
Siang itu, Jordan berencana membongkar dinding kayu yang ada di kamar Amy. Dia meminta sang istri untuk bekerja di balkon rumah agar tidak terganggu dengan aktivitasnya. Jordan mulai melepas satu per satu papan dengan peralatan yang sudah dia siapkan.
Lelaki itu menyelesaian semuanya dalam waktu dua jam. Begitu selesai, Jordan langsung mandi dan turun ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Ketika sedang sibuk menyiapkan bahan makanan untuk dimasak, Mona keluar dari kamar.
Perempuan itu menatap sinis sang putra seraya melipat lengan di depan dada. Jordan memilih untuk diam dan terus melanjutkan aktivitasnya. Mona pun berjalan mendekat lalu duduk di bar kecil yang ada di dapur.
"Kenapa kamu sudah tidak memasak lagi untuk aku dan Morgan?" tanya Mona dengan nada bicara sinis.
Suasana di ruangan itu sunyi karena Jordan tidak membalas pertanyaan sang ibu. Dia memilih untuk diam dan terus menumis sayuran yang sudah ada di dalam wajan. Lelaki itu menganggap bahwa sang ibu tidak ada di ruangan itu.
Jordan terus melanjutkan pekerjaannya hingga selesai. Mona juga hanya bisa mengikuti alur yang dibuat sang putra. Dia menunggu Jordan menanggapinya dengan duduk tenang di kursi bar.
Setengah jam kemudian, Jordan selesai memasak dan mulai menata makanan ke atas nampan. Dia pun bersiap untuk membawa semuanya ke kamar. Akan tetapi, Mona mencegahnya. Mau tidak mau Jordan pun berhenti.
"Siapkan juga untuk kami!" perintah Mona.
Jordan memutar bola mata kemudian meletakkan kembali nampannya ke atas meja. Dia melipat lengan sembari melayangkan tatapan tajam ke arah sang ibu. Lelaki tersebut mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya menanggapi ucapan sang ibu.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya Park. Saya bukan pembantu Anda." Jordan tersenyum miring kemudian kembali mengabaikan sang ibu.
Jordan mengangkat nampan, kemudian kembali berjalan ke arah anak tangga. Akan tetapi, mendadak Mona menyentuh kasar nampan yang dibawa oleh Jordan dengan sengaja. Alhasil, nampan tersebut jatuh ke lantai dan makanan yang ada di atasnya berhambur ke mana-mana.
"Kamu belajar tidak sopan dari mana, ha!" teriak Mona penuh emosi.
Jemari Jordan mengepal dan rahangnya mengeras. Dada Jordan naik turun karena berusaha meredam emosi yang kini meledak-ledak. Rasanya Jordan ingin sekali mengumpat.
Namun, Jordan terus menahannya. Dia sebisa mungkin tidak ingin berbicara dengan nada tinggi kepada sang ibu meski dalam keadaan marah sekali pun. Jordan hanya terus menatap tajam Mona dengan jemari mengepal kuat di samping badan.
"Aku mempelajari semuanya dari Ibu. Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?" Sebuah senyum miring kini terukir di bibir sang ibu.
Tanpa disangka, Amy sudah berada di samping Mona dan mencengkeram pergelangan tangannya. Mona pun langsung menoleh ke arah sang menantu. Rahangnya mengeras dan matanya melotot.
Amy mengempaskan lengan sang ibu mertua. Keduanya pun saling menatap sinis berusaha untuk mengintimidasi satu sama lain. Akan tetapi, tidak ada yang kalah atau pun menang.
"Tolong bersikap sopan di rumah saya, Bu. Anda memang ibu dari suamiku yang seharusnya aku hormati. Tapi, sekali lagi aku katakan ...." Amy melangkah maju dan terus menatap tajam sang ibu mertua.
__ADS_1
"Ini rumah saya. Saya sudah mengalah dengan naik ke lantai atas agar Anda bisa menumpang di sini dengan nyaman. Jadi, tolong tahu diri. Atau angkat kaki saja dari sini!" Amy mengucapkan semua kalimat itu dengan nada dingin dan diakhiri dengan sebuah senyum miring.
Mona yang kesal pun, mengentakkan kakinya ke atas lantai kemudian kembali ke kamarnya. Dia membanting kasar pintu sehingga menimbulkan suara yang lumayan mengganggu di telinga Amy. Dia hanya bisa menggeleng keheranan melihat tingkah sang ibu mertua yang lebih mirip remaja labil, daripada sikap orang tua yang sudah berumur.
"Maafkan ibuku, Sayang." Jordan merangkum wajah sang istri dan menatapnya sendu.
"Sudahlah, aku berharap mendapatkan sosok ibuku kembali melalui beliau. Tapi, sepertinya aku tidak akan pernah mendapatkannya." Amy tersenyum getir karena mengingat bagaimana perlakuan semua perempuan seusia Mona kepadanya.
"Maaf," ucap Jordan sambil tertunduk lesu.
"Hei, ini bukan kesalahanmu. Ini semua ada di luar kendalimu, Jordan." Amy rersenyum lembut dan mampu membuat hati Jordan bergetar hebat.
"Kalau begitu, bisa bantu aku sebentar saja di dapur?"
Jordan melirik ke arah bekas kekacauan yang ditimbulkan oleh sang ibu. Amy pun mengikuti arah tatapan Jordan dan langsung mengangguk. Keduanya langsung bekerja sama.
Amy membersihkan lantai, sedangkan Jordan memasak lagi untuk kedua kalinya. Mereka pun dapat menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat karena bekerja sama. Setelah selesai, Jordan akhirnya mengajak Amy makan di meja makan siang itu.
__ADS_1
Mereka berdua pun menikmati makan siang sambil bercanda. Keduanya juga membahas mengenai rencana Jordan yang hendak membuka kedai kecil di lembah gunung tempat mereka tinggal sekarang. Amy pun mendukung penuh niat sang suami.
"Aku akan selalu menjadi orang pertama yang ada di belakangmu untuk menjadi suporter utama!"