
Bagaimana dengan kabar dua sahabat Fei Fei di luar sana? apa mereka sehat-sehat aja?
Dari pada penasaran yuk kita beralih sejenak pada dua sejoli yang saling memiliki rasa tapi tak ada keberanian tuk mengutarakannya pada si idaman, eh salah maksud cuma salah satu dari mereka yang ada rasa.
"(Menghembuskan nafas berat) Xin Yan—Xin Yan, mengapa kau terlahir bodoh hah?! kau selalu menginginkan apa yang mustahil kau miliki? dirimu yang bodoh dan statusmu yang rendah ini tak pantas disandingkan dengan seorang naga hebat berhati malaikat seperti dia! " batin Xin Yan menertawakan dirinya sendiri seraya meluapkan kekesalannya pada air sungai keluapan dengan cara melemparkan bebatuan ke dalamnya.
"Mustahil! mustahil! mustahilllll! " umpat nya ketika satu persatu batu ia lemparkan dengan penuh emosi.
"Tak ada yang mustahil jika kau berusaha sekuat tenaga, karena kita abadi maka kitalah yang menentukan takdir kita sendiri" ucap Wen Rui yang membuat Xin Yan tersentak dan salah tingkah dibuatnya.
"Wen Rui, kenapa kau ada di sini? " tanya Xin Yan sebagai pelarian dari salah tingkahnya agar tak terlihat mencolok seraya melemparkan senyum yang dipaksakan.
"Aku? emm, aku merasa hatiku sangat ingin kemari kupikir di sini adaaaaa...... ternyata kau yang ada di sini" jawabnya dengan pandangan lurus kearah luasnya sungai keluapan.
"Fei Fei? " Wen Rui lantas tersenyum samar namun masih terlihat jelas di netra Xin Yan, senyumannya itu sudah menjawab semuanya tanpa harus mulut mengeluarkan kosakatanya.
"Sebegitu dalamkah kau mencintainya? bahkan kepada gadis yang telah bersuami kau masih tak menyerah?! " batinnya bersuara.
"Hanya dia orang pertama yang mampu menyentuh jiwaku dengan naluri wanitanya" jelas Wen Rui.
"Bukankah dia sudah menikah? apa kau ingin merampas nya dari saudaramu sendiri? "
"Merampas? aku paling benci dengan yang namanya merampas! " ucapnya sedikit menekan kata merampas sebab kembali teringat luka lamanya dari kata 'merampas' itu.
"Tentu tidak, aku hanya perlu bersabar dan menunggu sampai dia mencampakkan nya sendiri. Karena pernikahan yang dipaksakan dan bukan atas dasar cinta tidak akan pernah bertahan lama" seuntai kata itu mampu membuatnya tersenyum miring juga mampu membuat sebuah hati tercincang dengan sembilu tajam.
"Lalu apa kau berencana menyatakannya pada Fei Fei? " Xin Yan merasa sesak di dadanya ketika mengucapkan kalimat itu, hatinya bagai luka lama yang tersiram air garam.Perih!
__ADS_1
"Belum, aku juga tidak tau bagaimana reaksi nya nanti ketika aku mengatakan yang sebenarnya"
"Ternyata kita sama, berani mencintai tapi tak ada nyali untuk mengutarakannya" gumamnya Fei Fei lirih sambil menengadahkan wajahnya kearah langit, sekuat tenaga ia menahan buliran kristal cair yang menyesakkan pelupuk matanya agar tak luruh saat ini.
"Kau bilang apa? "
"Ouh, tidak ada apa-apa" sangkalnya secepat kilat.
"Oh ya, ngomong-ngomong apa yang sebut 'mustahil' tadi? " tanya Wen Rui yang kini beralih menatap Xin Yan dengan sorot meminta jawaban atas pertanyaannya.
"Bukan apa-apa, hanya masalah kecil" sahutnya seraya memalingkan wajah pertanda menutupi sesuatu.
"Apa kau butuh bantuan? jika iya aku bisa membantumu"
"Tidak usah trimakasih, masalah ku aku bisa menyelesaikannya sendiri! "
"Hah? " Wen Rui menghentikan langkahnya ketika Xin Yan terlalu lambat merespon ucapannya dan masih terpaku di tempat semula.
"Ayo! " ajaknya lagi setelah berbalik badan menghadap Xin Yan.
"Ohh.... " Xin Yan pun menyusul langkah Wen Rui dan mereka berdua berjalan berdampingan menuju tempat tersebut.
"Dewa api? gimana bisa dia coba?, dan kunci ku, bagaimana caraku merenggut nya dari si rubah itu?. Arghhh! aku benar-benar sudah kehabisan akal sehat!! " teriaknya histeris di atas jembatan seorang diri sembari mengacak rambutnya kasar. Beruntung malam ini tak banyak pelayan melintas, jadi tak terkesan membuat onar.Fei Fei benar-benar frustasi kali ini, sudah seharian full dia berada di dalam mansion tanpa melakukan apapun dan tadi, baru saja di dapatinnya fakta baru tentang benda terakhir yang menjadi kunci jalan kembalinya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku mencurinya saja? " Fei Fei tampak berfikir keras tentang ide yang terlintas di benaknya itu.
"Tapi jika dia mengetahuinya lalu membunuhku gimana? "lagi-lagi raut kecewa tergambar jelas di wajahnya kalau membayangkan risiko dari opsi itu.
" Tidak—tidak—tidak, aku tidak boleh mati sebelum berhasil pergi dari sini! wahai para ikan, apa kalian tahu solusinya? "tanya Fei Fei seraya mendongak kebawah menatap heningnya air kolam.
" Mengapa kau di sini malam-malam begini? "tanya Zishu yang sengaja melintas sebab dia sudah memperhatikan Fei Fei dari kejauhan sejak tadi. Teguran itu mampu membuat Fei Fei tersentak dan langsung salah tingkah karena terkejut.
" Memangnya kemana lagi aku bisa pergi jika bukan di sini, di sana, di sana dan di sana! "celetuknya sambil menduding seluruh tempat yang ia datangi seharian ini.
"Terserah kau mau mana aku tidak perduli itu juga bukan urusan ku! " tukas Zishu dengan nada khasnya, Fei Fei justru mengikuti Zishu berbicara tapi dengan mulut mlenggat-mlenggot dan tak bersuara.
"Oh ya, nah" seraya menyodorkan sebuah buku kuno kepada Fei Fei dan langsung diambil olehnya.
"Pelajari buku **etiket bangsawan** itu, kau sudah harus menghafalnya sebelum perjamuan besok! " ucapnya terakhir kali sebelum beranjak meninggalkan Fei Fei.
"Memang benar-benar pengerusuh! selalu menambah beban dalam hidupku saja! buku apaan lagi ini? " batinnya menggerutu, ia kemudian membuka buku itu dan membacanya dengan nada keras bermaksud agar orang yang paling ia dengki-ngi itu mendengarkan juga.
__ADS_1
"Harus membungkuk hormat kepada yang berkasta lebih tinggi! . Di haruskan memasang wajah ramah dan menebarkan senyum kepada semuanya! . Berjalan dengan anggun layaknya seekor angsa yang sedang berjalan!. Dilarang berbicara dengan nada meninggi atau mengeraskan suara " tanpa sadar nada suaranya mulai melemah ketika membaca kalimat terakhir sebab didalamnya terkandung sindiran yang ternyata sedang ia lakukan saat ini. Zishu lantas tersenyum miring di tengah perjalanannya kalau Fei Fei menyelesaikan kalimat absurdnya. Fei Fei mendengkus kesal pas baru menyadari ternyata kalimat itu mengandung makna 'senjata makan tuan' untuk dirinya.