
"Perkenalkan, aku adalah Ariel Charles Theodor."
Pemuda yang ada di hadapan Ariel menerima uluran tangan Ariel dengan tangan sedikit gemetar. "E_Ethan, nama saya Ethan tuan Ariel."
Ariel berdiri dan menarik tangan Ethan hingga pemuda tersebut ikut berdiri, setelah itu Ariel melepaskan tangan Ethan. "Kenapa mereka ingin menghabisimu?" Tanya Ariel tepat sasaran.
Ethan mencoba mengatur perasaannya agar tidak takut kepada Ariel dan meyakinkan kepada diirinya sendiri jika Ariel bukanlah orang jahat.
"Mereka ingin menghabisiku karena aku menemukan bukti kejahatan bos mereka yang tertutup rapat selama ini." Jawab Ethan tanpa keraguan.
Ariel mengangguk. "Hemmm jadi seperti itu. Baiklah aku pergi dulu." Ariel berbalik dan hendak melangkah pergi namun kemudian Ethan memanggilnya.
"Tuan Ariel tinggu."
Ariel mengeringai sebelum ia akhirnya berbalik menghadap ke arah Ethan. "Ada apa?"
Awalnya Ethan terlihat ragu saat akan mengatakannya namun sedetik kemudian ia merasa yakin dengan keputusannya. "Bisakah saya menjadi orang bawahan anda? Sejujurnya saya membutuhkan perlindungan dari anda namun lebih dari itu, nyawa saya selamat berkat anda oleh karena itu biarkan saya mengabdikan diri saya bekerja pada anda."
Ariel menatap datar Ethan walaupun sebenarnya ia sangat puas karena tujuannya tercapai tanpa harus dia yang terlebih dahulu meminta kepada Ethan.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?"
"Saya dulu bekerja sebagai sekertaris sekaligus asisten pribadi tuan Brandon dari Callista Property, tentu pengalaman saya sudah tidak di ragukan mengingat saya bekerja di sana selama tiga tahun." Jawab Ethan dengan percaya diri.
Ariel mengerutkan kenikng mendengar nama Brandon di sebut oleh Ethan. Bukankah ini sebuah kebetulan yang sangat menguntungkan, Ethan jelas tahu banyak tentang kondisi Callista Property saat ini di bawah pimpinan Brandon.
"Sebelum kau yang menjadi sekertarisnya, kemana sekertaris sebelumnya?" Tanya Ariel penasaran, karena sekertaris sebelumnya yang juga sekertaris ayahnya Angel tidak mungkin akan meninggalkan jabatannya begitu saja.
"Saya akan jujur kepada anda." Sebenarnya sekertaris sebelum saya meninggal karena sakit serangan jantung. Namun saya baru mengetahui sebuah kenyataan tentang tuan Brandon jika beliau ternyata yang telah membunuh sekertaris sebelum saya, bahkan beliau juga membunuh pemilik asli Callista Property yakni kakaknya sendiri."
Ariel kini paham kenapa Ethan di buru untuk di bunuh oleh Brandon, tentu saja Ariel akan melindungi Ethan mulai sekarang dan menjadikan Ethan salah satu bawahannya.
"Di mana mobilmu?" Tanya Ariel melihat sekeliling karena di sana terdapat beberapa mobil termasuk mobil milik penjahat tadi.
__ADS_1
Ethan menunjuk ke sebuah mobil berwarna biru. "Itu mobil milik saya tuan, yang berwarna biru."
"Baiklah mulai sekarang kau menjadi orang bawahanku dan bekerja padaku. Kita hanya harus saling menjaga." Ariel berjalan terlebih dahulu melewati Ethan menuju mobil pemuda tersebut, dengan buru-buru Ethan menjajari langkaah Ariel.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit agar kau bisa merawat luka-lukamu." Tawar Ariel namun terdengar seperti sebuah perintah.
"Baiklah tuan, namun kalau boleh saya tahu di mana kendaraan anda?" Tanya Ethan karena Ariel sedang berjalan memuju mobilnya, lalu di mana mobil Ariel pikir Ethan.
"Aku tinggal di perusahaan temanku."
"Lalu bagaimana anda ke sini?" Ethan mengerutkan kening berfikir keras.
"Terbang." Ariel menjawab santai dengan menoleh ke arah Ethan sekilas.
"Hahh???" Ethan merasa pikirannya seketika blank. Namun ia tidak mau ambil pusing terserah bagaimana Ariel bisa berada di sana yang jelas Ariel sudah menolong nyawanya.
Ariel masuk ke mobil milik Ethan dan duduk di kursi kemudi, sebenarnya Ethan merasa tidak enak dan meminta agar dirinya saja yang mengendarai mobil namun Ariel menolak.
"Tapi anda kan sekarang atasan saya tuan?" Tanya Ethan keberatan dengan keputusan Ariel.
"Memangnya ada masalah?" Ariel mulai menghidupkan mesin mobil dan tak menghiraukan Ethan yang sebenarnya keberatan dengan keputusannya.
Ethan tersenyum kikuk. "Karena biasanya bos saya yang duhulu tidak akan peduli dengan kondisi saya, ia akan memerintah saya sesuka hati."
Ariel mengedikkan bahu acuh. "Itu dia bukan aku."
Ariel mengendarai mobil milik Ethan dengan kecepatan sedang sambil sesekali ia melihat ke arah ponsel menunggu pesan dari Angel jika istrinya tersebut telah pulang kuliah. Namun Angel belum mengiriminya pesan.
.
.
* * *
__ADS_1
Saat ini Angel tengah berada di kantin bersama dengan Michael, awalnya mereka bertiga bersama dengan Mia juga namun tiba-tiba Mia di panggil oleh salah satu Dosen mereka.
"Angel apa kau sedang tidak enak badan?" Tanya Michael khawatir pasalnya sejak tadi ia melihat Angel seperti gelisah.
Angel menggeleng sambil tersenyum samar. "Tidak. Aku baik-baik saja, aku hanya khawatir Mia akan mendapatkan masalah dengan Dosen baru kita." Jawab Angel yang sebenarnya adalah bohong.
Angel sebenarnya mulai merasa tidak nyaman duduk berdua dengan lawan jenis seperti ini saat dirinya kini telah berstatus menjadi seorang istri. Sungguh ia merasa sangat berdosa dengan suaminya, bahkan Angel sudah terfikirkan jika nanti setelah pulang ke rumah ia akan minta maaf kepada Ariel.
"Tenanglah, aku yakin Mia akan baik-baik saja tidak akan mendapatkaan masalah." Michael mencoba menenangkan Angel dengan menggenggam tangan Angel yang berada di atas meja kantin.
Angel tersentak kaget dan secara refleks ia menarik tangannya dengan cepat hingga membuat Michael terkejut sekaligus heran dengan tindakan Angel.
"Ah maaf." Ucap Angel tak enak hati.
Michael memaksakan senyumnya. "Tidak apa-apa. Tapi kalau boleh aku tahu aku merasa kau sedang menghindariku sejak pesta ulang tahun Mia."
"Benarkah?" Tanya Angel yang ternyata Michael sudah bisa mengetahui jawaban dari sikap Angel.
"Itu karena...."
"Hei apa yang sedang kalian bicarakan, serius sekali?" Tiba-tiba Mia datang sambil menepuk bahu Michael dan langsung mendudukkan bokong sintalnyandi kursu kantin yang berada di sebelah Angel.
"Bukan apa-apa? Hanya tentang mata kuliah yang tidak aku pahami dan aku akan meminta Angel mengajariku nanti setelah jam kuliah selesai." Jawab Michael.
Mia menatap Angel dengan mengangkat kedua alisnya. "Baiklah aku tidak akan mengganggu kalian." Mia mendekati Angel dan membisikkan sesuatu di telinga Angel. "Bersiap-siaplah suamimu akan marah." Goda Mia yang semakin membuat cemas Angel, sebenarnya Angel ingin menolak. Namun ia belum mempunyai alasan yang bagus untuk menolak ajakan Michael.
"Sialan kau!!!" Angel mencubit perut Mia membuat gadis tersebut meringis kesakitan.
Setelah pulang kuliah.
Tepat saat Dosen telah menutup materi kuliahnya sore ini, ponsel Angel berdering. Seulas senyum tercetak jelas di bibir Angel manakala melihat jika nama suaminyalah yang tertera di layar ponsel.
"Halo. Iya maaf aku baru saja selesai. Benarkah kau sudah berada di depan? aaiklah aku segera ke sana. " Angel menutup panggilan di ponselnya tanpa mengetahui jika Michael yang sedang berjalan menuju tempat duduk Angel segera berhenti mendengar pembicaraan Angel tanpa sengaja tak jauh dari tempat duduk Angel.
__ADS_1