Sayap Hitam (Cinta Terlarang)

Sayap Hitam (Cinta Terlarang)
24. Di Kamar Ariel


__ADS_3

Angel mematut dirinya di cermin setelah mandi menggunakaan air hangat, sejak tadi ia terus tersenyum seolah ada sesuatu yang menarik ke atas sudut bibirnya. Ah iya Angel melupakan sesuatu, gadis itu buru-buru  mengambil tas nya tadi yang kehujanan untung saja bagian dalam tasnya tidak terlalu basah karena bahan tas yang ia pakai seperti bahan kulit yang tidak mudah tembus oleh air.


Angel mengambil ponsel dan memeriksanya, banyak panggilan dan pesan dari Michael. Tentu saja pria itu sangat khawatir tidak menemukan Angel di rumah Mia. Buru-buru Angel segera mengetik pesan kepada Michael jika dirinya sedang ada keperluan mendadak dan tak enak untuk berpamitan dengan Michael karena pada saat itu Michael sedanng sibuk berbincang dengan teman-temannya, sebuah alasan yang penuh kebohongan dan Angel tidak peduli itu. Rasa sukanya kepada Michael dan Ariel jelas berbeda.


Angel mengendus hidungnya, ia mencium aroma mie instan. Angel melemparkan ponselnya dengan asal ke ranjang, lalu ia bergegas keluar dari kamar dan di saat itulah ia melihat pemandangan Ariel yang hanya memakai celana pendek tanpa atasan namun ia menggunakan apron sedang masak sesuatu di dapur.


Rasanya Angel ingin sekali mencubit dengan gemas otot-otot tubuh Ariel yang menggiurkan kaum wanita yang lemah imannya seperti Angel.


"Jangan melihatku terus dari kejauhan, kemarilah." Ariel ternyata tahu jika Angel tengah mengamati dirinya di depan pintu kamar gadis itu.


Dengan malu-malu tapi mau akhirnya Angel berjalan mendekat ke arah Ariel, memeluk tubuh pria itu dari belakang. Aroma sabun menguar dari punggung Ariel dan membuat Angel semakin nyaman dalam posisi seperti ini.


"Kau sedang membuat apa?" Tanya Angel yang sebenarnya sudah tahu sesuatu yang sedang di masak oleh Ariel.


"Mie instan, aku lapar dan siapa tahu kau juga mau jadi aku membuat banyak."


Angel melepaskan pelukannya lalu memilih berdiri di samping Ariel. "Aku baru ingat, stok mie instanku sudah habis dan tadi aku menjatuhkannya di_"


"Aku mengambilnya Angel." Ucap Ariel sebelum Angel menhelesaikan kalimatnya.


"Ah terimakasih sayang."


Ariel menoleh dan mendapati Angel tengah tersenyum ke arahnya. Lagi, kata sayang yang di ucapkaan Angel membuat hati Ariel menghangat. "Kau tahu Angel, ini adalah pertama kalinya aku memasak."


Bola mata Angel terbuka lebar. "Benarkah? Wow berarti aku adalah gadis yang sangat spesial yang bisa membuatmu terjun ke dapur."


"Kau memang sangat spesial Angel." Sahut Ariel dengan sebelah tangannya mengusap pipi Angel. Lalu Ariel meraih dua tangan Angel dan melihat luka pada telapak tangan gadis tersebut, Ariel menjilati luka Angel hingga perlahan luka Angel sembuh membuat Angel merasa takjub. "Bagaimana bisa kau menyembuhkannya dalam waktu sesingkat ini?"


"Karena ini hanya luka ringan, jika lukanya serius aku pun tidak bisa melakukannya."


"Terimakasih."


"Ayo makan, ini sudah siap."


Angel mengangguk dengan antusias lalu membantu Ariel membawa mangkuk Mie Instan ke meja makan.


Di luar hujan kembali turun, menikmati mie instan di tengah malam begini memang mempunyai kenikmatan tersendiri.


"Hemmm ini sungguh sangat nikmat." Angel menyesap kuah yang masih mengepul.


"Makanlah yang banyak setelah itu pergilah tidur, ini sudah sangat larut." Kata Ariel yang sudah menghabiskan semangkuk mie instan miliknya.

__ADS_1


Angel dengan cepat menghabiskan sisa mie yang ada di mangkuknya lalu membawa mangkuk kotor mereka ke dapur.


"Biar aku saja yang mencucinya, sebagai tanda terimakasih karena telah membuatkanku semangkuk mie yang lezat. Tapi..... Bagaimana kau bisa langsung berhasil memasaknya? Bukankah ini pertama kalinya kau memasak di dapur?"


Ariel menghembuskan nafas panjang. "Angel aku bisa membaca kalau kau lupa, tentu saja aku membaca cara penyajiannya dari bungkus mie instan tersebut."


Angel menepuk dahinya. "Oh iya aku lupa, maaf." Angel terkikik geli lalu segera berlalu pergi ke dapur membawa mangkuk kotor mereka.


Ariel membuka ponsel miliknya, tentu saja ia harus mempunyai ponsel seperti manusia pada umumnya untuk berkomunikasi dengan Angel dan untuk mencari informasi tentang kehidupan di bumi ini.


Sesuatu hal yang Ariel pahami dalam beberapa menit ia bermain dengan ponselnya adalah seseorang akan sangat berpengaruh jika ia memiliki kedudukan tinggi, harta yang melimpah dan wajah yang enak di pandang.


Ariel mulai ingin memiliki semua itu saat ia tinggal di bumi ini, bukan untuk dirinya melainkan untuk ia berikan kepada Angel suatu saat nanti.


"Kau sedang apa? Serius sekali." Tanya Angel yang menggeser kursinya di sebelah Ariel.


"Hanya mencari informasi seputar kehidupan di bumi ini." Jawab Ariel lalu menyerahkan ponselnya kepada Angel. "Berikan nomer ponselmu agar aku mudah menghubungimu."


Angel meraih ponsel milik Ariel lalu mengetikkan nomer ponsel miliknya dan menyimpannya. Namun Angel sangat terkejut saat akan mengembalikan ponsel Ariel, Angel melihat gambar wallpaper ponsel Ariel adalah foto dirinya saat sebelum pergi ke pesta tadi. Angel segera memeriksa album di ponsel Ariel dan banyak foto Angel yang di ambil Ariel secara diam-diam.


Angel terkekeh dan Ariel segera merebut kembali ponselnya dengan malu. "Aku tidur dulu." Ariel segera bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamarnya.


Brakk


Ariel telah menutup pintunya dengan pelan, Angel kembali terkikik namun ia segera membekap mulutnya dengan tangannnya sendiri takut Ariel akan mendengar dan pria itu akan bertambah malu lagi.


Angel pun bangkit dan masuk ke dalam kamarnya. Angel membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ia merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya. Sudah hampir satu jam Angel mencoba memejamkan mata namun tak kunjung terpejam matanya.


Perlahan Angel bangun duduk dan memikirkan sebuah ide. Angel turun dari ranjang lalu keluar dari kamarnya, ia membuka pintu kamar Ariel dengan perlahan berharap pria tersebut sudah tidur dan Angel akan memandangi wajah Ariel sampai uas sebelum ia tidur.


Krieett


"Ada apa?"


"Astaga! Kau mengagetkanku." Angel mengusap dadanya karena terkejut sedangkan Ariel terkekeh dengan tindakan Angel.


Ternyata Ariel belum tidur, ia masih sibuk berselancar di dunia maya. "Ada yang bisa aku bantu baby?"


Hahh baby??!!! Saking bahagianya Angel di panggil baby oleh Ariel, ia sampai menjedotkan beberapa kali kepalanya di pintu kamar Ariel dengan pelan, tentu saja karena Angel tidak ingin dahinya terluka.


"Hei kau kenapa?" Ariel bertanya dengan tatapan tak mengerti kepada gadis yang telah berhasil menjungkir balikkan dunianya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur." Rengek Angel dengan wajah memelas.


Ariel tersenyum lembut, ia membuka selimut di sampingnya dan sedikit menggeser tubuhnya ke tepi. "Kemarilah." Ariel menepuk-nepuk bantal di sebelah bantal miliknya.


Dengan senyum semangat Angel berlari dan melompat ke atas ranjang. Ariel menyelimuti tubuh Angel dan memeluk pinggang gadis itu.


"Apa ada hal yang mengganggu fikiranmu hingga membuatmu tidak bisa tidur?" Tanya Ariel dengan tidur menyamping menghadap Angel.


"Tadi saat di pesta kau bawa ke mana Michael? Kenapa tiba-tiba kau yang muncul di hadapanku? " Tanya Angel yang sangat penasaran sejak di pesta tadi, pasalnya Michael sendiri terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.


"Aku memindahkan Michael ke sini." Ariel menunjukkan cincin dimensinya kepada Angel.


"Ini kan hanya cincin." Angel mengelus cincin milik hitam milik Ariel yang terpasang dengan bagus di jari tengah Ariel.


"Ini bukan cincin biasa Angel, kapan-kapan aku akan menujukkannya padamu. Aku memindahkan Michael ke dalam cincinku lalu membuatnya pingsan, namun aku membuatnya bermimpi sedang berdansa denganmu agar ia tidak curiga."


Angel kini mengangguk mengerti. "Lalu orang-orang yang tadi ingin mencelakaiku kau masukkan ke dalam cincinmu juga?"


"Tidak." Ariel menggeleng. "Aku memindahkan mereka ke depan kantor polisi, mereka adalah buronan."


Angel mengacungkan jempolnya lalu mencium pipi Ariel. "Kau memang selalu keren."


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Ariel bermain-main dengan ujung rambut Angel.


"Kenapa kau menggantikan posisi Michael saat berdansa denganku?"


"Aku cemburu." Jawab Ariel spontan membuat Angel menarik sudut bibirnya, Angel bahagia Ariel yang sedingin balok es mau mengakui jika dirinya tengah cemburu. "Aku tidak suka dia memegang tanganmu ataupun hal-hal yang membuat kalian terlihat dekat. Aku kira kau akan menerima cinta Michael oleh sebab itu aku segera pergi dari sana."


"Bodoh!" Angel mencubit perut Ariel yang keras karena Ariel memang tidak mengenakan baju hanya mengenakan celana pendek saja. "Harusnya kau mendengar pembicaraan kami sampai selesai."


"Lalu apa kau tahu penyebab luka di tanganku?" Angel yakin Ariel tahu namun kenapa pria itu tidak menolng dirinya.


Ariel mengangguk dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf aku tidak membantumu Baby." Ariel mencium dahi Angel dengan dalam.


"Saat itu aku pergi dari sana karena aku tahu makhluk kegelepan yang merasuk kedalam tubuh Julia mempunyai kekuatan di bawahmu. Aku pergi menolong pria tua yang hendak di rampok oleh sesorang yang terpengaruh makhluk kegelapan yang cukup kuat. Aku benar-benar minta maaf."


"Tidak perlu, yang kau lakukan sudah benar jadi tidak perlu minta maaf."


"Terimakasih baby." Ariel mengusap pucuk kepala Angel lalu menarik tubuh Angel untuk ia peluk.


"Sekarang aku akan menceritakan tentang diriku yang sebenarnya, setelah itu kau boleh memutuskan akan tetap mencintaiku atau tidak." Ariel sudah mempertimbangkan banyak hal sejak tadi

__ADS_1


__ADS_2