Satu Malam Nathalie

Satu Malam Nathalie
BAB 49 $2 - Perhatian Mami Nath


__ADS_3

Dan malam-malam ini, aku akan mengajak tinta kepada pembaca untuk mendukung kisah kami dengan like, vote, rate, follow, dan hadiah serta kalimat indah syair kalian di lantai komentar. Aku rasa itu harapanku.


Semoga bahagia dan terimalah kisah kita, happy birthday reading!!🥰


................


Kini Nathalie telah selesai mandi dan mengganti pakaian yang cocok untuk di pakai saat mengantarkan sang anak untuk ke sekolah, yang nantinya akan di mulai jam delapan pagi. Dan sekarang, wanita itu kini berjalan menuju ke kamar sang anak untuk mengecek apa yang sudah anak dan suaminya lakukan di kamar tersebut sekarang.


"Mami, Iner udah wangi dong," ucap Rainer dengan begitu antusias, ketika melihat Nathalie masuk ke dalam kamarnya.


"Eh anak Mami, sudah selesai mandi ternyata. Ini di mandiin sama Papi atau mandi sendiri nih?" Tanya Nathalie, sambil berjalan mendekat ke arah Kaisar dan juga Rainer.


"Mandi sendili dong," ucap Rainer dengan begitu bangganya. "Iya kan Pi?" Lanjut balita tersebut, yang sekarang melihat ke arah sang ayah, untuk meminta dukungan.


"Iya sayang, tadi Rainer mandinya sendiri. Ngotot dia tidak mau di bantu," jawab Kaisar yang membuat Nathalie tertawa.


"Ya sudah, sekarang giliran kamu yang mandi. Aku sudah siapin baju kerja kamu di kamar, nanti aku susul kamu, setelah aku bawa Rainer sarapan," ucap Nathalie yang mendapatkan anggukan dari Kaisar.


Cup!


"Ya sudah, aku mandi dulu ya," ujar Kaisar setelah ia mencuri satu kecupan di pipi sang istri, yang tidak luput dari pandangan balita lima tahun tersebut.


"Paoi, tidak mau cium Iner dulu, balu pelgi mandi?" Tanya Rainer, karena merasa jika ayahnya itu sama sekali, tidak ada inisiatif untuk menciumnya.


"Ulu-ulu anak Papi. Rain juga mau di cium ya," ucap Kaisar yang sekarang mendekat ke arah Rainer dan setelah itu langsung memberikan kecupan di pipi balita itu.


"Iya Pi. Nanti Iner ngambek loh, kalo ndak di cium juga, kayak Mami," ucap balita tersebut dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu menggemaskan, di mata Papi Kai dan Mami Nath.


"Sudah-sudah. Rain, sekarang ikut Mami sarapan ya. Rain kan, mau sekolah hari ini," ucap Nathalie kini menengahi obrolan ayah dan anak tersebut. Karena nantinya akan semakin panjang karena anaknya itu rasa ingin tahunya sangat tinggi, apalagi kalo ia sudah berbicara, maka akan lama selesainya jika tidak di alihkan dengan hal lain.


"Baik Mami," ucap Rainer menurut.

__ADS_1


"Papi, sudah sana cepetan. Kamu ada meeting pagi ini, kalau kamu lupa," ucap Nathalie mengingatkan, sebelum wanita itu bersama dengan Rainer keluar dari kamar menuju ke ruang makan yang berada di lantai dasar.


"Mami," panggil Rainer, pada Nathalie yang saat ini sedang sibuk mengatur sarapan untuk balita tersebut.


"Kenapa sayang?" Tanya Nathalie sambil melihat ke arah Rainer. "Ada yang Rain mau?" Lanjut Nathalie bertanya, tapi langsung mendapatkan gelengan kepala dari anak tersebut.


"Ndak jadi deh, Mami," jawab bocah tersebut. Tapi hal itu membuat, Nathalie tentu saja jadi penasaran.


"Bilang saja sayang, kalau Rainer memang ingin bilang sesuatu, sama Mami. Pasti Mami kabulkan kok, kalau masih wajar permintaan dari Rainer," balas Nathalie, tapi lagi-lagi mendapatkan gelengan kepala dari Rainer.


"Iner lagi ndak mau, apa-apa kok, Mi. Iner mau salapan aja, soalnya udah lapal," ucap anak tersebut sambil cengengesan.


"Ya sudah, Rainer sarapan dulu, ya. Mami tinggal bentar, buat liat Papi bolehkan?" Tanya Nathalie yang mendapatkan anggukan dari anak tersebut.


"Tapi Mami, cepat balik ya. Soalnya, pasti Papi bakal nahan Mami lagi nanti. Kan jadinya, Iner sendili salapannya," ucap anak tersebut yang kini menyuarakan isi hatinya. Rainer jadi tahu jika penyebab sang ayah yang selalu menahan ibunya untuk berlama-lama, karena selalu saja Kaisar memberikan alasan yang sama padanya.


"Iya sayang, iya. Kali ini tidak lagi kok," ucap Nathalie memenangkan putra tunggalnya itu.


"Kalau begitu, kamu lanjutin dulu ya makannya sayang," ucap Nathalie dan setelah itu berjalan menuju ke lantai dua, dimana kamarnya dan Kaisar berada.


"AAA" teriak Nathalie karena tiba-tiba saat ia membuka pintu kamar, dengan tiba-tiba ia di tarik masuk ke dalam.


"Kai ih, kamu ini buat kaget aku saja," kesal Nathalie, pada suaminya yang sekarang berdiri tepat dekat dengannya, sedangkan ia kini bersandar di balik pintu yang sekarang tertutup.


Cup!


"Aku tidak suka lho, kamu panggil aku pakai nama gitu," protes Kaisar setelah memberikan satu buah kecupan di bibir istrinya.


Baru saja Nathalie ingin membalas perkataan suaminya, tapi sekali lagi Kaisar memberikan ciuman yang kini berlangsung menjadi sebuah ciuman. Awalnya Nathalie sempat terlena, tapi ketika perkataan dari sang putra tadi, membuatnya seketika langsung mendorong dada suaminya menjauh yang membuat Reza seketika menatap heran pada istrinya.


"Kamu kok dorong aku?" Tanya Kaisar, yang sekarang kembali ingin mendekatkan dirinya dengan sang istri, tapi kedua tangan Nathalie seketika langsung menahan tubuh suaminya itu, agar posisi mereka tidak akan terlalu dekat.

__ADS_1


"Kasihan Rainer sendiri di ruang makan. Mendingan kita ke bawa sekarang," jawab Nathalie yang mendapatkan, dengusan kesal dari pria yang berdiri di depannya.


"Sayang, Rainer pasti mengerti kok. Ayolah, aku masih ingin cium kamu ," ucap Kaisar yang sekarang merengek layaknya anak yang tidak di berikan permen oleh ibunya.


"Sudah nanti saja. Ciuman kamu selalu keterusan kemana-mana soalnya. Sudah ya, badan aku masih lelah. Tidak ada lagi, apalagi sekarang aku sudah siap seperti ini buat anterin Rainer ke sekolah," balas Nathalie yang membuat Kaisar semakin merengek.


"Sayang ih... Janji deh, beneran tidak akan keterusan kali ini. Ya ya," pinta Kaisar tapi malah mendapatkan gelengan kepala dari sang istri.


"Tidak ada. Sudah ayo sarapan, aku sudah lapar. Memangnya, kamu tidak lapar apa?" Tanya Nathalie.


"Iya aku juga lapar. Tapi aku lapar, ingin makan kamu," ucap Kaisar yang mendapatkan pelototan tajam dari Nathalie.


"Mesumnya di kurangin sedikit, Papi. Ingat, ada anak kita yang lagi menunggu di bawah," jawab Nathalie yang setelah itu pergi meninggalkan Kaisar yang kini hanya bisa menghela napas pelan, sebelum ia juga ikut menyusul istrinya.


"Papi, kenapa sih suka banget nahan Mami, buat lama-lama di kamal? Iner tuh, ndak mau sendili salapannya tau," decak kesal balita berusia lima tahun tersebut, saat ayah dan ibunya kini telah ikut duduk untuk sarapan bersama dengannya.


"Maaf sayang, tadi Mami salah nyiapin pakaian kerja buat Papi kamu," jawab Nathalie yang kali ini tidak ingin membuat suaminya yang kembali beralasan.


"Kok bisa, Mi?" Tanya Rainer.


"Aduh jagoan Papi ini, banyak banget tanya ya. Sudah sayang, kamu makan dulu, nanti bicaranya waktu sudah selesai makan saja," ucap Kaisar yang membuat Rainer langsung menurut.


"Tapi Pi, Iner pengen bilang sesuatu dulu sama Papi," ucap Rainer yang kini berubah pikiran dan kembali membuka suara.


"Memangnya Rainer, mau bilang apa sih, sama Papi?" Tanya Nathalie yang jadi ikut penasaran.


"Jadi, Mami kan, Mami-nya Iner, tapi Mami itu, istlinya Papi ," ucap Rainer yang membuat sepasang suami istri itu, mencoba untuk mencerna apa yang di katakan oleh anak mereka itu.


"Telus Papi pelnah bilang sama Iner, kalo Mami itu miliknya Papi, kalena udah jadi istlinya Papi," ucap Rainer lagi yang membuat Nathalie dan Kaisar sampai saling memandang satu sama lain, karena heran kenapa anak mereka bisa membahas hal seperti ini.


"Nah terus, maksudnya Rainer bagaimana?" Tanya Kaisar, ingin tahu lebih lanjut dengan maksud dari perkataan sang putra tunggalnya itu.

__ADS_1


"Kalo Mami milik Papi, belalti Mami juga milik, Iner. Kalena Mami, itu, Mami-nya Iner. Jadi Papi halus adil, ndak boleh ambil semua pelhatian dali Mami. Iner juga butuh pelhatian dali Mami," ucap Rainer yang sekarang menutup kalimatnya yang membuat Nathalie dan Kaisar saling pandang kembali dan seakan lewat tatapan mereka berdua itu, ada pertanyaan bagaimana bisa anak mereka itu bisa menyusun kalimat seperti itu?


__ADS_2