Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 40. Tersangka


__ADS_3

"Baik, terima kasih! Ditunggu kedatangannya lain waktu!" Jordan membungkuk 90 derajat ketika menyapa pelanggan terakhirnya siang itu.


Lelaki tersebut tersenyum lebar karena berhasil menjual makanan hanya dalam waktu 3 jam. Jordan kembali masuk ke kedai, lalu membereskan meja. Ketika hendak berjalan ke arah bak cuci piring lonceng kedainya berbunyi.


"Maaf, kedainya sudah tutup, Tuan." Jordan balik kanan untuk mengetahui siapa yang datang ke kedainya siang itu.


Lelaki tersebut mengerutkan dahi karena melihat dua orang berjaket hitam masuk ke kedainya. Jordan meletakkan piring serta gelas ke bak cuci piring, lalu menemui dua orang tersebut.


"Kami dari kepolisian," ucap salah seorang laki-laki seraya menunjukkan tanda pengenal khusus aparat kepolisian.


"Ada apa, ya, Pak?" tanya Jordan dengan kedua alis yang masih bertautan.


"Anda ditangkap karena tuduhan penganiayaan!" sahut lelaki lain yang ada di belakang polisi pertama.


Jordan terdiam seketika ketika polisi tersebut menyodorkan surat perintah penangkapan kepadanya. Jordan membaca perlahan isi surat tersebut. Dia langsung terbelalak karena mengetahui siapa yang telah melapor kepada polisi.


"Saya hanya membela diri, Pak! Ah, bukan! Lebih tepatnya hanya memberi pelajaran kepada penipu ini!" Jordan melemparkan kertas tersebut ke atas lantai.


Polisi yang sedari tadi diam, akhirnya bergerak untuk memungut surat penangkapan. Sedangkan sang atasan bergerak maju dan memborgol pergelangan tangan Jordan. Jordan terus berontak, tetapi dua polisi itu langsung menggelandangnya ke dalam mobil.


"Saya tidak bersalah! Justru seharusnya lelaki berengsek bernama Jordan itu yang ditahan!" teriak Jordan ketika sudah duduk di dalam mobil.


"Mari kita selesaikan semuanya sesuai dengan hukum yang ada! Bagaimanapun juga melakukan tindak kekerasan kepada orang lain merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan!"


Jordan akhirnya dibawa ke kantor polisi. Setelah sampai di sana, dia diinterogasi di dalam ruangan khusus. Polisi mengajukan beberapa pertanyaan yang menyangkut perihal insiden yang bahkan dia hampir melupakannya itu.


"Jadi, siapa saja saksi matanya?" tanya detektif Han.


"Aku sedang bersama ibu dan istriku waktu itu. Morgan yang mendorong ibuku lebih dulu!" seru Jordan berapi-api.


"Baiklah, aku akan memanggilnya ke sini!" seru detektif Han.

__ADS_1


Detektif Han mengisyaratkan kepada petugas lain untuk mengurung Jordan ke dalam sel tahanan. Sementara itu, dia menghubungi Mona untuk mengetahui di mana perempuan itu berada. Setelah mengetahui keberadaan Mona dan Amy, mereka menjemput dua orang saksi yang melihat kejadian itu secara langsung.


Proses investigasi berlangsung penuh air mata. Amy, Mona, serta kekasih Morgan dimintai keterangan. Bahkan sang pemilik toko perhiasan juga diminta keterangan karena CCTV yang ada di bagian belakang tokonya juga dijadikan bukti.


Sementara itu, Jordan mengalami perlakuan buruk di dalam tahanan. Dia dikurung bersama tiga orang lelaki bertubuh kekar. Mereka masing-masing bernama Ruben, Jordi, dan Vincent.


"Kasus apa?" tanya Jordi sambil menyeringai ke arah Jordan.


"Sepertinya dia lelaki baik-baik, bagaimana bisa sampai kantor polisi?" Vincent berjalan ke arah Jordan.


Tidak hanya Vincent dan Jordi, Ruben pun ikut mendekati Jordan. Tiba-tiba Ruben dan Jordi mencekal lengan Jordan. Vincent menyeringai, lalu mendaratkan pukulan pada perut Jordan.


Jordan langsung memuntahkan cairan bening detik itu juga. Ulu hatinya terasa sangat ngilu. Pandangannya mulai kabur, sehingga tubuh lelaki itu ambruk ke atas lantai.


"Ka-kalian siapa?" tanya Jordan seraya mengerjap berulang kali untuk kembali memfokuskan pandangannya.


Tak lama berselang, terdengar suara langkah mendekati sel penjara. Jordan berusaha mendongak untuk mengetahui siapa yang tengah mendatangi mereka. Anehnya, petugas membukakan pintu sel dan orang tersebut masuk.


"Selamat datang, di neraka!"


"Dasar brengsek!" umpat Jordan dengan otot sekitar mata yang tampak menonjol.


Setelah itu, Morgan keluar dari sel tahanan. Begitu jeruji besi ditutup lagi, tiga orang yang bersama Jordan langsung menendang tubuh lelaki tersebut. Mereka terus melakukan kekerasan fisik kepada Jordan.


Anehnya, para petugas kepolisian hanya diam. Mereka semua seakan tidak mengetahui tindakan keji yang dilakukan Vincent, Jordi, dan Ruben. Semua orang yang melihat hanya diam, tanpa mau peduli dengan apa yang sudah dialami Jordan.


Tak terasa sudah satu bulan Jordan ditahan. Proses penyidikan terus berlangsung dan pekan depan persidangan akan dilakukan. Pagi itu Amy mendapati hal janggal.


"Bu, ada apa? Aku lihat Ibu akhir-akhir ini tampak murung?" tanya Amy seraya menatap Mona yang sedang membereskan piring.


"Nggak pa-pa!" seru Mona ketus.

__ADS_1


Amy mengernyitkan dahi. Perempuan itu benar-benar curiga dengan sikap Mona yang kembali seperti dulu. Awalnya Amy berpikir mungkin hal itu terjadi karena Mona yang tertekan akibat proses penyidikan.


Namun, semua dugaan itu langsung luntur ketika sebuah ketukan pada pintu rumah terdengar. Amy berjalan pelan untuk membukakan pintu. Ketika benda itu terbuka, Amy langsung terbelalak.


Morgan sudah berdiri di depan rumah sambil menyeringai. Amy langsung menutup kembali pintu di depannya. Morgan pun terus menggedor pintu berulang kali agar perempuan itu membukanya.


"Siapa yang datang?" tanya Mona dengan suara datar.


"Tolong bantu aku menahan pintu ini, Bu! Dia ada di luar!" seru Amy panik.


"Dia siapa?"


"Morgan! Morgan datang!"


Mona memasang wajah datar. Dia berjalan perlahan mendekati pintu. Perempuan itu mendorong pelan tubuh Amy sehingga dirinya melepaskan gagang pintu.


Alangkah terkejutnya Amy ketika melihat Mona justru membuka pintu rumah. Morgan langsung menyeringai. Dia menurunkan lengan baju, lalu menyugar rambut.


"Apa kabar, Sayang?" sapa Morgan sambil melambai ke arah Mona.


Jantung Amy hampir copot ketika mendapati Mona justru menghambur ke pelukan Morgan. Dia tidak habis pikir karena ibunya itu kembali tergila-gila kepada mantan kekasihnya. Mona melepaskan pelukan, kemudian menarik lengan Morgan untuk masuk ke dalam rumah.


Amy hanya bisa melongo melihat adegan tersebut. Ingin sekali Amy mengumpat dan memarahi sang mertua. Namun, Amy terus menahannya sekuat hati karena tidak ingin memperkeruh suasana.


"Jadi, kamu bersedia datang ke pengadilan? Jangan lupa pembelaanmu kepadaku, ya, Sayang?" Morgan meraih jemari Mona, lalu mengecup punggung tangannya.


Mona tidak menjawab. Perempuan tersebut hanya tersenyum tipis penuh arti. Di sisi lain, Amy mengepal kuat karena menahan emosi.


Amy tidak menyangka bahwa hati Mona begitu mudah goyah. Hanya dengan panggilan sayang yang keluar dari bibir Morgan, mampu meluluhkan hatinya. Dia bahkan sudah rela mengorbankan sang putra demi kesenangan pribadi.


"Ternyata Ibu tidak pernah berubah! Aku menyesal sudah mempercayaimu selama ini!" Amy balik kanan, kemudian perlahan menaiki anak tangga satu per satu.

__ADS_1


__ADS_2