Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 13. Meredam Hasrat


__ADS_3

Jordan akhirnya menggendong tubuh Amy. Perempuan itu memejamkan mata seraya menikmati rasa aneh ketika kulitnya saling bersentuhan dengan Jordan. Dia menahan mulut nakalnya agar tidak meracau dan mengeluarkan *******.


Jordan berulang kali menelan ludah kasar karena sepasang benda kenyal menggoda milik Amy tampak jelas di balik singlet. Lelaki tampan itu benar-benar tidak menyangka kalau Amy yang mungil memiliki tubuh yang indah.


Ketika sampai di samping ranjang, Jordan melirik ke arah tempat tersebut. Akan tetapi, bukannya merebahkan Amy ke atasnya, Jordan justru terus melangkah dan membuka pintu kamar mandi. Amy terbelalak ketika Jordan memintanya berdiri di bawah shower.


"Kita mau melakukannya di sini?" Amy mengerutkan dahi seraya menatap Jordan pasrah.


Sebuah sentilan kini mendarat tepat di dahi Amy. Perempuan itu pun mengaduh. Dia mengusap dahi yang terasa sedikit panas dengan telapak tangan.


Amy pun memajukan bibir sembari menatap tajam ke arah Jordan. Lelaki tersebut kini melipat lengan di depan dada, sambil menyipitkan mata. Tak lama kemudian, dia menyalakan kran shower sehingga air dingin mengguyur tubuh Amy.


"Dinginkan tubuh dan pikiranmu di sini! Bye!"


Jordan pun keluar dari kamar mandi secepat kilat. Lelaki tersebut mengunci pintu dari luar. Terdengar Amy terus menggedor pintu dan meminta Jordan untuk membuka pintu.


"Buka pintunya, Brengsek!" umpat Amy.


"Tidak! Aku akan membuka setelah gairahmu menurun! Bisa bahaya kalau kamu tetap di dalam kamar dalam keadaan seperti ini! Bisa-bisa kamu menerkam dan memintaku untuk melakukan hal enak-enak yang tidak boleh aku lakukan sepertibdalam perjanjian pernikahan kontrak!"


"Sialan kamu, Jordan!" Amy terus menggedor pintu berharap Jordan mau mengeluarkannya dari kamar mandi.


Akan tetapi, Jordan memiliki prinsip yang kuat. Dia tidak mau membuka pintu karena takut tergoda dan berakhir memasukkan naga emasnya ke gua milik Amy. Mendadak suhu tubuh Jordan berubah panas.


Jordan kembali teringat indahnya tubuh perempuan tersebut. Lelaki tersebut mengibaskan lengannya ke atas kepala untuk menghapus pikiran kotor mengenai Amy menghilang.


"Aduh, astaga! Bisa-bisanya dia seperti ini! Jangan-jangan ...."


Jordan terbelalak seketika. Pikiran mengenai penyebab Amy bisa seperti itu mendadak melintas di kepalanya. Jordan yakin ibunya yang membuat Amy merasa bergairah.


Lelaki itu pun akhirnya keluar kamar dan menuruni satu per satu anak tangga menuju kamar sang ibu. Dia menggedor pintu layaknya orang kesetanan. Tak lama berselang, Mona keluar dengan memakai pakaian tidur seksi berwarna merah cabai.

__ADS_1


"Astaga, Bu!" Jordan mengalihkan tatapannya dari sang ibu.


Menyadari Jordan tidak nyaman dengan apa yang dia pakai, Mona kembali menutup pintu. Beberapa detik kemudian, perempuan itu keluar lagi dan sudah membalut tubuhnya menggunakan kimono handuk.


"Ada apa, Jordan?"


"Apa yang Ibu lakukan sampai Amy terlihat begitu liar?" tanya Jordan dengan dahan mengeras.


"Bagaimana rasanya menunggangi wanita yang sedang on fire, Jordan?" Mona tersenyum miring sembari melipat lengan di depan dada.


Jordan mengumpat dalam hati. Dia tidak habis pikir bisa-bisanya sang ibu melakukan segala cara agar dirinya mau menanamkan benih ke rahim Amy. Untungnya iman Jordan masih kuat kali ini.


"Lain kali, jangan lajukan hal itu lagi kepada Amy! Kasihan dia!" seru Jordan kemudian balik kanan dan kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Jordan mengusap wajah kasar. Lelaki tampan itu langsung masuk ke kamarnya yang sempit, lalu merebahkan tubuh ke atas ranjang. Salah satu kebiasaan Jordan adalah memilih tidur ketika merasa kesal atau marah.


Perlahan lelaki tersebut memejamkan mata. Dia berusaha menghalau kekacauan yang memenuhi kepala dan berpindah ke alam mimpi. Jordan melupakan Amy yang masih terkurung di dalam kamar mandi.


"Astaga, Tuhan! A-aku matikan dulu teleponnya! Nanti kuhubungi lagi!" seru Jordan.


Lelaki itu langsung mematikan sambungan telepon dan melempar asal benda pipih yang dia genggam ke atas ranjang. Jordan bergegas keluar kamar dan mencari handuk untuk Amy.


Jordan langsung membuka pintu kamar mandi dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang terasa dingin dan lembap itu. Rasa panik kini memenuhi dada Jordan. Amy tidak ada di sana.


Namun, tirai yang membatasi bak mandi tertutup. Jordan mengembuskan napas lega. Lelaki itu perlahan berjalan mendekati tirai dan berhenti tepat di samping bak mandi.


"Amy, kamu ... masih hidup, 'kan? Maaf, aku tadi ... lupa." Jordan mengusap tengkuk sambil tersenyum lecut.


Kebodohan lelaki tampan itu benar-benar tidak bisa dimaafkan kali ini. Jordan terus mengajak bicara Amy, tetapi tidak ada balasan darinya. Jordan mulai panik.


Lelaki tersebut menyodorkan handuk ke arah bak mandi. Akan tetapi, tidak ada respons sama sekali dari Amy. Akhirnya lelaki itu menyingkap tirai untuk memastikan kondisi Amy.

__ADS_1


Begitu tirai terbuka, Amy sudah memejamkan mata dengan posisi meringkuk memeluk kakinya di dalam bak mandi. Jordan langsung membalut tubuh Amy menggunakan handuk yang dia bawa.


"Amy, bangun! Amy!" Jordan menepuk pelan pipi Amy yang kini terasa sedingin es.


Jordan langsung menggendong tubuh mungil Amy dan membawanya keluar dari kamar mandi. Dia merebahkan Amy di atas ranjang. Pakaian tipis yang menempel pada tubuh gadis itu bahkan sampai mengering.


Ya, Jordan meninggalkan Amy di dalam kamar mandi hampir 2 jam. Rasa bersalah kini merasuki hati Jordan. Dia membelai lembut anak rambut yang menutupi wajah Amy


"Maaf, Amy. Ini demi kebaikanmu juga. Sepertinya kali ini aku keterlaluan. Tapi, aku tidak memiliki cara lain untuk membantumu."


Jordan melepas handuk dari tubuh Amy, kemudian menggantinya dengan selimut. Lelaki tampan itu menunggu Amy berharap dia segera terbangun. Dia menatap sendu perempuan yang masih memejamkan mata itu hampir satu jam.


Tak lama kemudian, Jordan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia akan memasak untuk Amy. Mulai hari ini, Jordan berencana hanya akan memasak untuk dia dan Amy saja.


Jordan tidak mau lagi mengurusi perut ibunya dan sang ayah tiri. Kejadian hari ini memberikan pelajaran untuk Jordan untuk tidak mempercayai sang ibu lagi. Memang seharusnya Jordan sudah tidak percaya sejak sang ibu menjual rumahnya kepada Amy.


"Amy, bangunlah. Ayo, makan dulu." Jordan meletakkan nampan berisi makanan ke atas nakas.


Setelah itu Jordan menarik sebuah meja lipat ke tengah kamar, dan mulai menata alat makan ke atasnya. Lelaki tampan itu mengambil makanan yang sudah dia bawa ke atas meja dan kembali mengaturnya. Setelah selesai, Jordan mendekati ranjang.


"Amy, ayo bangunlah! Kamu masih marah sama aku?" Jordan duduk di sisi ranjang seraya menatap Amy dengan wajah yang menoleh ke arah jendela.


Jordan pikir Amy hanya sedang marah. Namun, dugaannya langsung terbantah ketika lelaki tersebut menyingkap selimut dan menyentuh lengan Amy untuk membangunkannya. Tubuh perempuan itu terasa panas.


Jordan langsung panik. Dia segera mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh Amy. Sambil menunggu hasil cek suhu keluar, Jordan menyiapkan baskom berisi air dan sebuah handuk kecil.


Begitu selesai menyiapkan air untuk mengompres Amy, Jordan kembali duduk di samping ranjang. Tak lama berselang terdengar suara yang menandakan termometer selesai mendeteksi suhu tubuh Amy.


"Astaga, 40,1!"


Jordan langsung membasahi handuk, memerasnya, lalu meletakkan benda itu ke dahi Amy. Jordan berniat kembali ke dapur untuk membuatkan bubur. Namun, ketika dia baru saja berdiri tiba-tiba Amy menahan lengannya.

__ADS_1


"Jangan pergi."


__ADS_2