Sayap Hitam (Cinta Terlarang)

Sayap Hitam (Cinta Terlarang)
27. Pria berambut perak


__ADS_3

Leona menyisir rambut panjangnya menatap pantulan dirinya di cermin, lalu ia tersenyum misterius. Hubungannya dengan Daniel memang baik-baik saja namun Daniel selalu tidak mau menyentuh Leona, bahkan Daniel enggan hanya untuk menggandeng tangan Leona yang statusnya adalah kekasih Daniel.


Belakangan ini Leona teringat Ariel, tiba-tiba saja ia merindukan sahabat kecilnya itu. Namun sayang posisi Ariel bukanlah sebagai putra mahkota, Ariel hanya seorang pangeran yang di angkat menjadi jendral di alam kegelapan.


Bukannya Leona tidak mengetahui jika Ariel mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar teman kepadanya, tentu saja Leona tahu. Leona pun sebenarnya menyukai Ariel namun sayang sekali posisi Ariel sulit untuk menjadi seorang Raja, sedangkan Leona ingin menjadi Ratu penguasa di alam kegelapan ini.


Tiba-tiba cermin yang ada di hadapan Leona berubah seperti pusaran api, lalu keluarlah seorang pria berambut perak keluar dari dalam cermin.


Pria berambut perak berjalan dan duduk di ranjang tempat tidur Leona, sedangkan Leona buru-buru duduk di bawah lantai bersujud memberikan penghormatan.


"Bangunlah." Perintah mutlak dari pria berambut perak.


"Bagaimana dengan tugas yang ku berikan padamu Leona?" Tanya pria berambut perak dengan tatapan tajamnya yang membuat Leona takut.


Leona duduk tegak meskipun ia masih duduk di bawah lantai namun Leona memilih menundukkan wajah, sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. "Semuanya sudah saya kerjakan dengan baik pangeran."


"Kerja bagus, tidak lama lagi kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan."


Leona tersenyum miring, merasa senang mendengarnya. "Semua berkat bantuan anda pangeran."


"Lakukan terus apa yang ku perintahkan, jika semua telah berhasil kau jangan lupa apa yang telah kau janjikan untukku." Pria berambut perak terus menatap ke arah leher Leona dengan rasa haus.


"Saya tidak akan mengingkari apa yang telah saya janjikan pada anda pangeran." Kata-kata Leona terdengar sangat meyakinkan.


Pria berambut perak mengusap bibir bawahnya menggunakan ibu jarinya. "Bagus. Sekarang aku haus, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan perempuan hina?" Tanya pria berambut perak kepada Leona sambil tersenyum mengejek.


Leona sama sekali tidak merasa sakit hati, karena sejak awal perjanjiannya bersama pria berambut perak tersebut adalah hidup Leona adalah milik pria berambut perak itu.


Perlahan Leona bangkit berdiri, ia menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Kini Leona sudah polos dan ia mengikat tinggi rambutnya membuat leher jenjang putih miliknya terpampang dengan jelas.


Seperti yang sudah biasa Leona lakukan, ia akan menari di depan pria berambut perak. Leona meliuk-liukan tubuhnya namun pria berambut perak terlihat tidak puas dengan pertunjukan Leona.


Pria berambut perak mengeluarkan cambuk api di telapak kanannya lalu pria berambut perak tersebut mencambuk tubuh Leona beberapa kali dengan mata berkilat marah.


Ctarrr


Ctarrr


Ctarrr


Leona menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan perih di tubuhnya akibat luka dari cambukan api milik pria berambut perak. Bagian tubuh Leona yang terkena cambukan mengeluarkan darah segar, sungguh Leona ingin berteriak namun ini adalah hukuman untuknya yang tidak bisa memuaskan keinginan pria yang duduk santai di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Penampilanmu mengecewakan, aku tidak segan menghukummu lagi jika penampilanmu masih seperti itu." Ucap pria berambut perak dengan suara rendah namun terdengar mematikan untuk Leona membuat gadis itu bergidik ngeri.


"Ba_baik pangeran." Ucap Leona dengan tubuh bergetar.


Leona kembali meliuk-liukkan tubuhnya, kali ini gerakannya lebih membangkitkan gairah bagi siapa pun yang melihatnya


Pinggul Leona terus bergoyang dengan tangannya yang bermain di area dadanya. Mulut Leona mendesis dan mendesah. "Aaaaahhh aaaahhhh."


Leona terus melakukannya semua yang ia bisa agar ia mencapai puncak dan mengeluarkan banyak cairan kenikmatan.


Pria berambut perak puas dengan penampilan Leona, ia berdiri dan berjalan mendekat ke arah Leona.


"Cih benar-benar gadis hina." Ejek pria berambut perak yang tengah berjongkok di samping tubuh Leona sedangkan Leona hanya menatap sayu ke arah pria tersebut.


Pria berambut perak kemudian mengangkat tubuh Leona dan meletakkannya di atas meja panjang yang ada di kamar gadis itu.


Lalu muncullah taring tajam pada gigi pria berambut perak, pria itu menyeringai lebar lalu menancapkan taringnya tersebut di paha bagian dalam tubuh Leona.


Bau anyir segera tercium dan pria berambut perak semakin kuat menghisap darah Leona.


"Akkhhh sakit sstt! " Leona mendesis kesakitan.


Pria berambut perak merangkak naik ke atas tubuh Leona, mengendus aroma leher Leona, menjilati leher gadis cantik tersebut lalu kembali mendaratkan taring tajamnya masuk di leher Leona.


Setelah puas pria berambut perak bangun dari atas tubuh Leona dengan sekali lompatan, pria tersebut kini telah berdiri di depan cermin yang telah kembali seperti semula.


Ia melihat pantulan dirinya di cermin, darah segar jelas menetes dari gigi pria itu. Bahkan darah Leona mengotori mulut pria berambut perak itu.


Pria itu melihat tubuh Leona yang tergeletak tak berdaya di atas meja lalu meninggalkan Leona begitu saja dan masuk kembali ke dalam cermin yang berubah kembali seperti pusaran api.


.


.


*  *  *


Saat tengah malam di sebuah apartemen milik seorang gadis, sang gadis pemilik apartemen tengah sibuk menaburkan bunga dan menyalakan lilin hendak melakukan sebuah ritual.


Yah gadis itu beberapa hari lalu bertemu dengan seorang kakek-kakek di tempat sepi, tiba-tiba kakek tersebut menyerahkan sebuah buku kuno kepada si gadis yang membuat gadis itu terperanjat.


"Pakailah buku ini untuk membalas semua rasa sakit hati dan dendammu." Setelah mengatakan kalimat tersebut sang kakek segera bergegas pergi dan menghilang di telan gelapnya malam.

__ADS_1


Si gadis yang di paksa menerima buku itu hanya mematung sambil menatap buku yang sedang di bawanya dengan tatapan tak percaya.


Setelah si gadis sampai di apartemen miliknya ia segera membuka dan membaca buku tersebut hingga selesai.


Dengan segala pertimbangan dan dendam yang terlanjur besar kepada seseorang akhirnya malam ini gadis tersebut melakukan ritual pemanggilan kepada sang penolongnya.


Gadis tersebut membuat sebuah gambar pola di lantai lalu menggores telapak tangannya dengan darah, setelah itu sang gadis membaca mantra pemanggilan.


Sang gadis telah membaca mantra pemanggilan sebanyak tiga, lalu tiba-tiba ada angin yang sangat besar menyapu seluruh isi apartemen hinga lilin-lilin yang di nyalakan menjadi padam, gadis itu duduk ketakutan dengan keadaan di dalam apartemen yang temaram, untung saja cahaya bulan masuk melalui kaca jendela membuat apartemen tidak dalam kondisi gelap gulita.


Tepat di ujung pola gambar muncul sebuah lingkaran api lalu pria berambut perak muncul dari sana.


Tanpa di duga gadis itu, tiba-tiba lilin kembali menyala padahal ia tidak melakukan itu. Lalu terlihat wajah rupawan seorang pria yang berdiri dengan angkuh di depan si gadis.


"Hei manusia, Kenapa kau memanggilku?" Pertaanyaan pria berambut perak menjadikan nyali si gadis menciut.


"Sa_saya i_ingin membalas dendam pada seseorang." Jawab si gadis dengan terbata.


Pria berambut perak tersenyum miring. "Itu hal sangat mudah bagiku namun apa kau tahu syarat mutlak jika mengadakan perjanjian denganku?"


Si gadis mengangguk kaku.


"Bagus, jadi mulai sekarang kau akan menjadi budakku dan jiwamu adalah milikku."


Si gadis mendongakkan kepala sebentar ingin melihat ketampanan pria berambut perak lalu kembali menunduk. "Saya sudah siap tuan."


"Ha ha ha ha ha ha dasar manusia hina." Sang pria berambut perak tertawa kencang.


Setelah selesai tertawa pria berambut perak memberi perintah kepada si gadis. "Buka pakaian bagian atasmu."


Si gadis yang tiba-tiba berfikiran mesum tersenyum, namun ternyata pria berambut perak berjalan ke belakang tubuh si gadis. Lalu muncullah kuku panjang mengerikan dan segera di goreskan oleh pria berambut perak ke punggung gadis tersebut.


Sang gadis meringis kesakitan karena darah mulai mengucur keluar dari balik punggungnya, tidak lama kemudian pria berambut perak menghentikan kegiatannya dan segera menjilati darah yang keluar di punggung gadis itu dengan rakus sampai darah berhenti keluar.


"Berdirilah." Perintah pria berambut perak.


Si Gadis yang masih merasakan perih akhirnya hanya mampu menuruti permintaan pria berambut perak.


"Namamu siapa?"


"Gwen, nama saya Gwen dan saya mempunyai musuh bernama Angel."

__ADS_1


Pria berambut perak menyeringai lebar. "Aku sedang haus, aku akan memberitahumu cara menghilangkan dahaga ku namun hanya sekali saja aku akan mengatakannya. Jika kau tidak paham aku akan menghukummu.


__ADS_2