
"Jia Fei, ada sesuatu yang ingin kakak bicarakan dengan mu" Jia cheng menatap Fei Fei dengan tatapan serius.
"Katakan saja, pasti akan ku dengarkan" sahut Fei Fei dengan seulas senyum lembut. Jia Cheng perlahan mendekatkan wajahnya ke telinga Fei Fei dan membuat bulu kuduknya terbangun akibat hembusan nafas Jia Cheng. Fei Fei mematung dengan mata tertutup rapat dan nafas terjeda. Ia berusaha meredam gejolak di dalam jantungnya yang terus meronta. Haduh Fei Fei mengapa menjadi canggung seperti ini. Batinya bersuara. Lalu Jia Cheng membisikkan sesuatu di telinga Fei Fei.
"Kakak sangat menyayangimu" bisik Jia Cheng lirih dan langsung tersenyum di depan Fei Fei. Fei Fei pun membuka matanya dan langsung menghembuskan nafas berkali-kali. Ia kira apa eh taunya cuma membisikkan sepenggal kata itu. Menakutiku saja. Gumam Fei Fei menghembuskan nafas lega.
"Hanya itu saja? tidak ada sesuatu yang lain gitu atau hal penting lain, hanya lelucon seperti itu?" Fei Fei menatap Jia Cheng sambil menautkan sepasang alisnya. Senyum Jia Cheng seketika luntur mendengar ucapan Fei Fei. Rasa takut yang menyerangnya hampir musnah, namun kini dia kembali lagi dan malah semakin menyiksa. Jia Cheng baru saja melupakan kegundahan nya namun itu hanya sepersekian detik saja. Rasa itu kembali menghujam relungnya hingga rasanya sangat sesak dan amat menyakitkan rohani nya.
"Jia Fei,berjanjilah satu hal untukku" ujar Jia Cheng dengan ekspresi serius. Fei Fei menjadi semakin heran, apa yang sebenarnya ingin di katakan Jia Cheng.
"Aku akan berjanji setelah kau mengatakannya. Katakanlah terlebih dahulu, barulah setelah itu aku bisa berjanji untukmu" Jia Cheng menatap lekat binar hitam yang berkilau itu. Dalam hatinya ada ribuan penyesalan yang tak terdefinisi. Fei Fei mengamati ekspresi pria di hadapannya. Terlukis di wajahnya rana kesedihan yang tak dapat di utarakan dengan rangkaian kata kata. Ia pun berinisiatif mengatakannya terlebih dahulu.
"Baiklah baiklah, aku akan berjanji. Aku, Lu Jia Fei akan selalu menepati janjiku di kehidupan ini" Fei Fei mengangkat tangan kanannya dan memandang kearah langit saat mengucap sumpahnya.
" Sudah. Puas!"ia kembali ke posisi semula dengan saling berhadapan dengan Jia Cheng. Jia Cheng yang melihat tingkah konyol adiknya malah tersenyum gemas seraya mencubit manja pipi gembul Fei Fei.
__ADS_1
"Uuuuhhhhhh, ternyata adikku ini belum tumbuh dewasa yaa"
"Awww sakit tau" nadanya merajuk sembari mengelus bekas cubitan yang memerah di pipinya.
"Karena kau sudah bersumpah maka aku akan mengatakannya. Jia Fei....." Jia Cheng menjeda kalimatnya.Ia menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan.Fei Fei yang makin penasaran mendengarkan setiap ucapan Jia Cheng dengan saksama.
"Turuti lah perintah ayah yang terakhir kali, setelah ini ayah tidak akan menyulitkan mu lagi. Ini juga demi kebaikan klan kita dan seluruh jiwa di tanah Orion ini. Ku mohon" tangan Jia Cheng sangat erat menggenggam jemari Fei Fei. Fei Fei yang melihatnya jadi ikut merasakan kegelisahan yang Jia Cheng rasakan tanpa tau apa sebabnya ia gelisah seperti ini.
"Permintaan terakhir? dia tidak akan menyulitkan ku lagi? ahh, berarti dia akan segera melepaskan ku dari sangkar emas yang memuakkan ini. Baiklah Fei Fei ini adalah satu-satunya jalan agar kau bisa lepas dan kembali ke dunia mu" batin Fei Fei tersenyum.
"Baiklah, aku akan menuruti perintah ayah yang terakhir kali. Tapi, apakah setelah aku melakukannya kalian akan melepas ku?" tanya Fei Fei menyelidik.
"Tentu saja, kakak sendiri yang akan melepas mu" seraya tersenyum hambar." Dan menyerahkannya kepada dewa serigala yang kejam dan tak berperasaan itu" lanjutnya lirih di dalam hati. Tak mau terus larut dalam kesedihan, Jia Cheng menarik bahu Fei Fei kedalam pelukannya. Sontak Fei Fei terkejut, namun ia tak melawan dan memilih diam di pelukan Jia Cheng. Jia Cheng memejamkan matanya, ia berusaha menikmati hari-hari terakhirnya dengan sang adik yang sudah menjadi belahan jiwanya. Nanti setelah Fei Fei melangkahkan kaki dari rumah ini ntah kapan lagi dirinya bisa memeluk erat sang adik seperti ini. Cukup lama mereka saling berpagutan, Jia Cheng pun menguraikannya terlebih dahulu.
"Sekarang istirahatlah, Jangan terlalu lelah nanti kau bisa sakit. Jika kau sakit maka aku yang akan diomeli ayah.Berbaringlah anak manja" Jia Cheng membantu Fei Fei merebahkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya dengan telaten. Mata Fei Fei tak pernah lepas dari wajah tampan di hadapan nya.
__ADS_1
"Tidurlah, kakak akan menjagamu di sini" ujarnya diiringi senyuman maut yang membuat ginjal kalian split mendadak. Dengan lembutnya dia mengelus kepala Fei Fei yang berbaring dengan mata tertutup.
"Andai, waktu bisa ku putar kembali. Maka aku rela menjadi kakak yang selalu terluka karena melindungi adiknya. Tapi sayangnya waktu terlalu kejam untuk itu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku di kedepan hari bila kita tidak lagi bersama" batinnya bersuara sambil bernostalgia ke masa kecilnya dan Fei Fei. Bayangannya tertuju kala Jia Cheng kecil dan adik perempuannya sedang bermain kejar-kejaran dengan riang. Masa itu adalah masa-masa terindah dalam hidupnya dimana mereka berdua hanya memikirkan bermain dan bermain tanpa tau apa itu yang disebut beban. Saat itu, Jia Cheng kecil berusia 70 tahun sedangkan Fei Fei kecil berusia 40 tahun(wajar ya gengs kan mereka makhluk abadi). Dua kakak beradik itu selalu bersama bahkan jika Fei Fei kecil dimarahi ayahnya maka Jia Cheng lah yang menerima hukumannya. Baginya Fei Fei adalah belah jiwa yang tak bisa berpisah dari raganya. Ia lebih menyayangi Fei Fei daripada dirinya sendiri. Melihat Fei Fei sudah terlelap dengan nyenyak Jia Cheng mengecup keningnya dan beranjak pergi. Fei Fei yang berakting tidur pun membuka matanya lagi. Menatap punggung Jia Cheng yang semakin menjauh dan menghilang dibalik pintu. Baru kali ini Fei Fei merasakan setidaknya ada satu orang yang menyayanginya dengan tulus di antara 7 milyar manusia di muka bumi ini.
"Kita memang orang asing, tapi aku tidak pernah menyesal pernah bertemu dengan mu di alam ini".
Fei Fei kembali ke tempat awal ia datang kemari, tanah lapang yang penuh dengan jasad tanpa nyawa dan diselimuti darah segar.Ia juga bingung kenapa bisa ada di sini lagi.
" Kok gw bisa disini, sejak kapan? " Fei Fei yang baru menyadari banyak mayat di depannya langsung menutup mulutnya yang menganga terkejut. ia melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati diantara ribuan mayat yang tergeletak begitu saja. Rasa takut kembali terselip di benaknya. Takut bila dirinya akan berakhir sama seperti mereka. Mati dengan kondisi mengenaskan.
"Tolong!" suara yang sangat lirih namun masih bisa terdengar oleh telinga Fei Fei. Ia pun berbalik karena sumber suara berasal dari belakangnya. Tampak dari kejauhan seseorang yang terbaring di tanah menduding Fei Fei dengan tangan yang berlumur darah. Dengan sendirinya kaki Fei Fei berjalan menuju seseorang yang terlihat seperti wanita. Ternyata dia masih hidup, Fei Fei berlari menghampirinya. Melihat kondisi wanita itu, ia bersimpuh di sampingnya dengan tatapan tak percaya. Wanita cantik itu mengalirkan darah di sudut mulutnya,sangat malang. Yang lebih parahnya lagi, sebuah pedang tertancap tepat di perutnya hingga baju yang dikenakannya bernoda darah semua. Kedua tangannya pun ikut berlumuran darah segar. Dengan gemetar dan ketakutan, Fei Fei menjulurkan tangannya hendak mencabut pedang itu.
"Te—ri—ma—ka—sih" ucap wanita yang tak lain adalah Lu Jia Fei, putri ketua klan iblis yang sebenarnya sebelum ia akhirnya menutup mata untuk selamanya. Fei Fei syok hingga ia terduduk lemas di tanah. Satu persatu mayat yang ada di sana mulai berubah menjadi segerombol butiran cahaya yang terus terbang ke atas. Sekarang giliran wanita di hadapan Fei Fei yang melebur menjadi butiran-butiran cahaya dan terbang keatas bersamaan dengan butiran-butiran cahaya lainnya.
"Tidakk!! " Fei Fei terbangun langsung dalam posisi duduk. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan sebelum akhirnya menghembuskan nafas lega.
__ADS_1
"Ada apa nona?"
Like, komen, votenya kk❤️