
Beberapa waktu telah berlalu dan perjamuan pun telah usai, kini suasana telah kembali seperti awal kedatangan Zishu dan Fei Fei tadi. Semua tamu telah larut dalam cengkrama masing-masing diiringi tawa renyah menghiasi hari bahagia di dalam ruangan ini.
Tapi tidak dengan Fei Fei, ia hanya duduk diam dan makan. Menyikat habis seluruh makanan yang ada di hadapannya untuk mengusir kejengahannya di tengah-tengah keramaian manusia. Kan ramai kenapa malah jengah?
Sebab ia masih belum bisa beradaptasi dengan orang-orang yang berada disini, terlebih lagi tak ada satupun yang ia kenal diantara mereka dan itu membuatnya semakin pesimis juga lebih cenderung menutup diri. Semua di asyikan dengan pesta termasuk Zishu yang turut bergabung dengan kenalan-kenalannya dan meninggalkan Fei Fei, hanya A Xiang yang setia mendampinginya di segala kondisi.
"A Xiang, aku sudah bosan disini dari tadi hanya duduk dan melihat orang lain berlalu lalang juga bergurau dengan gembira. Aku ingin keluar berjalan-jalan sambil mencari udara segar" ucap Fei Fei sejurus kemudian mengangkat bobotnya dari bangku kayu penepos bokong.
"Tapi nyonya jika tuan mencari mu bagaimana"
"Aku pergi hanya untuk berkeliling di luar, bukan berarti enyahlah dari dunia ini" sungutnya seraya membenarkan gaunnya yang tampak semrawut tak karuan.
"Lagipula dia juga sibuk dengan urusannya sendiri, jadi mana ingat dengan ku. Sudahlah, kalau kau tidak mau ikut juga tak apa aku tidak memaksa" ujar Fei Fei kemudian berjalan pelan meninggalkan A Xiang yang terpaku di tempatnya. Sadar kalau Fei Fei sudah semakin jauh darinya A Xiang pun lantas membuntuti langkahnya dan membuat Fei Fei menaikan sudut bibirnya sebelah.
"A Xiang kutanya padamu, di tempat seluas ini ada berapa orang yang tinggal di sini? " tanya Fei Fei sambil berjalan santai menikmati pemandangan di taman istana.
"A Xiang tak tahu persis nyonya tapi yang pasti hanya mereka pemilik darah keturunan bangsawan istana lah yang bisa tinggal di sini" terang A Xiang.
"Bisa tinggal di sini pasti sangat beruntung kan"ucapnya dengan fikiran mengulang kehidupan pahitnya di saat di era modern.
"Benar, tinggal di sini pasti bagaikan hidup di surga sangat nyaman"
"Haahh, sudahlah tidak usah menghayal terlalu tinggi. Sepertinya pemandangan di sana lebih indah" sejurus kemudian ia berjalan setengah berlari menuju tempat itu.
"Nyonya pelan-pelan nanti kau bisa terjatuh! " ucap A Xiang setengah berteriak sambil kalang kabut mengejar Fei Fei.
"Wahhhh, indahnnnn..... " belum selesai ia berucap, sebuah lengan kekar memeluknya dengan sangat erat, sontak ia terkejut sekaligus penasaran dengan si pemeluk, tapi ia tak bisa mendongak karena dekapan itu terlalu mengunci pergerakannya.
"Jia Fei, kakak sangat merindukanmu" kata pria itu sembari menutup kedua kelopak matanya tuk melepaskan deretan rindu yang teramat sangat.
"Kakak? apa dia Lu Jia Cheng? " batinnya bertanya. Sekian detik pelukan itu telah terurai dan mengembalikan kebebasan Fei Fei untuk bergerak dan bernafas.
"Apa kau baik-baik saja hah? " tanya Jia Cheng dengan raut wajah khawatir sambil memeriksa seluruh tubuh Fei Fei dari atas sampai bawah tuk memastikan keadaannya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kak, kau lihat bukankah aku tambah berisi? " senyum manis terpaksa ia pamerkan di depan Lu Jia Cheng dan A Xiang yang melihat kebohongan itu hanya bisa tersenyum pilu.
"Syukurlah kalau begitu, akhirnya kakak bisa lega melepaskan mu. Benar jika kau bahagia hidup di sana? " tanya Jia Cheng lagi, tapi kali ini diiringi tatapan menyelidik.
"Iya benar, untuk apa aku berbohong pada kakak ku sendiri? oh ya kak, ayah mana? "
"Ayah sedang tidak enak badan jadi tak bisa hadir di sini"
"Ayah sakit?! apa sangat parah? " antusiasnya.
"Tidak parah, hanya penyakit tua biasa lagipula ada kakak mu yang merawat ayah. Sudahlah jangan mengkhawatirkan apapun saat ini, kau bisa hidup dengan bahagia saja kami sudah senang" seraya menepuk pundak Fei Fei pelan.
"Terimakasih kak, kau sudah mengkhawatirkan aku" ujar Fei Fei dengan sorot mata berbinar.
"Gadis dungu, jelas lah kakak mengkhawatirkan mu, kakak mana yang tak mengkhawatirkan kehidupan adiknya di rumah baru" diawali dengan menyentil pelan dahi Fei Fei.
"Sudah dulu ya, kakak masih ada urusan. JAGA dirimu baik-baik" setelah berucap dia pergi menjauhi Fei Fei, dengar perasaan penuh haru pandangan matanya mengekori kepergian sang kakak (fake) . Demi mengusir kejanggalan dalam hatinya Fei Fei lantas mengalihkan pandangan dan beranjak dari tempatnya berpijak agar tak terlalu larut dalam suasana.
"Xin Yan? dia juga ada di sini? " ia melihat seorang wanita berdiri memunggunginya di sudut balkon istana, dari penampilannya Fei Fei tak mungkin salah menebak siapa wanita itu, ia pun menghampirinya.
"Fei Fei? "
"Ternyata kau datang ke sini juga? tapi kenapa dari tadi aku tidak melihatmu di dalam istana? "
"Aku memang tidak masuk kedalam, di sana terlalu ramai dan berisik, aku tidak suka berasap di tengah keramaian" sahutnya seraya berbalik badan lagi memunggungi Fei Fei.
"Xin Yan, kau kenapa apa ada masalah? " sekarang ganti Fei Fei yang berdiri di hadapan Xin Yan, dilihat dari caranya berbicara Fei Fei sudah tahu kalau Xin Yan pasti memiliki masalah yang di sembunyikan.
"Tidak ada! " celetuknya dengan cepat.
"Bohong, aku tau kau pasti ada masalah katakan saja aku pasti akan membantumu sebisa mungkin" ucap Fei Fei sedikit memaksa, namun Xin Yan tetap memilih bungkam daripada curhat karena masalah ini hanya dia dan Tuhan yang boleh tahu.
"Sungguh, aku benar-benar tidak ada masalah. Aku berani bersumpah padamu! " tegasnya sekali lagi, tapi kali ini diikuti dengan acungan ketiga jarinya.
__ADS_1
"Fei Fei aku pergi dulu ya, ayahku pasti sudah menungguku untuk pulang" kilahnya untuk menghindari rentetan pertanyaan dari Fei Fei.
"Mungkin dia lebih memilih menyelesaikan masalahnya sendiri daripada membaginya kepada orang lain" monolog Fei Fei kala Xin Yan sudah melangkah jauh darinya.
"A Xiang ayo kita pulang, aku sudah lelah berada di sini! "
"Baik nyonya"
"Bagaimana A Xiang, apa kau menemukannya? " tanya Fei Fei pada A Xiang yang telah mencari Zishu ke seluruh ruangan ini tapi tak menemukan tanda-tanda keberadaannya.
"Belum nyonya, mungkin tuan memang tak ada di sini"
"Tidak ada, lalu pergi kemana dia? "
"Atau jangan-jangan...... "
"**Mereka sudah kembali dan meninggalkan kita di sini**!! " mereka berdua kompak mengatakan kalimat itu.
"Jika benar awas saja nanti, dasar sialan!! A Xiang ayo kita pulang! "
__ADS_1
Boom like yukkk❤