Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 29. Membaik


__ADS_3

"Kamu tidak melupakan catatan belanjamu, kan?" tanya Amy sambil menatap lembut sang suami.


"Sudah, Nyonya." Jordan tersenyum jahil, kemudian mengecup punggung tangan sang istri.


Sebentar lagi keduanya akan sampai di pusat kota. Perjalanan bersama orang terkasih memang terasa begitu menyenangkan. Hal itu juga dirasakan oleh Amy dan Jordan.


Sepanjang perjalanan hanya ada gurauan serta tawa yang menemani. Sesekali mereka bersenandung mengikuti alunan musik yang diputar. Keceriaan Jordan mendadak menghilang setelah mendapatkan sebuah pesan dari Mona.


"Kenapa?" tanya Amy sembari mengerutkan dahi ketika Jordan tampak terkejut yang sedang menatap layar ponsel.


"Sepertinya ibu sedang ada dalam bahaya! Dia mengirimi aku pesan dan lokasi terkini melalui GPS!"


"Ibu ada di mana sekarang?" tanya Amy khawatir.


"Dia sedang ada di beberapa blok dari sini. Morgan bisa saja mencelakainya!"


Amy terbelalak seketika. Dia tidak bertanya lebih banyak lagi. Perempuan itu hanya bisa berdoa dalam hati untuk keselamatan Mona.

__ADS_1


Meski Mona adalah perempuan yang licik, dia tetaplah ibu dari suaminya. Amy berharap Mona baik-baik saja dan tidak kekurangan suatu apa pun ketika mereka sampai di lokasi perempuan itu berada.


Jordan menaikkan kecepatan mobil. Dia terus menyalip kendaraan lain di depannya. Bebrapa kali klakson saling bersahutan karena Jordan yang mengendarai mobil secara sembarangan.


"Tenanglah, Jordan. Kita juga harus sampai dengan selamat supaya bisa menolong ibu." Amy berusaha mengingatkan sang suami untuk mengendarai dengan hati-hati.


Amy mencengkeram lengan atas Jordan karena ketakukan. Jordan tidak menjawab. Rahangnya mengeras dan tatapannya masih fokus pada jalanan. Jemarinya mencengkeram kuat roda kemudi.


Lelaki tersebut mendadak menginjak pedal remnya. Tubuh Amy sampai terbanting keras ke depan. Jika saja dia tidak memakai sabuk pengaman dengan benar, sudah bisa dipastikan kepalanya akan terbentur dasbor mobil.


"Kamu tunggu di sini saja." Jordan langsung melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.


Perempuan itu langsung melepas sabuk pengaman. Dia pun segera berlari mengikuti langkah Jordan. Keduanya berjalan cepat menyusuri gang sempit.


Suara langkah kaki yang beradu dengan jalanan becek menggema di gang sempit tersebut. Alangkah terkejutnya Jordan ketika dia melihat Morgan mendorong tubuh sang ibu.


Jordan langsung mengambil langkah seribu. Tepat sebelum Mona jatuh ke atas jalan, Jordan berhasil menangkap tubuh sang ibu. Mona yang awalnya terpejam, perlahan membuka matanya.

__ADS_1


"Jordan!" seru Mona.


Jordan membantu sang ibu untuk kembali berdiri tegak. Setelah Mona kembali berdiri, lelaki tersebut langsung mendekati Morgan yang sedang tersenyum miring sambil membuang muka.


Amarah yang menguasai hati, membuat Jordan langsung mendaratkan pukulan ke wajah Morgan. Lelaki itu pun tersungkur ke atas jalanan. Tidak sampai di situ saja.


Jordan langsung duduk di atas tubuh Morgan. Dia terus mendaratkan pukulan hingga wajah lelaki di bawahnya itu babak belur. Amy yang khawatir dengan tindakan sang suami, akhirnya mendekati Jordan.


"Hentikan, Sayang! Kamu bisa terkena masalah jika terus memukulnya!" Amy menarik lengan sang suami.


Perempuan itu langsung memeluk tubuh Jordan yang terus gemetar karena amarah yang meledak-ledak. Bukannya jera, Morgan justru tertawa terbahak-bahak. Rosa mendekati sang kekasih kemudian membantunya untuk berdiri.


"Pergi menjauh dari keluarga kami, atau akan kubunuh kamu!" teriak Jordan penuh amarah.


"Kamu hanya benalu bagi ibuku! Enyahlah dari pandanganku! Jika suatu saat nanti aku melihatmu masih berada di sekitar kami, detik itu juga akan aku pastikan kamu kehilangan nyawamu!"


Amy akhirnya menarik lengan Jordan agar menjauh dari Morgan. Dia tidak ingin sang suami mendapatkan masalah karena hal ini. Beruntungnya Jordan menuruti permintaan sang istri untuk tidak memedulikan ucapan Morgan yang berusaha terus memprovokasi.

__ADS_1


Mereka bertiga akhirnya berjalan keluar dari gang sempit itu dan masuk ke dalam mobil. Ketika Jordan, Amy, dan Mona menjauh, Morgan langsung tertawa terbahak-bahak. Lelaki itu terus menatap salah satu sudut bagian atas bangunan toko perhiasan.


"Tamat sudah riwayatmu, Jordan!"


__ADS_2