
Kini para wartawan yang sedang duduk di teras rumah Amy menoleh ke arah Jordan. Lelaki itu terlanjur memasuki pekarangan rumah. Dia tidak bisa kabur lagi.
Secara serempak wartawan berlari ke arah Jordan yang masih mematung ke atas lantai. Semua wartawan mulai menyodorkan mikrofon serta menekan tombol kamera untuk memotret Jordan. Kini bukan hanya Amy yang mendapat masalah, tetapi dirinya juga semakin terjerat dengan persoalan rumit ini.
Keberadaannya pasti akan segera diketahui oleh anak buah Rafael. Kehidupannya akan kembali tidak tenang. Jordan menelan ludah kasar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang diberikan oleh para wartawan.
"Jadi, Anda adalah orang yang tinggal satu atap dengan Nona Choi?" tanya salah sorang wartawan yang berdiri tepat di depan Amy.
"Ah, a-aku hanyalah ...." Ucapan Jordan menggantung di udara karena tiba-tiba dari arah pagar rumah, muncul sosok perempuan paruh baya bersama seorang lelaki muda.
"Benar, dia adalah kekasih dari perempuan yang tinggal di rumah ini! Dan aku adalah ibu Jordan! Mona Park!" seru Mona tanpa keraguan sedikit pun.
Kini seluruh pandangan tertuju pada Mona yang sedang menggandeng lelaki muda. Perempuan itu terlihat berpenampilan mencolok dan menggunakan banyak produk berharga selangit. Lelaki yang sedang bersama Mona bernama Morgan, kekasih ibu dari Jordan dan Jay.
Semua wartawan semakin tercengang. Awalnya Jordan ingin mengatakan kepada pers, bahwa dia hanya seorang kurir pengantar bahan makanan untuk Amy. Namun, ibunya mengacaukan semua.
Jordan menepuk dahi. Ketika para wartawan mengerumuni sang ibu, dia memilih untuk mengendap-endap masuk kembali melalui pintu belakang. Di dalam rumah, Amy sudah menanti kehadiran Jordan dengan wajah cemas.
"Bagaimana?" tanya Amy dengan raut wajah panik.
"Aku sudah mendapatkan semua bahan makanan yang kamu minta. Tapi, ada masalah besar lain yang timbul!" Jordan meletakkan kantung belanjaannya ke atas meja dapur, kemudian melangkah mendekati Amy.
Amy mengusap wajah kasar kemudian mendaratkan bokong ke atas sofa. Gadis itu berharap masalah ini tidak semakin bertambah rumit. Dia menenggelamkan wajah ke dalam telapak tangan.
"Ibuku pulang ke sini!"
"Apa!" seru Amy seraya mengangkat kembali wajahnya.
__ADS_1
Jordan ikut duduk di samping Amy. Lelaki tampan itu langsung menceritakan semuanya. Mulai dari dia yang lupa telah masuk melalui pekarangan, sampai kedatangan sang ibu yang mengatakan bahwa mereka berdua merupakan sepasang kekasih.
"Ibumu benar-benar gila!" seru Amy setengah berteriak.
"Nenek lampir satu itu sepertinya memang sedang mengalami sakit jiwa. Maaf karena sudah menambahkan beban lagi dalam masalah ini." Jordan menatap sendu gadis di hadapannya.
Amy menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar. Dia mulai menyandarkan punggung ke atas sofa. Gadis itu sudah kehabisan kata-kata dan otaknya terasa buntu.
Amy tidak menyangka masalah ini menjadi semakin rumit. Jordan tak melepaskan tatapannya dari Amy. Rasa bersalah kini benar-benar bergelayut di hati lelaki tampan itu.
Ketika keduanya sedang terdiam dan mencoba memikirkan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah, pintu rumah tiba-tiba terbuka. Dua orang yang semakin memperkeruh suasana itu masuk ke dalam tanpa permisi. Ternyata Mona masih menyimpan kunci duplikat rumah tersebut sehingga dapat keluar masuk rumah Amy dengan mudah.
"Jordan, kenapa kamu tinggal satu atap dengan orang asing beda jenis tanpa ikatan? Apa Ibu pernah mengajari hal seperti itu?" Mona menyipitkan mata seraya melipat lengan di depan dada.
"Tidak mengajariku? Lalu ...." Jordan menatap tajam Morgan.
"Apa hubungan Anda dengan lelaki yang ada di sampingmu itu, Nyonya Park?" Jordan tersenyum miring.
Rahang Jordan mengeras. Dia tidak menyangka sang ibu mengalami masa pubertas kedua yang menurutnya tak masuk akal. Dia akan menerima jika saja ayah tirinya lelaki berumur 60 tahunan.
Akan tetapi, lelaki yang diakui sang ibu sebagai suaminya itu memiliki umur yang mungkin saja sama dengan Jordan. Bahkan bisa jadi Morgan masih seusia dengan Jay.
"Apa Ibu memiliki gangguan jiwa atau semacamnya? Bukankah dia lebih pantas menjadi anak angkatmu?" Jordan tertawa geli.
Mona sontak melepaskan lengannya dari Morgan dan menghampiri sang putra. Jemari perempuan itu tampak mengepal erat di samping badan. Matanya menatap nyalang ke arah Jordan dan rahang Mona tampak mengeras.
Mendadak sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Jordan. Rasa perih kini menjalar ke syaraf sekitar pipi lelaki tersebut. Dia tersenyum kecut kemudian menatap tajam ke arah sang ibu.
__ADS_1
"Aku dan Morgan saling mencintai. Untuk itulah kami menikah!" seru Mona dengan gigi rapat.
"Cinta? Benarkah? Aku todak yakin." Jordan kini memotong jarak dengan sang ibu.
Jordan mendekatkan bibirnya ke telinga Mona. Dia membisikkan sesuatu kepada sang ibu. Setelah mendengarkan apa yang diucapkan sang ayah, darah Mona semakin mendidih.
Ya, Jordan mengatakan bahwa mungkin saja perasaan yang sang ibu rasakan kepada Jordan bukanlah cinta melainkan kasihan. Begitu juga dengan Morgan, dia mungkin saja hanya memanfaatkan perasaan sang ibu dan akan membawa kerugian pada kehidupan Mona di kemudian hari.
"Aku tidak peduli! Aku akan mendaftarkan pernikahan kalian juga! Resepsi kalian akan dilangsungkan bersamaan dengan Jay!"
"Ibu, kamu tidak bisa seenaknya begitu! Kami tidak memiliki hubungan apa pun kecuali pekerjaan! Kami tidak mau menikah tanpa cinta!" seru Jordan penuh emosi.
"Tidak bisa! Aku memiliki semua data kalian berdua. Berkas kalian juga. Jadi, tinggal didaftarkan saja ke catatan sipil!"
Tanpa memedulikan Jordan lagi, Mona keluar rumah dengan santai. Morgan hanya diam sejak tadi, tetapi ada sedikit pertanyaan yang berputar di kepalanya. Kenapa perempuan yang baru saja berstatus sebagai istrinya itu memaksa Jordan untuk menikah dengan Amy.
"Bagaimana ini?" tanya Amy panik.
"Kita tidak bisa berkutik. Aku tidak tahu apa tujuan ibu. Mari kita ikuti saja maunya."
"Apa? Aku tidak mau menikahi pria asing sepertimu!" tolak Amy tegas.
"Begini ... kita menikah tapi tidak akan menjalankan kehidupan pernikahan pada umumnya. Kamu bebas tanpa ikatan yang sebenarnya. Pernikahan kita hanya status. Ini untuk menjaga nama baikmu juga di mata publik. Meski hanya di balik layar, kamu tetaplah seorang publik figur."
"Entahlah! Aku lelah!" Amy beranjak dari sofa kemudian berjalan ke kamarnya.
Jordan kembali lagi ke sofa dan memilih untuk merebahkan tubuh di atasnya. Dia mengusap wajah kasar karena tidak bisa berbuat apa pun kali ini. Dia akan mengikuti skenario yang dibuat sang ibu, tetapi tidak ingin hanyut di dalamnya.
__ADS_1
"Aku akan membuat perjanjian pranikah dengan Amy." Perlahan Jordan memejamkan mata.
Tidur adalah salah satu cara melupakan masalah dalam hidup dalam sejenak. Hal tersebut merupakan salah satu prinsip hidup Jordan. Akhirnya dia hanyut ke alam mimpi dan berharap mendapat jalan keluar saat membuka mata.