Sayap Hitam (Cinta Terlarang)

Sayap Hitam (Cinta Terlarang)
43. Rasa Kecewa Michael


__ADS_3

"Callista Properti saat ini terancam bangkrut karena tuan Brandon menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya."


Ethan melaporkan apa yang ia ketahui setelah melakukan penyelidikan beberapa hari ini.


"Kepentingan pribadi?" Tanya Ariel yang tidak mengerti, kepentingan pribadi apakah yang sampai membuat perusahaannya sampai terancam bangkrut.


Ethan mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Ini adalah suatu rahasia yang saya ketahui juga saat masih bekerja di sana tuan Ariel. Ternyata tuan Brandon tengah tergila-gila dengan seorang gadis yang bernama Gwen, yang saya tidak mengerti kenapa tuan Brandon bisa sampai seperti itu."


"Gwen?" Tentu nama Gwen tidak asing bagi Ariel. Dia masih ingat jika gadis yang bernama Gwen adalah gadis yang mencelakai Angel.


Ethan mengangguk. "Benar tuan, namanya Gwen. Tuan Brandon selalu menuruti apapun permintaan nona Gwen, di mulai dari uang, perhiasan, mobil, apartemen mewah bahkan tuan Brandon sampai menceraikan istri dan meninggalkan anaknya. Kabarnya tuan Brandon akan menikah dengan gadis bernama Gwen tersebut, namun tadi pagi saya mendapat berita jika Apartemen milik nona Gwen habis terbakar dan nona Gwen masih ada di dalamnya."


"Jadi Gwen sekarang sudah meninggal?"


"Benar tuan." Ethan mengangguk. "Saat ini pasti tuan Brandon sedang terpukul berat dengan kejadian ini."


Ariel tersenyum miring. "Ini saatnya kita mengambil alih Callista Properti dan mengembalikan kepada pemilik aslinya, yaitu Angel Callista, istriku."


Ariel menoleh ke arah Joseph yang sejak tadi memang berada di sana bersama Ariel dan Ethan. Joseph mendengarkan dengan seksama semua informasi yang di katakan oleh Ethan. "Joseph, aku ingin kau melakukan apa pun untuk mengambil alih perusahaan Callista properti dan kau Ethan." Ariel menatap Ethan yang sudah siap menerima perintah. "Cari semua bukti kejahatan yang di lakukan oleh Brandon, kita akan menjebloskan dia ke penjara."


"Jangan!" Sela Angel yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Ariel. Kamar yang awalnya di tempati oleh Ariel untuk tidur kini beralih fungsi menjadi ruang kerja, karena kini Ariel tentu selalu ingin tidur di sisi istrinya.


Angel yang niat awalnya pergi ke ruang kerja Ariel untuk mengantarkan tiga cangkir kopi dan camilan malah berhenti di depan pintu yang tidak tertutup rapat, Angel dapat mendengarkan semua pembicaraan mereka terutama saat Ariel mengatakan jika ia ingin menjebloskan Brandon ke penjara.


Angel melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut lalu meletakkan nampan yang ia bawa di meja, dengan sigap Ethan membantu Angel membagikan cangkir kopi kepada kepada tiga pria yang berada di sana.


"Kemarilah." Ariel mengulurkan tangan yang segera di sambut oleh tangan Angel.


Ariel menarik tangan Angel dan mendudukkan perempuan tersebut di atas pangkuannya, wajah Angel memerah malu karena sikap Ariel di depan Ethan dan Joseph. Sedangkan dua pria lajang tersebut harus bisa menahan diri mereka saat melihat atasan mereka yang pamer kemesraan dengan istrinya.


"Katakan kenapa kau keberatan jika aku menjebloskan pamanmu ke penjara? Apa kau merasa kasihan padanya?" Tanya Ariel menuntut jawaban dari Angel.


Kini Angel lebih fokus melihat wajah tampan Ariel, ia sudah lupa padahal beberapa detik lalu ia merasa sangat malu duduk di pangkuan Ariel.


Angel mengelus rahang Ariel lalu menggeleng. "Sebelum pamanku di jebloskan ke dalam penjara, aku ingin menghajarnya terlebih dahulu karena telah berani membunuh kedua orang tuaku."


Ariel tersenyum lega. "Aku senang mendengarnya, itu baru istriku. Kita akan melakukannya sayang, tunggu saja."

__ADS_1


"Ethan." Tatapan Ariel berpindah ke asisten pribadinya.


"Iya tuan."


"Siapkan tempat untuk mengeksekusi Brandon." Perintah Ariel kepada Ethan.


"Siap tuan."


Angel lega ketika Ariel mendukung niatnya, Angel beranjak dari pangkuan Ariel karena merasa risih di lihat oleh Ethan dan Joseph. "Aku sudah menyiapkan makan siang untuk kalian bertiga, makanlah." Angel menatap satu persatu ketiga pria yang ada di sana.


"Terimakasih nyonya." Sahut Ethan dan Joseph bersamaan.


"Suamiku, aku berangkat kuliah dulu. Ada jam kuliah siang ini." Angel mengelus bahu Ariel.


Hati Ariel berbunga-bunga saat Angel memanggilnya dengan sebutan suamiku di hadapan orang lain. "Kau tidak makan siang dulu bersama kami sayang?"


Angel menggeleng. "Baru saja aku makan di dapur sebelum membawa kopi kemari."


"Baiklah aku akan mengantarmu ke kampus." Tawar Ariel yang hendak berdiri dari duduknya namun di tahan oleh Angel. "Tidak perlu, aku akan pergi sendiri menggunakan motor."


Ariel mengangguk pasrah dengan keputusan Angel. "Baiklah kalau begitu. Aku akan mempelajari cara mengelola perusahaan secepat mungkin dengan Joseph. Kemarilah." Ariel menarik tangan Angel sehingga tubuh mereka berdekatan, lalu Ariel berbisik di telinga Angel. "Aku menyiapkan hadiah di bawah selimut untukmu."


Ariel mengangguk. "Semoga kau suka."


"Baiklah aku pergi dulu." Angel mengecup pipi Arie kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Angel masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat kuliah. Setelah Angel selesai mematut dirinya di depan cermin, ia baru teringat jika Ariel tadi mengatakan mempunyai kejutan untuknya si bawah selimut.


Dengan hati berdebar sambil menebak-nebak hadiah apa gerangan yang Ariel persiakan untuk dirinya, Angel mulai berjalan mendekati ranjang tempat tidurnya. Angel menyibak selimut dan menemukan sesuatu yang membuat ke dua bola matanya mendelik hampir keluar.


"Oh my God!!!" Pekik Angel dan segera menyambar hadiah dari Ariel, buku nikah. Iya, surat keterangan yang menjelaskan jika Ariel dan Angel telah resmi menikah secara hukum negara.


Angel bersorak kegirangan, entah bagaimana caranya Ariel bisa mendapatkannya. Yang jelas dalam beberapa minggu ini, sejak Ariel berteman dengan Malvin, Joseph dan Ethan, Ariel menjadi lebih serba bisa layaknya seorang pengusaha sukses yang ada di drama-drama yang sering Angel lihat.


Angel menyimpan buku nikah mereka di tempat yang aman setelah itu Angel bergegas berangkat menuju kampus dengan senyum yang terus mengembang di wajah cantiknya.


.

__ADS_1


.


*  *  *


Sreeettt


"Apa kau sedang menghindariku Angel?" Tanya Michael yang tiba-tiba menarik Angel saat berada di perpustakaan. Tatapan Michael begitu lekat memandangi Angel, kini tubuh Angel terhimpit di antara tubuh besar Michael dan rak buku.


"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan Michael." Angel mengerutkan kening, walaupun Angel berbicara dengan perlahan namun ia sedikit menekan kalimatnya tanda ia tak suka dengan perlakuan Michael.


Sorot mata Michael berubah menjadi lembut. "Maafkan aku Angel. Aku hanya ingin kita bisa dekat lagi seperti dulu, aku ingin melihat mata berbinarmu saat melihatku, dan aku sangat cemburu dengan pria yang menjemputmu waktu itu. Bahkan kau belum menjawab pernyataan cinta dariku saat ulang tahun Mia."


Deg


Angel lupa jika ia belum menjawab pernyataan cinta dari Michael waktu itu, beberapa minggu ini Angel memang selalu menghindari Michael. Terkadang Angel akan menarik Mia untuk menemaninya jika ia hanya berdua dengan Michael.


Michael semakin merapatkan tubuhnya hingga jarak antara dia dan Angel menjadi semakin lebih dekat. "Aku sungguh mencintaimu Angel, jadilah kekasihku."


Hembusan nafas Michael menerpa wajah Angel, seandainya saja hati Angel belum sepenuhnya milik Ariel mungkin sekarang Angel akan sangat bahagia dengan hati berdebar bisa sedekat ini dengan pria yang menjadi incaran setiap perempuan yang ada di kampus.


Namun Angel yang sekarang bukanlah Angel yang dulu mengagumi sosok Michael. Angel yang sekarang adalah Angel yang sudah jatuh cinta kepada Ariel, jatuh sedalam-dalamnya oleh pesona Ariel. Apalagi Angel sekarang telah menjadi seorang istri, tentu saja ia tidak ingin berpindah hati selain pada Ariel.


Perlahan wajah Michael semakin mendekat, tentu Angel tahu maksud Michael adalah ingin mencium dirinya.


Angel memalingkan wajah hingga membuat bibir Michael meleset tidak mengenai bibir Angel.


Dengan sekuat tenaga Angel mendorong tubuh Michael hingga pria tersebut mundur beberapa langkah, lalu Angel menatap Michael tajam. "Maafkan aku Michael, tapi aku sudah menikah. Pria yang kau lihat menjemputku waktu itu adalah suamiku. Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu."


Mata Michael membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja Angel sampaikan padanya, mungkinkah Angel sengaja berbohong?


Setelah mengatakan hal tersebut, Angel hendak beranjak pergi dari sana namun lagi-lagi Michael menarik lengan Angel hingga tubuh Angel menabrak dada bidang Michael.


"Kau sedang beebohong kan Angel? Ini tidak lucu."


Angel menghempaskan tangan Michael dengan sedikit kasar. "Terserah kau mau percaya atau tidak yang jelas aku tidak membohongimu."


Angel segera berjalan dengan cepat meninggalkan Michael yang mematung di tempatnya, tentu saja kabar pernikahan Angel yang sangat mendadak seperti ini seperti sambaran petir di siang hari bolong.

__ADS_1


Kaki Michael terasa lemas hingga tubuhnya luruh jatuh terduduk di lantai, ia sangat ingin tidak mempercayai apa yang baru saja Angel katakan. Hati Michael terasa sangat nyeri, mungkinkah ia harus mundur dalam memperjuangkan Angel atau ia akan tetap maju untuk memperjuangkan gadis itu.


__ADS_2