Sayap Hitam (Cinta Terlarang)

Sayap Hitam (Cinta Terlarang)
25. Obrolan sebelum tidur


__ADS_3

Angel dan Ariel tidur dengan posisi menyamping dan saling berhadapan, jujur Angel ingin sekali tahu siapa Ariel sebenarnya.


"Namaku Ariel Charles Theodor, putra bungsu Raja kegelapan. Aku di alam kegelapan di angkat menjadi seorang jenderal."


Mulut Angel terbuka lebar mendengar jati diri Ariel yang sesungguhnya, Angel fikir Ariel tidak mempunyai kedudukan di alamnya sana. Sama seperti dirinya yang hanya hidup sebagai manusia biasa, namun selain berbeda alam mereka juga berbeda kasta.


Ariel menatap ke dalam netra hitam Angel. "Kau tahu kenapa awalnya aku ragu untuk memulai hubungan kita?"


Angel mencoba menebak. "Hemm karena Michael?"


Ariel mengangguk. "Itu salah satunya."


"Karena kita berasal dari alam yang berbeda?"


"Masih ada lagi."


Angel berfikir keras namun tidak menemukan jawaban apapun. "Aku menyerah, aku tidak tahu."


Ariel menyentuh wajah Angel hingga wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa senti saja. "Hal yang paling ku takutkan adalah kau akan menjadi kelemahanku, musuh-musuhku selalu mencari tahu letak kelemahanku dan jika mereka tahu tentang kita, mereka akan menargetkanmu Angel."


"Aku tidak takut." Sahut Angel dengan penuh keberanian.


"Tapi aku sangat takut Angel, aku sangat takut kehilanganmu."


Ariel tidak mengkin berbohong karena Angel dapat melihat kesungguhan Ariel dalam mengatakannya, terlebih pria itu ke dua matanya sampai berkaca-kaca.


Tangan Angel terulur menyentuh rahang kokoh Ariel. "Aku sudah pernah mati sekali Ariel, kau yang menyelamatkanku dan memberiku kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan yang seperti sekarang ini. Jadi aku tidak peduli meski aku harus mati untuk kedua kalinya selama kau selalu mencintaiku, itu sudah lebih dari cukup untukku."


"Terimakasih."


Ariel memajukan wajahnya hingga bibir mereka beretemu, Ariel mengbsen semua gigi Angel dan membelit lidah gadis tersebut dengan lihai.


Sedangkan Angel dia akan selalu terbuai dengan ciuman yang Ariel berikan, suara decapan lidah terdengar memenuhi kamar Ariel malam itu. Ariel menyedot lidah Angel dengan rakus membuat Angel hampir kehabisan oksigen.


Tangan Ariel menyusuri dari wajah hingga leher jenjang Angel membuat Angel merasa seperti tersengat listrik di sekujur tubuhnya. Angel semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Ariel dan jari tangan Angel menyusuri punggung kokoh milik Ariel.


Ariel melepaskan ciuman mereka dan Angel segera meraup oksigen sebanyak-banyaknya, Angel terengah-engah namun serangan Ariel selanjutnya membuat Angel memejamkan maatanya sambil menengadahkan wajah ke atas.


"Aaahhhhh Arielllll aaahhhh." Akhirnya suara ******* tersebut lolos dari bibir Angel yang sedikit membengkak karena ulah Ariel.


Bibir Ariel terus menyusuri leher jenjang Angel, membuat beberapa tanda kepemilikan di sana. Tanda yang cukup banyak yang akan membuat Angel kebingungan untuk menutupinya saat keluar dari rumah.


Ariel menahan tangannya saat tangannya tersebut akan mulai masuk dari bawah baju piyama yang di kenakan oleh Angel.


Alarm tanda bahaya, Ariel segera memundurkan tububnya dan mengusap bibir Angel yang basah akibat ciumannya. "I love you so much Angel."

__ADS_1


Angel perlahan membuka ke dua matanya menatap Ariel dengan tatapan sendu yang membuat Angel semakin sexy di mata Ariel.


"I love you too Ariel."


Ariel kembali memeluk tubuh Angel. "Musuh terbesarku adalah pangeran Iblis, dia sangat kuat. Dan dia juga yang membuat banyak makhluk kegelapan berkhianat, besok aku akan memberimu kekuatan karena sesungguhnya kemarin aku belum memberikan kekuatanku."


Angel melepaskan pelukan Ariel dengan kening berkerut. "Lalu yang kemarin itu apa? Bukankah aku menjadi semakin kuat karena kau telah memberikanku kekuatan?"


Ariel menggeleng. "Belum Angel. Tubuhmu tersegel, ada seseorang yang menyegel tubuh dan kekuatanmu. Aku hanya membukanya saja."


"Bagaimana mungkin? Aku kan hanya manusia biasa."


Ariel menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Awalnya aku juga berfikir seperti itu, aku sudah mencari tahu tentang dirimu namun aku baru mengetahuinya tadi saat aku menjilati luka di tanganmu. Masih ada sedikit sisa darahmu yang keluar membuat aku kini tahu siapa sebenarnya dirimu."


"Aku siapa?" Angel terlihat sangat penasaran dan tak sabar.


"Aku dapat merasakan jika darah yang mengalir di tubuhmu adalah percampuran darah antara manusia dengan bangsa Elf."


Kening Angel semakin berkerut dalam. "Bangsa Elf? Apa lagi itu?"


Ariel kembali mendekap tubuh Angel. "Ssstttt ini sudah sangat larut, istirahatlah. Aku juga sedang mencari tahu lebih jelas lagi tentang dirimu."


Angel akhirnya mengangguk patuh.


"Kau ingin tidur di sini atau di kamarmu sendiri?" Tanya Ariel sebelum ia memejamkan mata.


Ariel menyentil dahi Angel. "Dasar gadis nakal, awas saja nanti kau akan ketagihan tidur di kamarku terus."


Angel terkekeh pelan. "Aku tidak peduli, anggap saja ini sebagai bayaran kau sudah tinggal di rumahku secara gratis."


"Aku kan sudah memberimu banyak uang."


"Aku tidak minta."


Ariel mencium dahi Angel lalu memejamkan matanya. "Baiklah aku kalah. Good night my Angel."


"Good nihgt my prince."


Ting


Ariel menjentikkan jarinya dan lampu kamar pun padam dan yang tersisa adalah lampu tidur yang temaram.


Kali ini Ariel akan egois dan memilih untuk mendengarkan isi hatinya. Ia ingin mencintai dan bahagia bersama Angel walaupun nanti ia harus mengahadapi keluarganya dan rakyatnya yang mungkin akan menolak dan menentangnya. Untuk saat ini Ariel benar-benar tidak ingin memikirkan hal itu terlebih dahulu.


Di bumi ini ia harus menyelesaikan terlebih dahulu tugasnya untuk menghabisi para makhluk kegelapan yang berkhianat.

__ADS_1


.


.


*  *  *


Di alam kegelapan. 


Sudah satu bulan Ariel turun ke bumi dan Ariel sudah memberi kabar kepada keluarganya jika ia dalam keadaan baik-baik saja dan sudah hampir lima puluh makhluk kegelapan yang berkhianatbyang telah ia habisi.


Namun saat ini kondisi Raja Kegelapan sedang tidak sehat.


"Bagaimana kondisi Raja saat ini tabib?" Tanya Alice yang sejak tadi menunggu di depan pintu kamar ayahnya.


"Masih sama tuan putri, Raja hanya sakit biasa namun anehnha tidak ada satu obatpun yang berhasil menyembuhkan beliau." Tabib kerajaan menjelaskan kepada Alice.


Tentu saja Alice merasa sangat aneh, sudah satu minggu ayahnya sakit dan kesehatannya semakin menurun. Akhirnya Daniel lah yang menggantikan sementara posisi ayahnya dalam setiap rapat dan mengambil keputusan meskipun Daniel akan bertanya dulu kepada Ayahnya dan Ibunya.


Dari kejauhan tampak Daniel sedang berjalan dengan di temani Leona di samping kiri Daniel, bersama seorang kasim dan beberapa pengawal istana yang mengikuti Daniel dari belakang.


"Bagaimana keadaan Raja hari ini Tabib?" Tanya Daniel setelah berdiri di dekat Alice dan tabib istana.


Sang Tabib segera memberi penghormatan kepada Daniel sebelum menjawab pertanyaan sang putra Mahkota kerajaan kegelapan. "Ampuni saya yang mulia putra mahkota, Raja Arthur masih belum sembuh. Saya dan beberapa tabib kerajaan sudah mencoba semaksimal mungkin namun usaha kami belum membuahkan hasil."


Daniel terlihat gusar, ia sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya. Jujur saja Daniel belum siap menggantikan posisi ayahnya karena ia merasa belum layak. Hanya ayahnya lah yang layak menduduki posisi rajaa kegelapan saat ini.


"Ya sudah, terimakasih kalian para tabib sudah berusaha sebaik mungkin. Aku ingin masuk ke dalam dan melihat kondisi ayah." Daniel kembali berjalan masuk ke dalam kamar Raja Kegelapan di temani Leona dan Alice. Tabib kerajaan kembali ke ruangan mereka dan para pengawal berjaga di sekitar kamar Raja Kegelapan.


"Ibunda."


Suara Daniel membuat Clara yang sedang duduk mengamati suaminya yang tengah tertidur menoleh ke arah Daniel.


"Putraku, Alice, dan Leona kalian ada di sini."


"Kami ingin melihat konsisi ayahanda." Jawab Alice yang kini duduk di tepi ranjang ayahnya.


Daniel berdiri di samping Clara sedangkan Leona mengganti bunga yang layu di vas bunga yang ia bawa beberapa hari yang lalu dengan bunga yang baru dan terlihat sangat segar dan wangi.


"Terimakasih Leona kau selalu membuat kamar ini menjadi wangi dan segar. Kau memang calon menantu yang baik. Aku senang sekali kau menjalin hubungan dengan Daniel." Ucap Clara sambil melambaikan tangan ke arah Leona, menyuruh gadis itu mendekat ke arahnya.


Leona pun berjalan mendekat dan duduk di sebelah Clara. "Ini sudah menjadi kewajiban saya Ratu."


Clara menggenggam tangan Leona. "Sudah ku bilang beberapa kali, panggil aku Ibunda seperti Alice dan Daniel. Kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri."


Leona tersenyum lembut. "Baiklah Ibunda."

__ADS_1


Alice menatap Leona menyelidik, ada rasa aneh didalam hati Alice tentang Leona namun Alice belum dapat mengetahui alasannya.


Alice hanya merasa tidak rela saja jika kakaknya sampai menikah dengan Leona meskipun Leona selalu terlihat seperti gadis yang lemah lembut dan selalu bersikap baik kepada semua orang termasuk kepada para pengawal dan pelayan.


__ADS_2