
Ariel yang masih bersandar di pintu kamar mandi sedang berfikir keras, sepertinya ia baru saja salah bicara. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan merugikan Angel sebagai seorang gadis.
Ariel tersenyum canggung. "Maaf sepertinya aku berubah fikiran baby, kau mandilah terlebih dahulu. Ada yang harus aku kerjakan." Setelah mengatakannya Ariel bergegas menutup pintu kamar mandi.
Angel tidak kecewa dengan penolakan Ariel, justru dirinya kini tengah terkikik geli melihat wajah malu Ariel yang bersemu merah. Selama ini Ariel memang berusaha untuk tidak melakukan hal yang lebih dari ciuman, bukannya Ariel tidak berhasyrat dengannya namun Angel tahu Ariel mati-matian mengendalikan hasyratnya agar tetap dapat mengontrol dirinya.
Angel memeriksa suhu panas air yang akan ia gunakan untuk mandi, setelah di rasa pas Angel memasukkan bath bomb aroma lemon agar badannya lebih segar.
Satu persatu Angel menanggalkan pakaiannya dan masuk ke dalam bathtup, Angel menggosok-gosok setiap bagian tubuhnya agar bersih dan lebih harum saat berdekatan dengan Ariel nanti, Angel berniat mengerjai Ariel dengan menggoda pria tersebut dan melihat bagaimana Ariel akan mati-matian menahan godaan dari Angel.
Membayangkannya saja membuat Angel terkekeh sendirian di dalam kamar mandi.
Sementara Ariel yang tengah duduk di sofa kamar hotel bisa merasakan jika Alice sedang berusaha berkomunikasi dengannya. Ariel memusatkan fikiran dan berkosentrasi,lalu saat Ariel membuka matanya, keluarlah cahaya dari kedua bola mata Ariel yang memunculkan bayangan Alice yang sedang duduk di dalam kamar istana gadis itu.
"Ada apa?" Tanya Ariel datar.
Alice berdecih merasa kesal dengan sambutan Ariel yang membuatnya ingin menghajar adik laki-lakinya tersebut.
"Bisakah kau lebih sopan dan ramah dalam menyapa kakak mu yang sangat cantik ini?" Ucap Alice dengan wajah pura-pura memelas.
Ariel memutar bola matanya malas. "Tidak bisa! Jika kau tidak suka akhiri saja komunikasi kita."
"Tunggu! Huh dasar adik tidak tahu diri." Alice menampilkan wajah kesalnya.
"Cepatlah, aku sedang sibuk."
Wajah Alice kini berubah terlihat lebih serius tidak seperti tadi lagi. "Ayahanda belum juga sembuh dari sakitnya, tabib istana sudah mencoba berbagai macam cara namun tak ada hasil yang memuaskan."
Kening Ariel berkerut. "Bagaimana mungkin tabib istana selama ini belum menemukan cara untuk mengobati ayahanda? Apa ada tanda-tanda gejala keracunan?"
"Aku juga merasa aneh penyakit yang awalnya terlihat sebagai penyakit biasa namun tidak juga kunjung sembuh meski telah di berikan obat-obatan dari tabib, aku tidak tahu ayahanda keracunan atau tidak namun tabib tidak pernah mengatakan jika ayahanda keracunan." Alice menerangkan dengan raut wajah penhh kekhawatiran.
"Lalu bagaimana dengan para menteri dan pejabat yang ada di istana?" Jelas Ariel tahu ada beberapa orang yang ingin berkuasa di istana.
__ADS_1
"Ada beberapa menteri dan pejabat yang menginginkan agar Daniel segera di resmikan menjadi Raja menggantikan ayahanda, namun Daniel menolak."
Ariel tersenyum miris. "Aku sudah menduganya. Namun aku yakin Daniel tidak akan mudah goyah."
"Apa kau di sana baik-baik saja Ariel? Tidakkah kau merindukan Leona dan sesekali pulang kemari?" Goda Alice dengan senyuman yang meledek.
Ariel hanya mengedikkan bahu acuh. "Aku justru ingat dengat dengan Leona ketika baru saja kau menyebutkan namanya."
"SIAPA LEONA???!!!" Tanya Angel dengan suara menggelegar di belakang Ariel.
Ariel segera menoleh dan mendapati Angel tengah berkacak pinggang dengan wajah penuh amarah dan kecemburuan. Ariel segera berdiri dan menghampiri Angel, melupakan jika ia tengah berkomunikasi dengan Alice.
Angel yang awalnya ingin mengambil pakaian karena ia tadi lupa membawa pakaian ke kamar mandi terhenti saat melihat Ariel tengah berkomunikasi dengan Alice.
Angel tahu jika Alice adalah kakak perempuan Ariel karena Ariel pernah memperlihatkan semua tampilan wajah keluarganya lewat cincin dimensi yang bagi Angel adalah benda yang sangat sakti. Tapi Leona? Ariel sama sekali belum pernah menceritakan tentang seseorang yang bernama Leona.
Dengan tubuh hanya berbalut handuk minim Angel melupakan jika Alice bisa melihat penampilannya yang awww.....
"Dengarkan aku dulu baby, Leona hanya seorang teman bagiku. Teman masa kecilku, tidak lebih." Ariel mencoba meyakinkan Angel dengan wajah memelas.
"Aku tidak merindukannya. Sungguh aku tidak berbohong." Ariel sungguh tidak mengerti kenapa marahnya Angel karena wanita lain membuat Ariel sangat ketakutan, Ariel takut Angel tidak mempercayainya.
"Apa kau pernah menyukai gadis yang bernama Leona itu?" Tanya Angel penuh selidik.
Tenggorokan Ariel rasanya tercekat, ia benar-benar bingung harus menjawab bagaimana namun ia tak ingin berbohong kepada Angel. "Aku memang dulu menyukai Leona, tapi itu dulu sebelum aku bertemu denganmu." Ariel menatap lekat netra hitam Angel seraya menangkup wajah Angel dengan kedua tangannya.
"Percayalah di hatiku hanya ada Angel Callista untuk saat ini dan selamanya."
Angel tidak ragu dengan yang Ariel ucapkan, jika Leona hanya sebuah masa lalu yang pernah mengisi hati Ariel biarkanlah menjadi masa lalu. Seperti Michael yang pernah ada di hati Angel yang sekarang sudah tergantikan sepenuhnya oleh Ariel dan tak akan ada lagi yang mampu mengisi hati Angel karena telah di penuhi oleh Ariel.
Angel menyentuh wajah Ariel. "Baiklah aku percaya."
Prok
__ADS_1
Prok
Prok
"Jadi Angel Callista ini adalah calon adik iparku?" Seru Alice yang sejak tadi memperhatikan apa yang sedang terjadi dengan Ariel dan seorang gadis yang hanya berbalut handuk, Alice sampai menelan ludah kasar melihat bagaimana penampilan Angel yang sangat cantik dan sexy. Bagaimana bisa adiknya Ariel Charless Theodor bisa jatuh cinta dan mendapatkan gadis yang begitu WOW bagi Alice.
Ariel dan Angel seketika menoleh ke arah bayangan Alice layaknya sebuah hologram. Seketika Angel di buat terkejut, ia baru sadar dengan penampilannya kini yang sangat memalukan di depan kakak perempuannya Ariel.
"Maaf." Angel membungkukkan badan sekali lalu berlari pergi dan masuk kembali ke dalan kamar mandi. Angel benar-benar malu sampai rasanya ingin lenyap di telan bumi saat itu juga.
"Owwhh jadi gadis ini yang membuatmu betah berada di bumi?" Goda Alice namun Ariel segera memutus komunikasi mereka tanpa menjawab pertanyaan Alice.
Ariel tahu sudah pasti Alice akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan saat mereka berkomunikasi lagi nanti atau saat mereka bertemu secara langsung lagi nanti.
Ariel lebih memilih mencari Angel yang tadi lari masuk kembali ke dalam kamar mandi.
Tok
Tok
Tok
"Baby."
Krieettttt
Angel membuka pintu kamar mandi dengan perlahan dan hanya kepalanya yang menyembul keluar.
"kalian sudah selesai?" Tanya Angel dengan pelan.
Ariel mengangguk. "Sudah, keluarlah."
Angel pun merasa lega dan segera keluar dari kamar mandi berjalan dengan santai menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.
__ADS_1
Sementara Ariel hanya diam tak berkutik di tempatnya melihat tubuh Angel dari belakang yang saat berjalan terlihat bokong Angel yang bergerak ke kanan dan ke kiri dengan sangat sexy.
Ariel ikut berjalan mengikuti Angel ke arah lemari dan memeluk Angel dari belakang. "Kau sengaja menggodaku baby?"