
Masih flashback ya.....
"Ayo kita masuk...." Angel dengan ramah mempersilahkan penyelamatnya maasuk ke dalam sebuah toserba yang buka dua puluh empat jam.
Dengan kikuk Daniel mengikuti apa yang di instruksikan gadis berkacamata ini sedangkan pada kenyatannya Daniel belum pernah masuk ke tempat seperti ini di dunia manusia.
Angel memerintahkan Daniel untuk duduk di sebuah kursi panjang yang berada persis di pinggir jendela. "Tunggu sebentar di sini."
Angel meninggalkan Daniel duduk seorang diri, Angel pergi ke bagian rak yang berisi berbagai cup ramen dan mie instan dengan berbagai varian rasa. Angel mengambil dua cup ramen yang rasanya tidak terlalu pedas karena takut membuat penyelamatnya sakit perut dan berakhir diare.
Angel juga menyeduh dua gelas kertas espresso dan dua botol air mineral lalu dengan nampan yang terlihat penuh, Angel kembali berjalan ke tempat di mana ia meninggalkan Daniel tadi.
Mata Daniel menangkap gerakan Angel dari kejauhan yang terlihat banyak barang di atas nampan, dengan sigap Daniel segera berdiri dan menghampiri Angel mengambil alih apa yang sedang Anfel bawa.
"Biarkan aku saja yang membawanya." Daniel mengambil alih nampan yang sedang di bawa oleh Angel bahkan sebelum Angel menyetujuinya.
"Ah terimakasih tuan." Angel berjalan bersisihan dengan Daniel.
"Just Daniel, please..... " Pinta Daniel dengan memelas saat menoleh ke arah Angel.
"Baiklah Daniel."
Daniel tersenyum penuh kemenangan. "Nah itu terdengar lebih baik. Terimakasih Angel."
Angel dan Daniel duduk bersebelah sambil menatap ke luar ruangan. Angel meletakkan cup ramen dan segelas kopi di hadapan Daniel, tak lupa pula Angel memberikan sebotol air mineral.
"Ayo makan, ini sangat lezat jika di makkan saat malam yang dingin seperti ini."
Lagi dan lagi, senyum polos Angel mampu membuat hati Daniel berdebar dengan kencang.
Daniel mengangguk patuh dan mulai memakan Mie instan di dalam cup seperti yang Angel lakukan.
Angel melepas kacamatanya, dan situlah Daniel hanya mampu diam menatap wajah Angel tanpa kedip.
Cantik. Batin Daniel, ia berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terus melamun membuat Angel curiga dan takut padanya.
Daniel kembali melanjutkan makannya, memang terasa sungguh nikmat, aroma yang menggoda akan membuat perut semakin keroncongan, serta kuah hangat yang terasa sangat nikmat membuat Daniel igin makan sepuluh cup sekaligus namun tidak mungkin ia lakukan di hadapan Angel sekarang.
"Enak kan?" Mata Angel berbinar saat bertanya.
Daniel mengangguk. "Benar, ini sungguh lezat. Terimakasih Angel kau sudah mentraktirku."
"Tidak masalah, kalau begitu aku akan pulang terlebih dahulu. Terimakasih untuk bantuannya." Angel beranjak dari duduknya namun langkahnya terhenti saat Daniel menahan tangan Angel membuat Angel kembali menoleh kearah Daniel.
"Aku akan mengantarmu sampai di depan pintu. Ini sudah larut, cukup berbahaya untuk gadis sepertimu."
__ADS_1
Angel mengangguk setuju. "Sebenarnya rumah ku tidak jauh dari sini, namun karena kau sudah mau berbaik hati padaku baiklah kau boleh mengantarkanku sampai rumah."
Angel dan Daniel berjalan beriringan dengan Daniel yang membawa sepeda Angel, ingin Daniel membonceng Angel namun Daniel tidak bisa mengendarai sepeda jadi tidak mungkin kan jika Angel yang membonceng dia?
"Jadi ini rumahmu?" Tanya Daniel setelah mereka sampai di depan rumah Angel.
"Iya tapi maaf aku tidak bisa mempersilahkan kau untuk mampir karena ini sudah sangat larut."
Daniel menganggukkan kepalanya. "Tidak apa, kah juga pasti lelah dan harus beristirahat." Daniel terdiam sejenak, terlihatbia jngin menyampaikan sesuatu namun sepertinya ia ragu.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Angel pada akhirnya.
"Sebenarnya aku besok harus kembali ke tempat asalku, namun aku ingin sekali mempunyai sebuah kenang-kenangn bahwa aku pernah bertemu denganmu, namun aku tidak mempunyai ponsel seperti dirimu."
Setelah mendengar penjelasan dari Daniel, Angel segera masuk ke dalam rumah. Awalnya Daniel mengira jika Angel marah pada perkataannya , lalu akhirnya Daniel memutuskan untuk pergi dari sana.
Baru Daniel berbalik dan berjalan beberapa langkah terdengar suara Angel memanggilnya.
"Daniel!!!"
Langkah Daniel terhenti, ia berbalik dan melihat Angel yang berlari-lari keckl kearahnya dengan membawa sesuaatu di tangannya.
Tiba-tiba Angel berdiri di samping Daniel dan mengarahkan benda yang sedang di pegang Angel ke hadapan mereka berdua.
"Lihat ke kamera dan senyum. 1 2 3."
Daniel sejak tadi hanya menuruti appa yang katakan padanya, namun kali ini ia sangat terkejut saat sebuah kertas kecil keluar dari benda yang di sebut Angel sebagai kamera.
Setelah beberapa detik berlalu, Angel memberikan kertas tersebut kepada Daniel yang ternyata berisi gambar dirinya dengan Angel.
"Ini untukmu."
Daniel meraih kertas kecil yang terdapat gambar dirinya dengan Angel. Seketikasenyum Daniel tersungging. "Terima kasih Angel, aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi."
.
.
* * *
Kembali ke masa sekarang
Hampir setiap malam Daniel memandangi foto Angel sebelum ia tidur, sebenarnya waktu itu ingin sekali ia yang di beri tugas turun ke bumi untuk memusnahkan para pengkhianat dari kaumnya.
Namun jabatan sebagai putra mahkota membuatnya sangat sulit untuk keluar dari wilayah kerajaan kegelapan. Daniel sudah memutuskan jika ia akan tetap turun ke bumi, meskipun hanya satu hari. Selain untuk menjemput Ariel, Daniel ingin bertemu dengan Angel.
__ADS_1
Daniel kembali memasukkan foto Angel ke dalan cincin dimensinya, lalu berjalan menuju ke kamar Raja dan Ratu.
Tok
Tok
Tok
"Ibunda, apa kau sudah tidur?" Tanya Daniel di depan pintu kamar orang tuanya.
Kriettt
Clara Theodor membuka pintu kamarnya, dan nampaklah wajah lelahnya yang membuat Daniel merasa kasihan padanya. "Masuklaah nak, Ibu belum tidur."
Daniel pun masuk ke dalam kamar orang tuanya, Clara menutup pintu kembali dan mengikuti langkah Daniel dari belakang.
Daniel memilih duduk di salah satu kursi dekat dengan ranjang Ayahnya. Dapat di lihat oleh Daniel jika ayahnya nampak kurus dan berwajah pucat.
"Apa kau masih belum siap menggantikan tahta ayahmu nak?" Tanya Clara Theodor lembut sambil memegang bahu putranya. "Lihatlah tubuh Ayahandamu, Ibu sangat takut jika Ayahandamu tidak bisa bertahaan lebih lama lagi."
Daniel pun sebenarnya tidak tega melihat kondisi Ayahnya namun ia memang belum siap menjadi seorang raja, jika hanya untuk menggantikan posisi ayahnya sementara saja itu bukan masalah namun jika di nobatkan menjadi seorang raja tentu Daniel belum mau.
Tidak mendapatkan jawaban dari putranya, Clara akhirnya memilih duduk di samping Daniel. "Kenapa kau belum tidur nak?"
Daniel menoleh ke arah Ibunya. "Aku belum mengantuk bu, aku sedang banyak pekerjaan dan pikiran."
"Ibu tahu kau sangat sibuk yapi Ibu yakin kau sosok pria yang kuat Daniel."
Daniel tersenyum hangat. "Terimakasih bu."
"Lalu kapan kau akan menikahi Leona?"
Seketika senyum Daniel pudar tak berbekas.
.
.
* * *
"Apa yang kau temukan Ethan?" Ariel bertanya kepada Ethan yang kini mereka sedang berada di rumah Ethan bersama Joseph, asisten pribadi Malvin.
Wajah Ethan terlihat sangat cerah. "Ini ada berita baik tuan."
"Apa?"
__ADS_1
"Calista Property mengalami kebangktutan dan sedang membutuhkan banyak suntikan dana tuan." Jawab Ethan sambil tersenyum lebar.
"Bagus, siapkan langkah selanjutnya. "