Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 8. Hampir Tertangkap


__ADS_3

Tak lama setelah berita itu tersiar di media sosial dan elektronik, rumah Amy kini dipenuhi wartawan. Entah dari mana mereka tahu rumah baru Amy. Akhirnya mau tidak mau gadis itu menyapa para pemburu berita untuk mengonfirmasi bahwa berita yang beredar tidaklah benar.


Saat Amy membuka pintu rumah, cahaya flash kamera langsung menyerbu gadis itu. Dia harus memejamkan mata beberapa kali karena terganggu oleh cahaya tersebut. Para wartawan saling bersahutan menyampaikan pertanyaan seputar rumor yang beredar.


"Nona Choi, apa benar mengenai rumor yang beredar luas di masyarakat? Apa Anda tinggal satu atap dengan seorang pria yang diduga adalah kekasih Anda, Nona?" cecar salah seorang wartawan yang akhirnya dijawab Amy seraya mengedarkan pandangan kepada semua wartawan yang berkumpul di depan rumahnya.


"Saya tinggal sendirian di rumah ini, jika memang saya memiliki kekasih itu sebenarnya bukan urusan kalian. Kalian tidak bisa mencampuri urusan pribadi saya. Cukup nikmati saja karya yang saya buat dengan tenang. Terima kasih." Amy menunduk dan kembali menegakkan punggung seraya menatap ke arah awak media.


Amy akhirnya balik kanan dan mulai melangkah masuk ke rumah. Dia kembali menutup pintu, lalu menyandarkan punggungnya pada benda yang terbuat dari kayu tersebut. Tubuh Amy langsung merosot ke atas lantai. Dia mengusap wajah kasar seraya mengembuskan napas panjang.


Amy berharap setelah ini dia tidak akan dikejar-kejar oleh para wartawan yang haus akan berita tersebut. Namun, bukan wartawan jika langsung bungkam. Berhari-hari Amy tidak bisa keluar rumah karena berita tersebut.


Bahan makanan di kulkas semakin menipis. Amy yang frustrasi menatap nanar kulkas yang mulai kosong dan jendela dapur secara bergantian. Embusan napas penuh putus asa keluar dari bibir penulis kondang tersebut.


"Bagaimana ini?" Bahu Amy merosot kemudian meremas rambut frustrasi.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke kota lewat pintu belakang." Jordan melemparkan tatapannya ke arah jendela.


"Tunggu, bukankah kamu saat ini ingin menghindar dari keramaian. Kenapa kamu rela pergi ke kota hanya demi belanja mingguan?" Kini Amy yang terbelalak menatap Jordan penuh heran.


"Ah, itu karena salah satu pekerjaanku. Aku juga ingin mengecek saldo rekeningku dan mengurus kartu ATM yang hilang. Siapa tahu aku langsung bisa membeli rumah ini?"


"Hah, baiklah. Aku jadi ingin menjualnya lagi kepadamu dan kembali berpindah tempat. Astaga, kalau dipikir-pikir menjadi penulis bayangan jauh lebih menyenangkan daripada menjadi penulis yang terekspos seperti ini!"


Jordan melangkah ke arah Amy. Dia menepuk kedua bahu gadis di hadapannya seraya tersenyum lebar. Setelah itu, baru Jordan pun bersiap.


Hal pertama yang Jordan lakukan adalah mengecek saldo rekeningnya. Lelaki itu tersenyum tipis ketika mengamati buku tabungannya. Setelah selesai dengan urusan perbankan, Jordan segera berpindah tempat menuju pusat perbelanjaan.


"Baiklah, semua sudah selesai. Sebaiknya aku segera pulang sebelum ada yang menyadari kehadiranku!"


Namun, ketika baru saja Jordan hendak masuk ke mobil seseorang memanggilnya. Lelaki tersebut memejamkan sekilas. Dia melirik ke arah spion.

__ADS_1


Seorang lelaki berpakaian kasual berwajah garang setengah berlari ke arahnya. Jordan segera membuka pintu mobil dan membantingnya kasar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jordan langsung melajukan mobilnya layaknya orang kesetanan.


"Astaga, ternyata dia belum pergi dari Busan! Seharusnya aku lebih berhati-hati."


Jordan mengintip kondisi jalanan yang ada di belakangnya. Sebuah mobil berwarna putih melaju kencang mengejarnya. Keduanya membuat kacau jalanan pusat kota yang biasanya sedikit tenang.


Mobil mereka seakan sedang berdansa ketika melaju di atas aspal. Ketika mobil Jordan hampir tersusul oleh lelaki tersebut, dia justru menurunkan kecepatan kemudian banting setir.


Jordan sengaja balik arah dan melaju secepat yang dia bisa untuk mengecoh salah satu anak buah Rafael tersebut. Jordan mengembuskan napas lega seraya berteriak puas ketika berhasil terlepas dari kejaran lelaki tersebut.


"Kenapa aku semakin tertantang untuk bisa terus muncul di hadapan mereka? Benar-benar memacu adrenalin!" seru Jordan seraya tersenyum lebar hingga bola matanya tak lagi terlihat.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Jordan sampai di lembah. Dia mulai mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke dalam keranjang sepeda. Lelaki itu langsung menuntun sepeda perlahan.


Saat dirasa kuat untuk mengayuh, Jordan akan naik ke sepeda. Mana kala dia mulai lelah, Jordan akan kembali turun dari sepeda dan jala kaki. Begitu sampai di depan rumah, Jordan melupakan sesuatu. Sebuah umpatan pun keluar dari bibir lelaki tampan tersebut.

__ADS_1


"Sial! Bisa-bisanya aku kelupaan!"


__ADS_2