
"Kita mau kemana?" detik itu pula mereka sudah sampai di bantaran sungai keluapan,tidak tau apa yang Wen Rui rencanakan.
"Sudah ikut saja,akan ku tunjukkan sesuatu yang menarik pada mu" segera ia menarik tangan Fei Fei agar membuntuti langkahnya untuk lebih ke tepi sungai keluapan.
"Hahh?"
"Lihat!" serunya seraya menduding langit yang gelap,spontan mata Fei Fei pun mengikuti arah telunjuknya menunjuk.
"Wahhhh!" ia langsung terkagum melihat pemandangan yang terlukis indah di langit,tepat diatas sungai keluapan,Fei Fei lantas maju beberapa langkah untuk melihatnya lebih jelas.
"Benar-benar pemandangan yang indah..."matanya sampai tak berkedip melihatnya,ia sama sekali tak menyangka akan ada semburat cahaya aurora yang memanjakan mata di sini,Fei Fei pikir pemandangan seperti ini hanya ada di dongeng-dongeng saja namun kali ini ia benar-benar girang karena melihatnya langsung.Tanpa sadar sebuah lengkung tipis terukir di sudut bibir Wen Rui,ia juga ikut senang melihat Fei Fei terus tersenyum.
" Gadis yang lugu"gumamnya sendiri.
"Naga terbang!kemarilah" sembari menepuk-nepuk tanah di sebelah yang diduduki nya,Wen Rui tersenyum sebelum akhirnya ia menghampiri Fei Fei dan duduk berdampingan dengannya.
"Bagaimana,indah bukan?"
"Em!(mengangguk)sangatttt indah" diiringi senyum mengembang dan menampakkan deretan gigi kelincinya.
"Aku ingin tahu,siapa yang bisa membuat pemandangan seindah ini?"seraya mengalihkan wajahnya kearah Wen Rui.Wen Rui malah terkekeh mendengar pertanyaan Fei Fei.
" Tidak ada yang bisa membuat pemandangan seperti ini,pemandangan ini tercipta dari alam dengan sendirinya lagipula tidak ada seorangpun yang mampu membuat keindahan seperti ini"Fei Fei lantas mencebikkan bibirnya.
"Yaa mungkin saja" celetuknya yang salah menebak.
"Dahulu Ibuku pernah bilang 'di setiap kegelapan akan selalu ada cahaya penerang yang menuntun langkahmu menuju kebajikan' dan setelah aku melihat cahaya indah ini sekarang aku baru sadar perkataan ibuku memang benar" diiringi tersenyum palsu untuk menyembunyikan rasa sedih yang ia pendam.
"Kau benar,segelap apapun dunia pasti selalu ada setitik cahaya yang menyinari di dalam kegelapan'.Kutanya padamu,apa kau sering kemari untuk menikmati cahaya seperti ini?"tanyanya antusias.
"Ya,aku selalu kemari disaat suasana hatiku sedang tidak baik,hanya disini aku dapat menghilangkan semua kegelisahan dan menenangkan fikiranKu" ucapnya setelah menghela nafas panjang.
"Jadi bisa dikatakan ini adalah tempat favorit mu?"
"Favorit?"
"Emm maksud ku tempat kesukaan atau tempat yang berarti bagi mu,iya begitu"
"Bisa dikatakan seperti itu"
"Baiklah,mulai sekarang ini akan menjadi tempat favorit ku juga,bagaimana?setuju?"
Wen Rui tersenyum lalu mengangguk pelan,Fei Fei mengepalkan tangan kirinya dan menunjukkannya kepada Wen Rui,Wen Rui yang tak paham dengan maksud Fei Fei pun lantas meniru apa yang Fei Fei lakukan,setelah Wen Rui melakukan hal yang sama dengannya ia langsung meninju kepalan tangan Wen Rui pelan,ternyata oh ternyata ia sedang melakukan tos ala Abg zaman now.
__ADS_1
"Gadis bodohh!" umpat nya lirih.Fei Fei terus menengadahkan kepalanya ke arah langit menikmati indahnya semburat cahaya berwarna hijau menyala dan hamburan bintang yang menghiasi langit malam juga di tambah dengan hembusan o angin malam yang menerpa wajah ayunya.Sepersekian detik kemudian wajah ayu itu mulai merasakan kantuk yang teramat berat,hingga tanpa sadar kepalanya terjatuh dan berakhir di pundak Wen Rui,dengan beberapa kerjapan terakhir matanya sudah mengatup sempurna dan tidak terbuka lagi.
Wen Rui memalingkan wajahnya kearah Fei Fei yang nyaman bersandar di pundaknya,sepasang matanya menatap lekat wajah imut yang sedang tertidur pulas itu,mengamati setiap inci dari wajah yang begitu damai dan menenangkan hatinya,melihat ada segelintir rambut yang menutupi wajah Fei Fei karena terkena hembusan angin Wen Rui pun menyingkirkannya dengan cara menyelipkannya kebelakang telinga dengan sentuhan yang lembut.Fei Fei sudah tertidur dengan pulasnya kini tersisa dia seorang yang masih menikmati indahnya malam yang terus berjalan menuju fajar.
Pekatnya malam akan selalu berakhir bila fajar tiba dan sekarang cahaya fajar mulai tampak di ufuk timur dengan balutan cahaya oranye yang begitu menyilaukan mata.Zishu,dewa api dan juga pimpinan para dewa saat ini ia sedang ber kultivasi semalam suntuk untuk meningkatkan sedikit ilmu sihirnya.
"Yang mulia" Xio Yi membungkuk hormat dengan tangan yang di kepalkan di depan dada.
"Ada apa?" tanya Zishu tanpa merubah sedikitpun anggota tubuhnya.
"Yang mulia,diluar ada utusan dari istana Kekaisaran yang ingin menyampaikan sebuah dekrit dati istana langsung" jelasnya.
"Ketua Zhao!" pria tua berpakaian khas pejabat istana pada waktu itu memberikan salam hormat pada Zishu.
"Menteri Mo" Zishu juga membungkuk hormat padanya.
"Maaf mengganggu waktu ketua Zhao,saya kemari atas perintah Kaisar untuk menyampaikan dekrit yang beliau berikan kepada anda!" terangnya.
"Silahkan" zishu lantas bersujud di hadapan Menteri Mo yang mulai membuka dekrit dari Kaisar dan membacakannya dengan suara lantang.
"**Bertepatan di hari ulang tahun ratu Shu,maka dengan ini Kaisar mengundang langsung ketua Zhao beserta nyonya untuk hadir di perjamuan istana besok!demikian dekrit ini di buat**" dengan suara lantang Menteri Mo membacakan isi dari dekrit yang ia bawa.
__ADS_1
"Dengan senang hati Hamba menerima dekrit ini!"Ucap Zishu masih di posisi sujud,setelah itu ia berdiri berhadapan dengan Menteri Mo.
" Kalau begitu saya permisi dulu ketua Zhao "izinnya undur diri.
" Silahkan Menteri Mo "Zishu mempersilahkannya pergi kemudian Xio Yi yang mengantarkannya sampai di depan pintu.
" Yang mulia,apa yang harus kita lakukan sekarang?apa besok kau akan datang ke perjamuan seorang diri?"
"Tidak mungkin itu kulakukan,jika Kaisar tahu dia pasti akan kecewa"
"Perintahkan hamba yang mulia,hamba selalu siap melakukan apapun perintah yang mulia!"
"Kita harus bersandiwara untuk mengajaknya kembali,setelah perjamuan selesai kita akan kembali ke rencana awal!"
"Baik yang mulia hamba mengerti"
"Sekarang kita cari dia terlebih dahulu,apa kau tau di mana tempat yang sering dia kunjungi?"
"Hamba tidak tahu pasti yang mulia,tapi kita bisa mengeceknya satu persatu"
"Baiklah kita pergi sekarang!"
❤
__ADS_1