
Tok
Tok
Tok
Dengan tangan sedikit gemetar dan detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya, Daniel memberanikan dirinya mengetuk pintu rumah pujaan hatinya. Daniel sudah membayangkan jika Angel akan terkejut melihat kedatangannya dan saat Daniel memmberikan bunga untuk Angel, pria itu berharap Angel akan merasa senangbdan langsung memeluknya.
Ah Daniel menjadi tidak sabar ingin melihat gadis pujaannya tersebut, hatinya semakin berdebar kala mendengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Bahkan kini wajah Daniel sedikit memerah lantaran imajinasinya terhadap Angel.
Krietttt
Pintu terbuka dengan perlahan, dan sosok Angel semakin terlihat namun yang terjadi justru Daniel lah yang terlebih dahulu merasa kaget melihat penampilan Angel. Daniel sudah tidak mellihat kacamata besar yang bertengger di hidung Angel dann pakaian over size pun tidak lagi di kenakan oleh Angel.
Angel terlihat lebih cantik dan sexy sekarang bahkan Daniel sampai menelan ludah kasar melihat benyak perubahan dalam penampilan Angel. Sedangkan Angel sendiri saat melihat Daniel malah terlihat bingung, Angel memiringkan kepala tanda ia sedang berfikir keras menngungat wajah tampan yang kini ada di hadapannya sekarang.
Dengan seikat bunga yang masih Daniel sembunyikan di balik punggungnya, akhirnya Daniel pun bertanya. "Apa kau lupa siapa aku Angel?"
Angel berfikir lebih keras lagi, sepertinya ia oernah meluhat pria ini tapi di mana. "Tunggu sebentar biarkan aku berfikir beberapa detik lagi."
"Baiklah." Daniel tersenyun menyetujui. "Jika dalam sepuluh detik kau tidak juga bisa menjaawab maka kau akan kuhukum."
Angel mengerucutkan bibir membuat Daniel merasa sangat gemas dengan bibir merah jambu yang sangat menggoda tersebut. "Baiklah tunggu sebentar." Angel kembali berfikir keras berusaha mengingat siapa sebeenarnya pria yanv ada di depannya saat ini.
"10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2,_" Hitung Daniel dan hampir ia menyelesaikan hitungannua namun tiba-tiba Angel memotongnya.
"Aku tahu!!!" Wajah Angel terlihat sangat berbinar. "Kau Daniel kan? Pria yang menooingku malam itu?"
Daniel mengangguk seraya tersenyum senang, ternyata Angel masih bissa mengingat siapa dirinya.
Angel mengulurkan tangan di depan Daniel. "Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali tidak melihatmu."
Daniel menerima uluran tangan Angel dengan tangannya yang bebas karena tangan yang satunya masih memegang seikat bunga. "Aku baik, maaf aku baru bisa mampir dan datang menemui sekarang."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, tidak masalah."
Baru saja Daniel akan memberikan bunga yang ia baawa untuk Angel namun sebuab suara yang sangat familiar muncul dari dalam rumah Angel sehingga membuat gerakan Daniel terhenti.
"Angel siapa yang datang?"
Suara pria, hati Daniel tiba-tiba menjadi tidak tenang. Daniel dapat melihat Angel menoleh ke arah dalam rumah, tersenyum lalu berkata. "Temanku." Lalu Angel kembali menatap Daniel. "Silahkan masuk, kebetulan kami baru saja akan memulai makan malam. Bergabunglah bersama kami."
Niat hati ingin menolak ajakan Angel namun Angel telah melangkah masuk ke dalam rumah, Daniel pun di buat penasaran dengan sosok dari suara yang mirip sekali dengan suara adiknya, Ariel. Kaki Daniel ikut melangkah masuk di belakang Angel, namun langkah Daniel seketika terhenti saat melihat sosok yang sangat ia kenal sedang menyiapkan beberapa alat makan di meja makan.
Angel mendekati pria yang ada di ruang makan tersebut. "Maaf tadi ada temanku dan aku memintanya bergabung makan malam dengan kita, tidak apa-apa kan?"
Ariel meenoleh ke arah Angel lalu mengahadap ke arah perempuan tersebut, memeluk Angel dengan dengan erat, kemudian Angel sedikit memundurkan wajahnya. "Tentu daja tidak apa-apa sayang asal kau senang." Ariel kemudian memciumi seluruh wajah Angel dengan gemas sementara Angel merasa geli dan tertawa sambil mencoba menghindari Ariel namun tentu saja Angel tidak bisa meleepaskan belitan tangan Ariel yang memeluk dirinya dengan posesif.
"Ariel sudah cukul, ini geli ha ha ha ha ha ha."
Dari sudut ruang tamu, Daniel melihat semua itu. Tubuh Daniel menegang, matanya memerah menahan gejolak amarah yang sangat besar, dan hatinya pun hancur lebur melihat wanita yang ia rindukan setiap hari tengah berada di dalam pelukan adiknya. Iya adiknya sendiri, Ariel Charless Theodor. Justru ini yang semakin menghancurkan hati dan perasaan Daniel.
Brakk
"Ah aku sampai lupa. Ayo sayang akan aku perkenalkan dia adalah temanku." Angel yang belum mengetahui apapun dengan tersenyum ramah mencoba memperkenalkan Ariel dan Daniel. Reaksi Ariel pun tak berbeda jauh dengan Daniel, tubuh Ariel menegang melihat Daniel ada di sana dan sedang menatap ke arah dirinya dan Angel. Apalagi Ariel sempat melihat seikat bunga yang jatuh di dekat kaki Daniel.
Ariel dan Daniel saling menatap dalam diam, tanpa tahu harus melakukan apa dan menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan di dalam rumah sederhana Angel, namun mereka harus menyelesaikan semua ini karena Angel sedanng melihat mereka dengan bingung.
.
.
* * *
"Jadi kau suaminya Angel? Benar begitu adikku Ariel?" Tanya Daniel dengan ketus.
Saat ini Ariel dan Daniel tengah berada di atas salah satu rooftop sebuah gedung pencakar langit yang ada di kota. Ariel mengatakan kepada Angel jika Daniel adalah kakak sulungnya, dan ia harus segera menjelaskan semua ini kepada Daniel. Angel tentu sangat terkejut saat mengetahui jika Daniel adalah kakak dari suaminya, Angel hanya berharap semoga Daniel tidak marah kepada Ariel karena telaah menikah dengan seorang gadis manusia biasa seperti dirinya.
__ADS_1
"Benar, aku memang telah menikahi Angel." Jawab Ariel jujur. Ariel dapoat melihat tatapan kecewa, marah yang ada di mata Daniel saat melihatnya, namhn Ariel juga dapat melihat tatapan cinta di mata Daniel saat melihat Angel.
"Kenapa kau menikahi gadis menusia seperti dia?"
"Karena aku memcintainya."
Daniel menatap geram kepada Ariel, ia melayangkan pukulan di wajah adiknya tersebut. "Apa kau ini bodoh???!!! Kau adalah pangeran kegelapan dan dia hanya manusia biasa!!!"
Ariel tersenyum sinis seraya mengusap darah di ujung bibirnya menggunakan ibu jarinya. "Kenapa memangnya jika aku mencintainya? Tentu saja aku akan menikahi gadis yang aku cintai."
"Kau tahu sendiri jika kalian berasal dari dunia yang berbeda!!!" Daniel meninggkkan suaranya.
"Memangnya kenapa?" Ariel kini pun meninggikan suaranya di hadapan kakaknya. "Aku akan memperjuangkannya karena aku mencintainya, aku tidak peduli pada siapapun yang akan menentang hubungan dan cinta kami. Dan satu hal lagi, aku bukan dirimu yang mencintai Angel dalam diam."
Kata-kata Ariel baru saja menusuk hati Daniel, apa yang Ariel katakan memang benar adanya. Daniel hanga mampu diam tanpa berani mengungkapkan cintanya pada Angel, tidak seperti adiknya yang dalam hitungan bulan sudah berani menikahi Angel.
"Dari mana kau tahu jika aku mencintai Angel?" Daniel sudah mulai merendahkan nada suaranya.
Ariel tertawa miris. "Aku bukan orang buta yang tidak mampu melihat tatapan cinta dan memujamu yang kau tunjukan pada istriku."
"BERHENTI MENGATAKAN DIA ADALAH ISTRIMU!!!" Teriak Daniel karena hatinya bertambah sakit jika kembali diingatkan bahwa Angel adalah istri Ariel.
"DIA MEMANG ISTRIKU BODOH!!!" Ariel mencoba mengatur nafas agar emosi terhaadap kakaknya bisa berkurang. "Aku tidak pernah tahu jika kau mengenal Angel, bahkan mencintai gadis itu. Aku sama sekali tidak tahu. Jadi jangan perbah berfikir jika aku membalas apa yang kau lakukan terhadapku."
Hati Daniel mencelos, mungkinkah Ariel tahu apa yang sebenarnya selama ini terjadi. Tapi itu mustahil.
"Temui aku kembali jika kau sudah mampu mengontrol emosimu, dan tentunya jika kau sudah menerima jika gadis yang kau cintai sekarang menjadi adik iparmu. Aku pergi dulu."
Dalam sekejap mata Ariel sudah hilang dari hadapan Daniel menggunakan teleportasi. Daniel yang kini hanya sendirian menjambak rambutnya sendiri dan berteriak kencang.
"AAAAKKHHHH!!!! INI SEMUA TIDAK MUNGKIN!!!!"
Nafas Daniel terengah-engah, ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Bagaimana mungkin gadis yang ia cintai, gadis yang ia rindukan setiap harinya kini telah menjadi adik iparnya.
__ADS_1
"AAAAKKKKHHHH!!!!" Daniel kembali berteriak karena rasa sakit yang baru pertama kali ia alami.