
Selamat di akhir musim kedua ini, sayang. Terima kasih telah menemani hidupku menjadi lebih berwarna dan indah. Sayang, kamu dan Rainer kita adalah anugerah yang tidak terkira dalam kehidupan ini yang aku miliki.
Dan malam-malam ini, aku akan mengajak tinta kepada pembaca untuk mendukung kisah kami dengan like, vote, rate, follow, dan hadiah serta kalimat indah syair kalian di lantai komentar. Aku rasa itu harapanku.
Semoga bahagia dan terimalah kisah kita, happy birthday reading!!🥰
................
"Papi, kan sudah aku bilang jangan sampai, buat Rainer menangis," marah Nathalie karena sekarang Rainer menangis di dalam pelukannya.
"Papi jahat, Mi. Lainer ndak mau sayang sama Papi lagi," ucap Rainer. Tangis anak tersebut, semakin kencang dan membuat Nathalie jadi kewalahan untuk menenangkan balita tersebut.
"Kan tadi, aku sudah bilang, aku tidak janji sayang," ucap Kaisar dengan santainya.
Nathalie berdecak. "Ya sudah, kamu keluar dulu sana. Ini Rainer tidak akan berhenti nangis, kalau kamu disini terus."
"Aku maunya disini. Aku juga mau bantu bujuk putra kita," ucap Kaisar yang tidak ingin menuruti perkataan dari istrinya.
"Papi yang tampan, sekali saja dengerin aku bisa?" Tanya Nathalie yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Suaminya ini kenapa jadi keras kepala sekali sih.
"Aku tidak mau." jawab Kaisar, yang kini melihat ke arah Rainer.
"Rainer, Papi kan tidak marah sama kamu nak. Kan tadi Papi cuma menawarkan saja, kenapa teman perempuan Rainer itu, tidak di jadikan pacar saja?"
Nyatanya walau Rainer telah menangis karena godaan dari Kaisar. Pria itu bukannya berhenti, tapi sekarang ia malah bertambah menggoda anaknya yang membuat Nathalie rasanya ingin menenggelamkan suaminya di sungai Amazon sekarang ini juga.
"Mami!" Rengek Rainer.
"Papi stop!" Tegur Nathalie, "anak lagi menangis, bukannya di bujuk, malah tambah di godain."
"Sekali-kali sayang. Kapan lagi, bisa godain Rainer seperti ini, kan."
"Mami, malam ini bialin Papi tidul di lual aja. Bial Papi, di gigit sama nyamuk nakal," ucap Rainer sambil mengedipkan sebelah matanya, sementara satu telapak tangannya sibuk mengusap hidungnya yang tersumbat dampak dari ia yang menangis.
"Iya sayang. Nanti Rainer saja yang tidur sama Mami ya. Kita berdua jangan pedulikan Papi," ucap Nathalie yang menangkap sinyal yang di berikan oleh sang anak langsung menuruti permintaan balita tersebut. Dan tentu hal itu, membuat Kaisar yang sedari tadi tertawa, seketika langsung panik.
"Eh... kok malah begitu?" Tanya Kaisar, yang merasa tidak terima.
"Memang kenapa, tidak bisa?" Tanya balik Nathalie.
"Aku cuma bercanda loh, sayang. Masa kamu mau buat aku tidur di luar sih," ucap Kaisar yang sekarang memelas.
"Bercanda kamu tidak lucu. Ini Rainer sampai menangis gini," ucap Nathalie yang sekarang sedang sibuk menghapus air mata di pipi anaknya, untungnya sekarang sudah berhenti menangis.
"Ndak usah sayang sama Papi, Mi. Sayang sama Lainer, aja." kata Rainer yang kini meledek ayahnya dengan lidah yang sengaja ia julurkan ke arah Kaisar.
__ADS_1
"Loh-loh. Tidak bisa dong Rainer. Mami kan istrinya Papi. Jadi wajib harus sayang sama Papi," ucap Kaisar.
"Bisa dong. Kan Mami juga Mami-nya Lainer. Siapa suluh, Papi buat Lainer nangis tadi," ucap Rainer dengan santainya.
Seketika, Kaisar langsung memasang ekspresi cemberut. "Kalian tega, sama Papi."
"Bialin aja kan, Mi." kata Rainer.
Nathalie menggangguk. "Sekarang waktunya jagoan Mami, mandi ya."
"Sayang, Rainer. Kok jadinya kalian berdua malah marah sih sama Papi?" Tanya Kaisar, karena jujur ini tidak sesuai dengan ekspektasi yang ada di pikirannya.
"Sudah Papi, mending kamu mandi juga dulu sana," jawab Nathalie.
"Aku mana bisa mandi dengan tenang, kalau kalian berdua malah marah sama aku," balas Kaisar.
Rainer menoleh ke arah ayahnya. "Siapa juga, yang lagi marah. Kita tidak lagi marah kan, Mi?"
"Iya sayang, tidak kok. Papi kamu saja tuh yang terlalu berlebihan," jawab Nathalie.
"Rainer, maaf sayang. Papi tidak akan lagi deh godain kamu seperti tadi. Tapi jangan marah lagi ya, please..." melas Kaisar, karena tentu ia sangat tahu perubahan yang terjadi.
"Bagaimana, Mami? Lain maafin nggak ya?" Tanya Rainer, yang sekarang seakan meminta pendapat dari ibunya.
"Ya sudah deh, dalipada nanti Papi nangis, jadi Lainer mau maafin Papi," ucap Rainer pada akhirnya yang membuat Kaisar seketika tersenyum senang.
"Peluk Papi dulu, dong. Katanya sudah maafin Papi kan," ucap Papi Kai sambil merentangkan kedua tangannya, meminta Rainer untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya.
Tanpa menunggu lama, balita kecil yang masih menggunakan sisa seragam yang masih melekat di tubuhnya itu, kini telah berada di pelukan Kaisar.
"Lain sayang, Papi. Biarpun, Papi suka buat Lianel kesal," ucap Rainer di dalam pelukannya yang mendapatkan kekehan dari Kaisar.
"Papi juga sayang banget sama Rainer juga Mami, tentunya." balas Kaisar.
Kaisar menoleh ke arah Nathalie, yang sekarang berjarak satu meter dengannya dan Rainer, sambil tersenyum. Wanita itu juga membalas senyumannya, melangkah mendekat ketika tangan Kaisar memberi kode untuk istrinya itu mendekat.
"Terima kasih, karena kalian berdua, sudah menjadi pelengkap di hidup aku. Aku sangat bahagia sekali, dengan hidup aku yang benar-benar lengkap karena ada kamu, Nathalie istri aku. Dan Rainer anak kita," ucap Kaisar sambil merangkul pinggang istrinya, hingga posisi mereka semakin dekat.
"Aku juga bahagia, Papi Kai. Semoga rumah tangga kita akan selalu baik-baik saja kedepannya," balas Nathalie.
"Lainel juga bahagia. Kalena bisa jadi anaknya Mami Nath sama Papi Kai. Pokoknya Lian bahagia banget," ucap Rainer yang ikut-ikutan mengeluarkan apa yang ada di pikiran anak tersebut.
"Kita semua bahagia, sayang." kata Kaisar.
"Lian sayang Mami sama Papi," ucap Rainer sambil memberikan masing-masing kecupan pada pipi ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Kami, juga sayang sama kamu sayang." balas Nathalie.
Kini mereka bertiga berpelukan sambil tersenyum penuh perasaan cinta. Keluarga kecil Nathalie dan Kaisar berakhir bahagia, walaupun semuanya berawal dari sebuah hubungan cinta remaja, terpisah lima tahun, dan kembali lagi dengan keadaan yang berbeda. Dimana Nathalie, yang harus menunggu penantian tak berujung. Dan tentunya tidak mudah awalnya bagi Nathalie menerima semuanya, tapi lama kelamaan akhirnya ia mulai bisa berdamai dan membangun kembali mahligai cinta dirinya dan Kaisar, sang suami tercinta. Tawa dan air mata, sudah mereka berdua lalui.
Mungkin di masa mendatang, akan ada rintangan baru yang harus mereka hadapi. Tapi, Kaisar dan Nathalie percaya, jika mereka akan bisa melewati semuanya, seperti rintangan-rintangan sebelum-sebelumnya.
"Aku bahagia sayang, karena kamu adalah orang yang mau menerima aku kembali setelah dulu aku membuat kamu kecewa," bisik Kaisar yang membuat Nathalie tersenyum.
"Papi bilang apa sih sama, Mami? Kok Lian idak boleh dengal?" Tanya Rainer yang membuat Nathalie dan Kaisar yang sempat bertatapan penuh cinta itu, seketika langsung menoleh ke arah sang putra yang masih setia dalam gendongan Kaisar.
"Papi bilang, kalau Mami itu..."
"Papi geli!" teriak Rainer.
Karena dengan tiba-tiba Kaisar langsung menggelitiki tubuh anaknya itu, setelah Kaisar meletakan anaknya tersebut di atas tempat tidur.
"Mami, tolong Lainel" pinta Rainer, yang tidak bisa berhenti tertawa.
"Sudah Papi stop. Nanti Lainel menangis lagi," ucap Nathalie mengingatkan membuat sang suami langsung menghentikan aksinya itu.
"Masih mau tahu, apa yang Papi bisikan ke Mami tidak?" Tanya Kaisar, yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari balita tersebut.
"Lain sekalang, mau mandi saja deh." kata Rainer.
Kini balita tersebut turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke kamar mandi yang membuat baik Kaisar dan Nathalie langsung tertawa melihat tingkah anak mereka itu.
"Sayang..." panggil Kaisar.
"Apa Pi?" Tanya Nathalie, ketika suaminya itu berjalan mendekat dan memeluk pinggangnya dengan erat.
"Aku mencintaimu," ucap Kaisar dengan senyuman paling terbaiknya, yang ia tunjukkan khusus hanya untuk istrinya saja.
"Aku juga mencintaimu, Papi Kai," balas Nathalie yang membuat Kaisar tidak bisa berhenti untuk tersenyum.
"Papi, kita lagi di kamar Rainer," peringat Nathalie ketika wajah suaminya sudah memiring seperti ingin menciumnya.
"Tidak apa-apa, sayang. Kan Rainer lagi mandi." ujar tenang Kaisar.
"Tapi..."
Ucapan Nathalie menggantung ketika Kaisar langsung membungkam bibir istrinya itu dengan ciuman lembut, hingga membuat balita yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap bingung kedua orangtuanya.
"Papi kok, makan bibil Mami sih?"
...TAMAT...
__ADS_1