saat lelaki tersebut hampir tersusul oleh anak buah Rafael. Jordan akan menabrakkan mobil dengan sengaja.


Kini badan mobil Amy sudah tidak berbentuk. Penyok sana sini dengan goresan di mana-mana. Semua anak buah Rafael pun belum mau menyerah.


"Sialan, mereka itu!" umpat Jordan.


Jordan menggunakan kesempatan ini untuk sembunyi sementara waktu. Dia melepaskan sabuk pengaman, lalu pindah ke kursi belakang. Amy masih mengernyitkan dahi.


"Kenapa?"


"Aku harus jadi pengecut kali ini! Tolong segera pindah ke belakang roda kemudi. Aku akan keluar dari mobil. Aku akan menunggumu di sini setelab memastikan mereka semua pergi."


Tanpa berkomentar lebih banyak, Amy langsung melepas sabuk pengaman. Dia pun bergegas berpindah ke kursi kemudi dan memesan bakan bakar kepada petugas. Sementara itu, Jordan berlari lewat pintu belakang dan bersembunyi di toilet.


Beruntungnya anak buah Rafael tidak mengetahui taktik ini karena terlalu fokus pada mobil yang kini dikendarai oleh Amy. Satu orang dari mereka langsung keluar dari mobil dan menghampiri mobil Amy. Seorang dengan kacamata hitam mengetuk kaca mobil sambil berteriak menyebut nama Jordan.

__ADS_1


"Hey, Jordan! Jangan jadi seorang pengecut! Keluarlah!" teriak lelaki itu sambil terus menggedor kaca mobil Amy.


Amy memilih untuk diam. Tangannya gemetar dan mencoba untuk tetap berdiam diri di sana. Namun, gedoran semakin lama semakin sering dan kuat.


Akhirnya mau tidak mau, Amy menurunkan kaca mobil. Lelaki garang itu membuka kacamata lalu melongok ke dalam mobil untuk mencari keberadaan Jordan. Dia mengerutkan dahi ketika tidak mendapati Jordan di dalam sana.


"Di mana Jordan!" teriak lelaki tersebut.


"Si-siapa Jordan? Aku tidak mengenalnya!" seru Amy dengan suara gemetar.


"Tunggu, bukankah kamu ... penulis terkenal itu?" tanya lelaki itu menyipitkan mata untuk memastikan penglihatannya tidak keliru.


Amy menelan ludah kasar. Di luar dugaan lelaki tersebut mengetahui identitasnya. Sebenarnya hanya orang dengan hobi membaca saja yang akan mengenalinya.


Amy tidak menyangka kalau lelaki berwajah garang itu mengenali dirinya. Amy hanya mengangguk pasrah tanpa tahu apa akibat selanjutnya atas pengakuan tersebut. Tiba-tiba sebuah seringai terukir di bibir lelaki tersebut.


Lelaki itu merogoh saku jasnya dan hendak mengeluarkan sesuatu dari sana. Keringat dingin mengucur membasahi dahi Amy. Perempuan itu memejamkan mata erat karena mengira dia akan ditodong dengan senjata api.


"Bisa minta tanda tangannya? Saya sangat menyukai semua novel yang Anda tulis, Nona!"


Kalimat itu sontak membuat Amy kembali membuka mata. Dia kini melirik ke arah jemari lelaki itu yang menggenggam kertas kecil serta pulpen. Amy pun tertawa kecil dengan senyum canggung.


"Hahaha, ba-baiklah!" Amy langsung mengambil alih kertas serta pena itu dan membubuhkan tanda tangan di atas sana.


Setelah selesai, Amy juga menulis sebuah kutipan dialog yang ada di dalam salah satu novel miliknya. Lelaki berjas hitam itu menunggu dengan mata berbinar penuh antusias. Begitu Amy menyerahkan lagi kertas kepadanya, seakan ada bintang-bintang yang terpancar keluar dari sorot mata salah satu anak buah Rafael tersebut.


"A-apakah sudah? Aku harus segera pergi. Di belakang antrean untuk mengisi bahan bakar mulai mengular."

__ADS_1


Seketika lelaki itu menoleh ke belakang mobil Amy. Benar saja, di sana sudah ada sekitar lima mobil lain yang menunggu giliran untuk mengisi bahan bakar. Setelah anak buah Rafael pergi, Amy membuang napas lega dan membayar bahan bakar yang sudah diisikan ke dalam tangki mobilnya.


"Astaga, aku harus bicara dengan Jordan. Dia tidak bisa lari terus seperti ini!"


__ADS_2