
"Dia siapa?" Tanya Angel saat akan mulai makan malam bersama Ariel di rumah Angel.
"Dia adalah Ethan, asisten pribadiku yang baru. Dia sekarang tinggal di sebelah rumah kita." Jawab Ariel memperkenalkan Ethan.
Dengan sopan Ethan sedikit membungkukkan badannya lalu mengulurkan tangannya kepada Angel. "Nama saya Ethan nyonya."
Angel menerima uluran tangan Ethan. "Panggil saja aku Angel." Angel kembali menoleh ke arah Ariel. "Jika dia tinggal di sebelah kita lalu tetangga kita yang berisik itu apakah sudah pindah?"
Tentu saja Angel sangat penasaran karena selama bertahun-tahun ia sudah terbiasa mendengar percekcokan tetangganya dan suara barang-barang pecah hampir setiap hari.
"Mereka belum pindah sayang. Maksudku adalah Ethan tinggal rumah sebelah kiri kita yang baru saja di jual sekitar tiga hari yang lalu." Ariel memang sengaja membawa Ethan ke tempat yang baru, selain untuk menjaga Ethan karena bisa saja mantan bosnya akan memerintahkan anak buahnya untuk mencari dan menghabisi Ethan juga agar lebih dekat jarak rumah mereka sehingga Ariel lebih mudah jika mencari Ethan.
"Oh jadi begitu." Angel menganggukkan kepala tanda ia sudah mulai mengerti sekarang.
Ariel memeluk pinggang Angel. "Tidak keberatan kan jika aku mengundang Ethan untuk makan malam bersama kita?"
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku keberatan. Baiklah kalau begitu sebaiknya kita menuju ruang makan sebelum masakanku menjadi dingin." Angel pun mengajak Ethan untuk ikut keruang makan dan makan malam bersama mereka berdua.
.
.
* * *
Daniel tengah merenung di ruang kerjanya, banyak sekali masalah yang harus ia fikirkan. Selain masalah kerajaan kegelapan, ia juga pusing memikirkan kondisi ayahnya yang kian menurun dari hari ke hari. Bahkan bisa di katakan jika kondisi Raja Arthur sedang kritis.
"Apa kau sudah mencoba menghubungi Ariel?" Tanya Daniel kepada Alice yang sengaja Daniel perintahkan agar Alice datang ke ruang kerjanya.
Alice menghempaskan dirinya di sofa ruang kerja Daniel. "Sudah namun tetap saja Ariel mengabaikan panggilan dariku." Alice mendengus kesal karena sudah berulang kali ia mencoba menghubungi adiknya tersebut namun selalu gagal.
Daniel menghembuskan nafas lelah. "Padahal aku ingin meminta pendapat darinya juga tentang masalah ini."
"Apa sudah memikirkan baik-baik tentang dirimu naik tahta dan permintaan para menteri agar kau segera menikah dengan Leona?" Alice tahu semua ini tidaklah mudah bagi Daniel, namun adik mereka yang sedang berada di bumi sangat sulit untuk di hubungi walaupun mereka tahu jika Ariel akan baik-baik saja selama di bumi namun tetap saja, Ariel seolah-olah lebih betah berada di bumi dari pada di tempat asalnya.
Daniel menatap langit-langit ruang kerjanya, ia sendiri bingung dengan perasaannya pada Leona. Hambar, yahh Daniel hanya dapat merasakan perasaan tersebut kepada Leona.
Leona cantik, baik, walaupun terkadang gadis itu bisa saja sedikit agresif namun rupanya itu saja tidak cukup untuk membuat hati seorang Daniel berdebar kencang.
"Aku hanya ragu, aku tidak yakin mampu menikah dengan Leona." Jawab Daniel terhadap pertanyaan Alice yang membuatnya sakit kepala.
Prokkk
__ADS_1
Prokkk
Alice bertepuk tangan membuat Daniel sampai berjengit kaget dan menatap kesal ke arah Alice. "Bagus! Jika seperti itu jangan nikahi Leona." Ucap Alice dengan penuh semangat.
Daniel mengerutkan kening tak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada maksud apapun, aku hanya kurang setuju saja jika kau menikah dengan Leona?"
"Kenapa?"
"Karena aku curiga kepadanya. Namun Ibunda sangat menyukai gadis itu, sungguh menjengkelkan." Dengus Alice tanpa ragu menunjukkan ketidaksukaannya pada Leona.
Daniel mengangguk setuju dengan Leona. "Aku juga merasa heran kenapa Ibunda bisa sangat menyukai Leona dan setiap hari membawa Leona ikut menjaga Ayahanda di kamar beliau."
Alice menaikkan sebelah alisnya. "Aku fikir hanya diriku saja yang bisa melihat keanehan itu."
Ruangan terasa hening, baik Alice maupun Daniel sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Para menteri sudah hampir setiap hari mendesak agar Daniel segera naik tahta menggantikan ayahnya, Raja dan Ratu pun sudah setuju hanya saja Daniel masih beljm berkeinginan menjadi seorang raja.
Seandainya saja Ariel bersedia menjadi Raja tentu saja Daniel dengan mudah menyerahkan posisinya kepada Ariel.
Tiba-tiba Daniel berdiri dari duduknya dan menoleh ke arah Alice. "Aku akan turun ke bumi menjemput Ariel."
Mata Alice membulat sempurna. "Kau gila!!!" Pekik Alice, Alice segera berdiri menghampiri Daniel.
"Satu hari saja Alice, aku mohon bantu aku. Kau adalah adikku yang paling baik." Rayu Daniel mencoba menggoyahkan pendapat Alice.
Alice menggeleng keras. "Tidak bisa, aku tidak setuju.".
Alice berbalik dan segera keluar dari ruang kerja Daniel meninggalkan Daniel seorang diri yang semakin kacau fikirannya.
Daniel menghembuskan nafas lelah, ia berjalan gontai keluar dari ruang kerjanya menyusuri karidor tanpa pengawal yang mengikutinya, bahkan kasim yang selalu mengukuti Daniel pun ia larang untuk mengikutinya kali ini.
Langkah Daniel terhenti saat ia telah berada di kolam teratai yang sangat cantik, bahkan kunang-kunang pun berterbangan di atasnya seolah berlomba mempercantik kolam teratai tersebut saat malam hari.
Daniel mengeluarkan selembar foto dari dalam cincin dimensinya, di mana di sana terdapat potret dirinya dengan seorang gadis berkacamata yang sangat polos.
Flashback
Beberapa tahun lalu Daniel pergi ke bumi untuk sebuah tugas, di sana ia bertemu dengan seorang gadis yang sedang di dekati oleh dua pria mabuk yang mencoba untuk mengambil tas gadis tersebut secara paksa.
Suasana malam membuat jalanan di sekitar menjadi sepi, bahkan tidak ada orang yang lewat sama sekali. Sepeda gadis tersebut tergeletak begitu saja di jalanan, mungkin perbuatan dua preman itu.
__ADS_1
"Hey lepaskan gadis itu!!!" Teriak Daniel membuat dua preman dan gadis tersebut segera menoleh ke arah Daniel.
"Siapa kau? Tidak perlu ikut campur urusan kami jika kau tidak ingin menyesal!" Hardik salah satu preman dengan tato di seluruh area tangannya.
"Pergilah selagi kami masih mengampunimu." Ucap preman yang tubuhnya sangat kurus dan di lihat dari cara berdiri pria tersebut cukup tidak stabil karena terpengaruh alkohol.
Daniel bergerak maju dengan tangan yang terkepal erat menuju ke tiga orang tersebut.
Duaghh
Duaghh
Tanpa di sadari oleh ke dua preman tersebut, Daniel melakukan penyerang terhadap mereka sehingga perhatian mereka kembali pada gadis yang hendak mereka jarah. Daniel memukul wajah pria yang bertato dan menendang pria kurus sampai jatuh terjengkang.
Daniel segera menarik tangan gadis berkacamata itu ke balik punggungnya. "Tetaplah disini aku akan menolongmu." Ucap Daniel dengan suara rendah.
"Bangsat!!! Beraninya kau memukulku!!!" Pria bertato terlihat sangat marah dan maju bersama pria bertubuh kurus untuk menyerang Daniel.
Duaghh
Duaghh
Walaupum Daniel tidak sekuat dan sehebat Ariel namun untuk merobohkan dua preman abal-abal seperti ini, itu hal yang mudah bagi Daniel.
Dalam waktu singkat Daniel telah mampu membuat ke dua preman tersebut kocar-kacir.
Daniel mengambil sepeda milik gadis berkacamata lalu memberikannya kepada gadis tersebut. "Kenapa sudah malam masih berada di luar?"
Gadis berkacamata segera meraih sepedanya. "Aku baru saja pulang dari bekerja paruh waktu, aku sungguh berterimakasih kepada Anda tuan karena telah menolongku. " Bagaimaana jika aku mentraktir mu semangkuk mie panas di dalam dinginnya malam ini." gadis berkacamata tersenyum lebar, senyum yang mampu membuat hati Daniel berdebar .
"Tidak perlu, aku tidak lapar." Tolak Daniel namun baru saja selesai berbicara, perut Daniel berbunyi keras yang membuat Daniel sangat malu.
Krukkkk
Krukkkk
Wajah Daniel berubah merah karena malu, gadis berkacamata tersenyum lebar lalu menuntun sepedanya. "Ayo ikut aku, kita akan makan mie ramen panas yang ada di toko ujung jalan sana.
Akhirnya Daniel mengikuti langkah gadis berkacamata. " Hei tunggu!!! Siapa namamu?"
"Angel, dan kau?"
__ADS_1
"Namaku Daniel."
"Ayo Daniel, perutku juga sudah lapar."