Sayap Hitam (Cinta Terlarang)

Sayap Hitam (Cinta Terlarang)
28. Di pantai


__ADS_3

Ariel selalu menggandeng tangan Angel setelah mereka telah turun dari pesawat, Angel sering kali tersenyum saat melihat tangan besar Ariel menggenggam tangan mungilnya. Perasaan Angel menghangat, ia sangat bahagia bersama Ariel oleh karena itu ia berani dan siap jika berada dalam bahaya selama ia dan Ariel bersama.


Ariel mencari taxi yang kosong di depan bandara, setelah mendapatkannya Ariel mengajak Angel untuk segera masuk ke dalam taxi menuju hotel yang telah di pesan oleh Mia.


"Aku tidak menyangka kau bisa melakukan semua ini seperti orang lain." Kata Angel yang duduk di sebelah Ariel.


Ariel menoleh ke arah Angel, tersenyum lembut lalu melingkarkan tangannya di pinggang Angel, menarik gadis tersebut agar duduk merapat ke arahnya. "Sangat mudah mempelajari apa yang biasa di lakukan manusia pada umumnya." Bisik Ariel di telinga Angel, takut jika berbicara keras sang sopir taxi mendengar apa yang ia katakan.


"Itu karena kau yang sangat cerdas."


Ariel memainkan ujung rambut Angel sepertj biasanya. "Aku anggap itu sebagai pujian darimu baby."


Taxi terus melaju menuju pantai, ternyata hotel yang di pesan Mia terletak di tepi pantai. Angel sungguh sangat beruntung.


Brak


Ariel dan Angel menutup pintu mobil taxi setelah membayar kepada sang sopir. Sejak tadi mata Angel berbinar melihat ke arah pantai.


"Kau terlihat sangat bersemangat." Ucap Ariel yang kembali mengaitkan tangannya di pinggang Angel menatap ke arah pantai.


Angel mengangguk sambil tersenyum lebar. "Sudah lama sekali aku ingin melihat pantai, terakhir kalinya aku pergi ke pantai adalah saat orang tuaku masih hidup. Setelah orang tua ku meninggal, aku sibuk bekerja paruh waktu untuk mencari uang. Tapi ada hal yang sangat mengejutkan untukku, ternyata diam-diam orang tuaku menyimpan uang yang cukup banyak di rumah lama kami, rumah yang aku tinggali sekarang."


Dahi Ariel berkerut, merasa penasaran dengan seluruh kisah Angel. "Lalu?"


"Orang tuaku menyimpan uang tersebut di dalam sepatu usang yang ada di rumah itu. Ada sekitar lima pasang sepatu dan sebuah surat."


"Apa isinya?"


Angel moneleh ke arah Ariel sekilas lalu kembali melihat pantai yang ada di depan sana. "Mereka menulis jika uang tersebut memang di berikan untukku, karena mereka sudah tahu banyak orang yang tidak menyukai kesuksesan mereka."


Ariel mengecup samping kepala Angel. "Lalu kenapa kau masih harus repot-repot bekerja?"


"Aku tidak mungkin menghabiskan uangku begitu saja, aku pun harus bekerja. Aku juga tidak ingin pamanku tahu aku hidup tidak kekurangan satu apapun padahal aku tidak bekerja, aku tidak ingin membuat orang lain curiga padaku."


Ariel kini mengangguk mengerti. "Aku paham sekarang. Setelah kita pulang dari sini kita akan mulai mencari tahu tentang Pamanmu tersebut. "


"Aku setuju!" Ucap Angel dengan girang.


Setelah matahari berada tepat di atas mereka, Angel dan Ariel memutuskan untuk pergi ke hotel untuk beristirahat dan makan siang.


.


.


*  *  *

__ADS_1


"Arielllll kejar aku!!!" Angel berlarian di pantai yang tinggi airnya hanya sebatas lutuy orang dewasa.


Ariel tersenyum sambil menggelengkan kepala, ia melepas satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan lalu melempar dengan asal kemeja tersebut.


Ariel berlari mengejar Angel, sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya dengan seorang gadis. Angel terus tertawa dengan riang mencoba berlari menjahi Ariel namun dengan mudah Ariel mampu mengejar Angel dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang, Ariel mengangkat tubuh Angel dan memutarnya membuat Angel tertawa lepas.


Setelah Ariel menurunkan Angel ia membalikkan tubuh gadis itu, menatap netra hitam Angel yang selalu menghipnotisnya. Tatapan keduanya bertemu, Angel memegang leher Ariel sedangkan Ariel melingkarkan tangannya di tubuh Angel.


"Terimakasih my Angel yang telah memberiku kebahagiaan sebesar semesta dan seluas samudra ini. Aku sangat mencintaimu, tolong jangan pernah pergi dariku." Ucap Ariel dengan lembut dan penuh kejujuran.


Angel mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkanmu Ariel, mari kita hadapi bersama semua duri yang akan menghalangi jalan kita nantinya."


Ariel mendekatkan wajah hingga bibir mereka akhirnya bertemu.


Cup


Ariel mencium sekilas bibir Angel. "Kita lanjutkan nanti di kamar hotel."


Mendengar hal itu membuat Angel mencubit berkali-kali pinggang Ariel sedangkan Ariel justru tertawa dan mencubit hidung Angel.


.


.


*  *  *


"Yang mulia pangeran, Satu jam lagi mereka akan mengadakan transaksi obat-obatan terlarang dan melakukan perdagangan manusia di dermaga ini." Jawab Victor lugas.


"Apa lagi yang kau tahu Victor?" Tanya Ariel lagi.


"Ada sekitar sepuluh makhluk kegelapan yang berkhianat yang merasuki tubuh para penjahat itu pangeran namun sekarang semuanya masih belum berkumpul pangeran."


Ariel menyeringai lebar. "Hemm jumlah yang banyak. Kerja bagus Victor, awasi terus mereka. Aku akan kembali ke hotel terlebih dahulu untuk menjemput Angel kemari." Ariel melirik arloji di pergelangan tangannya. "Seharusnya Angel sudah selesai mandi."


Vitor terbang dari bahu Ariel menuju tempat yang tertinggi di sekitar dermaga tersebut untuk mengawasi setiap pergerakan orang-orang yang akan melakukan kejahatan di sana malam ini.


Lalu Ariel menggunakan teleportasi menghilang dan berpindah tempat di kamar hotel tempat ia dan Angel menginap.


Sebelum acara pesta ulang tahun Mia, sebenarnya Ariel sudah sering pergi ke kota B untuk mencari para pengkhianat dari kaumnya. Dan di sana Ariel dapat menemukan beberapa para makhluk kegelapan yang masuk ke dalam tubuh beberapa manusia jahat di kota B.


Ariel pun sudah merencanakan akan menghubungi pihak berwajib setelah ia berhasil membereskan para penjahat tersebut agar tidak kabur.


.


.

__ADS_1


*  *  *


"Arielllll." Angel mengusap dada karena melihat Ariel tiba-tiba datang di belakangnya yang sedang bercermin.


Ariel terkekeh geli lalu berjalan mendekat ke arah Angel. "Maafkan aku baby."


Cup


Ariel mencium pucuk kepala Angel. "Kau terlihat sangat cantik dan sexy jika berpakaian seperti ini. Aku jadi ragu membawamu ke sana, aku rasanya ingin mengurungmu saja di dalam kamar."


"Tidak mau!!!!!" Tolak Angel sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tanganku sudah gatal ingin menghajar seseorang, dan aku sudah bersiap sejak tadi. Kenapa kau tega padaku sayang." Rengek Angel dengan manja.


Ariel yang awalnya dijuluki si balok es oleh Angel kini berubah menjadi pria yang hangat, perhatian dan romantis dengan tindakan-tindakan kecil yang selalu saja membuat hati Angel berdebar. Dan Ariel juga bukanlah pria yang egois, Ariel selalu pengertian terhadap Angel.


"Baiklah kau boleh ikut." Putus Ariel akhirnya.


"Yes!!!" Angel segera berdiri dan memeluk Ariel. "Terimakasih sayang."


Ariel mengangguk lalu menunjuk bibirnya. "Tapi berikan ini dulu."


"Apa?" Angel mengerutkan kening tanda tidak paham.


Tanpa menjawab pertanyaan Angel kini Ariel mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bertemu satu sama lain. Ariel segera mengabsen semua gigi Angel dan membelit lidah Angel setelah itu.


Dengan rakus Ariel menyapu semua isi mulut Angel, ciuman mereka semakin panas dengan lidah mereka yang saling membelit.


Suara decapan lidah terdengar cukup keras di dalam kamar tersebut, Angel mengalungkan tamgannya di leher Ariel sedangkan Ariel memeluk pinggang Angel.


Ariel berjalan menuju ke arah ranjang dengan bibir yang masih saling membelit.


Bruk


Ariel menjatuhkan tubuh Angel di atas empuknya kasur kamar hotel, Ariel berada di atas tubuh Angel mulai menurunkan ciumannya di leher Angel membuat tubuh Angel menggeliat kegelian.


"Aaaaahhhh Arielll geli aaahhhh."


Tubuh Ariel menegang ketika alarm tanda bahaya dalam dirihya mengingatkan. Ariel mengangkat tubuhnya dengan bertumpu ke dua tangannya.


"Ayo saatnya kita berangkat membereskan para penjahat." Ajak Ariel lalu ia berdiri dan mengulurkan tangan yang di sambut oleh Angel.


"Nanti dulu, apa kau tidak lihat penampilanku sekarang berantakan."


Ariel terkekeh lalu mengacak-acak rambut Angel, membuat Angel mengerucutkan bibirnya lalu mereka tertawa bersama pada akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2