
KATA ATAU TYPO DI CERITA NOVEL INI MOHON MAAF BILA MASIH ADA SALAH!!
SELAMAT MEMBACA READER'S!!
AKU BUAT NOVEL INI LANGSUNG TANPA STEP BY STEP ATAU SCENARIO. KALIAN PASTI TAHU KAN KALAU AUTHOR PRINCE AURORA KALAU MENULIS NOVEL LANGSUNG TULIS.
SO, KALAU ADA IDE LANGSUNG KOMEN SAJA YA!
LET'S READER'S!!
......................
"Enak banget gila kalau bicara ya! Nyesel dulu pacaran sama kamu, dan kamu santai saja. Kekasih aku sebentar lagi sampai kok, jadi jangan bangga dulu ya mantan!!!" balasnya tak kalah nyaring.
Kring!
Kring!
Ponselnya berbunyi lagi dan langsung di angkatnya lagi, Shaile pikir itu Bara lagi.
"Apaan sih, tidak usah ganggu aku! Aku bakal datang kok, sebentar lagi pacar aku juga jemput!" Marah Shaile kesal karena di spam chat oleh Bara berkali-kali.
"Hmm ini aku, Shaile. Aku sudah di depan gerbang Nuh!"
Oh tidak!
Itu bukan suara Bara, suara Bara ini cempreng dan yang ini suaranya terdengar serak dan seksi.
"Oh sorry sorry Gamal, aku kira si cempreng tadi yang telepon. Ok aku kesana ya..."
"Sip"
Panggilan di akhiri oleh Gamal yang tengah duduk di moge-nya. Gamal asli dari lahir hidup di Jakarta, dirinya pun sebenarnya anak dari orang yang berkecukupan. Namun, dirinya lebih memilih hidup mandiri dan itu juga menguntungkan bagi dirinya untuk bersama dengan orang yang ia sukai selama ini.
Shaile berjalan ke arah pemuda tampan yang duduk di atas motornya. Sangat terlihat tampan meskipun masih menggunakan helm. Kenapa Shaile baru sadar jika sabahat lelakinya ini mempunyai tubuh yang tegap. Pasalnya saat menggunakan kemeja kantor Gamal terlihat biasa saja, apalagi saat menggunakan kacamata yang bertengger setiap hari di hidungnya.
Namun kali ini, dengan setelan casualnya mampu menghipnotis pandangan Shaile untuk berpaling.
"Hai Gamal...." Sapa Shaile berbasa-basi untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Hai juga Shaile. Mau berangkat sekarang, maaf ya tadi telat..!!" Inilah yang ia sukai pada lelaki yang peka terhadap kesalahannya dan mau meminta maaf terlebih dahulu.
"Iya Mal, tidak masalah kok... yuk lah dari tadi si Jeki telponin aku mulu...!"
"Okay... kafe mana nih..?" Tanya Gamal yang memang belum mengetahui tujuan doubble date mereka.
"Kafe Atlantis Mal, maafkan aku ya. Sepertinya terkesan manfaatkan kamu deh!" Sesal Shaile tak enak hati. Suaranya sedikit ia keraskan karena berada di jalan yang ramai kendaraan berlalu lalang.
"No problem Shaile...kalau pun beneran aku juga mau kok.." sarkasnya juga berteriak membuat Shaile yang mendengarnya melongo.
"Hahh.."
__ADS_1
Gamal hanya tersenyum melirik Shaile yang melongo akibat perkataannya tadi. Setelahnya mereka saling diam, sampai motor Gamal parkir di halaman kafe yang sedikit ramai dari biasanya. Biasalah malam minggu, yang kebanyakan orang bilang kalau malamnya anak muda.
Shaile turun dari motor melepas helm yang tadi di berikan ke Gamal. Pria itu pun melakukan hal yang sama.
"Oh My God! Tampan sekali sih sahabat aku...!!" Pekik Shaile dalam hati saat Gamal melepas helm dan menyugar rambutnya yang berantakan.
Gamal yang melihat Shaile melihatnya tanpa kedip sedikit heran. "Kenapa nih?" Batinnya yang juga menatap Shaile intens.
Tampilan Shaile kini begitu sederhana, hanya jeans hitam panjang dan sepatu kets putih di padu dengan blouse putih pendek. Juga rambutnya yang ia biarkan tergerai lurus ke belakang dan menjepit poninya dibatas kepala.
Cantik!!
Itulah yang ada di pikiran Gamal tentang gadis dihadapannya. Walaupun hanya bisa memuji dalam hati sejak ia melihat Shaile keluar dari gerbang. Begitulah Gamal yang hanya bisa mengagumi dalam diam sahabatnya.
"Yuk masuk Shaile..?" Ajak Gamal dengan menggandeng tangan Shaile yang masih diam terpaku. Sedetik kemudian Shaile tersadar dari lamunannya.
"Eh ehh ii iiya Gam..!" Mereka berjalan berbarengan seolah sepasang kekasih beneran.
Dari kejauhan nampak dua sepasang anak muda yang menyapa Shaile. Nah, itu dia si Bara dan juga pacarnya yang pantas sekali menjadi adiknya.
"Ehh Shaile duduk sini gih..., kenalkan pacar aku Hanni, cantik kan? Masih muda lagi.. !!" Sapanya begitu sombong dengan mengenalkan perempuan yang masih remaja itu.
Shaile pun duduk bersama Gamal di sampingnya, tersenyum ramah walau dalam hatinya menggerutu pada Bara yang terlihat sombong.
"Kelas berapa dek..?" Tanya Shaile pada gadis di sampingnya yang berdandan layaknya orang dewasa.
"Baru kelas sebelas kak!"
"Oh. Kalau kata kakak, jangan pacaran dulu yaa.. kasihan orang tua kamu biayain kamu sekolah ehh nanti malah uangnya di minta sama pacar kamu, kan ****** namanya..!!" Sindirnya pada lelaki yang masih diam dengan tatapan jengkel pada Shaile.
"Jangan jelek-jelekin aku deh. Aku tahu kok kamu masih berharap kan sama aku?"
Oh Tuhan!
Siapa itu yang percaya diri sekali?
Siapa lagi kalau bukan laki-laki ****** ini!
"Jeki siapa kak?" Tanya gadis muda dihadapannya.
"Ya pacar kamu lah. Memang kamu tidak tahu nama pacar kamu sendiri..?" Tanya Shaile penasaran.
"Tahu kok, Bara Abraham kan?"
"Hahahaha, astaganaga...perut aku sakit... Hahahaha" tawa Shaile yang begitu keras membuat pengunjung lain menatap heran ke arahnya.
Namanya Shaile dia adalah orang yang sangat percaya diri dalam hidupnya.
Sedang Gamal hanya terkekeh kecil mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu ubah nama kamu di mana sih Jek.. hahahaha.?!" Tanya Shaile dengan tawa yang masih belum berhenti.
Sedang Bara hanya memalingkan wajahnya yang sudah memerah. Niatnya untuk bertemu dengan Shaile memang ingin membuatnya cemburu dan balik jadi pacarnya lagi. Karena saat ini Bara butuh uang untuk biaya hidupnya dan kuliahnya di semester akhir.
Huh!
Shaile berhenti menertawakan Bara karena semua tatapan pengunjung yang menatapnya sinis.
"Namanya itu memang Bara sih, tapi bukan Abraham. Lebih tepatnya Marjuki.." jelas Shaile yang semakin membuat Bara menunduk malu seketika.
Sedang gadis yang bernama Hanni mengalihkan pandangannya pada Bara yang tengah membohonginya.
"Kakak kok bohongi aku sih... Kakak kan cinta pertama aku... Kita baru jadian satu minggu loh... Kok kakak tega sih.." Rajuknya dengan wajah yang begitu sedih. Baru satu minggu pacaran aja sudah dibohongi apalagi nanti ya?
Gadis itu lalu pergi keluar dari kafe dan di kejar oleh Bara. Namun sebelum itu ia menghampiri Shaile yang tersenyum puas.
"Awas ya Shaile, aku tidak bisa kamu permalukan seperti ini!" Ancam Bara tatapan tajamnya menuding Shaile.
"Silahkan lawan kamu adalah aku B-O-C-A-H.,"
Bukan Shaile yang bicara, namun Gamal yang menyingkirkan jari Bara tadi.
Bara pun beringsut mundur takut akan tatapan Gamal yang begitu tajam kepadanya.
Tanpa banyak kata, Bara keluar dari kafe. Shaile yang melihatnya tersenyum puas.
"Hihi lucu ya... Yuk Gam, aku traktir karena hari ini kamu sudah mau temani aku." Shaile menatap Gamal yang juga tengah menatapnya.
"Mau makan apa?"
"Makan kamu boleh?"
"Hah..."
......................
...Jangan lupa dukungannya, reader's!!...
...Like...
...Favorit...
...Komentar...
...Vote...
...Hadiah...
...Rating 4,7...
...Follow Author...
__ADS_1
...Gaskeun lah!!!...