Satu Malam Nathalie

Satu Malam Nathalie
BAB 48 $2 - Rainer Tampan


__ADS_3

Sayang, tahun demi tahun terlewatkan oleh rasa bahagia. Aku harap ini semua nyata dan abadi.


Dan malam-malam ini, aku akan mengajak tinta kepada pembaca untuk mendukung kisah kami dengan like, vote, rate, follow, dan hadiah serta kalimat indah syair kalian di lantai komentar. Aku rasa itu harapanku.


Semoga bahagia dan terimalah kisah kita, happy birthday reading!!🥰


................


Beberapa tahun kemudian...


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, hingga kini tumbuh kembang balita menggemaskan yang tidak lain adalah Daneesh Rainer Sturridge, telah masuk pada taman kanak-kanak. Balita tersebut sekarang telah berusia lima tahun dan kepintaran dari anak itu semakin terlihat. Apalagi dengan wajah yang sangat mirip dengan sang ayah, membuat orang-orang selalu memujinya. Selain tampan, tapi kepintarannya juga menurun dari sang ayah.


Lah, Nathalie kebagian apa dong? Kebagian cerewetnya ya. Hehehe.


Saat ini, balita tersebut sedang berada di depan kamar milik kedua orang tuanya yang sedang tertutup dengan rapat. Hari masih pagi, tapi balita itu telah bangun, sambil memeluk boneka teddy bear. Memang Rainer masih berusia lima tahun, tapi anak itu sengaja sudah di ajarkan oleh Kaisar untuk mandiri dan bisa tidur sendiri. Awalnya Rainer masih suka mengetok pintu saat malam hari karena tiba-tiba ketakutan, tapi lama kelamaan balita itu akhirnya terbiasa.


Sebenarnya, Kaisar dan Nathalie sempat bertengkar kecil karena permasalahan sang putra yang sudah harus tidur sendiri. Karena menurut Nathalie, nanti saja saat anak mereka telah menginjak usia enam tahun, tapi Kaisar tentu tidak setuju, ia ingin sekali jika anaknya itu secepatnya mandiri.


"Mami, Papi," panggil Rainer sambil mencoba mengetuk pintu kedua orang tuanya dengan menggunakan satu telapak tangannya yang kecil.


"Mami," panggil Rainer lagi, tapi tidak mendapatkan sahutan.


Di dalam kamar, dimana Kaisar masih terlihat sangat nyaman sambil memeluk tubuh polos istrinya yang sekarang terbalut selimut sama sekali tidak mendengar panggilan dari anaknya yang terus memanggil-manggilnya dan sang istri secara bergantian.


Nathalie yang awalnya tertidur dengan nyenyak, kini mulai terusik karena mendengar ada yang memanggil-manggilnya dan sang suami. Nathalie mulai membuka matanya secara perlahan, menyesuaikan cahaya yang kini masuk ke dalam matanya.


"Rainer," gumam Nathalie ketika mendengar suara anaknya yang ternyata memanggilnya dan sang suami.


Walaupun dengan tubuh yang terasa lelah karena ulah suami mesumnya itu yang tiba-tiba menyerangnya tanpa ampun semalam, Nathalie mengangkat secara perlahan satu tangan Kaisar yang kini sedang melingkar di tubuhnya, niatnya tidak ingin membangunkan sang suami yang masih saja terlelap dalam tidurnya, tapi nyatanya gerakan pelannya itu, justru membuat Kaisar tiba-tiba membuka matanya.


"Kenapa, sayang?" Tanya Kaisar, dengan suara paraunya.

__ADS_1


"Itu Pi, Reiner lagi manggil kita dari tadi," jawab Nathalie.


"Ya sudah, kamu mandi dulu, biar aku saja yang temuin Rain," ucap Kaisar memberikan saran. "Bentar, aku cuci muka dulu," sambung Kaisar yang kini turun dari tempat tidur dan berjalan tanpa ada rasa malu ke kamar mandi, padahal pria itu sedang tidak menggunakan apa-apa.


"Papi, kebiasaan deh. Pakai pakaian kamu dulu dong kalau mau ke kamar mandi," tegur Nathalie, yang membuat Kaisar menoleh ke arah sang istri, sebelum ia menutup pintu kamar mandi.


"Buat apa juga di tutup sayang. Cuma kamu doang yang lihat," ucap Kaisar sambil mengedipkan matanya, setelah itu ia menutup kamar mandi tersebut.


"Ish, dasar. Untung sayang, kalau tidak sudah lama aku buat sate," gumam Nathalie.


Selama menunggu sang suami, Nathalie kini bangun dari tidurnya, mulai membereskan kekacauan yang telah di buat oleh suaminya semalam. Ia memungut seluruh pakaiannya dan Kaisar yang kini terletak dengan tidak beraturan di lantai.


"Sayang, kamu mandi gih. Aku ke Rain dulu. Kasihan pasti dia sudah menunggu lama," ucap Kaisar sambil mencuri satu kecupan di bibir istrinya.


Cup!


Nathalie hanya memberikan anggukan, setelah ia selesai membereskan kekacauan yang terjadi dampak dari semalam, wanita beranak satu kini melangkah menuju ke kamar mandi. Sedangkan Kaisar, pria itu kini membuka pintu dan melihat ke anaknya yang sekarang menatap kesal padanya.


Kini Kaisar berjongkok di depan sang anak, agar tinggi mereka bisa sejajar. Kaisar mengusap sayang rambut anaknya, sebelum ia membuka suaranya.


"Maaf sayang. Papi bukannya sengaja lama mau bukain pintu buat kamu. Cuma, Papi sama Mami kelelahan semalam, makanya bangunnya telat," jawab Kaisar yang membuat seorang Rainer seketika menatap bingung ke arah ayahnya.


"Papi sama Mami tidak buat adik kan, buat Iner semalam?" Pertanyaan tiba-tiba dari Rainer, membuat Kaisar seketika menatap bingung dan juga bertanya-tanya. Karena, bagaimana mungkin bocah 5 tahun bisa mempunyai pikiran seperti ini.


"Kok Rainer bicara begitu?" Tanya Kaisar, mencoba ingin menggali informasi, siapa tahu ia akan tahu penyebab dari anaknya ini yang masih polos bisa berbicara seperti itu.


"Itu tadi Papi bilang, kalau Papi lelah kan. Padahal Papi cuma tidul, masa bisa capek sih," jawab Rainer sambil memainkan boneka yang berada di pelukannya.


"Rain sayang. Kamu denger kata seperti ini, darimana sih sayang?" Tanya Kaisar, sambil memegang kedua bahu anaknya dengan pelan. " Papi sama Mami, tidak pernah lho ajarin, Rainer bicara begini," lanjut Kaisar.


"Dali Om Amal, Pi. Kata Om Amal, Iner halus lalang Papi sama Mami, bial ndak buat adik, buat Iner. Soalnya kasihan Mami, nanti kelelahan," jawab Rainer.

__ADS_1


Huh!


Kaisar menghela napasnya pelan, ketika mendengar jawaban dari sang anak. Bisa-bisanya anaknya yang masih kecil seperti ini, otaknya sudah di cemarkan seperti ini, oleh Gamal. Pria itu, sepertinya harus ia berikan pelajaran, agar tidak berbicara yang tidak-tidak pada Rainer.


"Awas kamu, Gamal. Aku bakal kasih pelajaran, pas aku ketemu sama kamu nanti," gumam Kaisar di dalam hati.


"Emang Rainer, tidak mau punya adik?" Tanya Kaisar, yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari balita tersebut.


"Ndak mau," jawab Rainer selain gelengan kepala yang barusan ia berikan pada sang ayah.


"Loh kenapa tidak mau?" Tanya Kaisar yang kini sambil membawa Rainer ke dalam gendongannya, membawa anak itu untuk kembali ke dalam kamar karena sekarang balita tersebut harus segera mandi.


"Libet Papi. Iner malas, kalo halus di suluh jagain adik nantinya," jawab Rainer apa adanya.


"Oh gitu. Tapi nanti, kalau suatu hari nanti, tidak sengaja Papi sama Mami, kasih adik buat Rainer bagaimana?" Tanya Kaisar mencoba mengetes anaknya saja.


"Ya Iner paslah deh Pi," jawab Rainer lagi yang terlihat sangat menggemaskan di mata Papi Kai ini.


"Ya sudah, sekarang Rainer mandi dulu ya. Kan mau ke sekolah hari ini," ucap Kaisar sambil membantu membukakan pakaian anaknya.


"Iner mandi sendili aja ya, Pi," pinta Rainer yang di angguki oleh sang papi. "Iner kan udah gede, nanti bental lagi pasti Iner udah punya pacal ," sambung Rainer yang membuat Kaisar seketika di buat melotot.


"Eh tidak boleh ya sayang. Kamu itu masih kecil, tidak boleh pacar-pacaran. Ini juga, ajaran siapa lagi, bilang bentar lagi kamu bakal punya pacar?" Ucap Kaisar yang sekarang mengomel.


"Ante Nana, Pi," ujar Rainer yang membuat Kaisar sekali mencoba menghela napas sabar. Tidak mungkin, ia akan menunjukkan bagaimana ia sedang marah, tepat di depan anaknya. Bukan apa-apa, tapi nanti, anaknya ini bisa mengikuti apa yang ia lakukan nanti.


"Rainer, kesayangannya Papi. Denger ya, kamu itu masih kecil, bicara R saja belum bisa, masa sudah mau punya pacar sih," ucap Kaisar sambil mencubit pelan hidung mancung sang putra.


"Kan Iner ganteng, kayak Papi. Jadi ndak apa-apa dong Pi," balas Rainer.


Astaghfirullah, istighfar Kaisar! Sabar utamakan ya, hehehe! 😭

__ADS_1


__ADS_2