Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 17. Kencan yang Mendebarkan


__ADS_3

"Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu, Amy? Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa kamu."


Amy seketika membeku. Dadanya berdebar dengan jantung berdetak begitu cepat. Otaknya berpikir sedikit lambat karena kalimat yang keluar dari bibir Jordan membuat organ lunak berisi jutaan sel itu mengalami eror.


"A-apa maksud kamu, Jordan?" tanya Amy untuk memastikan bahwa maksud yang ditangkap oleh otaknya tidak salah.


Kini giliran Jordan yang melongo. Lelaki itu menelan ludah kasar karena sudah keceplosan. Dia ragu akan mengakui perasaannya atau tidak.


Akan tetapi, jika mengingkari perasaan itu, apa yang akan menjadi alasannya untuk menjawab pertanyaan Amy? Jordan menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.


Lelaki tampan itu memutar tubuh Amy hingga tatapan keduanya bersiborok. Jordan tersenyum tipis dengan tubuh sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi dengan sang istri.


"Kamu ingat kontrak kita Amy? Aku adalah pelayanmu. Mana mungkin aku membiarkan majikanku celaka secara sengaja. Aku akan melakukan segalanya untuk melindungimu dan membuat kamu merasa aman."


Hati Amy seakan diremas. Rasa kecewa kembali menampar perasaannya. Jawaban Jordan seakan menyiratkan bahwa lelaki itu tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya.


"Jadi, kamu tidak bisa kehilangan karena kontrak itu masih berlanjut? Demi rumahmu? Benar begitu?" Amy tersenyum kecut dengan tatapan yang buram karena mulai tertutup air mata.


Air mata Amy perlahan menetes. Jordan kembali merasa gagal untuk menjaga perasaan Amy. Dia hendak mengusap air mata kekecewaan itu menggunakan jemarinya, tetapi langsung ditepis oleh Amy.


"Kamu bisa pulang. Aku akan ke Seoul sendirian saja!" Amy langsung balik kanan membawa hatinya yang kecewa.


Jordan mematung dan hanya bisa menatap punggung Amy yang semakin menjauh. Sedangkan Amy terus melangkah dengan hati yang remuk redam. Di hati kecilnya, Amy berharap Jordan mengejar dia.


Akhirnya Jordan memutuskan untuk berubah pikiran. Dirinya yakin bahwa Amy juga memikiki perasaan yang sama. Lelaki tampan itu pun melangkah cepat menyusul Amy.


Jordan menarik lengan Amy dan membawanya ke dalam pelukan. Tangis Amy pun pecah. Jordan berusaha menenangkan istrinya itu tersebut.


"Maaf, sudah membuatmu menangis. Sebenarnya aku tidak bisa hidup tanpamu karena ...." Jordan menghentikan ucapannya.

__ADS_1


Lelaki itu tengah berpikir, kemungkinan yang bisa saja terjadi jika dia mengungkapkan perasaannya sekarang. Setelah yakin, Jordan pun memutuskan untuk mengungkapkan perasaan sesungguhnya kepada Amy dengan mantap.


"Karena aku sangat mencintaimu, Amy."


Amy terdiam. Tangisnya mendadak berhenti. Jantungnya kembali berpacu semakin kuat. Dia melonggarkan pelukan Jordan dan menatap dalam mata lelaki yang seharusnya dia sebut suami itu.


Amy mencari-cari kebohongan melalui mata Jordan. Dia tidak ingin mendapatkan kekecewaan karena Jordan hanya mengucapkan sebuah kebohongan hanya untuk menenangkannya.


Akan tetapi, setelah menatap mata lelaki itu, Amy tidak mendapati kebohongan di sana. Perempuan itu justru menemukan kasih sayang serta ketulusan terpancar dari sorot mata Jordan. Tangis bahagia kembali pecah.


"Aduh, kenapa kamu malah menangis begini?" Jordan menggaruk kepalanya seraya menatap bingung Amy yang menangis histeris, layaknya gadis kecil yang berpisah dengan sang ibu.


Beberapa warga setempat yang melintas menatap heran pada sepasang anak manusia tersebut. Jordan hanya menanggapi tatapan mereka dengan senyum kecut sambil melambaikan tangan sebagai tanda bahwa mereka baik-baik saja.


"Kamu kenapa tidak bilang dari awal! Kamu membuatku berpikir terlalu keras! Membuat diriku berpikir kalau aku terlalu percaya diri dengan apa yang ada di otakku! Kau tahu Jordan? Aku juga sangat mencintaimu! Aku nggak tahu kenapa perasaan ini muncul secara tiba-tiba!"


Keduanya menyatukan rasa dalam sebuah pelukan penuh cinta kasih. Saling mendengar detak jantung yang sedang berirama gembira karena pengakuan yang di luar dugaan. Setelah tenang, mereka kembali berjalan menuju lembah dan mengendarai mobil menuju Seoul.


Sepanjang perjalanan, Amy tersenyum seraya tersipu malu. Jemari keduanya lebih sering bertautan satu sama lain sehingga menimbulkan getaran-getaran asmara yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sesekali Amy menyandarkan kepalanya pada bahu Jordan.


"Aku berharap kita bisa bersama selamanya," ucap Amy sambil tersenyum lembut.


Jordan langsung terdiam karena teringat dengan kontrak pernikahan yang sudah mereka tanda tangani. Dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Amy dengan mengungkit masalah kontrak itu sekarang. Lelaki tersebut ingin menjalani kehidupan pernikahan ini seperti air yang mengalir.


Hari itu Jordan pun memutuskan untuk mengabaikan kontrak pernikahan dan menikmati momen kebersamaan dengan Amy. Mengukir kenangan indah bersama sebanyak-banyaknya untuk diingat di kemudian hari.


Setelah berkendara hampir 4 jam, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah gedung penerbit mayor yang menawarkan kerja sama kepada Amy. Jordan memilih untuk menunggu di mobil sementara sang istri menyelesaikan urusannya.


"Aku akan segera kembali!" Amy tersenyum lebar kemudian keluar dari mobil.

__ADS_1


Jordan menurunkan kaca mobil untuk melihat langsung Amy masuk ke dalam gedung tersebut. Setelah tubuh perempuan mungil itu masuk ke kantor penerbit, Jordan kembali menaikkan kaca mobil.


Menit demi menit Jordan habiskan di dalam mobil sambil mencari tahu beberapa informasi mengenai biaya untuk membuka sebuah restoran. Diam-diam lelaki tampan itu ternyata mempertimbangkan saran sang ibu.


Bagaimana pun juga, Mona sebenarnya seorang ibu yang baik, hanya saja dia memang mata duitan. Hal itu terjadi karena Mona sering mendapatkan kesulitan ekonomi semasa kecil dan ketika hidup bersama ayah Jordan.


"Lumayan juga biayanya kalau langsung membuka restoran. Bagaimana jika dimulai dengan kedai kecil saja?"


Jordan mengusap dagu sembari menatap layar ponsel yang masih menunjukkan deretan angka perkiraan modal untuk membuka sebuah usaha kedai makanan. Ketika sedang mengamati layar ponsel, terdengar suara ketukan pada kaca mobil.


Saat Jordan menoleh, Amy sudah berdiri di samping mobil sambil tersenyum lebar. Jordan pun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Amy. Mendapat perlakuan manis dari sang suami, membuat pipi perempuan itu memerah.


"Sudah selesai?" tanya Jordan dengan senyum merekah.


"Iya, sepertinya semua akan berjalan dengan baik."


"Aku ikut senang mendengarnya! Masuklah, setelah ini kita mau makan di mana?"


"Aku mau makan bulgogi."


Jordan menjawabnya dengan anggukan. Lelaki itu lalu menutup pintu setelah Amy masuk ke dalam mobil. Jordan langsung memutari kendaraan tersebut untuk duduk kembali di belakang roda kemudi.


Ketika baru memegang tuas pintu mobil, terdengar teriakan dari seberang jalan. Beberapa orang pria berpakaian serba hitam menunjuk Jordan seraya mengumpat dan meneriakkan namanya. Lelaki itu langsung terbelalak.


"Sialan!" umpat Jordan, lalu segera masuk ke dalam mobil.


Amy tersentak saat mendengar pintu mobilnya ditutup dengan kasar. Dia pun menanyakan kenapa Jordan melakukan hal tersebut. Jordan tidak menjawab dan langsung meminta Amy memasang sabuk pengaman.


"Pegangan yang kuat! Kita mau main balap F1!" Jordan menatap mantap jalanan di depannya.

__ADS_1


__ADS_2