
Malam itu keluarga Park dan Amy makan bersama dalam diam. Meski tidak akur, Amy memang lebih suka makan bersama daripada makan sendirian di meja makan. Hal itu adalah salah satu keinginannya sejak dulu.
Amy ingin memiliki sebuah kwluarga, dan bisa makan bersama di meja makan. Hanya saja, kehangatan saat makan yang dia impikan tidak dapat terwujud sekarang. Amy menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kasar.
"Aku selesai," ucap Amy setelah menghabiskan makanan di mangkuknya.
Perempuan itu pun meninggalkan meja makan dan langsung masuk ke kamarnya. Sementara itu, Jordan, Morgan, dan Mona masih tetap ada di meja makan. Jordan membuka pembicaraan untuk memastikan kapan sang ibu hengkang dari rumah tersebut.
"Aku tidak akan pernah pergi dari sini sampai memastikan Amy mengandung!"
"Apa maksud Ibu melakukan ini semua?" Jordan mengatupkan gigi seraya menatap tajam sang ibu.
"Aku rasa kamu adalah orang yang paling mengerti bagaimana sifatku. Kamu tidak perlu menanyakan ini, karena sebenarnya kamu pun tahu apa maksudku, Jordan." Mona mencondongkan tubuh ke arah Jordan kemudian tersenyum miring.
"Hah, jangan lupa bereskan ini semua. Sepertinya setelah kamu berhenti bekerja dari Rafael, membuka restoran atau kedai kecil cukup menguntungkan dan sesuai dengan bakatmu!"
__ADS_1
Mona beranjak dari kursi kemudian meninggalkan Jordan yang masih tampak emosi. Morgan pun mengekor di belakang sang istri, dan keduanya langsung masuk ke kamar. Setelah pintu kamar sang ibu tertutup, Jordan meluapkan emosinya dengan berteriak sekuat tenaga.
Jordan pun bergegas membereskan meja dan mencuci semua alat makan dan masak. Tak membutuhkan waktu lama bagi Jordan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Usai menata semua peralatan makan ke rak, Jordan langsung menyusul Amy ke kamarnya.
Begitu pintu terbuka, alangkah terkejutnya Jordan melihat Amy sedang berbaring hanya menggunakan singlet tali satu dan celana pendek. Lelaki itu langsung menutup mata sambil mengendap-endap menuju pintu kamarnya.
"Astaga!" seru Jordan ketika jemarinya tanpa sengaja menyentuh salah satu area pribadi Amy karena mengira benda itu adalah kenop pintu.
Jemari Jordan menyentuh tubuhnya, sehingga membuat Amy melenguh. Perempuan itu menggigit bibir bawah. Napasnya tampak memburu penuh gairah.
"Sentuh aku lagi, Jordan! Aku mohon!" seru Amy seraya menarik paksa lengan Liam.
"Tolong bantu aku, Jordan! Aku ...." Amy mulai menceritakan apa yang dia rasakan kepada Jordan.
Perempuan itu mengatakan bahwa ada gelenyar aneh setiap Jordan menyentuhnya. Dia merasa suhu di sekitarnya mendadak panas. Bahkan Amy berniat menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya agar sedikit mengurangi rasa tidak nyaman tersebut.
__ADS_1
"Aku nggak tahu harus bagaimana, Jordan! Aku mohon tolong aku!" Kini Amy menangkupkan kedua telapak tangan dan memasang wajah sendu.
Amy berusaha menahan gejolak yang kini berkobar di dalam jiwa. Jordan pun berusaha menahan godaan yang ada di hadapannya. Lelaki itu kembali mengingat tentang salah satu poin perjanjian pernikahan dengan Amy.
Jordan menulis bahwa dia tidak akan pernah menyentuh Amy selama pernikahan berlangsung. Bagi Jordan, janji harus ditepati. Dia akan merasa menjadi pecundang jika mengingkari apa yang sudah dituliskan ke atas kertas bermeterai tersebut.
"Jordan, tolong bantu aku keluar dari penderitaan ini!" Amy terus memohon dengan suara serak.
Jordan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Jordan berusaha sebisa mungkin agar tidak tergoda kepada Amy. Lelaki itu berulang kali menelan ludah, berharap hasratnya juga ikut tertelan kembali.
Sementara Amy terus meracau, Jordan memikirkan jalan keluar terbaik bagi keduanya. Di tengah situasi itu, tentu saja Jordan gagal memikirkan segalanya secara jernih. Namun, di tengah rasa putus asa, dia menemukan sebuah cara untuk menolong Amy.
"Ayolah, Jordan. Lakukan apa saja! Yang penting aku bisa terlepas dari siksaan ini!" Kini sudut mata Amy mulai basah.
Jordan mulai tidak tega. Lelaki tampan itu pun akhirnya mendekatkan bibirnya ke telinga Amy. Begitu mendengar dengan saksama apa yang disebutkan oleh Jordan, Amy mengangguk cepat.
__ADS_1
"Iya, aku berjanji tidak akan protes atau menyesal setelah kamu membantuku." Amy mengangkat tangannya sebagai janji kepada Jordan.
"Baiklah, aku memegang kata-katamu ... Amy."