
Dan malam-malam ini, aku akan mengajak tinta kepada pembaca untuk mendukung kisah kami dengan like, vote, rate, follow, dan hadiah serta kalimat indah syair kalian di lantai komentar. Aku rasa itu harapanku.
Semoga bahagia dan terimalah kisah kita, happy birthday reading!!🥰
................
Setelah kalimat yang di ungkapkan oleh Rainer itu, Kaisar hanya bisa mengiyakan saja, karena ia juga jadi di buat bingung sendiri harus berkata apa. Setidaknya, setelah kalimat yang keluar dari mulut anaknya itu, membuatnya jadi berpikir-pikir lagi jika mau berduaan dengan istrinya. Mungkin saat anaknya itu sudah tidur atau sedang bermain ke Mansion bermain dengan Fahrizal atau Ghassani, putri dari Shaile dan Gamal.
Kini mereka bertiga telah sampai di salah satu TK swasta, tempat Rainer bersekolah. Rutintitas Kaisar setiap harinya, akan mengantarkan istri dan juga anaknya, sebelum ke perusahaan. Kecuali, di saat pulang, kebanyakan ia tidak bisa menjemput karena jadwal pekerjannya yang begitu padat.
"Aku turun ya," ucap Nathalie ketika ia telah selesai mengecek barang bawaannya.
"Iya sayang. Nanti jangan lupa, jangan dekat-dekat sama guru Rainer yang masih single itu ya. Aku tidak suka," ucap Kaisar mengingatkan.
Ini bukan kali pertama, tapi sudah berkali-kali Kaisar selalu mengingatkan. Karena memang di TK tersebut ada seorang guru pria, yang masih single dan juga tampan. Apalagi di tambah, pria itu sangat ramah pada semua orang tua murid, jadinya Kaisar was-was jika istri cantiknya ini akan terpesona dengan pria itu. Bukannya ia tidak percaya pada istrinya, hanya saja entahlah Kaisar juga bingung dengan dirinya sendiri.
"Astaga Pi. Kamu cemburunya belum hilang-hilang ya, sama Mr. Frans," ucap Nathalie yang sekarang tertawa pelan.
"Aku lagi bicara yang serius, sayang. Awas saja, itu guru sampai mau caper sama kamu lagi," ucap Kaisar.
"Rainer sayang, nanti kamu jagain ya Mami kamu, biar tidak dekat sama pak guru kamu itu," ujar Kaisar yang sekarang menatap ke arah anaknya yang duduk di jok tengah.
"Siap Papi. Iner pasti jagain Mami kok," ucap Rainer sambil memberikan gaya hormat pada sang ayah.
Kaisar membawa Rainer dalam gendongannya, sebelum memutari mobil untuk mendekat ke arah istrinya yang sekarang telah berdiri di depan gerbang masuk taman kanak-kanak tersebut.
"Kamu hati-hati bawa mobilnya. Awas saja, sampai aku tahu kamu bawa mobilnya ngebut ya," ucap Nathalie yang di angguki oleh Kaisar, dengan senyuman manis yang ia berikan untuk sang istri.
"Kamu juga, jangan lupa sama pesan aku yang tadi," balas Kaisar yang membuat Nathalie mendengus kesal, tapi sama sekali tidak membuat senyuman Kaisar berhenti terbit.
"Papi, kiss Iner, please," pinta Rainer, karena ayahnya itu malah sibuk memperhatikan sang ibu.
Cup!
Satu buah kecupan mendarat di pipi balita tersebut yang membuat pria kecil itu langsung tersenyum.
__ADS_1
"Mami, kiss Iner, please," pinta Rainer yang meminta ibunya untuk melakukan hal yang sama.
"Sekalang, gililan Papi yang kiss, Mami," ucap Rainer.
"Sudah sayang, Mami tidak usah pakai di kiss, sama Papi segala ya," ucap Nathalie karena ia merasa sangat aneh ketika di tempat umum seperti ini, lalu suaminya itu akan menciumnya. Apalagi, ini merupakan area sekolahan.
"No, Mami. Iner ngambek, kalo Mami ndak mau di kiss sama Papi," ucap balita tersebut, sambil melipat kedua tangannya di depan dada, yang membuat Kaisar yang masih menggendong anaknya itu langsung tertawa.
"Ini pasti, kamu yang ajarin kan, Kaisar? Tidak mungkin, Rainer bisa biacra begitu kan," ucap Nathalie menuduh pada suaminya.
"Sayang, siapa yang suruh kamu panggil aku pakai nama?" Tanya Kaisar, "dan aku juga tidak pernah ajarin apa-apa sama putra kita. Itu Rainer yang mau sendiri," lanjut Kaisar yang kini tidak mau di salahkan.
"Sudah, Mami ndak boleh malah sama Papi. Sekalang, mending Mami telima kiss dali Papi," ujar Rainer.
"Sudah terima saja, sayang. Biar Rainer tidak minta-minta seperti ini lagi ya," bujuk Kaisar yang mendapatkan anggukan pasrah dari Nathalie.
Satu buah kecupan kini mendarat di pipi Nathalie, yang membuat Rainer seketika bertepuk tangan senang karena keinginannya terpenuhi.
"Mami, kiss Papi balik juga," pinta Rainer yang ternyata belum selesai juga.
"Ayo Mami. Jangan plotes, ini Iner yang mau loh," balas Rainer.
Huh!
Nathalie menghela napasnya pelan, sebelum akhirnya ia memberikan sebuah kecupan di pipi suaminya.
"Nanti, setiap halinya halus kayak gini ya, Mi, Pi. Iner pokoknya mau kayak gini," ucap Rainer bernada bossy.
"Sudah sayang. Mending sekarang kita masuk kelas ya," ucap Nathalie kini mencoba mengalihkan pembicaraan.
"lya Mami," jawab Rainer. "Papi semangat keljanya ya," lanjut Rainer sebelum ia di turunkan dari gendongan Kaisar.
"Semangat belajarnya ya, sayang. Nanti Papi belikan mainan baru, kalau Rainer rajin belajar," ucap Kaisar yang kini berlutut di depan Rainer sambil mengusap rambut anaknya dengan sayang.
"Papi janji?" Tanya Rainer dengan mata berbinar ketika mendapatkan iming-iming mainan dari sang ayah.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang, waktunya belajar ya," ucap Kaisar yang sekarang berdiri dari posisi berlututnya dan melihat ke arah istrinya.
"Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku ya," pesan Kaisar setelah itu kembali masuk kedalam mobil.
Ketika mobil Kaisar telah melaju meninggalkan area taman kanak-kanak tersebut, Nath kami dan juga Rainer masuk ke dalam sekolah tersebut dengan saling bergandengan tangan.
"Selamat pagi Mrs. Nathalie. Selamat pagi, Rainer," sapa ramah Frans ketika ia bertemu dengan Nathalie dan Rainer di koridor.
"Selamat pagi, Mr. Frans," balas Nathalie, berbeda dengan Rainer yang sekarang hanya diam menatap tajam pada gurunya tersebut.
"Rain sayang, kok tidak di balas sapaan dari gurunya sih?" Tanya Nathalie karena melihat anaknya itu hanya diam saja.
"Iner ndak mau," jawab Rainer.
"Eh sayang, tidak boleh begitu dong," tegur Nathalie.
"Pokoknya Iner ndak mau," jawab Rainer sekali lagi.
"Aduh maaf ya Mr. Frans. Saya tidak tahu, ini Rainer kenapa," ujar Nathalie yang merasa tidak enak sendiri.
"Sudah tidak apa-apa Mrs. Nathalie. Biasalah anak-anak," balas Frans yang merasa maklum sendiri.
"Mami, Iner mau ke kelas sekalang," rengek Rainer karena ibunya itu baru saja berbicara terus dengan guru yang sudah ayahnya pesankan agar tidak membiarkan dekat dengan Nathalie.
"Iya-iya sayang," ucap Nathalie. "Mr. Frans, saya sama anak saya permisi dulu ya," lanjut Nathalie yang sekarang tersenyum sopan ke arah Frans yang mendapatkan tatapan tidak suka dari balita berusia lima tahun itu.
"Mami kok, pakai acala senyum-senyum sama, Mr.Flans sih?" Tanya Rainer ketika kini mereka berdua kembali berjalan menuju ke kelas. "Padahal Papi ndak suka loh, kalo Mami dekat sama Mr. Flans," sambung balita tersebut.
"Sayang, tadi Mami senyum sama guru kamu itu, karena Mami hormat sama dia. Tidak ada maksud apa-apa kok. Kan Mr. Frans itu guru kamu, seharusnya Rainer yang tampan tidak boleh seperti itu loh, sama guru sendiri," ucap Nathalie.
"Tapi Mami...," ucap Rainer menggantung.
"Sudah-sudah. Sekarang Rainer kesayangan Mami masuk kelas ya. Itu kelasnya sudah mau di mulai lho," ucap Nathalie dan membiarkan anaknya itu untuk segera masuk ke dalam kelas.
You're opinion?
__ADS_1