Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 16. Sebut Saja Kencan


__ADS_3

"Sebenarnya, aku sudah pernah bertemu dengan salah satu anak buah Rafael ketika belanja ke pusat kota beberapa waktu lalu." Jordan tersenyum kecut seraya mengusap tengkuknya.


"Apa!" Amy menggebrak meja sehingga membuat alat makan di atasnya melayang ke udara selama satu detik.


Jordan tersenyum lebar sambil mengangguk. Tak lama berselang Amy beranjak dari karpet dan berjalan ke arah meja kerjanya. Dia kembali dengan membawa sebuah buku tebal dalam genggaman.


Jordan pun menatap setiap gerakan Amy. Sedetik kemudian sebuah pukulan lumayan keras mendarat tepat di kepala Jordan. Lelaki tampan itu sampai terguling ke atas lantai karena terkejut.


Jordan terus memegangi kepala untuk melindunginya dari serangan pukulan yang dilancarkan oleh Amy. Lelaki itu mengaduh dan menepis Amy sambil terkekeh. Sedangkan Amy terus melancarkan aksi serangan seraya mengumpat dan mengatakan bahwa Jordan tidak hati-hati.


"Hentikan, Amy!" Jordan berhasil mengunci lengan Amy dan membuat gadis itu diam.


Jordan menarik lengan Amy, hingga gadis itu kini menimpa tubuh sang suami. Tatapan mereka pun saling beradu. Senyum tipis terukir di bibir Jordan, sedangkan Amy tampak terbelalak tak berkedip sedikit pun.


"Amy, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


Jantung Amy seakan berhenti berdetak. Deru napas keduanya bercampur. Embusan napas mereka saling menyapu wajah satu sama lain.


Amy menelan ludah kasar. Kini Jordan membalikkan tubuh Amy dan mengungkung sang istri di bawah dekapannya. Jordan perlahan memangkas jarak dengan terus mendekatkan wajahnya kepada Amy.


Amy pun memejamkan mata pasrah. Perempuan itu merasa embusan napas Jordan semakin dekat. Reflek Amy memajukan bibir untuk menyambut ciuman dari sang suami.


Akan tetapi, ternyata Amy salah sangka. Jordan bukannya mendaratkan bibir ke atas bibir Amy. Dia justru membisikkan sesuatu ke telinga sang istri.


"Aku harus segera membereskan semuanya." Jordan bangkit dari atas tubuh dan langsung membereskan peralatan makan.


Lelaki tampan tersebut keluar dari kamar menuju dapur, sementara Amy masih mematung di atas lantai dengan posisi yang sama. Begitu pintu ditutup, Amy menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.


"Bisa-bisanya aku bersikap seperti tadi!" Amy berguling-guling karena malu dengan sikapnya di depan Jordan yang tampak murahan.


Hal yang sama pun terjadi pada Jordan. Dia langsung menggoyangkan kaos bagian atas untuk memompa udara masuk ke dalamnya. Muka Jordan tampak semerah udang rebus ketika teringat betapa dekat wajahnya dengan Amy beberapa menit lalu.

__ADS_1


"Astaga, aku hampir kelepasan! Untung saja akal sehatku masih bekerja dengan baik."


...----------------...


Hari pun berlalu, dan sekarang adalah hari di mana Jordan akan mengantarkan Amy ke Seoul. Keduanya sudah bersiap, dan kini sedang berjalan beriringan menuju garasi. Namun, ketika hendak pintu garasi sudah terbuka, ternyata ada Mona yang berdiri di depan mereka seraya melipat lengan.


Amy dan Jordan saling memandang selama beberapa detik, dan bersamaan mengalihkan pandangan untuk menatap Mona yang masih mematung di depan mereka. Jordan akhirnya meminta Amy untuk lebih dulu mengeluarkan sepeda, sedangkan dia menghampiri sang ibu.


"Minggirlah Nyonya Park. Kami ingin pergi."


"Ke mana?" tanya Mona dengan tatapan curiga.


"Jangan bilang kalian ingin kabur meninggalkan aku di sini sendirian!"


"Bukankah sudah ada suami berondongmu itu? Apa kamu mulai merasa sendirian padahal dia selalu ada di sisimu, Nyonya Park?" Jordan tersenyum miring kemudian keluar menyusul Amy.


Baru beberapa langkah berjalan, Jordan berhenti. Dia balik kanan seraya menatap sinis sang ibu. Ketika dipanggil, Mona pun balik kanan dan menatap Jordan kesal.


Puas mengungkapkan apa yang menjadi kekesalannya, Jordan tersenyum sinis. Dia pun balik kanan dan berjalan cepat menghampiri Amy yang masih menunggu di depan pintu gerbang.


Keduanya pun mengabaikan Mona yang sedang berteriak kesal seraya terus mengumpat. Mona menunjuk ke arah Amy dan Jordan yang semakin berjalan menjauh. Teriakan itu diakhiri dengan Mona yang melepas sepatu dan melemparnya ke arah pintu pagar.


Akan tetapi tanpa Mona duga, sepatu hak tingginya malah mengenai sang suami. Morgan langsung mengaduh seraya mendekap dahinya menggunakan telapak tangan. Mona langsung berlari menghampiri Morgan yang kini sedang kesakitan.


"Omo! Maafkan aku, Sayang!" Mona langsung mengusap lembut dahi sang suami.


Di sisi lain, Jordan dan Amy sedang turun ke lembah dengan berboncengan menggunakan sepeda kayuh. Amy hanya memegangi ujung kemeja Jordan karena takut lelaki itu tidak nyaman jika dia melingkarkan lengan di pinggangnya.


Jordan yang menyadari bahwa Amy tidak memeluk pinggangnya, timbul taktik iseng di kepala lelaki tersebut. Dia mulai mengayuh sepeda di jalanan yang menurun. Hal itu tentu saja menyebabkan laju sepeda bertambah kencang.


Amy yang terkejut langsung melingkarkan lengannya pada pinggang Jordan tanpa berpikir dua kali. Amy bahkan sampai memejamkan mata karena ketakutan. Pikirannya terus membayangkan bagaimana jadinya kalau Jordan kehilangan kendali dan membuat dia terjatuh dari atas sepeda.

__ADS_1


"Jordan, pelan-pelan! Kamu tidak perlu susah-susah mengayuh pedal sepeda! Roda akan tetap berputar lancar tanpa bantuanmu!" teriak Amy panik sambil terus memejamkan mata.


"Apa kamu takut?"


"Ti-tidak! Hanya saja aku merasa ini terlihat berbahaya!" kilah Amy dengan mata yang terus terpejam.


"Yakinlah, kita akan baik-baik sa-ja."


Jordan menelan ludah kasar karena melihat ada seekor kambing yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Mau tidak mau Jordan berteriak, sehingga membuat Amy langsung membuka mata. Perempuan itu pun mengikuti arah pandang sang suami.


"Kambing, awas! Minggir!" teriak Amy seraya mengibaskan lengannya berniat menghalau si kambing.


Namun, apa yang Amy lakukan justru membuat keseimbangan Jordan goyah. Sepeda yang mereka naiki mulai oleng. Jordan pun gagal mengendalikannya, dan akhirnya mereka terjun bebas dari atas sepeda.


Mereka berdua berguling dan mendarat tepat di atas rerumputan yang lumayan tebal. Mereka pun selamat, sayangnya sepeda yang dinaiki berakhir di jurang. Suara besi yang terseret di atas bebatuan membuat Amy bergidik ngeri.


Jordan langsung beranjak dari atas rumput dan menghampiri Amy untuk memastikan kondisi perempuan tersebut. Saat mendekat, Amy tampak terkejut. Matanya berkaca-kaca dengan tubuh menggigil ketakutan.


"Kamu hampir membunuhku, Jordan!" seru Amy di antara isak tangis.


"Maaf, Amy. Aku tidak berniat seperti itu. Awalnya aku hanya bercanda." Bahu Jordan merosot dengan tatapan penuh penyesalan.


"Bercanda katamu! Memangnya kalau aku kehilangan nyawa, itu adalah hal yang lucu bagimu?"


Jordan terdiam. Lagi-lagi dia membawa Amy ke dalam bahaya. Rasanya lelaki itu ingin menendang bokongnya sendiri kalau bisa.


"Sepertinya kamu memang lebih senang kalau aku tidak ada di sekitarmu! Kalau begitu aku akan pergi!"


Amy beranjak dari rerumputan, lalu membersihkan pakaiannya dari dedaunan yang menempel. Setelah itu dia melangkah kesal menjauhi Jordan sambil berlinang air mata.


Melihat Amy marah, spontan Jordan berlari ke arah sang istri. Dia melingkarkan lengan pada perut Amy. Namun, Amy terus berontak berusaha terlepas dari pelukan Jordan. Tak lama berselang, tiba-tiba Amy membeku setelah sebuah kalimat keluar dari bibir Jordan.

__ADS_1


__ADS_2