
"Jadi belanja, atau kita pulang saja?" tanya Amy setengah berbisik.
Amy menatap Mona yang terdiam di kursi belakang. Perempuan paruh baya itu menatap kosong jalanan dengan dahi yang menempel pada kaca mobil. Meski menyebalkan, melihat sang ibu mertua dalam kondisi kalut membuat Amy tergerak untuk menghibur perempuan itu.
"Sepertinya kondisi Ibu sedang tidak baik-baik saja, Sayang. Kita pulang saja bagaimana? Supaya Ibu bisa segera beristirahat."
"Aku tidak masalah. Apa pun yang membuat kalian nyaman, aku akan melakukannya. Pembukaan kedai bisa ditunda sementara waktu." Jordan tersenyum lebar kemudia mengusap puncak kepala sang istri.
"Baiklah kalau begitu." Amy menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.
Perempuan itu meminta Jordan untuk menepikan mobil. Jordan hanya mengerutkan dahi dan langsung menepikan mobilnya tanpa bertanya sepatah kata pun. Dia mengira Amy ingin membeli kue karena tepat di depan mereka ada sebuah toko kue.
Setelah mobil berhenti, Amy melepas sabuk pengaman dan keluar dari sana. Dia berpindah ke kursi belakang untuk menemani sang mertua. Awalnya Mona tidak menggubris Amy, tetapi perempuan itu tidak kehabisan akal.
Amy kembali membuka pembicaraan untuk sedikit mengaburkan rasa sedih yang dialami oleh Mona. Dia tidak tega melihat Mona yang biasanya cerewet tampak murung. Amy sekarang justru merindukan sosok menyebalkan sang ibu mertua.
"Apa yang Ibu akan lakukan ketika memiliki waktu senggang? Memasak, belanja, membaca, menulis, bernyanyi, atau yang lainnya?" tanya Amy basa-basi.
__ADS_1
Mona masih diam tak merespons. Dia hanya menatap kosong jalanan yang mereka lewati. Suasana hati Mona benar-nebenar kacau hari itu.
Mona merasa menjadi perempuan paling bodoh di dunia. Dia menodai hubungan dengan sang putra hanya demi lelaki sialan bernama Morgan itu. Bahkan Mona melakukan segala hal licik untuk menguasai harta menantu serta Jordan karena saran dari Morgan.
Beruntungnya Mona belum bertindak lebih jauh. Dia hanya kehilangan tabungan masa tua yang digunakan bersama Morgan saat berada di Paris. Jika mengingat semua hal bodoh itu, rasanya Mona ingin sekali melompat dari atas gedung untuk mengakhiri hidupnya.
"Bu, apa kamu tahu? Aku ditinggalkan di panti asuhan ketika masih kecil. Aku merasa kesepian dan berharap ibuku datang kembali untuk menjemputku." Amy menatap sendu perempuan yang perlahan meliriknya melalui ekor mata.
Amy tersenyum tipis karena berhasil mengambil sedikit perhatian dari sang mertua. Dia menyandarkan punggung, kemudian menatap jalanan sambil terus bercerita mengenai masa kecilnya.
"Aku terus menantinya, berharap dia segera menjemputku sesuai janji yang diucapkan ketika meninggalkanku di panti asuhan. Aku melewati hari dengan menatap jendela panti asuhan sepanjang waktu. Menyendiri dan menjadi kesulitan untuk bergaul. Murung seperti yang Ibu lakukan sekaranh.
"Aku mendapatkan sosok ibu ketika tinggal sebentar bersama Ara dan keluarganya. Sayangnya, umur ibu Ara tidak panjang. Setelah itu, aku kembali hidup dalam kesepian dan di bawah tekanan." Amy perlahan menggerakkan jemarinya.
Amy memberanikan diri untuk menyentuh tangan Mona. Dia berharap sentuhannya tidak ditolak oleh perempuan tersebut. Ketika kulit tangannya bersentuhan dengan Mona, hati Amy menghangat.
Setelah sekian lama, baru kali ini Amy bisa merasakan kembali hangatnya tangan seorang ibu. Mendadak mata perempuan itu berkabut. Dadanya terasa begitu lega karena bisa menggenggam jemari Mona tanpa penolakan sedikit pun.
__ADS_1
"Maukah Ibu menjadi Ibuku? Maukah Ibu memasakkan aku beberapa makanan kesukaanku? Maukah Ibu menemaniku ketika aku lembur menulis karya yang luar biasa?" Rentetan kalimat itu keluar begitu saja diiringi isak tangis.
Tangis Amy langsung pecah ketika Mona tiba-tiba merengkuh tubuh dan memeluknya. Jordan menatap adegan mengharukan itu melalui kaca spion yang menggantung di atasnya. Hatinya begitu terharu melihat curhatan sang istri.
Jordan tidak tahu apa maksud Amy melakukan hal itu. Bukankah seharusnya dia menghibur ibunya yang sedang bersedih? Kenapa justru istri uniknya itu meluapkan kesedihan di tengah kesedihan yang sang ibu rasakan sekarang?
"Kamu itu bodoh atau bagaimana? Bukankah aku ini memang sudah menjadi ibumu?" Mona melepaskan pelukan, lalu merangkum wajah mungil Amy.
"Maaf sudah berbuat jahat kepada kalian. Mulai hari ini, aku akan berperan sebagai ibu peri yang baik untuk kalian berdua." Mona tersenyum lebar kepada Amy dan Jordan secara bergantian.
"Aku minta maaf terutama kepadamu, Jordan. Ibu minta maaf karena sudah menjual rumah ayahmu tanpa persetujuan. Aku gelap mata dan benar-benar menyesal. Bagaimana pun kondisimu, aku akan menjalani hidup dengan kamu dan Amy. Apa kalian keberatan?" tanya Mona.
Jordan menatap sang istri melalui kaca spion. Amy pun menatap mata Jordan melalui benda tersebut. Seakan ada sinyal telepati yang tertangkap oleh mereka sehingga keduanya mengangguk bersamaan.
"Bu, dalam sebuah istana tidak mungkin ada dua orang ratu ...." Ucapan Amy menggantung karena dipotong oleh Mona.
"Baiklah kalau begitu aku akan tinggal di rumah yang terpisah." Mona menunduk lesu dengan jemari saling meremas satu sama lain.
__ADS_1
Mona sadar bahwa dirinya memang bersalah. Dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya untuk kembali tinggal bersama putra dan menantunya. Dia pasti sudah dianggap sebagai benalu bagi rumah tangga sang putra. Mona mengembuskan napas kasar, lalu memaksakan senyum.
"Aku akan tinggal sendirian saja. Aku akan mencari rumah sewa dengan sisa uang yang ada."