
Amy pun melajukan mobil setelah selesai mengisi bahan bakar. Dia keluar dari area pengisian bahan bakar agar anak buah Rafael tidak menaruh curiga. Amy mengendarai mobil dengan kecepatan paling rendah seraya menatap spion.
Setelah memastikan mobil anak buah Rafael menjauh dari daerah itu, Amy langsung banting setir dan kembali ke stasiun pengisian bahan bakar. Perempuan itu menunggu Jordan di depan toilet dan menghubunginya agar segera keluar dari sana.
Tak lama berselang, Jordan keluar dari toilet. Awalnya Jordan hanya melongok, lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan situasi aman. Setelah yakin, Jordan langsung berlari cepat menuju mobil Amy.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Jordan setelah masuk ke dalam mobil.
"Sudah, astaga kamu membuatku sangat frustrasi! Bisa-bisanya kami berurusan dengan mereka! Mereka itu sangat menyeramkan, Jordan!" seru Amy sambil mengusap wajah kasar.
"Sekalinya kita masuk ke dunia hitam, kita akan kesulitan untuk keluar dari sana." Jordan tersenyum kecut.
"Lalu kenapa kamu malah terjun ke dalam dunia hitam, padahal kamu sudah tahu kalau akan sangat sulit untuk keluar dari sana?" Amy melipat lengan sambil memutar bola mata.
"Terpaksa, karena uang yang pasti. Sejak ayahku meninggal, aku harus mengurus ibu dan juga Jay. Menjadi kepala rumah tangga di usia yang sangat muda bukanlah hal yang mudah, Amy." Jordan tersenyum kecut ketika mengetahui bagaimana masa mudanya yang begitu keras.
Sebenarnya selama ini Jordan tidak pernah kuliah. Dia membohongi sang ibu dan membelikan tiket liburan ketika hari wisuda. Sebenarnya semenjak lulus SMA dia hanya mengikuti sebuah kursus keahlian. Jadi selama ini Jordan memberikan nilai dari kursus, bukan nilai dari kuliah di universitas.
Jordan berbohong juga bahwa dia dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat karena jenius. Rasa bersalah kembali menggerogoti hati Jordan. Dia selama ini sudah berbohong. Bahkan sampai sekarang dia tidak pernah mengungkap semua ini kepada sang ibu.
Hasil kerja keras Jordan selama ini, dia gunakan untuk membiayai kuliah Jay tanpa sepengetahuan sang ibu bahkan adiknya itu sendiri. Setahu Jay, dia mendapat beasiswa dari seorang pengusaha yang tidak diketahui identitasnya. Padahal semua biaya dan uang bulanannya berasal dari Jordan.
"Apa kamu sudah berniat keluar dari lubang hitam itu?" tanya Amy dengan suara bergetar.
"Iya, aku sangat ingin terlepas dari jerat mafia itu!" seru Jordan dengan mata berapi-api.
"Aku sebenarnya sempat tertarik kepada Lily ketika pertama kali bertemu dengannya. Tapi, ketika mengetahui bahwa dia merupakan kekasih Jay ... aku langsung membasmi rasa suka itu sebelum terlalu jauh, layaknya membasmi rumput dengan pestisida."
Jordan tersenyum kecut mengingat lagi semua perjuangan yang sudah dia lakukan untuk keluarga. Dia selalu mengalah demi kebahagiaan sang ibu dan Jay. Kerap kali Jordan menekan perasaan untuk membahagiakan ibu dan sang adik.
"Kamu ingat, bukan? Ketika Lily disekap oleh Rafael karena sudah membongkar kebusukan putrinya?"
__ADS_1
Amy mengangguk. Dia masih ingat betul momen itu. Saat itu merupakan momen di mana Jordan melakukan tindak penyekapan pertama kali.
Biasanya Jordan hanya mengurusi bisnis gelap tanpa melanggar hak asasi manusia. Sebenarnya ketika diminta untuk melakukan penyekapan, Jordan keberatan. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain karena Rafael terus mendesaknya.
Akhirnya Jordan tetap melakukan penyekapan, tetapi memperlakukan Lily dengan baik. Bahkan keduanya sempat menjalin keakraban ketika berada dalam ruangan bawah tanah keluarga sang mafia.
"Lalu, sampai kapan kamu akan terus seperti ini, Jordan? Kamu tidak bisa lari terus menerus. Kamu harus menyelesaikan semuanya. Jika kamu dibutuhkan sebagai saksi, kenapa tidak hadir saja untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu? Siapa tahu pihak kepolisisan akan memberikan keringanan atau bahkan membebaskanmu?" Amy berusaha membujuk Jordan.
Amy mengatakan semua karena dia peduli kepada lelaki yang disayanginya tersebut. Amy tidak ingin Jordan terus dikejar dan justru nantinya akan mendapatkan masalah di kemudian hari. Namun, sepertinya Jordan menanggapinya dengan cara yang berbeda.
Tampak jelas dari wajah Jordan yang terlihat tidak senang. Lelaki itu berwajah asam sekarang. Bibirnya pun tampak membentuk garis lurus.
"Jadi, kamu berharap aku ditangkap dan menjadi seorang tersangka?" Rahang Jordan mengeras karena sedikit tersinggung dengan ucapan Amy.
Menyadari sang suami yang merajuk, membuat Amy panik. Dia langsung memutar tubuh agar bisa menatap Jordan secara langsung. Amy berusaha menggenggam jemari Jordan, tetapi langsung ditepis oleh lelaki tersebut.
"Hei, tepikan mobilnya. Tidak baik berkendara dalam kondisi marah seperti ini."
Amy menggenggam lagi jemari Jordan. Dia meminta sang suami untuk menatap matanya. Sebuah senyum lembut terukir di bibir Amy.
Hanya dengan melihat senyuman itu, sanggup membuat bara api yang berkobar di hati Jordan padam. Tanpa disadari, Jordan mengembuskan napas kasar. Tatapannya melembut ketika menatap Amy.
"Maksudku bukan seperti itu, Jordan. Aku hanya ingin kamu tidak terkena masalah di kemudian hari. Tapi, kalau kamu tidak bersedia menerima saranku ...." Ucapan Amy menggantung di udara.
Amy melepaskan genggaman tangannya dari jemari Jordan. Kedua telapak tangannya kini merangkum wajah sang suami. Amy kembali tersenyum lembut agar Jordan tidak salah paham lagi.
"Kamu harus bersiap-siap untuk hidup seperti ini setiap harinya. Apa kamu siap?"
Jordan terdiam. Apa yang dikatakan Amy memang tidak salah. Akan tetapi, dia belum siap untuk mengakui kesalahan serta keterlibatannya terhadap bisnis gelap Rafael.
Selama ini Jordan bekerja sesuai perjanjian. Rafael saja yang terus mengejarnya untuk menyeretnya ke dalam jeruji besi. Hal itu merupakan pelanggaran terhadap surat perjanjian kerja.
__ADS_1
"Aku akan menyerahkan diri jika wajahku terpampang sebagai buronan! Aku rasa mereka mencariku bukan hanya untuk menyeretku ke penjara." Tatapan Jordan menerawang.
Amy pun melepaskan telapak tangan dari pipi sang suami. Dahi perempuan itu berkerut. Amy sedikit memiringkan kepala ketika menantikan kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir Jordan.
"Lalu? Untuk apa mereka terus mengejarmu?"
Jordan menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Dia menelan ludah kasar sebelum akhirnya mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Mereka sepertinya juga ingin menghabisiku!"
"Apa!" Amy pun terbelalak dengan mulut menganga lebar.
Perempuan itu mengusap wajah kasar kemudian kembali menatap Jordan. Dia menatap sang suami untuk memastikan bahwa Jordan sedang berbohong. Ya, Amy berharap sang suami tengah berbohong.
Istri mana yang tidak khawatir setelah mengetahui kalau masa lalu sang suami mengancam nyawa di kemudian hari? Hal yang sama pun baru terpikir oleh Jordan. Hal itu membuat Jordan menepuk dahi.
"Astaga! Aku tidak memikirkan hal ini!"
"Kenapa?" tanya Amy seraya menautkan kedua alisnya.
"Aku takut mereka menyadari kalau kita menikah! Tanpa sadar aku membawamu ke dalam bahaya!" seru Jordan.
Amy tersenyum kecut. Pikirannya selama ini akhirnya menjadi kenyataan. Sudah sejak awal dia memiliki pikiran buruk mengenai Jordan.
Pertemuan pertama yang janggal, kembali membuat Amy bergidik ngeri. Dia kembali teringat bagaimana Jordan terkapar di teras rumahnya dalam kondisi tak sadarkan diri dan penuh luka.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Amy menatap pasrah ke arah sang suami.
"Sementara waktu, aku akan hidup seperti ini. Sesekali aku akan melawan mereka jika memungkinkan." Jordan mengucapkan kalimat itu tanpa keraguan sedikit pun.
Jordan meraih jemari Amy kemudian menatap dalam mata perempuan itu. Amy pun menatap serius ke dalam mata Jordan. Lelaki tersebut menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Jadi, setelah ini ... apa kamu siap untuk tetap hidup bersamaku?"