
Dokter Lim meletakkan pena, kemudian menautkan kedua tangannya. Kali ini dia secara terang-terangan menatap Jordan. Hal ini semakin membuat Amy meradang, tetapi perempuan itu masih berusaha menahan amarahnya.
"Mungkin Jordan lupa."
Dokter Lim tiba-tiba mengikat rambutnya menjadi dua bagian. Setelah itu, dia melepas softlens dan memakai kacamata dengan lensa yang terlihat begitu tebal. Tak sampai di sana, dokter cantik itu mengambil spidol berwarna hitam dan membuat lingkaran pada pipinya menggunakan alat tulis tersebut.
"Sekarang sudah ingat?" Julia mengeluarkan gigi atasnya ketika berbicara.
Jordan diam sebentar seraya mengerutkan dahi. Beberapa detik kemudian, pupil Jordan melebar. Dia menepuk dahi, lalu menunjuk Dokter Lim sambil tertawa lepas.
"Astaga Julia! Kamu berubah sekali sekarang! Jadi lebih cantik!"
"Aigoo ... jaman sekarang sangat mudah menjadi lebih cantik! Banyak sekali klinik operasi plastik, klinik kecantikan, dan produk perawatan kulit yang bagus! Asal ada uang, penampilan bisa dirombak sesuai keinginan!" seru Julia sambil menggesekkan jempolnya dengan ujung jari tengah dan telunjuk.
Kalimat pujian yang meluncur begitu saja dari bibir Jordan, sontak membuat Amy terdiam. Dia mengerucutkan bibir, lalu menatap tajam sang suami. Bukannya peka, Jordan malah tersenyum lebar dan memperkenalkan Julia kepada Amy
"Amy, kenalkan! Dia Julia Lim! Temanku ketika kami duduk di bangku SMP!"
Akan tetapi, senyuman Jordan lenyap seketika saat melihat Amy yang terlihat kesal. Jordan menggerakkan jemarinya untuk menggenggam tangan sang istri, tetapi Amy langsung menarik lengannya.
"Apa resep vitaminku sudah seleaai ditulis, Dok? Aku capek, dan harus segera pulang!" ketus Amy.
__ADS_1
"Ah, iya. Sudah." Julia menyerahkan selembar kertas kecil kepada Amy dan langsung disambar kasar oleh perempuan tersebut.
"Kamu mau pulang, atau tetap di sini untuk bernostalgia dengan Dokter Lim?" Amy melemparkan tatapan tajam kepada sang suami.
"Eh?" Jordan lagi-lagi dibuat bingung oleh sikap sang istri.
Amy tidak mau berlama-lama lagi di ruangan itu. Dia akhirnya bangkit dari atas kursi, kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangan tersebut. Ibu hamil itu membanting pintu kasar, sehingga membuat Jordan tersentak.
"Aigoo ... kenapa dia?" Jordan yang belum sadar dengan kesalahannya pun menggaruk kepala.
"Kamu harus siap menghadapi istri yang sedang mengandung. Perasaannya akan jauh lebih sensitif dan berubah-ubah. Apa yang ada di hati dan pikiran ibu hamil, akan sulit diprediksi. Jadi, siapkan mentalmu sebagai suami siaga." Julia memberikan pesan kepada teman sekolahnya itu, sebelum Jordan meninggalkan ruangan tersebut.
"Baiklah, terima kasih, ya? Aku langsung pulang."
Begitu pintu ruangan Julia kembali tertutup, perempuan itu langsung merapikan lagi penampilannya. Dia tersenyum miring seraya menatap cermin yang ada di dalam genggaman.
"Menarik," ucap Julia sembari mengangkat salah satu alisnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Amy memilih untuk tidur. Bukan tidur sebenarnya. Lebih tepatnya berpura-pura tidur.
Amy terus memejamkan mata sambil mencuri dengar obrolan Jordan dengan sang ibu mertua. Rasa dongkol tentu saja masih menuhi hatinya. Kalimat pujian yang keluar dari bibir Jordan seakan-akan masih terngiang di telinga Amy.
__ADS_1
Semakin mengingat kejadian itu, hati Amy terasa semakin kesal. Seingatnya, Jordan belum pernah memujinya cantik sekalipun. Namun, setelah dipikir lagi memang dia tidak pernah berhias sekali pun.
"Setelah keluar dari ruang pemeriksaan aku melihat wajah Amy diselimuti mendung. Apa ada sesuatu yang terjadi di dalam sana? Bayi kalian sehat, bukan?" tanya Mona untuk mencari tahu alasan Amy yang tampak merajuk.
"Aku juga bingung, Bu. Tadi dia menegur Julia karena mengiranya terus menatapku."
"Julia?" Kedua alis Mona saling bertautan.
"Iya, ibu ingat satu-satunya temanku ketika SMP?" Jordan tersenyum tipis seraya menoleh sekilas ke arah sang ibu.
"Ah, gadis dengan tanda lahir di pipinya?" Mona menunjuk pipinya sendiri.
"Dokter kandungan yang memeriksa Amy adalah dia!" seru Jordan sambil mengangguk dan mata tersenyum bangga.
Mona pun menutup bibirnya menggunakan telapak tangan. Amy yang membuka sedikit mata mengetahui ekspresi mertua serta sang suami semakin kesal. Mendadak dia bangkit dari kursi kemudian berteriak seraya menggerakkan kakinya seperti bayi yang sedang merajuk.
Jordan langsung menghentikan mobil secara mendadak karena terkejut. Dia khawatir Amy mengalami mimpi buruk atau hal jelek lainnya. Mona dan Jordan pun menoleh ke arah Amy yang kini sedang duduk bersandar.
"Omo!" teriak Mona.
Napas Amy tampak tak beraturan. Dia menatap tak suka kepada sang ibu dan Jordan. Dua orang yang duduk di kursi depan itu saling menatap, lalu kembali mengalihkan pandangan kepada Amy.
__ADS_1
"Kalian bisa nggak, sih, berhenti membicarakan dokter genit itu!"