Scarlt Blood Love

Scarlt Blood Love
Chapter 36. Kembali terbukanya portal waktu


__ADS_3

Beberapa saat sudah berlalu, tapi tak henti-hentinya Xin Yan mondar-mandir di depan pintu paviliun yang menjadi kamar Zishu. Tidak ada yang tau, sebesar gunung apa kecemasan yang sedang melanda dirinya. Bahkan, Wubai Qi yang sama cemasnya tidak sampai seheboh itu.


"Kak Xin Yan, apa kamu tidak bisa duduk dan menunggu dengan tenang hah?! " dia yang hanya melihat saja sudah pusing dan kesal apalagi yang melakukannya.Pppkkccckkk!


"Tidak bisa, sudahlah diam saja kamu tidak tahu seberapa khawatirnya aku! " bantah Xin Yan yang tidak terima di kritik.


"Tapi kak, kakak sudah berjalan lebih dari 1000 putaran. Apa kakimu tidak lelah? "


"Sudahlah Wubai Qi, abaikan saja dia! " Ucap Wen Rui yang tiba-tiba menimbrung.Dia juga sama khawatirnya dengan Xin Yan, tapi dia mampu mengontrol diri agar tetap terlihat tenang dan elegan.


Srr****reeett**tttt**.......


Akhirnya, sosok yang ditunggu menampakkan wujudnya juga. Keluarlah kakek tua berambut putih itu dari balik pintu kamar. Tanpa menunggu aba-aba, gegas mereka semua menghampirinya.


"Bagaimana, apakah ritual penyembuhannya berjalan dengan lancar? " tanya Xin Yan tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Dan bagaimana keadaan mereka sekarang? " sambung Wubai Qi.


"Ritualnya sudah selesai dan mereka sudah pulih seperti sebelumnya. Hanya saja tubuh mereka masih lemah dan memerlukan beberapa waktu untuk tersadar kembali"


" Kalau begitu terimakasih guru, kau telah berjasa dalam hidup kami. Jika tidak ada kau, kami tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi " dengan hormat Wubai Qi membungkukkan punggungnya sebagai ucapan terimakasih yang tulus.


" Haah anak bodoh ini, baru sekarang kau memanggilku guru! "


"Lalu.... setelah Jia Fei, eumm maksud ku setelah mereka sadar apa rasa sakitnya masih ada? " bertanya dengan hanya menyebutkan nama Fei Fei membuat Wen Rui salah tingkah dan dengan cepat dia meralat kalimatnya.


Xin Yan yang tepat berada di samping Wen Rui lantas menyematkan senyum simpul kala mendengar kalimat itu terlontar. Ia tahu betul apa yang ada di fikiran Wen Rui saat ini.


"Sebesar itukah rasa pedulimu padanya? " sepenggal kalimat itulah yang mewakili senyum hambar di bibir manisnya itu.


"Tentu saja masih, tapi tenang aku punya obatnya. Nah, berikan pada gadis itu setelah dia siuman" Kakek tua itu mengeluarkan guci gerabah kecil dari tangan kosongnya dan memberikannya kepada Wen Rui.


" Sekarang aku bisa bernafas lega, trimakasih guru" Xin Yan juga membungkukkan tubuhnya seperti halnya Wubai Qi tadi.


" Tidak perlu berterimakasih terus menerus, sudah tugasku membantu yang kesulitan. Tugasku sudah selesai, kalau begitu aku pergi dulu" pamitnya yang mulai melangkahkan kaki meninggalkan ketiga orang itu.


"Hati-hati di jalan guru! "


"Selamat tinggal guru"


Ucapan perpisahan dari Xin Yan dan Wubai Qi untuk yang terakhir kalinya sebelum kakek tua berambut putih itu benar-benar lenyap dari sana. Kedua pemuda itu sibuk berpamitan sementara Wen Rui, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk menemui sang idaman hati.


"Jangan panggil aku guru karena aku tidak mau punya murid yang bodoh seperti kalian, hahaha! " wujudnya sudah tak terlihat namun hanya suaranya yang menggema di telinga mereka.


" Dasar orang tua itu. Eyy kak Xin Yan, apa kamu tidak ingin masuk? " tanya Wubai Qi yang melihat Xin Yan terpaku diambang pintu dengan tatapan terfokus pada pemandangan di dalam bilik luas itu.


Suara Wubai Qi yang cukup keras membuat Xin Yan tersentak dan sedikit berjingkat dari lamunannya.


" Ahh, eumm kamu duluan aja. Nanti aku menyusul " kilahnya.


"Ohh, kalau begitu aku masuk duluan"


"Iya"


Tanpa menunggu lama, lamunan langsung menyeretnya kedalam dunia abstrak yang berisi berbagai macam jenis emosi dan ego manusia. Membuatnya seakan larut dalam bayang kegelapan yang teramat pekat. Di dalam sana juga, ia merasa tubuhnya seperti tertusuk jarum. Lukanya tak terlihat namun cukup menyakitkan.


"Permisi nona"

__ADS_1


" Ehh, ternyata kau A Xiang "


" Nona, kenapa hanya berdiri di sini dan tidak masuk kedalam? "


"Tidak, eumm aku baru ingat kalau aku masih ada urusan yang belum aku selesaikan. A Xiang kupercayakan Fei Fei padamu, tolong rawat dia aku pergi dulu" ia lantas menghilang dari tempatnya semula berdiri.


"Aneh, tidak biasanya nona Xin Yan seperti tadi" tidak menghiraukan hal itu lagi A Xiang segera masuk menemui tuan dan nyonya nya.


" Apa nyonya baik-baik saja? " kalimat yang selalu dia ucapkan ketika Fei Fei terluka atau mendapat bala.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia sudah melewati masa kritisnya" jawab Wen Rui masih dengan tatapan yang tak lepas dari wajah pucat diatas ranjang itu.


"Trimakasih Tuhan, trimakasih" rasa syukur ia ucapkan kepada sang pemilik alam semesta.


"Paman ini sudah hampir larut, sebaiknya kau pulang dan beristirahat saja. Sudah seharian paman berjaga di sini, atau paman akan kelelahan nanti"


"Baiklah aku akan pulang, A Xiang tolong berikan ini ketika Fei Fei sudah sadar" sembari menyodorkan botol obat yang diberikan Kakek tua tadi.


"Baik tuan! "


"Aku pergi dulu" pamitnya sebelum meninggalkan tempat itu.


"A Xiang, aku percayakan kakak iparku padamu. Tolong rawat dia, aku masih ada urusan. Aku pergi dulu" kemudian di susul dengan Wubai Qi yang meninggalkan kamar bernuansa klasik kuno itu.


"Um, baik tuan"


Satu persatu orang telah pergi menjemput urusan masing-masing. Meninggalkan sejoli yang tengah koma tak sadarkan diri. Melihat keadaan yang tersuguh di depan matanya membuat hati kecil A Xiang teremas dan sesak untuk beberapa saat, matanya pun mulai mengembun. Dia benar-benar bingung, apa yang sebenarnya ada di kepala majikannya itu.


Hati nuraninya tergerak untuk menghampiri Fei Fei dan tanpa di perintah tubuhnya langsung Bersimpuh di samping ranjang. Emosinya sudah tak bisa di kontrol lagi, dengan sendirinya menerobos keluar begitu saja melalui luruhan bulir-bulir bening. Tak kuasa ia menahannya lebih lama lagi, lebih baik dikeluarkan ketimbang di tahan dan tertimbun dalam qalbu.


" Kenapa nona, kenapaa?! kenapa kau terus membahayakan dirimu demi orang lain! " isaknya tumpahan sedemikian rupa hingga sepasang pipinya sembab karena ulah air mata.


Hikss.. hikss....


A Xiang bukan sekedar pelayan bagi Lu Jia Fei, melainkan sahabat karibnya sejak ia belia. Mereka sudah bersama untuk waktu yang lama. Walau statusnya hanya pelayan tapi Lu Jia Fei tidak pernah menganggapnya seorang budak yang tugasnya hanya di suruh-suruh.


Olehkarena itu, rasa sayang diantara keduannya begitu besar dan terikat erat. Sebenarnya ia turut merasa sedih saat tau nonanya di jodohkan dengan rubah bertopeng dewa itu. Terlebih kehidupannya di sini jauh dari kata nyaman dan aman. Benar-benar bertolak dengan kehidupannya saat menjadi putri kesayangan yang memiliki istana juga segalanya.




Fei Fei tercengang bukan main saat sebuah lubang yang terselimut kabut muncul tepat di hadapannya.



"Ja—ja—jangan-jangan itu....... " tiba-tiba sebuah fikiran muncul di otaknya dan seketika itu juga ia tercengang. Saking tercengangnya ia sampai menutup mulutnya yang membulat menggunakan telapak tangan.



" Itu pasti portal waktunya, yeahh akhirnya aku bisa kembali ke dunia modern. Aku tidak sabar ingin bertemu nenek di rumah, nenek tunggu aku!! " betapa riangnya dia kala portal waktu yang ditunggunya selama ini benar-benar menampakan wujud dihadapannya. Fei Fei tidak tau harus berkata apalagi untuk mengungkapkan betapa bahagianya dia hari ini.Tanpa menunggu lama, kaki jenjangnya mulai melangkah menuju lubang yang terselimut kabut tebal itu.



" **Lu Jia Fei, tolong selamatkan kami**!! "


__ADS_1


Deppppttt.......



Suara keras dari seseorang membuat langkah Fei Fei yang tinggal beberapa langkah lagi sampai pada lubang itu terhenti. Karena penasaran ia pun menoleh kebelakang.



"Tolong selamatkan kami" rintih dan pekik dari serombongan orang yang bersimbah darah tepat tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.



"Si—si—siapa kalian?! " betapa terkejutnya dia melihat sekelompok orang dengan penampilan menyeramkan, sebab berlumuran darah dan pakaiannya compang-camping. Suasana hati yang semula bahagia bukan main sekarang berubah menjadi takut dan nervous.



"Tolong selamatkan kami!! " ucap sekelompok orang itu secara kompak.



Perasaannya sudah tak karuan, sampai-sampai dia lupa kalau portal waktu sudah menunggunya di depan sana.



"Lebih baik aku pergi saja! "



Fei Fei tercengang untuk yang kedua kalinya. Kenapa tidak, saat dirinya berbalik lubang misterius itu sudah lenyap dari sana.



"Hah, kemana portal waktu itu. Jangan bilang kalau portal nya sudah tertutup? " ada seuntai rasa sesal di benak Fei Fei, mengapa ia menunda waktu yang begitu penting ini.



"Tolong selamatkan kami" sementara suara itu terus menggema hingga membuat kepala Fei Fei pusing mendengarnya.



Pening. Suara itu seperti memukul gendang telinganya sampai ingin pecah rasanya. Semakin lama semakin keras hingga pandangannya berkunang-kunang. Lebih parahnya lagi tempat dimana kakinya berpijak seperti terobang-ambing hendak roboh. Kedua tangannya terus meremas kepala berharap semua ini berhenti.Fei Fei benar-benar tidak tau apa yang sedang terjadi sebenrnya.



Sampai pada akhirnya.......



"**Tidakkkkkkkkkkkkkk**! "



Ia terbangun dalam posisi duduk dan nafas tersengal-sengal, Fei Fei tersentak dari tidurnya. Mimpi aneh apa yang ia alami barusan.



"Arghttt! " ia mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1



"Ternyata cuma mimpi?! "


__ADS_2