
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh."
Amy menunjuk kalender dan menghitung maju dari tanggal seharusnya dia mendapatkan haid. Setelah dihitung, ternyata dirinya sudah terlambat haid selama tujuh hari. Amy pun terbelalak seketika.
"Jangan-jangan ... aku hamil?"
Jordan langsung berlari mendekati Amy yang sejak tadi mematung di depan kalender. Dia ikut menatap kalender itu. Di mata Jordan tidak ada yang aneh di sana.
Semua angka pada kalender tersebut tampak wajar. Namun, kenapa sang istri terlihat begitu terkejut? Pertanyaan mengenai misteri kalender itu terus berputar di otak Jordan, sampai akhirnya Amy menoleh ke arahnya.
"Jordan, jangan-jangan ... aku hamil!" seru Amy dengan pupil mata melebar maksimal.
Jordan diam sejenak. Otaknya seakan membeku saat itu. Entah mengapa sinyal suara yang dikeluarkan oleh Amy berjalan begitu lambat ketika memasuki neutronnya.
Setelah hampir satu menit terdiam, barulah Jordan tersadar. Mungkin saja dia kan menjadi seorang ayah! Lelaki itu langsung melompat kegirangan.
"Aku akan menjadi seorang ayah!" seru Jordan sambil meninju udara di sekitarnya.
__ADS_1
Mona yang mendengar teriakan Jordan pun ikut menghampiri. Dia bertanya kepada Amy apa yang sudah terjadi. Setelah Amy menjelaskan semuanya, Mona langsung memabawa sang menantu ke dalam pelukan.
"Ya Tuhan, terima kasih! Semoga kamu benar-benar hamil! Ibu sudah lama sekali tidak menimang bayi! Ibu sangat merindukan masa-masa itu!" seru Mona sambil terus mendaratkan ciuman ke puncak kepala Amy.
"Tapi aku harus memastikannya dulu, supaya kalian tidak kecewa." Amy mendorong pelan tubuh Mona, lalu tersenyum tipis.
Mona dan Jordan terdiam. Entah mengapa hari itu otak mereka berdua berjalan begitu lambat. Amy sampai keheranan melihat sikap suami dan ibu mertua.
"Paling tidak, aku membutuhkan test pack untuk memastikan kehamilan."
Setelah mendengar kalimat itu keluar dari bibir Amy, barulah dua manusia beda usia tersebut mengangguk. Sedetik kemudian, mereka berdua langsung kalang kabut.
Jordan pun kalang kabut mencari kunci motornya. Dia bergegas menuju tempat parkir untuk mendatangi toko terdekat yang menjual alat tes kehamilan tersebut. Sementara menunggu Jordan kembali, Mona menuntun Amy dan mendudukkannya di atas bangku.
"Aigoo, putriku memang cantik, pintar, dan hebat! Jika kamu benar-benar hamil ... Ibu akan menjadi orang pertama yang menuruti semua keinginanmu!" Mona menepuk pelan dadanya.
"Ibu, terima kasih." Amy bergelayut manja pada lengan sang ibu mertua.
__ADS_1
"Sekarang ini, apa kamu sedang menginginkan sesuatu?" tanya Mona sambil membelai lembut rambut menantu kesayangannya itu.
"Untuk saat ini, aku tidak menginginkan apa pun, Bu." Amy terus menyadarkan kepalanya pada lengan Mona.
Amy benar-benar merasa kehidupannya yang sekarang jauh lebih beruntung. Mungkin Tuhan mulai menunjukkan kasih sayang-Nya kepada Amy. Sehingga kini dia merasakan banyak keberuntungan yang terus menghampiri.
Tak lama berselang, pintu kedai terbuka. Jordan datang dengan keringat mengucur di dahinya. Dia membawa kantong plastik berisi beberapa macam alat tes kehamilan.
"Astaga! Untuk apa beli sebanyak ini? Apa kamu mau menjualnya lagi di kedaimu ini?" Mona memukul bokong sang putra yang mendadak bodoh itu.
Amy hanya bisa terkekeh melihat pertengkaran kecil antara mertua dan suaminya itu. Hatinya benar-benar menghangat seketika. Kebersamaan dengan keluarga yang belum pernah dia rasakan, kini hadir di depan mata.
Hati Amy kembali merasa terharu. Lagi-lagi air mata menggenang di pelupuk mata Amy. Sebuah senyum penuh kebahagiaan kini terukir di bibir perempuan yang haus akan kasih sayang keluarga itu.
"Ayo, Amy! Cek sekarang juga! Semoga hasilnya positif!" Mona menyodorkan sebuah alat tes kehamilan kepada sang menantu.
Amy pun mengangguk dan meraih benda itu. Dia pun langsung masuk ke toilet yang ada di kedai. Perempuan itu menampung air seninya ke dalam gelas kecil.
__ADS_1
Jemari Amy gemetar ketika memasukkan alat tes kehamilan ke dalam gelas tersebut. Perlahan air seninya masuk ke dalam alat tersebut dan satu garis tercipta. Amy menelan ludah kasar ketika menunggu detik-detik cairan itu melewati area garis kedua.
Apakah nantinya nampak jelas, samar, ataukah tidak terlihat? Hal itu akan menjadi penentu dugaan Amy mengenai kehamilannya. Di sisi lain sebuah perasaan buruk muncul, dia takut mengecewakan suami serta mertuanya jika nantinya dia ternyata tidak hamil.