Sayap Hitam (Cinta Terlarang)

Sayap Hitam (Cinta Terlarang)
31. Pertempuran part. 2


__ADS_3

Saat mengetahui musuhnya telah berhasil kabur, pria berkepala plontos segera menyingkir dari tempat perseteruan dengan di kawal dua anak buahnya.


Salah satu anak buah pria berkepala plontos melihat ke mana arah kaburnya musuh dari bosnya tersebut. Lalu mereka bertiga mengejar kepergian ketua Gangster si pria berkumis tebal.


"Tunggu!" Perintah pria berkepala plontos menghentikan larinya lalu diikuti oleh dua anak buahnya.


Pria berkepala plontos melihat ada seorang gadis cantik yang berdiri tak jauh dari musuhnya namun musuhnya tersebut terlihat tengah kesakitan.


Kecantikan gadis yang terlihat bingung dan tengah ketakutan membuat langkah pria berkepala plontos mendekat ke arah gadis itu.


"Kalian periksa dia." Perintah pria berkepala plontos kepada dua anak buahnya yang berdiri di belakang bos mereka. "Aku akan menyelidiki siapa gadis itu."


"Baik boss!!!" Jawab kedua anak buah pria berkepala plontos dengan serentak.


"Kenapa nona berada di sini sendirian?" Tanya pria berkepala plontos setelah ia berdiri di dekat Angel.


"Sa_saya tersesat tuan, lalu saya melihat beberapa orang berkelahi. Sa_saya sangat ketakutan." Jawab Angel dengan terbata memulai dramanya.


Pria berkepala plontos tersenyum miring. "Ikutlah denganku, akan ku bawa kau keluar dari tempat ini." Pria berkepala plontos tersenyum miring dengan berbagai pikiran mesum yang telah merajai otaknya. Apalagi melihat keindahan kaki Angel serta dada Angel yang membusung. Hanya dengan memikirkannya saja membuat senjata pusakanya tegak mengacung.


Angel menampilkan senyum menawan sekaligus menggoda. "Terimakasih tuan, apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan tuan?"


"Ha ha ha ha ha itu sangat mudah cantik." Jawab pria berkepala plontos tertawa keras.


Namun tiba-tiba terdengar teriakan keras dari pria berkumis tebal. "Jangan percaya dengan kata-kata ****** itu!!!"


Suara dari pria berkumis tebal membuat Angel dan pria berkepala plontos seketika menoleh.


"Tunggu sebentar nona cantik, aku akan membereskan tikus kecil terlebih dahulu." Pamit pria berkepala plontos kepada Angel.


Angel hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


Pria berkepala plontos mendekat ke arah musuhnya yang sudah duduk tak berdaya dengan diapit oleh ke dua anak buahnya.


"Ada apa dengannya?" Tanya pria berkepala plontos kepada anak buahnya.


"Ada seseorang yang telah menembak satu tangan dan ke dua kakinya bos." Jawab salah satu anak buah pria berkepala plontos.


Kening pria berkepala  plontos berkerut. "Siapa yang melakukannya?"


"Gadis ****** itu yang melakukan ini padaku!!!" Pekik pria berkumis tebal yang justru mendapat ejekan dari musuh beserta ke dua anak buahnya.


"Kau pikir aku akan percaya? Ha ha ha ha ha." Ledek pria berkepala plontos kepada musuhnya.


"Kalian memang harus percaya." Suara lembut Angel membuat semua yang ada di sana seketika menoleh secara bersamaan.


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


Angel menembaki kaki pria berkepala plontos dan juga ke dua anak buahnya.


"Aaakkkhhhh!!!" Teriak ketiga orang tersebut.


Belum sempat hilang rasa terkejut mereka bertiga dengan tindakan Angel, gadis itu kini berlari dengan cepat kearah mereka dengan membawa sebuah pedang yang tiba-tiba muncul ditangan Angel dan di genggam dengan erat oleh gadis itu. Itulah keistimewaan pedang biru yang diberikan oleh Ariel pada Angel, pedang tersebut bisa hadir dan menghilang sesuai keinginan hati sang pemiliknya yaitu Angel.


Salah satu anak buah pria berkepala plontos masih sempat untuk mengambil pistol di balik punggungnya namun tanpa ampun Angel segera mengayunkan pedangnya pada tangan anak buah pria berkepala plontos tersebut.


Crasshh


Darah mengucur dari lengan anak buah pria berkepala plontos yang terputus oleh pedang biru.


"AKKHHH!!!!" Lengkingan suara anak buah pria berkepala plontos memecah keheningan malam.


Semua orang yang ada di sana menelaan ludah kasar, khawatir dengan nasib mereka di tangan gadis cantik di depan mereka yang mengancam keselamatan mereka.


"Benar kan yang ku bilang, salah mu sendiri kau tidak percaya apabyang ku katakan." Sindir pria berkumis tebal.


"Tutup mulutmu brengsek!!!" Marah pria berkepala plontos.


Angel berbalik menatap pria yang tengah berdebat itu. "Husshh jangan berisik, sekarang giliran kalian."


"Tu_tunggu gadis cantik! Kenapa kau melakkukan semua ini pada kami. Tolong lepaskan aku, aku bisa memberikanmu banyak uang asal kau mau melepaskanku." Ucap pria berkepala plontos dengna percaya diri.


Angel bediri tepat di hadapan pria berkepala plontos. "Aku tidak butuh uangmu. Akku melakukan semua ini karena tangan kotor kalian yang melakukan banyak kejahatan terutama menjual para gadis untuk menjadi pelacur."


Pria berkepala plontos dan pria berkumis tebal melebarkan bola matanya, terkejut jika gadis cantik di depan mereka dapat mengetahui kejahatan mereka.


"Bukan." Jawab Angel seraya menyeringai. "Aku adalah orang benci terhadap perbuatan kalian dan ingin memberi hukuman untuk kalian."


Crasshh


"AAAKKHHH."


Setelah itu Angel memotong setiap lengan orang yang ada di sana, dan tak lama kemudian terdengar suara sirine polisi datang ke dermaga tersebut.


"Akui kejahatan kalian dan jangan melakukannya lagi atau aku akan datang dengan hukuman yang akaan lebih mengerikan lagi untuk kalian semua.


"Ba_baik aku akan bertaubat nona. Tolong ampuni nyawaku." Rengek pria berkepala plontos bersamaan dengan pria berkumis tebal.


Angel tersenyum puas namun tepat paada saat itu juga sudut matanya menangkap bayangan salah satu sosok makhluk kegelapan yang tengah berlari melarikan diri.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Angel segera melenyapkan pedang yang ada di tangannya dan berlari mengejar makhluk kegelapaan tersebut.


.


.


*  *  *


Pertarungan antara Ariel dan Adolf cukup terjadi cukup sengit. Adolf membentang sayapnya dan terbang ke atas langit, disusul oleh Ariel walaupun masih ada satu lagi makhluk kegelapan yang tersisa dan kabur namun Ariel lebih memilih mengejar Adolf dari pada makhluk kegelan yang kabur tersebut.

__ADS_1


Trang


Trang


Trang


Bunyi senjata saling beradu terdengar cukup kuat di atas langit sana, mereka mengerahkan segela kekuatan yang mereka miliki terutama Adolf dalam menghadapi Jenderal dari kaumnya tersebut.


Beberapa kali Adolf terlihat kewalahan dalam menghadapi Ariel, dan beberapa kali itu pula pedang Ariel mampu menggores tubuh Adolf. Namun tubuh Adolf tidak langsung terbakar karena kuatan yang ia miliki cukup tinggi.


Adolf mengayunkan pedangnya ke arah tengah dengan menargetkan bagian perut Ariel.


Trang


Dengan mudah Ariel dapan menangkis pedang yang sedikit lagi mengenai perutnya.


Duaghh


Ariel menendang betis Adolf membuat pria itu langsung terduduk dan Ariel segera mengayunkan pedangnya ke arah leher Adolf, namun dengan cepat Adolf sedikit memundurkan tubuhya dan menengadahkan kepalanga hingga pedang hitam pekat milik Ariel mampu melewati kepalanya.


Wusshh


Adolf terbang kembali menghindari Ariel, dan tentu saja Ariel segera mengejar Adolf dengaan mudah karena kekuatan Ariel di atas kekuatan Adolf.


Trang


Trang


Crashh


Ariel melukai sayap Adolf, membuat Adolf mau tidak mau kembali turun ke bumi karena jika tidak ia sebentar lagi pasti akan di buat jatuh ke bumi tanpa ampun.


Adolf mendarat bukan di dermaga yang tadi menjadi tempat pertarungan mereka, namun di sebuah pinggiran kota yang terlihat sepi dan gelap di tempat tersebut.


Ariel mengumpulkan kekuatan ditelapak tangannya dan mengarahkan ke Adolf, lalu seperti ada kilat yang muncul dari telapak tangan Ariel menyerang Adolf.


Adolf berusaha menghindar dan berkelit namun sialnya serangan ariel mengenai bahunya membuat Adolf tanpa sengaja menjatuhkan pedangnya.


Adolf mundur beberapa langkah, ia menatap sengit ke arah Ariel yang mampu membuat diriya terpojok.


"Apa kau sama sekali tidak menyesal Adolf?"


Adolf hanya tersenyum miring. "Memaangnya jika aku menyesal kau akan melepaskanku?"


Ariel menggeleng santai dengan wajah datarnya. "Tentu saja tidak. Tidak ada pengampunan untuk seorang pengkhianat."


"Ha ha ha ha ha lalu untuk apa aku menyesal?"


"Setidaknya kau bisa merenungi kesalahanmu dan mengakui jika salah, meminta maaf kepada ke dua orang tuamu karena telah mengecewakan mereka." Jawab Ariel yang menusuk relung hati terdalam seorang adolf. Namun lagi-lagi Adolf segera membuang jauh-jauh rasa menyesal yang merambati hatinya.


"Aku tidak melakukan kesalahan." Sangkal Adolf.

__ADS_1


Ariel kembali memegang erat pedang hitam miliknya dengan ke dua tangannya, siap melakukan serangan. "Hatimu memang telah berubah seperti seorang iblis. Maka terimalah hukuman yang aku berikan untukmu Adolf."


__ADS_2