
Jordan sedang bersiap untuk pergi ke pusat Kota Busan. Dia sudah rapi dalam balutan busana kasual. Di sudut kamar, Amy sedang fokus dengan laptop di depannya.
Jordan berjalan pelan ke arah sang istri dan berhenti tepat di belakangnya. Lelaki tersebut melingkarkan lengan pada tubuh Amy, sehingga membuat dia kesulitan untuk mengetik. Amy terpaksa menghentikan aktivitasnya.
Amy melepas kacamata, lalu mendongak dengan kepala menempel pada sandaran kursi. Jordan sedikit membungkukkan tubuh sehingga jarak keduanya begitu dekat.
"Kenapa?" tanya Amy dengan seulas senyum tipis.
"Aku sudah menyewa kios kecil yang ada di bawah sana. Dekat dengan parkiran mobil."
"Benarkah? Mau cepat-cepat buka kedai?"
"Iya, hari ini aku akan membeli beberapa perabotan. Kamu mau ikut?" Jordan berniat mengajak istrinya untuk ikut serta.
Amy mulai merasa tidak nyaman dengan posisi tubuhnya. Perempuan itu pun akhirnya menegakkan kembali punggung. Amy memutar kursi sehingga kini berhadapan dengan Jordan.
"Aku sebenarnya ingin sekali ikut. Tapi, aku tidak bisa. Naskahku harus segera diselesaikan agar kontrak dengan penerbit lama segera berakhir." Amy tersenyum lembut kepada sang suami.
Amy melingarkan lengan pada leher Jordan. Lelaki itu pun tersenyum tipis. Dia membelai lembut pipi istrinya tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan segera kembali setelah selesai membeli semua yang diperlukan."
Amy mengangguk. Jordan pun mendaratkan ciuman sekilas pada bibir sang istri. Setelah itu dia langsung berpamitan.
__ADS_1
Amy memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaan setelah Jordan keluar dari kamar. Beberapa hari terakhir pekerjaannya terbengkalai. Sejak menyerahkan keperawanannya kepada Jordan, suami genitnya itu tidak bisa lepas dari Amy.
Keduanya melakukan hubungan suami istri minimal satu kali sehari. Hal itu tentu saja menyita waktu dan tenaga Amy. Setelahnya dia akan kelelahan dan tidur selama berjam-jam.
"Baiklah, mari kita mulai fokus dengan pekerjaan yang harus segera diselesaikan!" seru Amy seraya menyingsingkan lengan baju.
Jemari lentik Amy pun berlari lincah di atas papan ketik. Ide begitu lancar mengalir di dalam otak. Konsentrasinya begitu fokus dengan alur yang sudah dia ciptakan sebelum mengetik naskah novel barunya.
Amy sampai lupa waktu karena terlalu larut dalam kegiatannya menulis. Tak terasa langit sudah berubah menjadi jingga. Jika saja ponselnya tidak berdering, mungkin dia akan lupa untuk berhenti bekerja dan beristirahat.
"Halo, Sayang ... sedang apa?" tanya Jordan dari ujung sambungan telepon.
"Aku baru saja mau menutup laptop. Untung saja kamu meneleponku. Jika tidak, mungkin aku tidak akan sadar kalau sudah mengetik sampai delapan jam lebih tanpa jeda."
Jordan berbicara dengan nada kesal. Amy pun hanya terkekeh ringan sembari menggaruk kepalanya. Dia pun memutuskan untuk makan roti yang ada di atas nakas sambil ditemani Jordan yang sedang dalam perjalanan pulang.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar, ya?" Amy meletakkan ponsel kemudian berlari kecil ke arah kamar mandi.
Lima menit kemudian, Amy keluar dari ruangan kecil tersebut. Dia tersenyum lebar sebelum akhirnya melihat Morgan yang ternyata sudah berdiri sambil menatap foto pernikahannya dengan Jordan.
"Kamu kenapa ada di sini?" Amy menatap nyalang ke arah Morgan.
Lelaki itu tersenyum tipis tanpa mengalihkan tatapannya dari bingkai foto yang menggantung pada dinding. Amy menelan ludah kasar sebelum akhirnya kembali berbicara kepada Morgan.
__ADS_1
"Kamu sudah melanggar batas teritorial yang aku berikan kepadamu. Keluar sekarang juga sebelum kamu menyesal!" seru Amy sambil mengarahkan jari telunjuknya ke pintu kamar.
Mendengar Amy yang bicara penuh amarah, membuat Morgan mengalihkan tatapannya. Dia langsung mendekati Amy yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi. Amy terus melemparkan tatapan tajam kepada Morgan.
Setiap Morgan maju satu langkah, maka Amy akan mundur selangkah juga. Sampai akhirnya punggung perempuan itu menempel pada pintu kamar mandi.
"Jangan macam-macam! Atau aku akan berteriak!" ancam Amy.
Mendengar kalimat tersebut, sontak membuat Morgan tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya bergetar hebat. Lelaki itu bahkan sampai membungkuk sambil memegangi perutnya yang terasa kaku.
"Kamu lupa kalau kita ini jauh dari tetangga? Terlebih lagi sekarang Mona sedang keluar cari makan. Jadi ... bagaimana kalau kita sekarang bersenang-senang dulu?" Morgan tersenyum miring kemudian langsung menyerang Amy dengan berusaha menciumnya secara paksa.
"Lepaskan aku, Bajingan!"
Amy berusaha terus menoleh untuk menghindari bibir Morgan. Lelaki itu benar-benar terus menyerang Amy penuh hasrat. Selain berusaha mencium bibirnya, Morgan juga mencoba untuk mendaratkan kecupan pada leher perempuan tersebut.
Amy terus berontak. Dia berusaha untuk lolos dengan mendorong tubuh Morgan. Namun, kekuatannya kalah besar. Air mata mulai meleleh dan membasahi pipi Amy.
"Aku mohon lepaskan aku," pinta Amy sambil terus menangis.
Morgan mengabaikan permohonan perempuan yang berstatus sebagai menantunya itu. Bahkan semakin Amy menolak dan memohon, Morgan semakin brutal. Puncaknya lelaki itu menarik lubang kaos Amy pada bagian atas hingga sobek.
Akibat hal itu, kulit mulus serta benda kenyal dan padat yang menggantung pada dada Amy terekspos. Mata mesum Morgan pun terbelalak kagum. Dia tersenyum menyeringai sambil menyapukan lidah pada permukaan bibirnya sendiri.
__ADS_1
"Kamu ternyata memiliki tubuh yang sangat indah, Amy. Mari kita bersenang-senang hari ini!"