Satu Malam Nathalie

Satu Malam Nathalie
BAB 16 $2 - Flashback (2)


__ADS_3

KATA ATAU TYPO DI CERITA NOVEL INI MOHON MAAF BILA MASIH ADA SALAH!!


SELAMAT MEMBACA READER'S!!


AKU BUAT NOVEL INI LANGSUNG TANPA STEP BY STEP ATAU SCENARIO. KALIAN PASTI TAHU KAN KALAU AUTHOR PRINCE AURORA KALAU MENULIS NOVEL LANGSUNG TULIS.


SO, KALAU ADA IDE LANGSUNG KOMEN SAJA YA!


LET'S READER'S!!


......................


Tiba di tempat tujuan, Kaisar segera turun untuk menemui seseorang yang telah melahirkannya. mommy-nya sudah tiga tahun ini di rawat di St. Graun Hospital. Rumah sakit yang termasuk kategori terbesar di Britania Raya, Inggris.


Soal penyakit mommy-nya, Kaisar tak begitu tahu, yang jelas mommy-nya, Arabella Wels Sturridge adalah korban keganasan saingan keluarga Granpa Aslan Sturridge.


la mengikuti langkah Grandpa Aslan yang begitu berwibawa. Meskipun umurnya yang hampir menginjak hampir se-abad. Namun langkah kaki yang di bantu tongkat itu masih bisa berjalan dengan baik. Tepat di lantai VVIP yang berada di paling atas, mereka berhenti.


Sejenak Grandpa Aslan memandang ke arah Athena dan Kaisar yang di belakangnya dengan wajah yang menunjukkan kesedihan yang begitu dalam.


Huh!


"Apapun yang terjadi nanti, ikhlas adalah jalan terbaik untuk melepaskan seseorang yang ia sayangi. Percayalah, cinta dan kasih sayang Bella tak akan berubah." Nasehat Grandpa Aslan dengan netra yang berkaca-kaca.


Perlahan ajudan Grandpa Aslan yang sedang berjaga, membuka pintu atas instruksinya. Terlihat di dalam daddy-nya, Darius dengan setia duduk menggenggam tangan sang istri dengan wajah yang pilu. Sesaat lelaki itu menoleh mendapati putra yang selalu ia harapkan berjalan ke arahnya.


"Kai..." Panggilnya dengan suara yang serak akibat terlalu lama menangis.


Merasa dipanggil, Kaisar melangkah pelan mendekati kedua orang tuanya. Mommy-nya terbaring lemah tak berdaya. Wajahnya masih terlihat ayu meskipun terdapat kerutan dan lingkar hitam di bawah matanya. Wajah pucatnya tak mampu menandingi wajah ayunya yang begitu bersinar bagi yang melihatnya.


Perlahan mata itu ikut terbuka dengan seutas senyum yang ia tujukan kepada anak bungsunya yang telah lama dirinya nantikan.


"Anakku Kai, kenapa kamu menangis nak?" Suara parau yang begitu merdu menyapa gendang telinganya.


"Mom..." tangis Kaisar tak dapat di bendung lagi. Tidak dapat di pungkiri jika ia merindukan sosok yang sangat berarti di hidupnya. Meskipun sejak kecil ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Namun dalam lubuk hatinya Kaisar tetaplah menjadikan Arabella ratu di hatinya.


"Maafkan mommy yang tidak pernah ada buat kamu ya nak." Ucapan Arabella dengan diiringi air mata yang mengucur kembali di mata indahnya.


Kaisar duduk di tempat daddy-nya tadi. Darius berdiri dengan air mata yang begitu menggenangi pelupuk matanya. la membiarkan Kaisar bercengkrama dengan sang istri yang tak pernah berhenti menanyakan keadaan putranya saat mereka berjauhan.


Dulu Arabella sempat melarang Kaisar tinggal jauh darinya. Sebagai anak bungsu yang seharusnya mendapatkan kasih sayang keluarga, harus diasingkan karena takut akan kejadian yang sama terulang kembali.


Hingga kejadian tiga tahun lalu saat seseorang menabrak mobil yang di kendarai Arabella. Hingga mobil itu berguling dan terjun ke arah jurang. Keadaan Arabella di temukan dalam kondisi yang sangat parah. Bahkan Rumah Sakit terbesar di Indonesia lepas tangan saat seminggu Arabella dirawat belum menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar.


Jadi tanpa ba-bi-bu lagi, Grandpa Aslan selaku ayah dari Arabella Wels Sturridge langsung membawa sang putri kembali ke tanah air di mana ia dilahirkan.


Di London kualitas rumah sakitnya sudah lengkap dan mampu membuat Arabella berangsur lebih baik. Meskipun begitu, saat keadaan Arabella lebih baik. Penyakit lain muncul menjadikan Arabella depresi hingga harus menetap lebih lama disini.


Keadaan di ruangan itu sungguh begitu berduka. Pasalnya, wanita yang mereka harapkan agar cepat pulih dan berkumpul bersama keluarga kembali, menunjukkan tanda bahwa tak ada harapan lagi. la hampir menyerah pada penyakit leukimia yang menggerogoti seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Kaisar maafkan mommy nak?" Ucap Arabella begitu lirih di sela tangisannya.Tangan halus terulur membelai wajah putra yang ia nantikan sejak kelahirannya. Kaisar menggenggam tangan halus yang tinggal tulang tersebut.


"Mommy tidak salah. Mommy tidak perlu minta maaf Mom... yang Kai mau mommy cepat sembuh, biar Kaisar bisa lebih jaga mommy di rumah" tangisan Kaisar di depan mommy-nya tidak dapat di bendung lagi. la rindu pelukan Arabella yang hangat itu. la rindu suara sang mommy yang terdengar merdu saat menjenguknya di Bandung.


"Tapi mommy tidak bisa Kai. Mommy harap kamu bahagia setelah ini sayang. Kembalilah ke pelukan daddy nak. Jaga daddy dan kakak mu setelah ini ya nak..." Lirihnya penuh harapan.


Terlihat Athena yang menangis di samping Darius. Pelukan Faiz yang begitu erat seolah menguatkan hati istrinya yang begitu rapuh saat ini. Faiz pun sebenarnya sangat terlihat sedih, pasalnya ibu mertuanya tersebut sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Arabella tak pernah membedakan antara menantu dan anaknya. Pun saat ia memutuskan menikahi Athena istrinya dengan lapang dada Arabella sangat mendukung pernikahan mereka. Dan ia ikut hadir meskipun memakai kursi roda dan di awasi oleh pihak rumah sakit.


Namun keadaan Arabella yang perlahan lemah kembali, jadi pihak rumah sakit memutuskan untuk segera membawa Arabella ke rumah sakit saat acara ikrar janji telah selesai.


"Iya Mom. Kai ikhlas mommy pergi. Mommy pergi dengan tenang ya.." Deraian air mata seperti tidak akan putus dari matanya. Ucapan hanya ucapan berbeda dengan hatinya yang bertolak belakang dengan ucapan lancarnya tadi.


Sakit!


Hati Kaisar sakit!


Arabella tersenyum ikhlas dengan ucapan putranya yang begitu terlihat dewasa. la yakin tak salah menitipkan Kaisar kepada ibu mertuanya yang baik hati tersebut. Mungkin sebentar lagi ia akan menemuinya di alam yang sama.


"Mas..?" Panggilnya pada lelaki yang tak pernah lelah untuk menyemangati hidupnya yang terasa hambar tiga tahun belakangan ini.


Lelaki yang tak pernah lelah menemaninya hingga ia harus terbang bolak-balik antara Indonesia dan London untuk perusahaannya yang ada di sana.


Darius, suami tercintanya.


"Terima kasih selama ini aku sudah menyusahkan kamu mas. Huh..dan maaf aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu!!" Darius segera menyela ucapan Arabella yang begitu menyakitkan hatinya.


"Ara, sayang tidak! Kamu yang terbaik buat mas. Kamu tidak pernah sedikitpun menyusahkan mas, dengan adanya kamu saja membuat mas merasakan arti hidup.


Ara, mas sangat mencintai kamu. Selalu, terima kasih sudah pernah ada di hidup mas, sayang. Terima kasih sudah memberikan tiga malaikat untuk hidup mas, mas sangat mencintai kamu Ara. Mas selalu cinta kamu, Ara..." Lelaki dengan mata elang coklat itu menjatuhkan air mata yang begitu derasnya di hadapan wanita yang begitu ia cintai. Hampir 40 tahun membersamainya dalam biduk rumah tangga yang begitu indah di rasakan.


Tiga malaikat yang disebut adalah anak pertama yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka saat berusia tiga tahun. Penyakit jantung bawaan lahir yang di deritanya, membuatnya harus kehilangan sosok harapan yang ia damba sejak dalam kandungan.


Namun itu tidak terjadi begitu lama, sebab dua tahun kemudian lahirlah Athena Wels Sturridge sebagai pelengkap kehidupan mereka. Dan setelah Athena beranjak usia 10 tahun, hadirlah Kaisar sebagai bungsu di keluarga Sturridge tersebut.


Lalu ia akan kembali kehilangan sosok istri yang sangat penting bagi hidupnya. Dunianya hancur secara perlahan. Namun ia harus kuat anak-anaknya masih membutuhkan sosok ayah yang mampu mendidiknya dalam segala hal.


"Jaga anak-anak kita ya mas. Meskipun mereka sudah dewasa mereka tetap seperti anak kecil bagi ku."


"Iya mas janji sayang. Mas akan jaga malaikat yang sudah kamu berikan untuk mas..."


"Athena... Putri mommy yang paling mommy sayangi..."


Kini gantian Athena yang mendekat ke arah mommy-nya. Tangisannya begitu pilu bagi siapa saja yang melihatnya. Faiz dengan sigap menjadi tumpuan agar sang istri tidak jatuh dari duduknya. Tangis histeris juga rindu yang bercampur menjadi satu dalam pelukan yang erat itu.


"Mommy jangan pergi Mom. Mommy kan janji mau jagain Nana juga cucu mommy. Nana sudah tepati janji Mom. Nana mohon mommy berjuang lagi ya, supaya mommy sembuh." Tangis histeris begitu menusuk bagi siapa saja yang mendengarnya. Satu kenyataannya jika Athena sedang hamil, semakin membuat Arabella tersenyum penuh harapan.


"Anak mommy yang cantik. Mommy tidak pergi, mommy akan pantau terus kalian dari jauh, jadi ibu yang terbaik untuk cucu mommy nanti ya sayang!" Harapan serta doa Arabella sematkan untuk putri kesayangannya itu.

__ADS_1


Suaranya semakin lirih dan nafas yang mulai tersengal semakin membuat satu ruangan histeris.


"Pa..?" Panggilnya pada cinta pertamanya itu.


Lelaki renta yang begitu ia hormati dan begitu cintai. Granpa Aslan berdiri di samping kanan putrinya yang tengah merintih kesakitan tersebut. la pernah menemui kejadian serupa di hidupnya yaitu saat istrinya selesai melahirkan putra bungsu mereka, adik dari Arabella.


"Iya sayang... papa disini istirahatlah dengan tenang Bella sayangku anak papa. Temui mama mu Jika kamu merindukannya sayang..."


Perkataan Granpa Aslan begitu lembut dan tenang semakin membuat Arabella merasa nyaman.


"Sampaikan salamku untuk Roland, Pa..." Pintanya pada adik laki laki-lakinya yang sedang dalam perjalanan. Suara Arabella semakin parau dan nafasnya semakin tersenggal. Udara baginya kian menipis seiring hembusan nafas panjang yang mengakhiri berhenti jantung memompa aliran darah.


Deg!


"MOMMY....!!"


Tangis keduanya perlahan memenuhi ruangan ini. Darius segera memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan istrinya yang sudah berhenti bernafas itu. Sedang Grandpa Aslan berjalan menuju ke luar ruangan menyembunyikan tangis yang selama ini ia pendam, ia kehilangan satu permata hati titipan istri tercintanya.


"Maaf kan aku yang lalai ini Annalise .!" Sesalnya pada istrinya yang berada di alam berbeda.


Deg!


Deg!


Deg!


Sekian menit berlalu hingga Dokter menyatakan jika Arabella sudah menyerah akan hidupnya. Dia kembali keruangan dan menyuruh para petugas untuk melakukan prosesi kematian pada Arabella.


Jujurly, semoga kalian dapat feels nya reader's, aku nangis kalau baca ulang-ulang bagian ini. Udah aku revisi beberapa kali ya, semoga kalian semua terhura!!!😭😭😭😭


......................


...Jangan lupa dukungannya, reader's!!...


...Like...


...Favorit...


...Komentar...


...Vote...


...Hadiah...


...Rating 4,7...


...Follow Author...


...Gaskeun lah!!!...

__ADS_1


__ADS_2