
Anak Mami dan Papi tampan banget, sayang!
Jadi, anak yang baik ya, nak.
Dan malam-malam ini, aku akan mengajak tinta kepada pembaca untuk mendukung kisah kami dengan like, vote, rate, follow, dan hadiah serta kalimat indah syair kalian di lantai komentar. Aku rasa itu harapanku.
Semoga bahagia dan terimalah kisah kita, happy birthday reading!!🥰
................
Hah?
Kaisar jadi gelagapan sendiri, ketika mendengar balasan ucapan dari sang anak. Entah ia harus bersyukur atau bagaimana sekarang, karena anaknya ini sangatlah cerdas. Nathalie yang melihat suaminya yang sudah kebingungan untuk memilih kata yang ingin pria itu gunakan sebagai alasan pada sang anak, akhirnya membuka suara.
"Sudah sayang, nanti lagi ya ngobrolnya sama Papi," ujar Nathalie.
"Tapi Mi, Iner kan masih penasalan," balas Rainer kecil.
"lya Mami tahu, sayang. Tapi kan, Papi belum makan siang loh. Nanti Papi sakit lagi, Rainer tidak mau kan, kalau Papi jadi sakit karena telat makan siang?" Tanya Nathalie di akhir kalimatnya yang langsung dengan spontan mendapatkan gelengan kepala dari sang anak.
"Ya sudah, kalau begitu Papi makan dulu. Telus pas selesai makan, nanti Papi halus jawab peltanyaan dali Iner, ya?" Ucap Rainer kecil yang tetap sama masih saja ingin jawaban dari semua keheranannya.
Mendengar kalimat yang di ucapkan oleh sang anak, membuat Kaisar langsung menatap ke arah istrinya, seakan meminta pertolongan.
"Iya-iya nanti Papi bakal jawab kok. Tapi, anak Mami yang ganteng ini, jangan ganggu Papi mau makan ya," ucap Nathalie sambil mengambil alih Rainer kecil dari pangkuan sang suami dan memindahkan ke pangkuannya.
"Pi, sekarang kamu makan dulu. Nanti kamu tidak jadi makan lagi, kalau sudah fokus sama kerjaan," perintah Nathalie yang di angguki oleh suaminya.
"Nanti, setelah ini kamu sama jagoan kita mau langsung pulang?" Tanya Kaisar, membuka topik pembicaraan baru. Sekalian ia ingin mencari cara agar pemikiran anaknya akan teralihkan dan tidak akan bertanya lebih lanjut tentang acara berbisik-bisiknya tadi pada sang istri lagi.
"lya dong, langsung pulang. Kalau aku sama Rainer disini lebih lama, yang ada kamu bakal lebih lama buat kerja," jawab Nathalie.
"Ya... padahal aku masih ingin kamu sama putra kita disini loh sama aku," melas Kaisar.
"Kan, nanti kita bisa ketemu di rumah, Papi. Seperti kita sudah lama tidak ketemu-ketemu saja deh, kamu ini. Sudah buruan makan, tidak usah ajak biacara lagi," ucap Nathalie.
__ADS_1
"Mami," panggil Rainer kecil ketika melihat kedua orangtuanya sudah tidak berbicara lagi.
"Iner pengen suapi Papi makan boleh?" Tanya balita tersebut, sambil mengerjabkan kedua matanya dengan lucu.
"Loh kok, nanya sama Mami sih?" Tanya Nathalie, "Rainer kan, seharusnya nanya sama Papi," lanjut wanita itu.
"Papi boleh?" Tanya Rainer yang sekarang mengganti fokus pandangannya pada sang ayah.
"Boleh dong sayang. Sini, duduk sama Papi ya," ajak Kaisar untuk Rainer berpindah kembali pada pangkuannya. Agar balita itu akan bisa dengan mudah melakukan apa yang ia mau.
Kini Kaisar makan dengan di suapi oleh Rainer, walaupun jadi sedikit berantakan, karena makanan yang di suapi oleh sang anak ada yang tumpah hingga mengenai kemeja milik pria itu. Tapi Kaisar sama sekali merasa tidak masalah, karena ia pikir ia bisa mengganti kemejanya dengan kemeja cadangan yang selalu tersedia di ruangan kerjanya ini.
Selesai Kaisar makan, kini Nathalie membereskan semua alat makan yang di pakai oleh suaminya itu. Sedangkan sang suami dan juga anaknya, sedang bermain.
"Pi, aku sama Rainer pulang sekarang ya," ucap Nathalie ingin berpamitan, sambil mendekat ke arah suami dan anaknya.
"Bentar lagi sayang. Aku masih rindu," ucap Kaisar.
"Kai ih, sudah ah. Ketemu tiap hari juga, masa rindu. Seharusnya itu bosan, bukan rindu," ucap Nathalie sambil berdecak.
"Ya mau bagaimana lagi, akunya malah rindu. Bosan mah mana ada, yang ada rindu banget terus dan tidak mau jauh-jauh sama kamu, apalagi Rainer kecil kita," ucap Kaisar sambil menciumi dengan gemas kedua pipi Rainer secara bergantian, membuat balita itu seketika tertawa.
"Pi, sudah. Nanti Rainer menangis lagi," sambung Nathalie.
"Ih Mami, Iner kan cowok, masa nangis sih," ucap Rainer sambil memprotes ucapan dari sang ibu.
"Iya-iya Rainer tidak akan nangis. Karena Rainer itu kan jagoan," ucap Nathalie buru-buru mengubah perkataannya, agar sang anak tidak akan memprotes lagi. "Ya sudah, sekarang kita pulang ya, Rain sayang," lanjut Nathalie yang sekarang di angguki oleh sang putra.
"Padahal aku masih pengen nahan kalian disini. Tapi ya sudahlah, aku anterin kamu sama Rainer sampai mobil. Dan aku tidak menerima penolakan atau alasan apapun dari kamu," ucap Kaisar menegaskan perkataan akhirnya karena ia sempat melihat istrinya tadi mau membuka suaranya, tapi langsung tidak jadi ketika ia menegaskan perkataan di akhir kalimatnya.
"Ihs. Ya sudah buruan," decak kesal Nathalie.
"Tidak usah ngomel-ngomel sayang. Nanti cepat tua loh," ejek Kaisar yang membuat Nathalie langsung menatap sang suami dengan tatapan kesal.
"Kamu tuh yang sudah tua. Kan sekarang sudah kepala tiga," ejek balik Nathalie.
__ADS_1
"Tidak apa-apa aku sudah tua, yang penting bisa memikat hati kamu ," ucap Kaisar sambil mengedipkan kedua matanya secara bergantian ke arah sang istri, hal itu tidak lepas dari pandangan sang putra yang kini fokus melihat interaksi ayah dan ibunya.
"Papi," panggil Rainer kecil yang membuat Kaisar seketika melihat ke arah sang anak.
"Kenapa sayang?" Tanya Kaisar.
"Papi lagi sakit mata ya?" Tanya Rainer yang membuat Kaisar mengerutkan keningnya bingung.
"Tidak sayang. Mata Papi lagi baik-baik saja. Memangnya kenapa, sayang?" Tanya Kaisar penasaran. Kenapa anaknya itu hingga bisa berpikiran seperti itu padanya.
"Soalnya mata Papi, gelak-gelak kayak gini," ucap Rainer sambil mencoba memperagakan seperti yang di lakukan oleh Kaisar tadi, tapi sayangnya kedua mata anak itu malah tertutup semua, ketika ia mencoba untuk mengedipkan kedua matanya secara bergantian.
Kaisar seketika paham sekarang. Sedangkan Nathalie kini semakin menatap tajam ke arah Kaisar, seakan berkata awas saja, kalau Rainer sampai mengikuti apa yang kamu lakukan itu nanti.
"Hehehe. Sudah ya sayang, itu Papi cuma mau bercanda sama Mami. Makanya, mata Papi seperti itu," ucap Kaisar sambil menggaruk tengkuknya, bingung untuk mengatakan alasan apa pada sang anak.
"Sudah sayang. Papi kamu memang kadang suka aneh. Nanti jangan di ikuti ya, kalau Papi seperti itu," ucap Nathalie yang langsung mendapatkan anggukan patuh dari balita imut itu.
Kini mereka bertiga berjalan menuju ke lobby dengan Rainer yang kini berada di gendongan Kaisar dan Nathalie yang kini berjalan di samping suaminya dengan tangan Kaisar yang melingkar posesif di pinggang sang istri. Banyak dari orang-orang yang berada di rumah sakit menatap kagum ke arah mereka. Karena keluarga itu terlihat sangat harmonis dan kelihatan sangat bahagia.
Sampai ada banyak yang menginginkan berada di posisi Nathalie. Padahal mereka sama sekali tidak tahu, jika kebahagiaan yang sekarang baik Nathalie dan Kaisar alami, ada perjuangan penantian yang harus mereka lalui. Tapi untung saja, mereka berdua bisa melewatinya, hingga pernikahan mereka bertahan sampai sekarang, hingga adanya Rainer yang semakin melengkapi kehidupan mereka.
"Kalian pulangnya hati-hati ya. Nanti langsung kabarin aku, kalau sudah sampai," pesan Kaisar dan setelah itu secara bergantian memberikan kecupan di wajah anak dan istrinya.
"Papi, kita pulang ya. Kamu yang semangat kerjanya," ucap Nathalie yang di angguki oleh Kaisar.
"Papi, pulang nanti bawa mainan ya," pesan Rainer kecil.
"Iya sayang, nanti Papi beli untuk kamu ya," jawab Kaisar.
"Jangan banyak-banyak Pi. Aku tidak suka ya, kamu terlalu manjain Rainer," ucap Nathalie memperingati.
"Iya sayang, iya. Ya sudah, sekarang kalian masuk mobil," perintah Kaisar yang di angguki oleh Nathalie.
"Daaah Papi. Iner love you," ucap Rainer sambil melambaikan tangannya, ketika mobil mulai melaju meninggalkan area perusahaan tersebut.
__ADS_1
Setelah mobil yang di tumpangi oleh anak dan istrinya sudah tidak terlihat lagi, kini Kaisar kembali masuk ke dalam perusahaan untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sebahagia itu, kamu kapan?