
"Terimakasih sudah membawaku kemari." Angel menatap Ariel dengan wajah sendunya.
Kini mereka berada di salah satu rooftop sebuah gedung tinggi, duduk di pinggiran dengan menatap kerlap kerlip lampu dari kendaraan di bawah sana dan dari gedung-gedung yang lain.
Ariel membawa Angel dengan melakukan teleportasi ke tempat tersebut berharap suasana hati Angel membaik.
Karena di tempat yang tinggi seperti ini dan angin malam yang berhembus tentu membuat tubuh Angel merasa dingin. Ariel melepaskan jaket dari tubuhnya dan memakaikan di tubuh Angel.
"Pakailah, angin malam cukup dingin."
Bukannya menjawab Angel kini malah fokus melihat tubuh Ariel yang ternyata tidak memakai kaos di balik jaketnya tadi.
Semua otot Ariel terlihat jelas, bahkan roti sobek di perut Ariel pun terlihat menggiurkan.
Plakkk
Angel memukul kepalanya sendiri berusaha untuk tidak terpesona dengan Ariel.
"Terimakasih jaketnya, justru aku takut jika kau yang kedinginan."
"Tidak akan."
Ssreeetttt
Sayap hitam Ariel keluar dari balik punggungya, sayap itu melingkupi tubuh Ariel dan Angel agar Angel tidak kedinginan.
Angel merasa terkejut namun menyukai dirinya yang seolah sedang di peluk dan di lindungi oleh sayap hitam Ariel.
"Terimakasih." Angel menatap Ariel hingga tatapan mereka bertemu.
"Untuk?" Tanya Ariel dengan wajah datarnya yang khas.
"Semuanya, terutama karena kau telah datang di hidupku walaupun sebenarnya untuk alasan yang sama-sama menguntungkan kita bersama. Tapi aku benar-benar berterimakasih padamu."
"Tidak masalah. Lalu kenapa kau tadi menangis?" Ariel sungguh penasaran dengan yang menjadi alasan bagi Angel untuk menangis.
__ADS_1
Angel kembali menatap hamparan kerlap kerlip lautan lampu di bawah sana. "Gwen adalah sahabat baikku selama ini, namun baru hari ini aku tahu jika Gwen selama ini hanya berpura-pura bersikap baik di depanku. Nyatanya ia ternyata selalu menjelek-jelekkan diriku saat di belangku."
"Bagaimana kau tahu?"
"Saat tadi siang aku pergi ke toilet, aku mendengar beberapa murid yang membicarakan kebodohanku karena belum mengetahui sifat Gwen yang sebenarnya."
Ariel menatap ke atas langit yang gelap. "Apa kau tidak punya teman lain selain Gwen."
"Ada beberapa walaupun memang tidak sedekat dengan Gwen."
"Tenang saja, nanti juga kau akan mendapatkan banyak teman." Ariel mencoba menghibur Angel dengan wajah datarnya.
Angel kembali menoleh kepada Ariel. "Ariel apakah aku gadis yang jahat?"
Ariel menoleh ke arah Angel, tangan Ariel memegang dagu Angel hingga wajah Angel sedikit mendongak. "Kenapa bertanya seperti itu? Bagiku kau justru gadis yang polos. Apakah kau merasa menyesal dengan semua yang kau lakukan tadi?" Tanya Ariel dengan pandangan yang menelisik wajah Angel, mencari kejujuran di sana.
Angel menggeleng. "Aku sama sekali tidak merasa menyesal. Mungkin karena di hatiku pernah memiliki rasa sayang kepada Gwen sebagai sahabatku jadi aku takut jika aku sekarang berubah menjadi gadis yang jahat."
"Aku senang bertemu denganmu Ariel, aku merasa tidak sendiri lagi. Aku hanya sebatang kara dan Gwen satu-satu orang yang paling dekat denganku malah mengkhianatiku. Aku senang kau tinggal di rumahku, rumahku terasa lebih hidup dan ramai." Angel mengungkapkan isi hatinya dengan tersenyum lebar.
Angel pun kini tak melepaskan pandangannya dari manik coklat milik Ariel. Seolah terbius dengan keindahan netra coklat Ariel hingga membuat tangan Angel terangkat dan menyentuh wajah Ariel.
Entah siapa yang memulai namun kini diantara mereka sudah tidak ada jarak lagi hingga perlahan bibir mereka bersentuhan.
Mata Angel terpejam dan Ariel memiringkan sedikit kepalanya agar hidung mereka tidak bertabrakan.
Cup
Bibir lembut Ariel terasa semakin membius kesadaran Angel. Bibir yang tadinya hanya diam, kini justru saling ******* dan membelit satu sama lain.
Ciuman mereka semakin memanas hingga tangan Ariel menekan tengkuk Angel seolah tidak membiarkan Angel memundurkan wajahnya untuk mengakhiri ciuman mereka.
Angel pun kini mengalungkan ke dua tangannya di leher Ariel hingga tubuh mereka menempel satu sama lain.
Badan Ariel yang polos tidak memakai baju dapat merasakan tonjolan dari dada besar Angel yang membuat darah Ariel semakin memanas, Ariel semakin liar dalam mencium bibir Angel hingga Angel hampir kehabisan oksigen.
__ADS_1
Angel memukul pelan dada Ariel membuat pria itu melepaskan ciuman mereka. Angel segera meraup oksigen sebanyak-banyaknya saat ciuman mereka terlepas.
"Maaf." Ucap Ariel yang segera kembali menatap langit di atas sana. Ariel bingung dengan dirinya sendiri yang berani mencium Angel padahal dengan Leona saja ia tidak berani walaupun mereka dekat. Ariel merasa aneh apakah hatinya benar-benar telah berpaling dari Leona yang sudah ratusan tahun ada di hatinya.
Angel pun kini merasa canggung setelah Ariel membuang pandangannya menjadi kembali menatap ke atas langit. Padahal tadi Angel benar-benar merasa berdebar, namun Angel tetap meyakinkan dirinya kalau yang ia sukai itu adalah Michael bukan Ariel.
Otak Angel masih berputar-putar bingung dengan perasaannya antara Ariel atau Michael sampai ia merasa mengantuk dan tertidur di bahu Ariel.
Ariel menoleh ke samping tepatnya pada kepala Angel yang bersandar di bahunya, Ariel melingkarkan tangannya di perut Angel menikmati moment yang langka ini dalam waktu yang cukup lama, Ariel pun menyandarkan kepalanya di kepala Angel.
Kurang lebih hampir dua jam Ariel akhirnya melakukan teleportasi ke kamar Angel.
Tringg
Kini Ariel dan Angel kini berada di pinggir ranjang yang ada di kamar Angel. Dengan perlahan Ariel merebahkan tubuh Angel, lalu Ariel duduk di samping Angel yang tengah tertidur dengan pulas.
Mengamati wajah damai Angel dalam hening. Ariel merutuki kebodohannya sendiri yang terjerat mempunyai perasaan dengan Angel, tadinya ia akan bertanya kepada Alice tapi sepertinya Ariel tidak ingin siapa pun tahu tentang perasaannya.
Ariel akan mencoba menjaga jarak dengan Angel mulai sekarang, ia akan kembali bersikap dingin kepada gadis itu dan Ariel akan membuang perasaanya untuk Angel. Karena mereka berasal dari dunia yang berbeda, Ariel tidak ingin Angel mendapat masalah jika ia sampai menjalin hubungan lebih jauh lagi dengan Angel.
Ariel mengusap wajahnya dengan kasar, merasa bimbang dengan keputusannya. Karena Angel adalah satu-satunha gadis berisik yang mampu menjungkir balikkan dunia Ariel.
Hanya Angel yang mampu membuat Ariel tidak pernah memikirkan Leona lagi walaupun mereka kenal baru beberapa hari saja. Ariel pun tahu Angel menyukai pria yang bernama Michael teman satu kelas Angel.
Ariel sudah mencari tahu soal Michael, dan pria itu bersih tidak ada hal buruk yang terdapat dalam diri Michael.
Ariel bangkit dari duduknya, ia berdiri dan akan pergi untuk istirahat di kamar yang ia tempati saat ini namun langkahnya terhenti saat ada dorongan kuat dari dalam hatinya. Ariel berbalik dan membungkuk di atas tubuh Angel.
Cup
Cup
Ariel mencium bibir dan kening Angel. "Good night my Angel."
Ariel menutupi tubuh Angel dengan selimut hingga sebatas leher gadis itu lalu Ariel melangkah pergi meninggalkan kamar Angel.
__ADS_1