Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 20. Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Amy terdiam saat mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Jordan. Sejujurnya dia ragu untuk menjawab. Dalam lubuk hati Amy, dia sangat siap menerima keadaan Jordan dalam kondisi apa pun.


Akan tetapi, Amy juga sadar bahwa kebersamaan mereka hanya sebatas satu tahun tidak lebih. Ketika teringat hal itu dada Amy mendadak sesak. Kenyataan ini benar membuatnya frustrasi.


"Jadi ... bagaimana, Amy?" Jordan memiringkan kepala dan menatap intens manik mata Amy yang sedikit basah.


Jordan kembali menanyakan kesanggupan Amy karena melihat perempuan itu terdiam. Dia khawatir kalau ternyata Amy tidak mau menerima keadaannya saat ini. Amy tampak kembali berpikir beberapa detik dan berakhir dengan sebuah anggukan.


Hati Jordan terasa seperti disiram dengan air es. Rasanya lega luar biasa. Dia akhirnya tersenyum lebar.


Jordan menarik pelan lengan Amy dan mulai memberikannya sebuah pelukan hangat. Amy pun mempererat pelukannya. Jantung keduanya berdetak begitu kencang sekarang.


"Aku harap kita bisa seperti ini selamanya, Amy." Jordan mengusap lembut rambut Amy sambil sesekali mencium puncak kepalanya.


Amy tersenyum tipis. Dia kembali teringat dengan perjanjian kontraknya dengan Jordan. Kertas bermaterai itu benar-benar menjadi pembatas hubungan keduanya.


"Aku ingin membatalkan kontrak pernikahan tak masuk akal itu, dan memulai hidup baru denganmu." Jordan mengucapkan kalimat itu dengan wajah serius.


Amy terbelalak. Seakan Jordan mengerti apa yang menjadi ganjalan hatinya hari itu. Amy melonggarkan pelukan kemudian menatap wajah sang suami dengan tatapan tak percaya.


"Apa tidak masalah jika kita membatalkan semua perjanjian tidak masuk akal itu?" tanya Amy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku selalu merasa sesak luar biasa karena harus membatasi perasaanku kepadamu karena kertas itu. Aku memutuskan untuk menjadi suamimu yang seutuhnya. Tanpa ada hitam di atas putih. Aku ingin menjadi suami yang mencintaimu setiap waktu tanpa harus ragu karena terbatas dengan surat kontrak itu." Jordan mengusap lembut pipi Amy dengan ujung jempolnya.


"Amy, bisakah kita menyatukan perasaan ini?" Jordan menatap lembut sang istri yang kini masih tampak termenung.

__ADS_1


"Amy?" tanya Jordan lagi.


Amy tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tersenyum lebar dengan air mata yang menetes membasahi pipi. Tetes air mata kebahagiaan yang mampu membasuh rasa sesak akibat surat kontrak pernikahan mereka.


Jantung mereka berdetak jauh lebih cepat. Jordan kembali mengusap lembut wajah Amy. Dia memegang tengkuk sang istri dan terus memangkas jarak. Embusan napas lelaki itu kini menyapu wajah cantik alami Amy.


Amy pun mulai memejamkan mata. Sepasang bibir mereka pun akhirnya menyatu. Bersatu padu menyatukan rasa tanpa mengucapkan kata.


Saling mengungkapkan perasaan melalui ciuman lembut tanpa menuntut satu sama lain. Sampai akhirnya sebuah klakson mobil menyadarkan keduanya kalau mereka sedang ada di jalanan. Jordan pun melepaskan ciumannya.


"Kita lanjutkan di rumah saja, bagaimana?" Jordan masih menempelkan dahinya pada dahi Amy.


Pipi Amy merona karena rasa malu. Ciuman pertama yang direnggut Jordan karena kecelakaan dulu, ternyata memang membawanya ke sebuah takdir yang begitu indah. Dia benar-benar mencintai suaminya itu.


Mereka pun saling menautkan jemari sepanjang perjalanan kembali ke Busan. Jordan juga mengungkapkan bahwa dia berbohong mengenai kondisi ekonominya. Dia mengatakan bahwa sebenarnya bisa saja dia membeli kembali rumah itu dengan harga 10 kali lipat saat pertama kali bertemu.


"Hei, aku melakukannya karena ingin mengenalmu lebih jauh. Dan ternyata ... aku begitu mencintaimu." Jordan tersenyum lembut.


Lagi-lagi Amy tersipu dengan wajah yang berubah semerah tomat. Keduanya terus melanjutkan perjalanan. Sebelum kembali ke Busan, Jordan membeli sebuah motor matic dan juga sebuah sepeda kayuh.


Mereka akan kesulitan untuk pergi ke lembah jika tidak membeli kedua benda itu, mengingat sepeda Amy yang terjun ke jurang. Kedua benda itu akan di antar oleh sang penjual sampai ke rumah.


Langit sudah berubah menjadi gelap ketika Amy dan Jordan sampai di rumah. mereka berdua langsung membersihkan diri dan beristirahat. Malam itu Jordan tidak memasak karena sebelum naik ke gunung, keduanya mampir ke kedai bulgogi yang ada di pusat kota.


"Tidurlah lebih dulu. Aku ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan." Amy berjalan ke arah meja kerjanya dan mulai membuka laptop.

__ADS_1


"Aku akan menemanimu bekerja. Kau tahu, aku ini pengangguran. Bukankah paling tidak aku harus menemani istriku bekerja untuk menghasilkan uang?" Jordan terkekeh ketika mengingat peran mereka yang seperti tertukar.


Amy aktif bekerja mencari uang, sedangkan Jordan sibuk dengan urusan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga mereka memang unik. Berawal dari sebuah ketidaksengajaan dan berakhir dengan sebuah pernikahan tak terduga.


"Aku akan membuatkan camilan untukmu. Jadi, bekerjalah dengan semangat!" Jordan mengepalkan jemari kemudian meninjukannya ke udara.


Amy tersenyum lebar sembari mengacungkan kedua jempolnya. Setelah itu, Jordan langsung beranjak dari ranjang. Dia keluar kamar dan menuju dapur untuk membuatkan Amy beberapa kudapan.


Jordan memilih untuk membuatkan kudapan segar serta minuman yang menyehatkan. Dia tidak ingin Amy sakit karena mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Ketika menyiapkan kudapan, pikiran Jordan melayang.


Jordan sedang membayangkan bagaimana serunya memiliki bayi-bayi mungil untuk melengkapi kehidupan rumah tangga mereka. Lelaki tampan itu terkekeh sambil menatap makanan sehat yang ada di depannya.


"Tapi, bagaimana aku bisa memiliki anak kalau tidak menidurinya?"


Sontak senyum Jordan sirna. Dia menggaruk kepala sambil memikirkan cara untuk membuat Amy tertarik melakukan hubungan suami istri dengannya. Mendadak Jordan kembali teringat bagaimana liarnya Amy saat dalam pengaruh obat pembangkit gairah.


Membayangkan hal itu, sontak membuat adik kecilnya mulai menggeliat. Jordan mengambil nampan kecil dan mengibas-ngibaskannya di depan wajah yang mulai berkeringat.


"Sialan kamu, Dragon! Cuma membayangkan dia saat bergairah saja kamu langsung bangun!" umpat Jordan sambil melirik bagian bawah tubuhnya.


Ternyata gerak-gerik Jordan diamati oleh Morgan. Lelaki berdarah Rusia itu terkekeh ketika mendengar Jordan yang sedang bicara sendiri. Akhirnya Morgan memutuskan untuk mendekati anak tiri yang lebih pantas menjadi kakaknya itu.


"Hei, Son! Mau aku beritahu jurus menakhlukkan perempuan di atas ranjang?" Morgan mendekat ke arah Jordan, lalu memungut irisan buah mangga dari atas piring dan memasukkannya ke dalam mulut.


Mendengar suara sang ayah tiri yang tiba-tiba menyapa, membuat Jordan tersentak. Dia berusaha menutupi rasa malunya dengan memasang wajah datar. Padahal jika bisa, dia ingin sekali bersembunyi ke dalam lubang semut sekaranh.

__ADS_1


"Son, son! Aku bukan anakmu! Harusnya kamu memanggilku Hyung!" Jordan menata kudapan yang dia siapkan untuk Amy ke atas nampan.


Setelah itu, Jordan langsung berjalan cepat ke arah tangga. Dia mengabaikan Morgan yang terus mengoceh mengenai beberapa tips untuk membuat perempuan tertarik. Namun, tanpa Jordan sadari memori otaknya merekam semua ucapan sang ayah tiri.


__ADS_2