Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 41. Usaha Terakhir


__ADS_3

Amy mencoba memikirkan cara lain untuk membuat Jordan terbebas dari segala tuduhan. Setelah berpikir hampir seharian, akhirnya sore itu Amy memutuskan untuk keluar rumah. Dia mengendarai mobil menuju pusat kota.


Ketika sampai di toko perhiasan yang memiliki rekaman CCTV, Amy langsung masuk. Dia mencari sang pemilik, tetapi terus ditolak oleh para karyawan. Darah Amy seakan mendidih.


"Aku ingin bertemu dengan pemilik toko ini! Cepat suruh dia keluar!" teriak Amy frustrasi.


Dada Amy terasa begitu sesak. Perempuan itu mulai meneteskan air mata dan bibirnya gemetar. Dia merasa saat ini tidak ada seorang pun tang ada di pihaknya. Ketika hampir putus asa dan hendak keluar dari toko, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya.


Saat menoleh, barulah Amy mengetahui bahwa orang yang memanggilnya adalah Julia. Awalnya Amy mengacuhkan perempuan itu. Namun, Julia terus mengejar Amy.


"Hei, kenapa? Jangan lari, perhatikan langkahmu!" Julia mengingatkan Amy karena takut perempuan itu tersandung atau semacamnya.


Amy akhirnya berhenti karena Julia memotong jalannya. Dia merentangkan tangan seraya melemparkan tatapan tajam ke arah Amy. Dia berkacak pinggang ketika melihat lawan bicaranya terus menunduk.


"Tidak sopan! Kamu kenapa?" bentak Julia kesal.


"Apa pedulimu? Dasar penggoda suami orang!" Amy berteriak sembari menghapus air mata.


Julia langsung terpingkal-pingkal mendengar ucapan Amy. Dia paham betul kenapa perempuan itu mengatakan hal demikian. Insting seorang perempuan memang tidak pernah salah.


Perempuan akan langsung tanggap ketika apa yang menjadi miliknya hendak direbut oleh orang lain. Gelagat Julia sebelumnya memang terlalu kentara. Tawa Julia langsung berhenti ketika Amy mendengkus kesal.


"Kamu butuh bantuan? Kamu butuh apa? Akan kubantu!"


Amy sontak menatap intens manik mata Julia. Dia berusaha mencari-cari kebohongan di dalam hati Julia melalui tatapan matanya. Akan tetapi, Amy hanya melihat ketulusan di sana.


Meski ragu, akhirnya Amy menceritakan semuanya kepada Julia secara rinci. Mulai dari penangkapan Jordan, hingga berubahnya dikap Mona yang dikhawatirkan akan mempengaruhi proses putusan hakim seminggu lagi.


Julia mengangguk paham. Dia berjalan mendekati etalase perhiasan. Perempuan itu melihat sebuah kalung berukuran besar kemudian tersenyum miring.


"Ini harganya berapa, Nona?" tanya Julia kepada sang pelayan toko.

__ADS_1


"Ini merupakan emas 19 karat bertakhta berlian swarovski di setiap kepingannya. Harganya sekitar ...."


Julia terbelalak ketika mengetahui harga dari perhiasan itu. Di sisi lain, Amy yang memperhatikan di kursi tunggu kembali mendengkus kesal. Dia terus menggerutu karena Julia ternyata benar-benar hendak menipunya.


Amy berpikir Julia hanya ingin mempermainkan dirinya. Sampai tak lama kemudian Julia dan pelayan berteriak bersahut-sahutan. Amy yang panik langsung berjalan cepat mendekati Julia yang masih berdiri di depan etalase.


"Kenapa?" tanya Amy dengan dahi berkerut.


"Dia mau menipuku! Dia bilang perhiasan ini terbuat dari emas 19 karat dan bertakhta kristal swarovski! Padahal kadar emasnya hanya 10 karat dan menggunakan kristal murahan dari China!" seru Julia sembari bersungut-sungut.


"Jaga ucapan Anda, Nona!" seru sang pelayan seraya menuding wajah Julia dengan jari telunjuk.


"Hei, beginikah caramu melayani pelanggan? Apa kamu karyawan baru? Aku ini pelanggan VVIP di toko ini! Aku bisa saja membeli semua perhiasan di toko ini! Berani-beraninya kamu berbicara kepadaku dengan nada tinggi!"


Keributan itu terus berlangsung sampai akhirnya karyawan toko lain masuk ke kantor dan memberitahu sang manajer. Lelaki bernama Willy Park itu tergopoh-gopoh menghampiri Julia.


"Ada apa Nona?" tanya Willy dengan suara gemetar.


"Aku tidak suka dengan caranya melayaniku! Dia sudah berbohong dan berbicara menggunakan nada tinggi kepadaku Tyan Park!" Julia melipat lengan di depan dada seraya menatap tajam pelayan di depannya.


"Aku rasa dia bersikap seperti ini karena atasannya juga mengajarkan hal yang sama?" Julia tersenyum miring sembari menatap Willy penuh arti.


"Kamu sudah berbohong di depan polisi dan bosmu mengenai CCTV di samping toko, bukan?" Julian mendekatkan bibirnya pada telinga Willy.


Lelaki bertubuh tambun itu langsung terbelalak. Dia mulai tergagap ketika hendak berkilah. Julia kembali tersenyum lebar karena sadar sudah mendapatkan satu orang untuk membela Jordan di pengadilan.


"Aku yakin, kamu akan berkata jujur di pengadilan nanti! Aku memegang kartu AS-mu Tuan Park! Jadi, jangan pernah berbicara kebohongan di depan pengadilan!" Julia balik kanan setelah menunjukkan senyum miring dan tatapan tajamnya kepada Willy.


Julia akhirnya melangkah pergi meninggalkan toko itu diikuti oleh Amy. Ketika sudah keluar dari toko, Julia menghentikan langkah. Dia menatap mobil yang dikendarai oleh Amy hingga sampai ke pusat kota.


"Kamu berkendara sendiri sampai sini?" Julia memutar tubuh hingga kini tatapannya beradu dengan Amy.

__ADS_1


"Iya," jawab Amy singkat.


"Bodoh!" Tiba-tiba Julia menyentil dahi Amy menggunakan jari tengahnya.


"Apa kamu senang bermain-main dalam bahaya? Bagaimana jika terjadi sesuatu di jalanan? Terlebih kamu mengendarai mobil dalam kondisi mental yang tidak stabil! Dasar ceroboh! Terserah jika kamu mengalami hal buruk dan mati! Aku senang karena pada akhirnya bisa memiliki Jordan! Tapi jika sampai tindakan cerobohmu ini membahayakan anak Jordan aku akan membunuhmu!"


Napas Julia sampai tersengal-sengal ketika mengucapkan deretan kalimat itu. Julia menarik napas panjang, lalu mengembuskan perlahan. Ketika emosinya mulai stabil dan tenang, perempuan itu membuka pintu kursi penumpang, lalu meminta Amy masuk ke dalamnya.


"Merepotkan sekali!" gerutu Julia ketika menutup pintu mobil.


Amy tersenyum tipis. Dia paham betul kenapa Julia memarahinya. Julia mengomel untuk mengekspresikan kekhawatiran terhadap dirinya dan sang calon buah hati.


Amy kembali mengucap syukur berulang kali di dalam hati. Dia yakin Julia bisa membantunya dalam menghadapi kasus kali ini. Ketika Julia masuk dan mulai melajukan mobil, Amy mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Julia dengan nada datar.


"Terima kasih karena sudah membantuku menemui manajer toko itu," jawab Amy malu-malu sambil memainkan jemarinya di atas tas.


"Maaf, karena sudah berpikiran buruk tentangmu selama ini. Aku kira kamu hendak menggoda Jordan karena bersikap genit waktu itu!"


"Memang awalnya aku berniat seperti itu."


Amy langsung menoleh ke arah Julia. Dia menatap intens perempuan yang sedang fokus menyetir itu. Tidak tampak kalau Julia tengah bercanda.


"Benar-benar pelakor berkelas!" seru Amy seraya berdecap kagum.


"Tapi ... aku mengurungkan niatku setelah melihat cinta Jordan kepadamu begitu besar. Aku tidak mau lelah sendirian dan menghabiskan waktu untuk mengejar sesuatu yang hampir mustahil!" Julia tersenyum kecut sembari melirik Amy.


"Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih." Amy membungkukkan badan ke arah Julia.


Julia tersenyum lebar seraya mengangguk. Mereka berdua terus berbincang untuk membahas rencana selanjutnya. Keduanya ingin Jordan terbebas dari hukuman.

__ADS_1


"Jadi, selanjutnya kita ke mana?" tanya Julia.


"Kita harus menemui satu orang saksi lagi!"


__ADS_2