Satu Malam Nathalie

Satu Malam Nathalie
BAB 52 $2 - Lunch


__ADS_3

Dan malam-malam ini, aku akan mengajak tinta kepada pembaca untuk mendukung kisah kami dengan like, vote, rate, follow, dan hadiah serta kalimat indah syair kalian di lantai komentar. Aku rasa itu harapanku.


Semoga bahagia dan terimalah kisah kita, happy birthday reading!!🥰


................


Jam sekolah telah usai, kini Rainer keluar dari dalam kelas dengan wajah kusutnya. Padahal saat jam istirahat tadi, pria kecil itu masih tersenyum manis pada ibunya. Berbeda dengan sekarang yang membuat Nathalie bingung sendiri.


"Sayang, kok mukanya cemberut?" Tanya Nathalie, sambil berjongkok di depan sang anak, menatap kedua bola mata anaknya. "Ada yang buat Rainer, kesal ya?" Lanjut Nathalie yang langsung mendapatkan anggukan dari balita tersebut.


Nathalie menampilkan senyuman terbaiknya, sebelum ia berdiri dari posisi berjongkoknya membawa sang anak untuk duduk di salah satu bangku.


"Coba cerita sama Mami, ada apa sebenarnya?" Tanya Nathalie yang membuat Rainer langsung menatap ke arah Nathalie, sambil menghela napas panjang, seakan balita tersebut ingin jika ibunya tahu bahwa ia sangat kesal sekali sekarang.


"Tadi di dalam kelas ada yang bilang suka sama, Iner. Iner ndak suka Mami," jawab Rainer.


"Memangnya, yang bilang suka sama Rainer, cewek apa cowok sih? Kok kesayangan Mami sampai kesal banget begitu, sayang?" Tanya Nathalie lagi.


"Cewek, Mi. Ih pokoknya Iner ndak suka," ucap balita tersebut sambil memeluk kedua lengannya di depan dada.


"Astaga, anaknya Mami yang ganteng ini, sudah mulai ada yang suka ya. Kecil-kecil sudah tebar pesona saja kamu di sekolah," ucap Nathalie sambil tertawa dan mencubit gemas pipi anaknya.


"Ih Mami, Iner ndak pelnah ya tebal pesona," balas Rainer, yang membuat Nathalie tertawa.


"Mami, kok jadi ketawain Lainer sih?" Tanya Rainer, karena ibunya sekarang malah tertawa. "Lainer, ngambek nih," lanjut balita tersebut.


"Iya-iya sayang, Mami tidak ketawa lagi," ucap Nathalie yang sekarang mengambil ponselnya yang tiba-tiba berdering, tanda ada telepon masuk.


Tin!


Tin!


Tin!


"PAPIII"

__ADS_1


Rainer berlari menuju dimana sang papi yang tengah membukakan pintu mobil di halaman sekolah.


Nathalie menghampiri Kaisar dan Rainer, setelah itu mereka berjalan masuk ke dalam mobil dengan Rainer yang sedari tadi terus berceloteh pada ayahnya.


"Sayang, kamu mau makan apa?" Tanya Kaisar, ketika mereka bertiga telah berada di dalam mobil dan posisi Nathalie yang kini memangku Rainer.


"Apa saja, yang penting Rainer juga bisa ikut makan," jawab Nathalie.


"Ya sudah, kita ke restoran biasa saja ya?" Tanya Kaisar, yang di angguki oleh Nathalie.


Tidak ada pembicaraan lain selain Rainer yang tiba-tiba suka mengoceh, tentang apa yang ingin ia ketahui atau baru saja ia lihat. Dan tentunya, Mami Nath dan juga Papi Kai dengan semampu mereka, akan menjawab semua pertanyaan yang di tanyakan oleh sang putra.


Di umur putra mereka yang masih termasuk dalam usia balita ini, tentu keingintahuan dari anak tersebut sangat tinggi. Oleh karenanya, Nathalie dan Kaisar harus pandai-pandai dalam menjawab pertanyaan Rainer. Karena terkadang, pertanyaan anak itu sudah terlalu jauh untuk pemikiran dari anak kecil. Dan itu mungkin, ketika berada di luar, ia bisa melihat semua yang terjadi di lingkungan sekitarnya.


"Sayang... bicaranya di lanjut sebentar ya. Sekarang, waktunya kita bertiga untuk makan," ucap Kaisar sambil mengusap kepala Rainer dengan sayang, setelah ia telah memarkirkan mobilnya dengan rapi di parkiran restoran.


"Okay Papi!"


Mereka bertiga masuk ke dalam restoran yang langsung di sambut oleh pelayan di restoran tersebut.


"Baik Tuan Kaisar, mari saya antar," ucap pelayan tersebut yang langsung berjalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh ketiga manusia yang sekarang menjadi pusat perhatian orang-orang di restoran tersebut.


Mau heran, tapi mereka adalah keluarga Sturridge. Mereka merupakan keluarga yang berpengaruh dan tentunya tidak akan heran, jika ada banyak orang yang akan mengenal mereka.


"Papi, kamu pesan semuanya kapan?" Tanya Nathalie, ketika mereka telah duduk di private room dengan meja yang telah terhidang dengan makanan khusus untuk mereka bertiga.


Kaisar yang sedang sibuk membuat Rainer nyaman dengan duduknya, menoleh ke arah Nathalie. "Waktu kamu tidur, sayang."


"Ish. Aku mau heran, tapi apapun itu bisa mustahil buat kamu," decak Nathalie, yang membuat Kaisar langsung terkekeh.


"Demi kamu sama Rainer. Apa sih, yang tidak akan aku lakukan," ujar Kaisar.


"Iya deh iya-iya," ucap Nathalie.


"Ya sudah, sekarang kamu makan dulu. Kamu sudah telat sekali tahu makannya," ucap Kaisar mengingatkan.

__ADS_1


"Rainer, biar jadi urusan aku." kata Kaisar.


Dan sesuai dengan yang di katakan oleh sang suami, pria itu melakukan seperti yang ia katakan. Sementara ia makan, ia juga sibuk memperhatikan Rainer yang saat ini sedang makan sendiri, sambil sesekali ia akan mengusap wajah anak tersebut yang sedikit belepotan karena makanan.


Tanpa di sadari oleh Kaisar, Nathalie sedari tadi melihat aksi yang dilakukan oleh suaminya itu sambil tersenyum. Suaminya ini, memang adalah suami yang paling sempurna yang ia miliki. Tidak hanya padanya, tapi pada anak mereka, Kaisar terlihat sangat perhatian.


"Fokus makan saja, sayang. Aku tahu kok, kalau aku ini ganteng." kata Kaisar dengan percaya dirinya.


"Siapa juga yang lihatin kamu." Bohong Nathalie, "aku lagi lihatin Rainer tuh."


"Tapi Rainer kan, mirip sama aku." Balas Kaisar, "iya kan boy?" Tanya Kaisar meminta anaknya untuk menjawab pertanyaannya.


"Iya Pi. Iner juga tahu kok, kalo Papi tadi, Mami liatin Papi telus. Cuma Mami, mungkin malu. Makanya ndak mau ngaku," jawab Rainer, yang membuat Nathalie terdiam seketika.


"Tidak Papi, tidak kamu. Sama saja kelakuannya," gumam Nathalie.


"Sayang, kok diam?" Tanya Kaisar, karena setelah kalimat dari Rainer, sang istri tidak menanggapi dan memilih untuk diam.


"Tidak apa-apa, Pi. Sudah kamu sama Rainer, lanjut makan saja. Biar kita bisa secepatnya langsung pulang," ucap Nathalie yang kini telah kembali fokus pada makanannya.


"Ya sudah deh. Aku pikir, kamu kesal sama aku dan Rainer," balas Kaisar.


Nathalie menghentikan makannya, menoleh ke arah suaminya. "Sudah makan saja, aku cuma ingin cepat-cepat pulang. Itu saja udah cukup."


"Rainer, Mami kamu aneh," bisik Kaisar di telinga sang putra. Tapi bisikan itu seperti bukan sebuah bisikan, karena sang istri masih bisa mendengarkannya.


"Iya Pi. Nanti, gimana kalo Mami tiba-tiba ngomel lagi sama kita," ucap Rainer.


"Papi juga belum tahu. Tapi bisa bahaya, kalau nanti Mami ngomel. Nanti yang ada, Papi harus tidur di luar," balas Kaisar lagi.


"Kasihan dong, Papi. Nanti kedinginan, telus di gigit sama nyamuk," ujar Rainer.


Ehm...


"Kalian berdua, mau lanjut makan atau mau bergosip?" Tanya Nathalie yang membuat baik suaminya dan sang anak langsung sibuk dengan makanan mereka tanpa mau berbicara lagi.

__ADS_1


__ADS_2