
Jordan melongo melihat Amy yang menunjukkan ekspresi tidak enak saat meneguk jus buatannya. Lelaki itu langsung meraih gelas berisi jus jeruk yang tergeletak di atas meja. Dia pun meneguknya hingga tandas.
Tidak ada rasa aneh yang tercecap oleh lidahnya ketika meminum jus buatannya itu. Manisnya pas dan terasa segar khas buah yang baru dipetik. Jordan meletakkan gelas yang kosong dengan kasar ke atas meja.
"Nggak ada yang aneh, kok! Enak! Aku rasa semuanya sesuai dengan apa yang kamu inginkan! Sepertinya lidahmu itu yang bermasalah!" Jordan melipat lengan di depan dada seraya menatap tajam Amy.
"Ibu, lihat dia! Dia memarahiku hanya karena seleraku menjadi lain!" Amy memajukan bibir dan kedua alisnya turun ke bawah.
Mona pun ikut mencicipi jus jeruk buatan Jordan. Semuanya memang terasa normal. Sepertinya Amy saja yang sedang sensitif. Tampaknya dia mulai berubah karena hormon kehamilan.
"Amy, jus buatan Jordan enak, kok!" puji Mona sehingga membuat Jordan mengangkat dagu tinggi-tinggi.
Amy yang merasa sang suami mendapatkan pembelaan, akhirnya menangis. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Dadanya kembang kempis karena isak tangis yang terus keluar dari bibir.
"Aduh! Aku salah bicara!" Mona menepuk dahi.
"Be-begini maksud Ibu, Amy. Jus Jordan memang enak. Tapi, sepertinya kamu mengalami sedikit perubahan dalam selera makan. Ibu hamil biasa mengalami hal itu, kok." Mona berusaha menenangkan sang menantu.
"Tapi, Jordan tadi mengolok-olok kalau lidahku bermasalah!" seru Amy di antara isak tangis.
"Oke, aku minta maaf. Sudah, ya, jangan menangis lagi." Jordan meraih jemari sang istri kemudian mengusap lembut punggung tangan Amy.
Amy sedikit lebih tenang ketika Jordan mengakui bahwa dirinya salah. Dia langsung mengusap air mata dan kembali meraih kue keju buatan sang ibu mertua. Ibu hamil tersebut terus memasukkan kue ke dalam mulut dengan lahap.
Jordan sampai melongo melihat sikap Amy. Akhirnya lelaki itu ikut mencicipi sedikit kue buatan sang ibu karena penasaran. Dia langsung mengeluarkan lagi kue yang dicicipi sambil bergidik.
Kue keju yang seharusnya berasa gurih dan sedikit manis, justru sekarang terasa sangat manis. Bahkan rasa kejunya tidak terasa sama sekali. Jordan menatap aneh kepada sang istri seraya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Istriku benar-benar mulai bersikap aneh," ucap Jordan dalam hati.
Setelah apa yang menjadi keinginan Amy didapatkan, perempuan itu langsung mengajak pulang. Jordan pun mengucapkan terima kasih berulang kali kepada sang pemilik kebun jeruk. Dia bahkan memberikan uang dalam jumlah yang lumayan besar sebagai bentuk terima kasih.
Sepanjang perjalanan, Amy tertidur pulas. Dia duduk di kursi belakang bersama Mona. Amy enggan dekat-dekat dengan sang suami tanpa alasan yang jelas.
Hal itu membuat Jordan sedikit frustrasi. Dia tampak ,kesal dan terus memperhatikan bayangan sang istri melalui pantulan kaca spion. Jordan berharap kondisi seperti ini tidak terlalu berlarut-larut, karena dia khawatir nantinya akan kehilangan kesabaran dalam menghadapi Amy.
"Amy, kita sudah sampai rumah."
Mona menggoyangkan tubuh Amy, sehingga menantunya itu terbangun. Amy mengerjap beberapa kali untuk megembalikan kesadaran. Setelah itu, dia mulai bangkit dan duduk seraya mengucek kelopak mata.
"Jam berapa ini, Bu?" tanya Amy.
"Jam 8 malam. Ayo, turun!"
Jordan berinisiatif membukakan pintu untuk Amy. Akan tetapi, istrinya tersebut justru menatapnya tajam. Dia berlalu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih atau tersenyum kecil. Amy benar-benar berubah 180 derajat.
Mona yang mengetahui kekesalan serta kegelisahan sang putra pun langsung mendekat. Dia tersenyum tipis sembari mengusap bahu Jordan.
"Jordan, bersabarlah sebentar. Ibu hamil memang kerap bersikap aneh. Ketika hamil mereka terkadang justru menyukai apa yang sebelumnya dibenci atau sebaliknya."
"Tapi, aku khawatir kesabaranku tidak akan cukup untuk menghadapi perubahan sikap Amy, Bu." Bahu Jordan merosot karena dirinya tidak yakin akan sanggup menghadapi Amy yang tampak tidak suka kepadanya.
"Ini belum seberapa. Dulu Ibu lebih parah ketika mengandung kamu! Kalau diceritakan ulang, mungkin kamu akan ikut emosi." Tawa Mona pecah seketika.
Dulu ketika mengandung Jordan, Mona selalu menganggap apa yang dilakukan sang suami merupakan sesuatu yang menyebalkan. Setiap ayah Jordan membelikan makanan yang dia inginkan, semuanya akan sia-sia dan berakhir di tong sampah.
__ADS_1
Oleh karena itu, Mona paham betul bagaimana kondisi Amy sekarang. Apa yang dilakukan Amy memang seperti bukan kemauannya sendiri. Sebagai seorang ibu yang juga pernah mengidam hal aneh, Mona hanya bisa menasehati Jordan agar lebih sabar dalam menghadapi sang istri.
Setelah selesai memberikan beberapa nasehat kepada Jordan, mereka berdua pun masuk ke rumah. Jordan membersihkan diri dan langsung mendekati sang istri yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Bau apa ini?" Amy mengerutkan hidung dan terus mengendus-endus aroma yang menurutnya tidak enak.
Jordan ikut mengerutkan hidung untuk menajamkan penciuman dan menemukan aroma tidak enak yang sang istri maksud. Namun, Jordan tidak mencium aroma apa pun yang membuat penciumannya tidak nyaman.
"Nggak ada bau aneh. Kamar ini jutru wangi karena aku baru saja mengisi ulang pengharum ruangannya." Jordan menggaruk kepala sambil menatap bingung ke arah sang istri.
Amy masih terus mengendus-endus. Kini perempuan itu mendekati Jordan. Hidungnya menyusuri setiap jengkal bandan Jordan, kemudian berhenti tepat di depan mulut sang suami.
"Kamu bau mulut!" seru Amy.
Perut Amy mendadak bergejolak. Dia langsung turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Dari dalam ruangan tersebut mulai terdengar suara Amy yang sedang memuntahkan sesuatu.
Di sisi lain Jordan masih melongo. Dia meletakkan telapak tangan di depan mulut. Setelah itu Jordan mengembuskan napas beberapa kali melalui mulutnya.
"Tidak ada yang aneh. Semuanya normal, bahkan napasku aroma mint!" Jordan memiringkan kepala, lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi.
Amy sudah terduduk lemas di dekat kloset. Jordan langsung menghampiri sang istri dan berusaha meraih tubuhnya. Jordan berniat memindahkan Amy kembali ke atas ranjang.
Akan tetapi, saat Jordan menyentuh lengan Amy, perempuan itu menepisnya. Jordan menautkan kedua alis dan mundur satu langkah. Dia pun menggaruk dahi.
"Aku mau tidur dengan ibu! Kamu bau! Aku tidak tahan!" seru Amy dengan suara lemas.
"Astaga, Amy! Tolong jangan uji kesabaranku sampai seperti ini!" bentak Jordan karena mulai kehabisan kesabaran.
__ADS_1
"Kenapa kamu membentakku! Kamu kasar sekali, Jordan! Aku benci sama kamu!" Amy pun langsung menangis sesenggukan
Amy berusaha bangkit dari atas lantai dengan sisa tenaga yang ada. Dia pun bergegas keluar dari kamar dengan membawa guling kesayangannya. Malam itu Amy berniat untuk tidur bersama Mona.