
Kreatttttt....
Feifei keluar dari dalam kamar Zishu dengan wajah muram.
" Nyonya, apa yang terjadi? " A Xiang langsung menyambutnya dengan pertanyaan itu.
" A Xiang, tempat yang paling ramai sekarang di mana? " Bukannya menjawab ia justru bertanya balik.
"Ramai? Pasar? "
" Nah, ayo kita kesana! " Feifei lantas mendahului A Xiang tanpa menjelang apa maksud semua ini.
"Sekarang ? " Sejurus kemudian dia berlari-lari kecil untuk mengekori langkah feifei.
Sementara Feifei, ia terus berjalan tanpa mengatakan apapun.
Namun.......
Tiba-tiba.......
"Feifei tunggu!" Ucap seorang yang entah siapa mampu membuat langkahnya terhenti mendadak.
Namun, ia sudah tau siapakah gerangan yang memanggilnya.
" Ikut aku sekarang! " perintahnya sekaligus menarik lengan Feifei.
" kemana? "
"Ada masalah besar di rumahmu, ayahmu dan semua orang di dalam Mansion dalam bahaya sekarang! " tegasnya lagi.
"Bahaya? bahaya kenapa? " Feifei masih belum mengerti maksud dari kata-kata Xin Yan.
"Nanti kau akan tahu sendiri setelah sampai di sana" Xin Yan langsung membawa Feifei pergi bahkan sebelum di iyakan oleh orangnya.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang mengetahui kepergian mereka bukan tanpa alasan baik-baik saja.
...********...
"Ayah!! " Seru Feifei yang baru saja tiba dan langsung menghempaskan tangan yang menahan lengannya.
"Jangan mendekat! Atau kami habisi ayahmu sekarang juga! " Ucap salah satu dari orang-orang jahat itu.
"Feifei? Kenapa kamu malah datang kesini. Nak? " Ucap Lu Taichong yang tidak bisa bergerak sebab lehernya diacungi pedang oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam.
Siapa mereka ini? Atau jangan-jangan mereka adalah orang suruhan..,.....
"Maaf paman, tapi aku tidak bisa diam saja melihat semua ini" Kata Xin Yan yang berdiri jauh dari sana.
"Kakak? Dimana dia? Kenapa ayah hanya seorang diri, huh?! "
" Cheng-er..,.... Aku tidak tau apakah dia masih bisa kembali dengan selamat atau tidak " Nyeri, itulah yang lutut pria tua itu rasakan hingga akhirnya bersimpuh di lantai dengan raut meratap.
" Aku tidak bisa diam saja! " Feifei langsung memungut pedang yang tergeletak di dekatnya, dan membulatkan tekad tuk menyerang orang-orang itu.
"Jangan harap bisa bunuh ayahku selagi aku masih HIDUP!" Feifei berlari sambil mencengkram pedang.
__ADS_1
Namun ia justru terpental sebelum sampai di circle mereka.
"Ahhhhhh" Jeritnya mengaduh.
"Feifei kau tidak papa? Jangan mendekat kesana sebab ada barier sihir yang melindungi mereka" Seru Xin Yan yang membantu feifei bangun.
"Xin Yan, bukannya kamu punya kekuatan yang tidak sedikit? Please tolong selamatkan ayahku" Pintanya memohon.
" Bukannya aku tidak mau menolong mu Feifei, tapi percumah saja kekuatan sihir ku terlalu lemah untuk bisa menembus barier itu " Kata Xin Yan menjelaskan, " Sihir ini sekelas dewa" Lanjutnya.
" Tapi apa salahnya mencoba, hah? aku mohon"
diiringi dengan kedipan sebagai totalitas dalam mengiba.
" Baiklah akan aku coba "
Xin Yan maju beberapa langkah dan mulai ber aba-aba. Selanjutnya, sebuah cahaya sihir terpancar dari telapak tangannya dan nyaris menembus barier itu.
cuma nyaris......
Namun, seseorang yang entah siapa tiba-tiba memblokir sihir Xin Yan dan membuat gadis itu terpental kebelakang beberapa langkah. serta memuntahkan darah dari sudut bibirnya.
"Xin Yan!! " segera Feifei membantunya bangkit.
"Ma-maaf, aku tidak bisa membantu mu disaat-saat penting begini"
"Engga Xin Yan, harusnya aku ngga paksa kamu ngelakuin ini" tukas Feifei dengan nada menyesal.
"Trus kita harus apa sekarang, mereka pasti tidak mudah untuk ditangani?"
" Terlalu banyak berfikir!! "
cetarrrr.....gubyarrrrrrrr......
Dengan sekali tebas, barier pelindung itu hancur ditangannya. Entah angin apa yang membuatnya bisa sampai ke sini.
"Xin Yan, kamu tidak papa? "
" Zishu, cepat selamatkan ayahnya Feifei"
"Ku mohon, selamatkan ayah ku. Demi apapun tolong aku, please kali ini aja! " mohon nya se menyedihkan mungkin.
" Hanya kamu yang bisa membantu kami saat ini, singkirkan egomu itu. pikirkan bagaimana nasib rakyat banyak jika pemimpin mereka mati begitu saja" tambah Xin Yan.
"Baiklah, kalian tunggu disini saja. Aku akan bereskan mereka terlebih dahulu" setelah berpikir agak lama itulah keputusannya.
Zishu kemudian bangkit dengan tenang dan maju beberapa langkah dan berhadapan langsung dengan segerombolan orang berpakaian hitam itu.
" Jangan mendekat, atau pedang ini akan menembus lehernya sekarang juga " ucap orang yang mengalungkan pedang di leher ayah Feifei dengan suara gemetar.
Tampaknya mereka sudah tau siapa Zishu, terlihat dari tingkah mereka yang over waspada dan gemetar alias ketar-ketir melihat sang dewa api berdiri tegak dihadapan mereka.
" Katakan, siapa yang mengutus kalian kemari?"
krik.. krikk.... krik.. krikk...
__ADS_1
"Baiklah, jika tidak mau bilang maka kalian semua cukup lepaskan Ayah ku dan pergi dari sini dalam hitungan ke 3! "
Mendengar pernyataan Zishu mereka semakin gemetar dan ketakutan. Tapi apalah daya jika tidak mati disini pasti mati di tangan tuanya.
"Ayah ku? sejak kapan ayah ku jadi ayahnya? " tanda tanya besar terpampang dibenak Feifei.
" Satu.... dua...... tiiiigaaaa... " tak ada pergerakan dari mereka membuat Zishu naik darah dan amarah ingin mandi darahnya sudah membuncah.
"Baiklah kalau begitu, inilah jalan yang kalian pilih maka jangan pernah menyesal untuk itu" ucapnya diakhiri dengan seringai jahat.
Dengan status darah penuh Zishu mulai mengeluarkan pedangnya, mengubah ketiadaan menjadi ada. Mengumpulkan seluruh energinya dan pedang yang semula ia pegang terbang sesuai kehendaknya. Bertempur melawan orang-orang itu tanpa ia harus turun tangan sendiri.
Ting... cetring,,,, cetring..... ting..... ting....
Suara pedang yang beradu terdengar seperti asmr yang merdu. Sementara kedua wanita itu, hanya bisa menunggu dan berharap.
Perlahan, satu persatu bandit itu gugur dan hancur menjadi abu . Menyisakan pria tua yang berlutut dengan pandangan kosong.
Melihat perkelahian itu telah usai, Feifei segera berlari dan menghambur ke pelukan ayahnya.
"Ayah, ayah tidak terluka kan? " diiringi raut cemas.
"Tidak, ayah baik-baik saja. Tapi kakak mu.... "
"Jangan khawatir ayah, kakak pasti akan segera kembali. Dia kan ksatria yang hebat" ia lantas kembali mengeratkan pelukannya.
"Zishu apa kamu tau, siapa mereka? " tanya Xin Yan yang menghampiri Zishu.
"Tidak tau" singkatnya. "Tapi tunggu, tadi aku sempat melihat di salah satu leher orang-orang itu ada sebuah tatto. Dan anehnya lagi tatto itu sama persis seperti tatto yang ada pada orang yang terbunuh di tempat ayahku dibunuh" lanjutnya.
"Atau Jangan-jangan...... " Xin Yan.
"Mereka adalah orang yang sama!! " timpal Zishu.
"Benar, aku rasa juga begitu "
" tidak kubiarkan mereka lolos kali ini. Sudah cukup lama aku diam dan bersabar " status darahnya kembali naik.
"Ehh, kamu mau kemana" Xin Yan menahan lengannya.
"Mengejar mereka yang tadi sempat kabur! "
"Wah.. wah.. wah.. hebat yaa. Baru pergi sebentar sudah tidak ada lagi yang tersisa di sini"
Suara itu menggema keseluruh ruangan hingga membuat mereka terdiam bebeberapa saat.
" Apa kabar dewa api, sudah lama kita tidak bertemu " ucap seseorang yang tiba-tiba muncul, orang itu mengenakan topeng di wajahnya.
" Feifei.. "
"Kakak?! "
Rupanya orang itu membawa Jia Cheng yang sedang dalam keadaan kritis, alias terluka parah. sepertinya mereka usai bertarung habis-habisan.
Stay tuned and see you next chapter..,....
__ADS_1