Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 31. Membangun Bisnis Bersama


__ADS_3

"Bu-bukan begitu maksudku, Bu." Amy langsung menggenggam jemari Mona.


"Sebuah kerajaan memang tidak bisa memiliki dua ratu, tetapi ... bukankah sebuah kerajaan memiliki satu ratu dan satu ibu suri?" Amy tersenyum lembut kepada sang ibu mertua.


Hati Mona terasa disiram dengan air es. Dia benar-benar merasa sangat beruntung. Dirinya memiliki putra dan menantu yang sangat sabar dalam menghadapi dia yang begitu egois.


Mereka juga tidak menaruh dendam, padahal Mona sudah menyakiti perasaan keduanya. Tak terasa pandangan Mona kabur karena air mata yang mulai menggenang. Tenggorokannya terasa begitu sesak karena isak tangis yang tertahan.


Amy langsung panik ketika melihat Mona tiba-tina mengeluarkan air mata. Dia bergegas memberikan pelukan sekilas kepada Mona, kemudian melepaskannya kembali. Amy merangkum wajah perempuan tersebut dan mengusap air mata yang mulai menetes ke pipi Mona.


"Kenapa Ibu menangis? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya amy sambil terus mengusap air mata Mona yang seakan enggan berhenti.


"Bu-bukan begitu." Mona menggeleng dan terus menangis sesenggukan.


"Terus kenapa menangis? Ibu jujur saja. Bilang ya, kalau ada ucapan atau sikapku yang menyinggung Ibu?" Amy menatap intens manik mata ibu mertuanya.


Bukannya berhenti menangis, Mona justru semakin histeris. Dia tidak habis pikir dengan sikap Amy yang begitu mulia. Bahkan menantunya itu berusaha mengoreksi dirinya sendiri karena takut sudah menyebabkan dia mennagis.

__ADS_1


"Kamu itu jelmaan malaikat atau bagaimana, sih?" tanya Mona di antara isak tangis.


Amy pun melongo mendengar ucapan yang keluar dari bibir Mona. Dia bahkan sampai menggaruk kepala karena belum menangkap maksud dari ucapan sang ibu. Mona berusaha mengatur napas agar bisa berbicara dengan lebih jelas.


"Kamu terlalu baik. Hatimu terbuat dari apa sih Amy, sampai tidak memiliki dendam kepadaku? Padahal aku sudah jahat sama kamu."


"Hei, Ibu ini bicara apa? Tuhan saja pemaaf, apalah aku yang hanya bagian kecil dari ciptaan-Nya ini? Sombong sekali kalau sampai tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, padahal aku juga masih melakukan kesalahan."


Amy pun kembali memeluk sang ibu mertua. Jordan menatap pemandangan mengharukan itu melalui kaca spion. Dia benar-benar bahagia melihat ibunya sadar dan Amy sama sekali tidak memendam dendam kepada Mona.


Sejak hari itu, Mona membantu Jordan mengurus kedai. Di hari pembukaan, pelanggan langsung membludak. Amy sampai harus menghentikan aktivitas menulis untuk membantu ibu mertua serta suaminya.


"Ayo, kita makan dulu baru pulang." Jordan membawa tiga mangkuk mi dingin ke bangku di mana Mona sedang memijat bahu Amy.


Jordan perlahan memindahkan mangkuk dari atas nampan ke meja. Setelah selesai, sebuah tatapan tajam dilayangkan lelaki tersebut kepada sang ibu dia tampak cemburu karena melihat Amy yang sedang disuapi oleh Mona.


"Apa-apaan ini!" Jordan melipat lengan seraya menyipitkan mata.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Amy sambil mengunyah mi perlahan.


"Aku sudah sebesar ini belum pernah disuapi oleh Ibu! Kenapa kamu malah menjadi tahta tertinggi di keluarga ini!" protes Jordan.


Mona langsung beranjak dari bangkunya. Dia mencubit pinggang sang putra sehingga Jordan meringis kesakitan dan terus mengaduh. Jordan terus memohon kepada sang ibu agar melepaskan jepitan jemari dari pinggangnya.


"Kamu itu dari kecil sudah lebih dari cukup aku suapi! Amy baru sekali saja, kamu langsung protes!" Mona melepaskan tangannya dari pinggang Jordan sehingga lelaki tersebut berhenti mengaduh.


Jordan masih terus mendesis kesakitan dan menggosok bekas cubitan sang ibu. Mona terus mengomel dan mengatakan bahwa putranya masih kurang bersyukur. Dia memanjakan Amy untuk melengkapi kasih sayang ibu yang diinginkan menantunya itu.


"Ah, Ibu. Aku benar-benar terharu. Aku sekarang sudah tidak mau lagi ibu kandungku kembali. Aku sudah memiliki Ibu yang bisa memberikan kasih sayang jauh lebih baik darinya!"


Amy tiba-tiba menangis sesenggukan. Perasaannya mendadak menjadi sedih karena teringat masa lalu. Melihat istri kesayangannya menangis, tentu saja membuat Jordan langsung memeluk Amy.


"Hei, kamu kenapa? Kenapa kamu menjadi sensitif begini?"


"Entahlah! Sepertinya aku akan ... haid?" Tangis Amy mendadak berhenti.

__ADS_1


Amy langsung berlari ke arah kalender yang menempel pada dinding. Dia terbelalak ketika menyadari bahwa dirinya sudah terlambat datang bulan selama satu minggu. Perempuan itu langsung menutup mulutnya yang menganga lebar dengan kedua telapak tangan.


__ADS_2