
Jordan menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan saat sampai di depan pintu. Dia menatap benda yang terbuat dari kayu itu dan mulai menelan ludah kasar. Jordan berusaha mengusir bayangan Amy yang dulu pernah sekarat karena gairah.
"Ya, Dragon! Aku mencoba berpikir positif! Jadi, kamu tetap tidur tenang dan bangun ketika istriku siap menyambutmu, mengerti?" Jordan kembali melirik bagian bawah tubuhnya.
Setelah merasa lebih tenang, Jordan pun memegang nampan dengan satu tangan. Tangan yang lain memegang tuas pintu dan mulai memutarnya. Begitu pintu terbuka, Jordan terbelalak.
Lelaki itu tersenyum kecut sambil menatap Amy yang masih ada di meja kerja dengan posisi tertelungkup. Jordan berjalan pelan agar tidak membangunkan Amy. Dia meletakkan kudapannya ke atas meja dan mendekati Amy.
Jordan menggoyangkan lengan sang istri, tetapi Amy tidak merespons sama sekali. Justru ketika Jordan kembali mencoba untuk membangunkannya, Amy menepis lengan sang suami. Akhirnya, mau tidak mau Jordan mengangkat tubuh Amy.
"Astaga, badanmu kecil tapi ternyata berat sekali!" Jordan melangkah pelan ke arah ranjang.
Ketika sampai di sisi ranjang, Jordan langsung membaringkan tubuh Amy. Dia menyelimuti tubuh sang istri kemudian duduk sambil bertopang dagu di samping ranjang. Lelaki tampan itu mulai mengamati setiap detail wajah sang istri.
Semakin mengamati wajah Amy, jantung Jordan berdegup semakin cepat. Dadanya berdebar seakan sedang terkena serangan jantung. Dia berulang kali menelan ludah karena menahan diri untuk tidak menciumnya saat tatapannya terpaku pada bibir berisi mungil milik Amy.
"Ah, sepertinya aku harus menurunkan lagi suhu pendingin ruangan! Kenapa mendadak jadi gerah begini?"
Jordan mengalihkan pandangan dari Amy, kemudian menggerakkan kaosbagar angin bisa masuk ke dalamnya untuk mengurangi rasa gerah yang mendera. Dia juga terus menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan melalui mulut. Setelah jauh lebih tenang, Jordan akhirnya memilih untuk segera masuk ke bilik kecil di sudut kamar.
Lelaki itu berusaha memejamkan mata. Namun, bayangan Amy kembali menggoda imannya. Lelaki itu terus berguling ke kiri dan kanan agar bisa segera tertidur.
Setelah mencoba berbagai cara tidak berhasil membuat matanya terpejam, akhirnya Jordan keluar dari bilik. Dia berjalan ke arah meja dan meminum jus serta memasukkan salad buah yang sudah dia siapkan untuk Amy.
"Astaga! Ini sangat enak dan segar! Aku susah-susah menyiapkan semua ini, tapi dia malah tertidur lelap!" seru Jordan sembari melirik kesal ke arah Amy yang tertidur pulas tanpa dosa.
Jordan hampir menghabiskan satu mangkuk salad buah. Namun, rasa kesalnya belum membaik. Justru semakin melihat ke arah Amy, dirinya semakin bertambah kesal.
"Aish! Bisa gila aku!" umpat Jordan sambil mengacak rambut frustrasi.
Jordan pun memutuskan untuk beranjak dari atas karpet dan kembali mengangkat mangkok serta gelas yang masih berisi makanan. Dia berniat untuk memasukkan semuanya ke dalam lemari pendingin. Setelah memasukkan salad buah serta jus ke dalam kulkas, Jordan pun kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Jordan saat melihat Amy sudah berdiri di depan pintu dengan rambut berantakan. Tatapan mata Amy pun terlihat kosong. Jordan mundur satu langkah sambil mengusap dada.
"Astaga! A-Amy, kamu ngapain!"
"Aku nggak bisa tidur!"
Jordan langsung melongo. Dia tidak habis pikir dengan apa yang keluar dari hibir sang istri. Bahkan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Amy tidur sangat lelap. Bahkan tadi sempat mendengar dengkuran halus yang dia keluarkan.
"Apa seseorang yang tidak bisa tidur bisa mengeluarkan dengkuran halus dari bibirmu ini?" Jordan menjepit bibir Amy menggunakan kelima ujung jarinya.
Amy pun menepis tangan sang suami kemudian mengerucutkan bibir. Sedetik kemudian, Amy mengendus bau mayonais menguar dari tubuh Jordan. Dia terus mengendus-endus dari mana aroma itu berasal.
Hidung Amy berhenti di sudut bibir Jordan yang ternyata meninggalkan sedikit mayonais. Amy mengusapnya dengan ujung jari, kemudian mengendus ujung jari untuk memastikan kalau dugaannya benar.
"Ini mayonaise! Kamu habis makan apa? Kenapa tidak mengajakku!" seru Amy sambil melemparkan tatapan kesal.
"Lah, salah sendiri tidur! Aku sudah susah-susah membuatkan kamu salad buah! Baru kutinggal sebentar, kamu sudah tidur saja!" seru Jordan kesal.
"Kamu pikir aku nggak capek! Aku susah-susah membuatkan kudapan agar kamu semangat bekerja, tapi malah kamu ketiduran!"
Sepasang suami istri itu terus bertengkar hanya karena salah paham serta semangkuk salad buah. Pertengakaran itu diakhiri dengan keduanya saling balik kanan dan adu punggung. Mereka juga mengambil posisi yang sama, yaitu melipat lengan di depan dada.
Satu detik, dua detik, dan tak lama berselang mereka sama-sama membuang napas kasar. Keduanya kembali balik kanan dan saling menatap. Dalam hitungan detik, mereka pun tertawa terbahak-bahak.
"Astaga, kita seperti anak-anak saja!" ujar Amy di tengah gelak tawa.
"Kamu yang seperti anak-anak!" seru Jordan sembari menunjuk wajah sang istri.
"Dih, aku ini perempuan dewasa! Kamu yang anak kecil!"
"Aku anak kecil? Mau kubuktikan kalau aku ini adalah lelaki dewasa?" Jordan tersenyum miring dan mulai melangkah mendekati Amy.
__ADS_1
Amy memasang mode waspada. Dia terus mundur selangkah ketika Jordan maju. Hal itu terus terjadi sampai akhirnya kaki Amy menabrak sisi ranjang.
"Ka-kamu mau ngapain? Berhenti atau aku akan berteriak!" gertak Liona.
"Berteriaklah! Jika kamu berteriak, ibuku justru akan semakin senang. Pasti dia mengira kita sedang melakukan proses perkembangbiakan untuk memberinya cucu!" Jordan menyeringai dan malah membuka kaosnya.
Sontak Amy memejamkan mata. Dia enggan melihat bentuk tubuh Jordan. Bukan karena apa, dia hanya takut tergoda dan berakhir di bawah kungkungan lelaki tampan tersebut.
"Ayo, buka matamu, Sayang. Tubuhku ini milikmu! Aku milikmu, Sayang!"
Jordan meraih tangan Amy dan memaksa sang istri untuk meraba permukaan dadanya. Amy hanya bisa pasrah. Namun, mata perempuan itu masih terpejam erat.
"Bagaimana menurutmu? Bukankah dadaku sangat seksi untuk dilihat dengan mata terbuka?"
"Ayolah, Jordan hentikan permainan ini!"
"Hei, aku sedang tidak bermain, Sayang. Aku sedang membuktikan padamu, bahwa aku merupakan lelaki dewasa dengan tubuh sangat menawan. Para perempuan biasanya menyebut perutku dengan sebutan roti sobek! Kamu yakin tidak mau melihatnya?"
Amy menelan ludah kasar. Sejujurnya Jordan merupakan lelaki tipenya. Seandainya dia melakukan sesuatu lebih jauh dengan Jordan, itu merupakan hal yang sah-sah aja.
Perlahan Amy membuka mata. Ternyata, Jordan telah menipunya. Lelaki itu masih menggunakan kaos dalam tipis berbahan spandek. Mendadak Amy cemberut.
Ada rasa kecewa yang kini membuatnya kesal. Selain gagal melihat roti sobek milik Jordan, dia juga merasa sedang dipermainkan oleh sang suami. Puas membuat Amy merajuk, Jordan pun tertawa terbahak-bahak.
"Kamu benar-benar besikap seperti anak-anak, Jordan. Aku tidak suka!"
"Baiklah, kali ini aku akan bersikap serius!"
Jordan mendorong pelan tubuh Amy hingga perempuan itu terbaring di atas kasur. Jordan pun ikut naik ke atasnya dan mulai mengungkung sang istri. Sebuah senyum miring terukir di bibir Jordan.
"Jadi, mari kita bermain ala orang dewasa!"
__ADS_1