
Amy meneteskan air mata ketika melihat Jordan sedang duduk di depan hakim. Satu per satu saksi dipanggil. Meski kasus ini sebenarnya hanya menyangkut 4 orang saksi, tetapi entah mengapa banyak saksi yang hadir hari itu.
Anehnya, kesaksian yang diberikan enam orang lain sangat bertolak belakang dengan kejadian yang berlangsung. Kini hakim memanggil Mona untuk dimintai keterangan di depan pengadilan.
Perempuan itu disumpah sebelum akhirnya diberikan beberapa pertanyaan oleh hakim. Amy menatap tajam ibu mertuanya itu. Ketika tanpa sengaja Mona menatap Amy, dia memalingkan wajah.
"Nyonya Park, apa hubungan Anda dengan terdakwa?"
"Saya ibu kandungnya, Yang Mulia." Mona menatap sang hakim tegas, tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun.
"Bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di gang kecil di antara toko pakaian dan perhiasan pada tanggal 1 Juni kemarin?"
Mona menelan ludah kasar sebelum akhirnya membuka suara. Perempuan itu menceritakan kronologi ketika Jordan datang dan memukul Morgan habis-habisan. Mona memang tidak berbohong, tetapi hal itu membuat pengacara Jordan meradang.
"Keberatan, Yang Mulia! Nyonya Park tidak menceritakan awal mula dari kejadian siang itu!" protes Jimmy seraya bangkit dari kursi.
"Keberatan ditolak! Silakan lanjutkan, Nyonya!"
"Baik, Yang Mulia."
Mona kembali menelan ludah kasar. Dia menatap Jordan yang tampak jauh lebih kurus. Area matanya menghitam dengan beberapa sisi wajah terlihat lebam.
Naluri seorang ibu memang tidak pernah salah. Akhirnya, Mona mengambil keputusan untuk membuka semuanya di hadapan hakim. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Tapi, Yang Mulia ... saya akan mengatakan apa yang menjadi alasan, kenapa putraku memukuli Morgan."
Morgan yang awalnya tersenyum sinis, kini berubah serius. Dia menatap tajam ke arah Mona. Lelaki itu mengerutkan dahi ketika menunggu kalimat selanjutnya keluar dari bibir Mona.
__ADS_1
"Dia!" Mona balik kanan seraya menunjuk Morgan dengan tatapan penuh kebencian.
"Lelaki itu sudah menghina, serta menipu saya!" Mona kembali memutar tubuh, kemudian menatap hakim dengan mata berkaca-kaca.
"Jika saja putraku tidak datang, mungkin aku yang akan celaka karena dia mendorong saya terlebih dulu, Yang Mulia!" Suara Mona bergetar karena berusaha menahan isak tangis.
"Pada rekaman CCTV tidak menunjukkan hal demikian, Yang Mulia!" seru Jaksa Penuntut Umum tegas.
"Apa Anda yakin, Pak? Morgan bersekongkol dengan Manajer toko tanpa sepengetahuan pemilik toko perhiasan! Mereka menghapus bagian di mana Morgan mendorong saya!" Mona menatap tajam jaksa yang kini tampak panik.
"Baiklah, Nyonya Park, Anda bisa kembali ke tempat semula," ucap hakim dengan suara tenang yang menggema memenuhi ruang pengadilan.
Kini hakim memanggil manajer toko yang akan dipanggil sebagai saksi. Lelaki itu disumpah sebelum memberikan keterangan. Setelah selesai, Willy menoleh ke arah Julia.
Julia pun menatap Willy tajam seraya menyeringai. Lelaki itu kembali menoleh, menatap hakim. Keringat dingin mengucur membasahi dahi Willy.
Willy berulang kali mengusap peluh tersebut menggunakan sapu tangannya. Bahkan karena tidak fokus dalam persidangan, Willy sampai diperingatkan oleh hakim ketua. Saat lelaki itu mulai fokus, tiba-tiba tangisnya pecah.
"Akan aku pertimbangkan selama kamu mau menjalani persidangan kali ini dengan kooperatif."
"Baik, Yang Mulia! Saya akan mengatakan semua dengan jujur!" Willy mengusap air mata dengan ujung jari, kemudian menoleh ke arah Morgan.
"Saya memang diminta untuk menghapus bagian di mana Morgan melakukan hubungan intim di dekat tong sampah sampai dia mendorong Nyonya Park!"
Kini semua orang yang ada di dalam persidangan mulai ricuh. Mereka saling mengutarakan tanggapan masing-masing dengan orang yang duduk bersebelahan. Suara mereka sekarang lebih terdengar seperti dengungan lebah.
Hakim ketua akhirnya mengetuk palu, supaya suasana pengadilan kembali tenang. Setelah semua hadirin diam, hakim meminta Willy untuk kembali mengungkapkan semua fakta yang dia tahu. Willy menelan ludah kasar karena sempat ragu untuk mengungkapkan semua fakta.
__ADS_1
Namun, lelaki itu kini menoleh ke arah Julia. Julia menjanjikan sesuatu kepada Willy. Dia mengatakan jika memang Willy harus ditahan karena sempat berbohong, maka perempuan tersebut bersedua merawat ketiga putranya sampai dirinya keluar dari penjara.
"Saya membutuhkan uang dalam jumlah besar saat itu, Yang Mulia. Morgan datang dan menawarkan uang dengan jumlah yang sama persis dengan kebutuhan saya. Bahkan dia sempat mengancam saya. Dia mengatakan akan menculik anak-anak saya dan menyandera mereka jika tidak mau melakukan apa yang dia minta!" Willy kembali menangis sesenggukan.
"Baiklah, sekarang Anda bisa kembali ke tempat duduk semula. Sekarang ada saksi kunci terakhir yang ikut terlibat dalam insiden hari itu. Nona Rosa Kim, silakan maju!"
Pintu pengadilan terbuka lebar. Rosa dikawal dua orang polisi berjalan menuju kursi yang disediakan. Morgan terbelalak ketika mengetahui Rosa hadir dalam persidangan.
Lelaki tersebut terus mengumpat. Bahkan Morgan tidak segan-segan menunjuk Rosa sambil berteriak bahwa perempuan itu tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Namun, Rosa tidak peduli.
Hati Rosa sudah terlanjur patah hati. Dia telah dibutakan oleh cinta dan nafsu. Rosa bertekad membalaskan sakit hatinya dengan menjebloskan Morgan ke dalam penjara.
"Baiklah, silakan ucap sumpah sebelum Anda memberikan keterangan, Nona Kim!"
"Saya Rosa Kim ...." Rosa mengucapkan sumpah tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
Setelah selesai, perempuan itu langsung menceritakan seluruh kejadian secara detail. Bahkan dia mengungkapkan bahwa awalnya dia dengan Morgan bersekongkol untuk menguasai harta Jordan dan Mona. Namun, Rosa memilih mundur karena mengetahui bahwa sebenarnya Morgan hanya memanfaatkannya.
"Tetapi, semua sudah terlambat. Saya bahkan sedang mengandung anak dari Morgan, Yang Mulia! Jika bisa saya ingin dia dihukum atas tindak penipuan serta pemerasan dan pengancaman!" Rosa mulai menangis karena tidak tahan lagi dengan beban hati yang kini memenuhi dada.
"Jika memang saya harus ditahan untuk mempertanggungjawabkan kasus ini, saya bersedia, Yang Mulia!" seru Rosa tegas dengan suara gemetar.
Setelah selesai mengungkapkan semua, Rosa kembali ke kursinya. Hakim pun tampak berunding. Tak lama berselang, hakim ketua mulai membetulkan letak dasi serta kacamatanya. Lelaki berumur senja itu berdeham beberapa kali sampai akhirnya membuka suara mengenai putusan yang dibuat oleh dewan hakim.
"Berdasarkan Undang-undang yang berlaku, serta keterangan dari semua saksi, maka pengadilan memutuskan untuk menjatuhi hukuman kepada terdakwa 2 bulan kurungan penjara, dikurangi masa tahanan selama penyidikan!"
Hakim mengetukkan palu tiga kali sebagai tanda persidangan berakhir. Mona dan Amy saling berpelukan. Tangis haru pun keluar dari pasangan ibu dan menantu itu.
__ADS_1
Tidak ada yang menyatakan keberatan lagi di sana. Morgan pun tidak berani berucap lebih banyak lagi. Lelaki itu mengendap-endap hendak keluar dari ruang persidangan. Namun, sialnya dia gagal.
Ketika baru membuka pintu ruang sidang, dua orang polisi sudah menunggu Morgan. Mereka menunjukkan surat perintah penangkapan dan mulai meringkus Morgan. Semuanya pun berjalan damai. Jordan hanya menjalani sisa masa tahanan selama tiga minggu dengan dakwaan kasus penganiayaan ringan.